Harta Sebagai Ujian


Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan harta kepada hamba-hamba-Nya sehingga kebaikan agama dan dunia mereka dapat tegak. Dia-lah yang telah mengatur dan menjelaskan jalan-jalan dalam mendapatkan dan membelanjakan harta tersebut.

Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, Rabb dan Pelindung alam semesta.   

Saya bersaksi pula bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, makhluk yang paling mulia dan suci.

Shalawat dan salam tercurahkan kepada beliau, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau.

Selanjutnya, wahai manusia: bertakwalah kalian kepada Allah Ta’ala dan ketahuilah bahwa harta yang ada pada kalian itu telah Allah jadikan sebagai ujian bagi kalian, baik ujian ketika mendapatkannya, mengelolanya maupun membelanjakannya.

Adapun ujian saat mendapatkan harta, bahwa pada dasarnya Allah Ta’ala telah mengatur jalan-jalan tertentu untuk mendapatkan harta tersebut yang dibangun di atas keadilan dan keseimbangan, yaitu ketika seseorang mencari harta dengan cara yang baik tidak ada kezaliman atau permusuhan.

Ternyata manusia terbagi menjadi 2 kelompok:

  1. Manusia yang takut kepada Allah Ta’ala dan memperbaiki cara mencari harta. Dia mencari harta dengan cara yang halal sehingga menjadi berkah baginya bila ia belanjakan, diterima oleh Allah bila ia sedekahkan dan menjadi pahala bila kelak ia tinggalkan untuk ahli warisnya. Dia pun beruntung dengan hartanya baik di dunia maupun di akhirat.
  2. Manusia yang tidak takut kepada Allah dan tidak membenahi cara mencari harta. Jadilah ia mencari harta dengan cara apapun baik yang halal maupun yang haram, dengan cara adil ataupun zalim. Dia tidak peduli dengan cara itu. Halal menurut dia adalah apa yang bisa sampai ke tangannya. Harta yang dia dapatkan dengan cara yang haram ini apabila ia belanjakan maka tidak akan diberkahi, bila ia sedekahkan maka tidak akan diterima dan apabila ia tinggalkan untuk ahli warisnya maka akan menjadi bekal dosa menuju neraka. Manfaat harta itu untuk orang lain sedangkan dirinya mendapat dosa dan tanggungan.

Ini adalah ujian harta ketika mendapatkannya.

Sedangkan ujian harta saat mengelolanya, maka:

  1. Di antara manusia ada yang harta itu menjadi keinginannya terbesar, sesuatu yang paling menyibukkan hatinya, yang tidak ada pada hati dan tatapan matanya kecuali harta. Bia ia berdiri maka memikirkan  harta. Bila ia duduk maka ia juga memikirkan harta Jika ia tidur maka mimpinya pun juga harta. Harta merupakan sesuatu yang memenuhi hasrat hatinya, tatapan matanya, pendengaran telinganya dan kesibukan pikirannya baik saat terjaga maupun tidur. Sampai pun ibadahnya, tidak luput dari hal itu. Dia pun tetap berpikir tentang harta saat shalat, membaca ayat dan ketika berzikir. Seakan-akan dia diciptakan Allah semata-mata untuk harta. Dialah orang  tamak, yang tidak pernah merasa kenyang, dan orang yang tertimpa kejelekan yang tidak bisa memungkiri  kejelekan tersebut. Seiring dengan itu, rizki tidak akan menghampirinya kecuali sebatas yang telah ditentukan baginya. Seseorang tidak akan mati sampai ia mencapai batas akhir dari rizki dan ajalnya.
  2. Di antara manusia, ada yang mengerti bahwa harta itu memiliki hak dan menempatkannya pada kedudukan semestinya. Harta bukan sesuatu yang paling besar bagi keinginannya dan puncak pengetahuannya. Hanyalah harta sekedar ia jadikan di tangannya dan bukan di hatinya. Maka harta itu tidak menyibukkannya dari mengingat Allah, shalat, menunaikan syariat agama dan kewajibannya. Harta dia jadikan sebagai  perantara untuk berbuat baik, memberi manfaat untuk kerabat dan orang yang membutuhkannya. Dialah orang yang memiliki kebahagiaan hidup, memperoleh harta yang telah  Allah tentukan  untuknya tanpa melelahkan hatinya.

Adapun ujian harta saat membelanjakannya, maka manusia terbagi menjadi 3 kelompok.

  1. Manusia ada yang kikir, mencegah harta dari hak Allah dan hak orang lain. Dia pun tidak mengeluarkan zakat, tidak menginfakkan hartanya untuk orang lain yang wajib ia beri dari kalangan keluarga, hamba sahaya dan kerabat.
  2. Manusia yang boros, berlebih-lebihan  membelanjakan hartanya untuk sesuatu yang tidak tepat dan tidak terpuji menurut tinjauan agama maupun kebiasaan. Dia adalah saudaranya syaithan.
  3. Manusia yang bila membelanjakan hartanya maka mereka tidak boros dan tidak pula kikir. Mereka menunaikan kewajiban dan menyempurnakannya dengan perkara-perkara sunnah. Mereka mencurahkan hartanya untuk sesuatu yang terpuji menurut kebiasaan. Mereka lah hamba-hamba Ar-Rahman (Allah) yang membelanjakan harta tanpa boros, tanpa kikir dan tegak di jalan pertengahan.

Wahai kaum muslimin: bertakwalah kepada Allah Ta’ala dan perbaikilah dalam mencari harta. Carilah harta dengan cara yang halal. Sesungguhnya kalian tidak akan kekal bersama harta selama-lamanya. Harta itu pinjaman, dan kalian sendiri pun pinjaman di kehidupan dunia ini. Bisa jadi kalian menjadi orang yang berpisah dan meninggalkan harta dalam keadaan sebagai orang yang paling tidak butuh dengan harta, atau bisa jadi menjadi orang yang dihalangi dari harta dalam keadaan sebagai orang yang sangat berambisi terhadap harta dan akhirnya merugi serta menyesal.

Wahai kaum muslimin: sungguh syaithan telah mempermainkan jalan pikiran manusia. Syaithan menjadikan mereka berani melakukan muamalah (interaksi) dengan cara yang haram. Manusia pun menempuh jalan haram dalam keadaan mereka tahu. Mereka berani melakukan dosa seakan-akan mereka tidak punya akal lagi. Penghasilan dan harta yang banyak menjadikan mereka berangan-angan. Betapa buruknya apa yang mereka lakukan. Banyak diantara manusia yang berani melakukan penipuan dalam bermuamalah. Mereka menjadikan hasil dari penipuan dan kecurangan sebagai keberuntungan. Demi Allah ini adalah kerugian, karena ini adalah hasil yang haram, tidak berbarakah dan tidak mengandung kebaikan. Bahkan ini mengandung beberapa kejelekan.

Di antara kejelekan penipuan yaitu pelakunya akan dijauhkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Beliau bersabda (artinya): “ Barangsiapa yang menipu maka bukan dari golonganku.”

Ini adalah keterangan yang shahih dan gamblang bahwa orang yang menipu itu bukan bagian dari kaum muslimin. Ya, bukan bagian dari kaum muslimin. Sebab, muslim yang sejati adalah orang yang bermuamalah bersama saudara-saudaranya dengan jujur dan terus terang sebagaimana ia senang bila saudara-saudaranya bermuamalah bersamanya dengan jujur dan terus terang. Orang beriman adalah orang yang mencintai untuk saudaranya apa yang ia sendiri cintai untuk dirinya. Bila engkau tidak ridha seseorang menipumu maka bagaimana engkau melakukan penipuan terhadap saudara-saudaramu?!

Di antara kejelekan penipuan yakni orang yang menipu sebenarnya menzhalimi dirinya sendiri, menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam siksa, bermaksiat kepada Allah dan rasul-Nya.

Di antara kejelekan penipuan adalah harta dari penipuan adalah haram, tidak ada kebaikan padanya dan tidak pula berbarakah.

Di antara kejelekan penipuan ialah kezhaliman terhadap orang lain dan memakan harta orang lain dengan cara batil. Kalau seandainya manusia tahu adanya unsur penipuan niscaya mereka tidak akan membelanjakan hartanya untuk membayar harga sebuah barang.

Di antara kejelekan penipuan bahwa orang yang menipu akan jatuh kewibawaannya di hadapan orang lain. Orang-orang akan menjauhinya dan tidak mempercayainya. Jadilah barang dagangannya sepi dari pembeli dan ia merugi pada agama dan dunianya.

Bagaimana pantas bagi seorang muslim untuk berani menipu padahal ia dari umat Islam yang Islam memerintah untuk berbuat adil, seimbang dan melarang dari setiap kezhaliman?!

Wahai orang yang melakukan penipuan: bukankah engkau mengaku sebagai orang Islam?! Lalu kenapa engkau berbuat sesuatu yang menyebabkan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam menjauhimu dan mengeluarkan engkau dari bagian kaum muslimin?!

Demi Allah! Kalau seandainya engkau berakal maka sekedar engkau mendengar hadits ini niscaya engkau akan menghentikan perbuatanmu. Allah tidak memberkahi harta yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menegaskan bahwa dengan sebab harta itu engkau bukan bagian dari kami (muslimin).

Wahai orang Islam, takutlah kepada Allah. Gunakanlah waktu sehatmu (untuk berbuat baik) sebelum datang waktu sakit dan waktu hidupmu sebelum waktu kematian. Allah Ta’ala berfirman (artinya): “Hanyalah harta dan anak-anak kalian itu ujian (bagi kalian). Di sisi Allah lah  pahala yang besar. Bertakwalah kalian  kepada Allah sebatas kemampuan kalian, dengarlah, taatilah dan belanjakanlah harta yang baik untuk kalian. Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [At Taghaabun: 15-16].

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian melalui Al Qur’an Al ‘Azhiim, memberi manfaat kepadaku dan kalian melalui apa yang ada padanya berupa ayat-ayat dan peringatan. Aku mengatakan hal ini dan memohon ampun kepada Allah untukku, kalian dan segenap kaum muslimin dari setiap dosa.Maka mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Memberi Ampunan dan Maha Penyayang.

                                                                                              Dialihbahasakan dari salah satu khutbah beliau yang

dihimpun dalam kitab “Adh-Dhiyaa’ul Laami’

                                                                                               Minal Khuthabil Jawaami’ “                                                                                


, , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: