Pentingnya Menjaga Lisan


Kalau kita amati, banyak sekali terjadi permasalahan di tengah masyarakat yang bersumber dari lisan yang tidak dijaga. Tidak sedikit terjadi pembunuhan yang dilatarbelakangi ketersinggungan pembunuh dari ucapan orang yang dibunuh; bahkan hal ini sering terjadi dalam satu keluarga. Lisan juga acapkali merusak ukhuwah diantara kaum muslimin bahkan dua orang yang tadinya seperti saudara bisa menjadi musuh bebuyutan dikarenakan lisan.

Allah subahanahu wa ta’ala mengatakan dalam salah satu ayat-Nya (artinya) : “Dan tidaklah seseorang berucap sesuatu melainkan ada di sisinya malaikat yang senantiasa mencatat apa yang diucapkannya.”( QS. Qaaf 18 ).Para ulama sepakat bahwa malaikat yang di sebelah kanan menulis amal kebaikan dan malaikat yang di sebelah kiri menulis amal kejelekan.

Nabi yang agung Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam salah satu nasihat emas beliau menggambarkan betapa pentingnya bagi kita memikirkan tentang apa yang akan kita ucapkan dalam sabda beliau (artinya) : “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata yang baik atau diam.” (HR.Bukhari Muslim). An Nawawi Asy Syafi’I rahimahullah menjelaskan bahwa seyogyanya bagi setiap orang untuk menjaga lisannya dari seluruh ucapan kecuali ucapan yang nampak adanya manfaat di dalamnya. Maka, ketika dirasa sama manfaat yang timbul dari berucapnya seseorang dan diamnya dia; ketika itu hendaklah dia diam. Bagaimana kalau dia masih ragu apakah yang akan dia ucapkan bermanfaat atau tidak? Bagaimana kalau dia sudah menduga bahwa yang akan dia ucapkan menimbulkan kerusakan, baik untuk dirinya maupun orang lain? Bagaimana kalau dia yakin bahwa yang akan dia ucapkan membuatnya ditanya dihadapan Allah Yang Maha Kuasa??

Wajarlah kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang lain menjanjikan surga/al jannah bagi siapa saja yang bisa menjaga kejelekan lisan dan kemaluannya.(HR.Bukhari). Di sisi lain, ketika beliau ditanya apakah penyebab terbesar yang menyeret manusia ke neraka, maka beliau menjawab : mulut/lidah dan kemaluan. Dalam kesempatan yang lain, beliau ditanya mengenai kunci – kunci keselamatan; maka beliau menyebutkan tiga hal diantaranya adalah menjaga lisan.

Amirul mukminin Umar ibnul Khattab radhiyallahu ‘anhu dalam salah satu petuahnya mengatakan bahwa barangsiapa banyak bicara maka akan banyak kesalahannya; dan barangsiapa banyak salahnya maka akan banyak dosanya dan barangsiapa banyak salahnya maka neraka lebih berhak untuknya. Shahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa tidak ada di muka bumi yang lebih berhak untuk dipenjara melebihi lisan.

Dari berbagai nasihat di atas, kita sadar pentingnya menjaga lisan dan menjaga diri kita dari berbagai kejelekan yang mungkin timbul dari lisan. Kejelekan lisan bermacam – macam diantaranya :

  1. Syirik kepada Allah seperti pujian yang berlebihan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menyamakan beliau dengan Allah dalam hal – hal yang menjadi kekhususan bagi Allah ta’ala semata. Misalnya adalah berbagai shalawat yang isinya berupa pujian bahwa beliau bisa memenuhi berbagai kebutuhan dan bisa menyelamatkan dari berbagai kesulitan. Akibatnya, mereka berdoa,meminta dan beristighotsah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang lebih menyedihkan, hal seperti ini dianggap sebagai bentuk cinta rasul dan pengagungan kepada beliau padahal beliau sendiri pernah memperingatkan kita (artinya) : “Janganlah kalian berlebihan kepadaku[dalam memuji dan mengagungkan] sebagaimana berlebihannya orang Nashara kepada ‘Isa ibnu Maryam.” (HR.Bukhari). Tentu kita bisa memahami bahwa kalau berlebihan dalam mengagungkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja dilarang apalagi berlebihan dalam mengagungkan orang – orang shalih-seperti para wali-yang kedudukan mereka tidak sebanding dengan beliau tentu lebih terlarang.
  2. Kekufuran/kekafiran kepada Allah seperti mencela Allah (mis.ucapan bahwa Allah tidak adil), mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (mis.ucapan bahwa beliau adalah orang yang doyan wanita karena banyak istri), mencela sebagian syariat Islam (mis.ucapan bahwa hukum rajam bagi penzina yang sudah menikah adalah hukum yang kejam dan tidak manusiawi) maupun mencela agama Islam secara umum(mis.ucapan bahwa Islam tidak lebih dari produk budaya sehingga kebenaran ajarannya bisa berubah sesuai perkembangan zaman). Bentuk – bentuk kejelekan lisan pada kedua bagian di atas bisa mengeluarkan orang yang mengucapkannya dari agama Islam terlebih biasanya tidaklah dia mengucapkannya melainkan sudah didahului dengan keyakinan di dalam qalbunya bahkan sangat mungkin apa yang tersembunyi dalam qalbunya lebih jelek.
  3. Berbagai kemaksiatan kepada Allah dalam bentuk ucapan. Hal ini bisa terkait hubungan ortu-anak seperti memaki dan mengumpat orang tua hanya karena keinginan si anak tidak keturutan; atau sebaliknya orang tua yang suka membentak dan menghardik anaknya secara berlebihan. Bisa pula dalam wujud ringannya lisan dalam mengeluarkan kata – kata kotor baik ketika di jalan raya, ketika mengetahui tim kesayangannya kalah dalam suatu pertandingan dan sebagainya. Bentuk lain yang sangat sering terjadi adalah perbuatan ghibah atau menggunjing. Dosa ini dilakukan oleh kebanyakan orang dan sangat sedikit yang selamat darinya padahal Al Qurthubi,seorang ulama madzhab Maliki,menegaskan tidak adanya perselisihan di kalangan para ulama  bahwa ghibah adalah dosa besar.

Masih banyak sekali bentuk – bentuk kejelekan lisan atau bahaya lisan yang perlu kita ketahui dan kita sadari. Kita ingat sebuah perkataan yang indah Aku mengetahui hal yang jelek bukan untuk melakukannya namun untuk menghindarinya. Barangsiapa tidak mengetahui hal yang jelek maka dia akan terjatuh ke dalamnya.

Sebagai penutup, mari kita memperbayak doa dan perendahan diri di hadapan Allah ‘azza wa jalla agar kita dijauhkan dari berbagai kejelekan termasuk kejelekan diri kita. Uswah atau teladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita agar kita berlindung kepada Allah darilima kejelekan diri kita yaitu : kejelekan pendengaran, kejelekan penglihatan, kejelekan lisan, kejelekan qalbu, dan kejelekan air mani/syahwat.

Allaahumma innii a’uudzubika min syarri sam’ii, wa min syarri bashorii, wa min syarri lisaanii wa min syarri qalbii, wa min syarri maniyyii.

, , , , , ,

  1. #1 by Artikel Islami on Rabu,22 Februari 2012 - 13:41

    Sharing yang bagus. Terima kasih

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: