Menyempurnakan Shaf Ketika Shalat Berjamaah


Menyempurnakan shaf mencakup beberapa hal, diantaranya :
1.Menyempurnakan shaf yang paling depan terlebih dahulu kemudian shaf berikutnya dan seterusnya.
2.Meluruskan shaf yang tidak diperbolehkan bagi setiap makmum untuk lebih maju atau lebih mundur dibanding makmum lainnya.
3 Merapatkan shaf dengan merapatkan pundak dan mata kaki makmum dengan pundak dan mata kaki makmum lainnya.
4.Mendekatkan setiap barisan shaf dengan barisan shaf yang ada di depannya sejarak sujudnya seseorang dengan sempurna
Beberapa hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menyebutkan perintah dan keutamaan menyempurnakan shaf. Di sisi lain, juga menyebutkan larangan dan ancaman terhadap orang yang mengabaikan shaf dalam shalat berjamaah. Demikian pula, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menerangkan tata cara (kaifiyat) shaf dalam shalat berjamaah. Sungguh, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam.
Perintah dan Keutamaan Menyempurnakan Shaf
1.Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Luruskan shaf- shaf kalian karena meluruskan shaf itu termasuk dari menegakkan shalat.” [H.R Al Bukhari].
2.Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “…dan tegakkanlah shaf dalam shalat kalian karena menegakkan shaf itu termasuk dari kebaikan shalat.” [H.R Al Bukhari dan Muslim].
Dua hadits tersebut menyebutkan tentang perintah sedangkan hukum asal perintah Allah atau Rasul-Nya adalah wajib. Wallahu a’lam
3.Hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Seungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat untuk orang- orang yang menyambung shaf dan barangsiapa menutup celah pada shaf (shalat) maka Allah akan angkat derajat orang tersebut.” [H.R Ibnu Majah dan asy-Syaikh Al Albani menshahihkannya dengan beberapa riwayat pendukung lainnya di dalam ash-Shahihah 2532]. Makna shalawat dari Allah adalah pujian Allah terhadap hamba-Nya di hadapan para malaikat. Sedangkan shalawat dari malaikat adalah permohonan ampunan dan rahmat dari para malaikat kepada Allah untuk hamba tersebut.
4.Hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Barangsiapa menutup celah pada shaf (shalat) maka Allah akan membuatkan rumah baginya di surga dan Allah akan angkat derajatnya.” [Ash-Shahihah 1892].
5.Hadits Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma
Rasulullah Shallallahu ‘aalihi Wasallam bersabda (artinya): “…dan tidaklah ada sebuah langkah kaki yang lebih besar pahalanya daripada langkah kaki seseorang menuju celah pada shaf (shalat) lalu ia menutupnya.” [Ash-Shahihah 2533].
Subhanallah ! Keutamaan- keutamaan yang sangat agung dan tidak dapat dibandingkan dengan harta sebanyak apa pun yang kita miliki, untuk sebuah amal shalih yang sangat mudah kita lakukan. Semoga keimanan mendorong kita untuk melakukannya dengan ijin Allah.
Larangan dan Ancaman Bila Tidak Menyempurnakan Shaf.
1.Hadits ‘Uqbah bin ‘Amr Al Anshari radhiyallahu ‘anhu
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Luruskanlah (shaf) kalian dan janganlah kalian saling menyimpang, niscaya kalbu kalian akan saling menyimpang pula..” [H.R Muslim].
Sungguh ! Penyimpangan di dalam bentuk tidak rapat atau tidak lurusnya shaf akan menimbulkan penyimpangan dalam kalbu orang yang melakukan penyimpangan tersebut.
2.Hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Barangsiapa menyambung shaf maka Allah akan menyambung (kebaikan) nya dan barangsiapa memutuskan shaf maka Allah ‘Azza wa Jalla akan memutus (kebaikan) nya.” [H.R An-Nasa’i. Lihat Abu Dawud dan dishahihkan asy-Syaikh Al Albani].
Ancaman yang disebutkan dua hadits di atas ini sangat jelas menunjukkan bahwa tidak menyempurnakan shaf dalam bentuk tidak merapatkan atau meluruskan shaf adalah perkara yang diharamkan, dapat mengurangi kesempurnaan shalat. Wallahul Musta’an !
Faedah
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau mendatangi kota Madinah lalu ditanya: “Apa yang anda ingkari dari amalan kami sejak hari anda masih bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam ?” Maka Anas menjawab :”Tidaklah aku mengingkari sesuatu pun melainkan kalian sudah tidak menegakkan shaf- shaf (shalat).” [Al Bukhari]
Apabila pengingkaran itu telah terjadi di masa para tabi’in, tidak lama sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, lalu bagaimana jika Anas melihat secara langsung sebagian manusia yang tidak menyempurnakan shaf di masa sekarang ?!
Seorang Imam Dituntut Untuk Mengingatkan/ Meminta Para Makmum Agar Menyempurnakan Shaf
An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam meluruskan shaf- shaf kami, seakan- akan beliau meluruskan anak- anak panah, sampai beliau melihat kami telah mengerti maksud beliau. Lalu pada suatu hari, beliau keluar memimpin shalat dan berdiri bertakbir. Ternyata, beliau melihat seseorang yang dadanya lebih maju melebihi barisan shaf. Maka beliau menegur (artinya): “Wahai hamba-hamba Allah ! Demi Allah, hendaknya kalian benar- benar meluruskan shaf- shaf kalian atau (bila tidak) Allah akan memalingkan wajah- wajah kalian.” [H.R Muslim].
Demikianlah, suri tauladak kita memberikan contoh berupa kepedulian seorang imam terhadap shaf para makmumnya sebelum shalat dimulai.
Beberapa Hal Yang Perlu Diperhatikan Ketika Membuat shaf Shalat
1.Hendaknya seseorang tidak membuat shaf baru kecuali setelah shaf yang ada di depannya telah sempurna dan tidak memungkinkan untuk ditempati. Apabila shaf di depannya belum sempurna dan memungkinkan untuk ia tempati, namun ternyata ia membuat shaf baru dalam keadaan sendirian (tidak ada makmum lain bersama dirinya) lalu shalat sampai imam bangun dari ruku’, maka shalatnya tidak sah.Dari Wabishah bin Ma’bad Al Asadi radhiyallahu ‘anhu bahwa seseorang pernah shalat di belakang shaf sendirian. Lantas Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam meminta orang tersebut untuk mengulangi shalatnya. [H.R At Tirmidzi yang dishahihkan asy-Syaikh Al Albani].
2.Apabila seseorang ingin bermakmum dengan seorang imam dalam keadaan tidak ada makmum selain dirinya, maka hendaknya dia berdiri sejajar di samping kanan imam, tidak lebih mundur walaupun sejengkal.
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, berkata: “Aku pernah menghampiri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam di akhir malam, lalu aku shalat di belakang beliau. Ternyata beliau memegang tanganku ke belakang dan memposisikan aku di samping beliau…”[Ash Shahihah 606, 2590 dan ash-Shahihul Musnad 601]. Di dalam riwayat lain: Abdullah bin Abbas,berkata:”…lalu aku datang dan berdiri di samping kiri beliau.Ternyata beliau menarik aku ke belakang dan memposisikan aku di sebelah kanan beliau…” [H.R Muslim]
Namun cara seperti itu hanya berlaku bagi makmum pria. Adapun makmum wanita maka dirinya mutlak berdiri di belakang imam sekali pun sendirian.
3.Apabila makmum tunggal ini didatangi makmum kedua (pria , bukan wanita), maka kedua makmum ini mundur untuk berdiri di belakang imam. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma,berkata: “…lalu aku datang dan berdiri di sebelah kiri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.Ternyata beliau memegang tanganku ke belakang dan memposisikan aku di sebelah kanan beliau. Kemudian Jabbar bin Shakhr datang berwudhu lalu berdiri di sebelah kiri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Ternyata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memegang tangan kami dan memposisikan kami di belakang beliau…” [H.R Muslim]
4.Tidak diperkenankan bagi makmum untuk membuat shaf memanjang diantara tiang- tiang masjid karena dapat menyebabkan shafnya terputus. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:”Kami dahulu menghindari ini (tiang- tiang masjid-pen) di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.” [Abu Dawud yang dishahihkan asy-Syaikh Al Albani dan asy-Syaikh Muqbil]. Al Imam Malik rahimahullah berkata: “Tidak mengapa membuat shaf- shaf memanjang diantara tiang- tiang masjid apabila masjid tersebut sempit.”
Wallahu a’lamu bish-Shawaab

, , , , , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: