<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>As Sunnah Madiun</title>
	<atom:link href="http://assunnahmadiun.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://assunnahmadiun.wordpress.com</link>
	<description>Sekretariat: Perum Merak Indah Jl. Elang II No.2 Madiun Jawa Timur Indonesia – Telp. 0351-7605060</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 14:13:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='assunnahmadiun.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/2415ea0a62dd9b71b692fbd0aab0eda4?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>As Sunnah Madiun</title>
		<link>http://assunnahmadiun.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://assunnahmadiun.wordpress.com/osd.xml" title="As Sunnah Madiun" />
	<atom:link rel='hub' href='http://assunnahmadiun.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Mencintai Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam</title>
		<link>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2012/01/25/mencintai-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam/</link>
		<comments>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2012/01/25/mencintai-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 14:13:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>as sunnah madiun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[bukti cinta]]></category>
		<category><![CDATA[cinta rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[hawa nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[sempurna iman]]></category>
		<category><![CDATA[tanda cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://assunnahmadiun.wordpress.com/?p=688</guid>
		<description><![CDATA[Al Imam Al Bukhari rahimahullah meriwayatkan dengan sanandnya dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Tidaklah (sempurna) iman seorang diantara kalian sampai diriku lebih dia cintai daripada kecintaan terhadap ayahandanya,  anaknya, dan seluruh manusia lainnya.”[Shahih Al Bukhari] Al Imam Muslim rahimahullah juga meriwayatkan hadits yang semisal dengan hadits di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahmadiun.wordpress.com&amp;blog=6335013&amp;post=688&amp;subd=assunnahmadiun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;" align="center"><a href="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2012/01/mawar-ok.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-689" title="mawar-ok" src="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2012/01/mawar-ok.jpg?w=300&#038;h=266" alt="" width="300" height="266" /></a>Al Imam Al Bukhari <em>rahimahullah</em> meriwayatkan dengan sanandnya dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, berkata: Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam</em> bersabda (artinya): “<em>Tidaklah (sempurna) iman seorang diantara kalian sampai diriku lebih dia cintai daripada kecintaan terhadap ayahandanya,  anaknya, dan seluruh manusia lainnya.</em>”[Shahih Al Bukhari]</p>
<p>Al Imam Muslim <em>rahimahullah</em> juga meriwayatkan hadits yang semisal dengan hadits di atas di dalam Shahih beliau.</p>
<p>Di dalam riwayat lain, Al Imam Al Bukhari menyebutkan hadits Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> bahwa Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam </em>bersabda (artinya): <em>“Demi Dzat yang aku berada di tangan-Nya, tidaklah (sempurna) iman salah seorang diantara kalian sampai diriku lebih dia cintai daripada kecintaan terhadapayahanda dan anaknya.”</em>[Shahih Al Bukhari]</p>
<p>Al Imam an-Nawawi  <em>rahimahullah</em> berkata : “Ibnu Baththal <em>rahimahullah</em> berkata : <em>“Makna hadits tersebut bahwa barangsiapa yang sempurna keimanannya maka ia tahu bahwa hak Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam itu lebih ditekankan kepada dirinya daripada hak ayahanda, anaknya, dan seluruh manusia lainnya. Hal ini disebabkan, kita dapat selamat dari neraka dan kesesatan karena (bimbingan) beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam.”</em> [Syarh an-Nawawi]</p>
<p><strong>Mencintai  Nabi  <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam</em> Melebihi Kecintaan Terhadap Dirinya Sendiri</strong></p>
<p>Dari Abdullah bin Hisyam At Taimi <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata : Kami pernah bersama Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam</em>. Beliau memegang tangan Umar bin Al Khaththab. Lalu Umar berkata kepada beliau : <em>“Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali kecintaan terhadap diriku</em>.” Lantas Nabi  <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam</em> bersabda (artinya) : “<em>Tidak, demi Dzat yang aku berada di tangan-Nya. (Tidak cukup demikian) sampai diriku lebih engkau cintai daripada kecintaan terhadap dirimu sendiri.”</em> Akhirnya Umar berkata : “<em>Sekarang, demi  Allah. Sungguh engkau lebih aku cintai daripada kecintaan terhadap diriku sendiri.”</em> Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi Wasalam</em> pun berkata (artinya) : “<em>Sekarang, wahai Umar.”</em> [Al Bukhari]</p>
<p><strong>Bukti  Mencintai Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi Wasalam</em></strong></p>
<p>Bukti mencintai Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi Wasalam</em> adalah mengikuti bimbingan beliau dan mendudukkan ucapan beliau  di atas segala bentuk ucapan manusia, siapa pun mereka.</p>
<p>Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan ‘Alusy Syaikh <em>rahimahullah</em> berkata : “Maka barangsiapa mengaku mencintai Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi Wasalam</em> namun tanpa mengikuti bimbingan beliau dan mendahulukan ucapan beliau daripada ucapan orang lain, maka sungguh ia telah berdusta. Allah Ta’ala berfirman (artinya) :<em>“Dan mereka berkata : “Kami beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Kami pun taat kepada keduanya. Namun ternyata segolongan dari mereka berpaling setelah itu. Mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.”</em> [An Nuur : 47]</p>
<p>Maka Allah pun  meniadakan keimanan  orang yang berpaling dari ketaatan terhadap Rasul <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam tersebut</em>. Hanya saja setiap muslim itu kadar kecintaannya (kepada Rasul) sesuai dengan kadar keislamannya. Setiap muslim mesti  disebut orang beriman sekalipun bukan orang yang sempurna keimanannya. Kesempurnaan iman tidaklah ada kecuali pada diri orang-orang yang murni keimanannya.” [Fathul Majid]</p>
<p>Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata : “Adapun tanda mencintai Rasulullah  <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam</em> di atas kecintaan kepada orang lain  adalah engkau mendahulukan perintah Rasul <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam</em> daripada hawa nafsumu. Ini adalah tanda terbesar bahwa Rasul <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam</em> lebih engkau cintai daripada kecintaan terhadap dirimu sendiri. Apabila Rasul memerintah sesuatu kepada engkau sedangkan hawa nafsumu enggan untuk mengerjakan atau beliau melarang engkau dari sesuatu sedangkan hawa nafsumu senang untuk melakukannya, lalu engkau  mengingkari hawa nafsumu, maka ini berarti Rasul <em>Shallallahu ‘alaihi Wasalam</em> lebih engkau cintai daripada kecintaan terhadap dirimu sendiri. Bila tidak demikian maka engkau pasti akan mengikuti hawa nafsumu dan meninggalkan perintah Rasul.”[Syarhul Bukhari]</p>
<p>Asy-Syaikh Shalih Al Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata : “Maka kesimpulannya bahwa pengakuan yang diucapkan, atau perayaan (tentang Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi Wasalam</em>) yang diselenggarakan seseorang bukanlah dalil yang menunjukan orang itu mencintai Rasul <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam</em>.</p>
<p>Dalil yang menunjukan kecintaan kepada Rasul <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam</em> adalah mengikuti bimbingan beliau, menaati perintahnya, membenarkan beritanya, menjahui larangannya, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan cara yang diajarkan beliau <em>‘alaihis Shalaatu Was Salaam</em>. Inilah dalil yang menunjukan kecintaan kepada Rasul <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam</em>. Kita tidak menerima pengakuan semata, tetapi kita menerima dalil yang menunjukan benarnya pengakuan tersebut.”[I’anatul Mustafid]</p>
<p><strong>Kecintaan Membawa Kepada Kebersamaan</strong></p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, berkata.”Seseorang datang menemui Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam</em>, lalu bertanya : “<em>Wahai Rasulullah! Kapan hari kiamat itu tiba?</em>” Beliau pun balik bertanya (artinya) : <em>“Apa yang telah engkau siapkan untuk menghadapi hari kiamat?</em>” Dia pun menjawab : “<em>Mencintai Allah dan Rasul-Nya.</em>” Akhirnya beliau berkata (artinya) : <em>“Sesungguhnya engkau akan bersama dengan siapa yang engkau cintai.</em>” Anas pun sempat berkata: <em>“Tidaklah kami bahagia setelah Islam yang melebihi kebahagiaan kami terhadap sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam (artinya): “Sesungguhnya engkau bersama dengan siapa yang engkau cintai.”</em></p>
<p>Anas juga berkata : “ <em>Aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakr, dan Umar. Aku berharap akan bersama mereka sekalipun aku tidak mampu beramal setingkat amalan mereka.</em>”[Muslim]</p>
<p>Dalam hadits yang lain, seorang Arab dusun pernah bertanya kepada Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam</em> : <em>“Seseorang mencintai suatu kaum namun tidak setingkat dengan kaum tersebut?”</em> Maka beliau menjawab (artinya) : “<em>Seseorang itu akan bersama dengan orang yang ia cintai pada hari kiamat.</em>”[At Tirmidzi yang dihasankan asy-Syaikh Al Albani dan asy-Syaikh Muqbil].</p>
<p>Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin <em>rahimahullah </em>berkata : “<em>Ini adalah berita gembira bagi seseorang. Apabila dirinya mencintai suatu kaum (yang baik-pen) maka ia akan bersama mereka, sekalipun amalannya sedikit. Dirinya bersama mereka di surga. Allah mengumpulkan dirinya bersama mereka mereka pada hari kiamat. Mereka semua akan menikmati air telaga Rasul Shallallahu ‘alaihi Wasallam.</em>”[Syarh Riyadhus Shalihin]</p>
<p><strong>Ancaman Bagi Seseorang Yang Mengabaikan Kecintaan Terhadap Rasul Shallallahu ‘alaihi Wasallam</strong></p>
<p>Di dalam salah satu ayat Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman (artinya) : <em>“Katakanlah (wahai , Muhammad): “Apabila ayah-ayah kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, keluarga kalian, harta yang kalian dapatkan, perdagangan yang kalian khawatirkan kerugiannya atau tempat tinggal yang kalian senang ternyata lebih kalian cintai daripada kecintaan terhadap Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah waktu sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidaklah memberi hidayah kepada orang-orang fasik.”</em>[At Taubah : 24]</p>
<p>Al Imam Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di<em> rahimahullah</em> berkata : “<em>Ayat yang mulia ini merupakan dalil paling agung yang menunjukkan kewajiban mencintai Allah dan Rasul-Nya, mendahulukan kecintaan kepada keduanya di atas kecintaan kepada segala sesuatu, sekaligus ancaman yang keras dan kemurkaan yang besar terhadap siapa saja yang salah satu dari hal yang disebutkan tadi ternyata lebih ia cintai daripada kecintaan kepada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya.”[</em>Tafsir as-Sa’di]</p>
<p><em>Wallahu a’lam bish Shawaab.</em><em></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/assunnahmadiun.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/assunnahmadiun.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/assunnahmadiun.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/assunnahmadiun.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/assunnahmadiun.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/assunnahmadiun.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/assunnahmadiun.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/assunnahmadiun.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/assunnahmadiun.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/assunnahmadiun.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/assunnahmadiun.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/assunnahmadiun.wordpress.com/688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/assunnahmadiun.wordpress.com/688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/assunnahmadiun.wordpress.com/688/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahmadiun.wordpress.com&amp;blog=6335013&amp;post=688&amp;subd=assunnahmadiun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2012/01/25/mencintai-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c5fbd0536bb84a282bd6cec3987dcbfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">as sunnah madiun</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2012/01/mawar-ok.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">mawar-ok</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara Kejujuran dan Kedustaan</title>
		<link>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2012/01/18/antara-kejujuran-dan-kedustaan/</link>
		<comments>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2012/01/18/antara-kejujuran-dan-kedustaan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 14:31:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>as sunnah madiun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[adil]]></category>
		<category><![CDATA[adzab]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[bohong]]></category>
		<category><![CDATA[fajir]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[jujur]]></category>
		<category><![CDATA[nifaq]]></category>
		<category><![CDATA[riya']]></category>
		<category><![CDATA[sum'ah]]></category>
		<category><![CDATA[syirik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://assunnahmadiun.wordpress.com/?p=683</guid>
		<description><![CDATA[Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah Segala puji bagi Allah Dzat pemilik pujian. Dialah yang membalas pahala orang-orang yang jujur dengan rahmat dan keutamaan-Nya. Dialah yang mengazab orang-orang yang berdusta dengan hikmah dan keadilan-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, tiada sekutu pada ketentuan-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahmadiun.wordpress.com&amp;blog=6335013&amp;post=683&amp;subd=assunnahmadiun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;" align="center"><strong><a href="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2012/01/250055_1853158571196_1307751853_31905581_1343768_n.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-684" title="250055_1853158571196_1307751853_31905581_1343768_n" src="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2012/01/250055_1853158571196_1307751853_31905581_1343768_n.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a>Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin <em>Rahimahullah</em></strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah Dzat pemilik pujian. Dialah yang membalas pahala orang-orang yang jujur dengan rahmat dan keutamaan-Nya. Dialah yang mengazab orang-orang yang berdusta dengan hikmah dan keadilan-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, tiada sekutu pada ketentuan-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Shalawat dan salam tercurahkan kepada beliau, keluarga, sahabat dan para pengikut beliau.</p>
<p>Selanjutnya, wahai manusia bertakwalah kepada Allah <em>Ta’ala</em>, bersamalah dengan orang-orang yang jujur terhadap Allah dan manusia. Jujurlah kalian terhadap Allah dalam peribadatan kepada-Nya. Beribadahlah kepada-Nya dalam keadaan ikhlas, tidak<em> riya’,</em> atau <em>sum’ah</em>. Tunaikanlah perintah-Nya dalam rangka mengharap kedekatan dengan-Nya dan pahala-Nya. Jauhilah larangan-Nya karena takut jauh dari-Nya dan terjatuh dalam siksa-Nya. Janganlah kalian berharap manusia melihat dan mendengar amalan kalian lalu mereka memujinya. Sesungguhnya Allah paling tidak butuh dari kesyirikan. Barangsiapa beramal dalam keadaan menyekutukan Allah maka Allah akan membiarkan orang tersebut beserta kesyirikannya.</p>
<p>Jujurlah kalian terhadap Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam</em> dalam mengikuti beliau secara lahir maupun batin. Tidak meremehkan, tidak pula berlebih-lebihan. Jujurlah kalian terhadap manusia dalam pergaulan. Beritakan sesuatu yang memang benar-benar terjadi saat kalian menyampaikan berita kepada manusia. Terangkan hakikat sebuah perkara saat kalian bergaul dengan manusia.</p>
<p>Itulah kejujuran yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman (artinya): “<em>Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah dengan orang- orang yang jujur.</em>” [At Taubah: 119].</p>
<p>Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam</em> bersabda (artinya): “<em>Hendaknya kalian jujur karena kejujuran itu akan membawa pelakunya kepada kebaikan sedangkan kebaikan akan membawa kepada surga. Seseorang senantiasa jujur dan membiasakan untuk jujur sampai ditetapkan Allah sebagai orang yang berwatak jujur.”</em></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam</em> menjelaskan di dalam hadits ini bahwa kejujuran<em> </em>itu memiliki akibat dan orang yang jujur memiliki kedudukan. Adapun akibat kejujuran adalah kebaikan lalu surga. Sedangkan kedudukan orang yang jujur adalah kepemilikan watak kejujuran. Watak kejujuran menempati kedudukan setelah kenabian. Allah berfiman (artinya): <em>“Dan barangsiapa menaati Allah dan rasul-Nya maka mereka bersama orang-orang yang Allah beri kenikmatan kepadanya dari kalangan nabi, orang-orang berwatak jujur, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Mereka itulah sebaik-baik teman.” </em>[An Nisaa’ : 69]</p>
<p>Orang yang jujur itu diistimewakan oleh manusia baik saat ia masih hidup maupun setelah wafat. Orang yang jujur dipercaya berita, pergaulannya dan dipuji oleh manusia. Ia pun didoakan dengan rahmat setelah meninggal dunia.</p>
<p>Hati-hatilah –wahai kaum muslimin- dari kedustaan. Hati-hatilah dari kedustaan dalam beribadah kepada Allah. Janganlah kalian beribadah dalam keadaan <em>riya’, sum’ah</em>, pura-pura dan <em>nifaq</em>. Hati-hatilah dari kedustaan dalam mengikuti utusan Allah. Janganlan kalian melakukan perkara baru dalam syariat beliau dan menyelisihi petunjuk beliau.Hati-hatilah dari kedustaan saat bersama manusia. Janganlah kalian menyampaikan berita yang tidak sesuai kenyataan kepada manusia. Janganlah kalian menyembunyikan hakikat sebenarnya saat bergaul dengan manusia.</p>
<p>Sesungguhnya seorang mukmin tidak mungkin berdusta karena kedustaan itu salah satu perangai orang-orang munafik. Allah berfirman (artinya): “<em>Dan Allah mempersaksikan bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar berdusta.” </em> [Al Munafiquun : 1].</p>
<p>Allah berfirman (artinya): “<em>Di dalam kalbu mereka (orang-orang munafik)terdapat penyakit. Maka Allah pun menambahkan penyakit kepada mereka. Bagi mereka azab yang pedih karena kedustaan yang mereka lakukan.” </em>[Al Baqarah:10].</p>
<p>Allah berfirman (artinya): “<em>Hanyalah  yang membuat kedustaan itu adalah orang-orang yang tidak beriman terhadap ayat-ayat Allah. Merekalah orang-orang yang berdusta.” </em> [An Nahl : 105].</p>
<p>Sesungguhnya seorang mukmin itu tidak mungkin berdusta karena ia adalah orang yang beriman terhadap ayat-ayat Allah, rasul-Nya dan sabda beliau (artinya): “<em>Sesungguhnya kedustaan itu membawa pelakunya kepada kefajiran sedangkan kefajiran itu membawa kepada neraka.Seseorang senantiasa berdusta dan membiasakan untuk berdusta sampai ditetapkan Allah sebagai orang yang berwatak pendusta.”</em></p>
<p>Betapa buruk akibat kedustaan dan betapa rendah kedudukan orang yang berdusta. Kedustaan menyeret kepada kefajiran. Kefajiran adalah penyimpangan dari jalan yang lurus. Kemudian kefajiran akan menjerumuskan ke dalam neraka. Orang yang berdusta itu rendah karena ia akan ditetapkan Allah sebagai orang yang berwatak pendusta. Sejelek-jelek perangai adalah kedustaan bagi orang yang berperangai dengannya.</p>
<p>Sesungguhnya seseorang itu tentu mengelak untuk dipanggil di tengah manusia: “<em>Wahai pendusta</em> !” Lalu bagaimana ia rela terus menerus ditetapkan di sisi Allah sebagai  pendusta ?! Sesungguhnya orang yang berdusta itu akan dijauhi manusis ketika ia masih hidup. Ia tidak dipercaya dalam penyampaian berita atau pergaulannya. Sesungguhnya ia akan didoakan kejelekan ketika ia telah mati.</p>
<p>Allah Ta’ala menyebutkan kedustaan beriringan dengan peribadatan kepada berhala. Allah<em> Ta’ala</em> berfirman (artinya):<em> “Maka kalian jauhi berhala-berhala yang najis  itu dan jauhi pula perkataan dusta.</em>” [Al Hajj : 30]  <em>  </em></p>
<p>Lalu apakah setelah ini seorang mukmin masih menjadikan kedustaan sebagai tunggangan saat berjalan atau pola pikir saat ia hidup ?!</p>
<p>Sungguh, dahulu orang-orang kafir dalam kekafirannya dan orang-orang musyrik jahiliah dalam kejahiliahannya tidak menjadikan kedustaan itu sebagai tunggangan, tidak menjadikannya sebagai pola pikir saat mereka hidup dan tidak pula sebagai sarana mencapai kebutuhan. Inilah Abu Sufyan. Ia pergi –sebelum masuk Islam- bersama rombongan dagang Quraisy menuju Syam. Tatkala Heraklius, raja Romawi mendengar kedatangan mereka maka Heraklius mengirim utusannya untuk bertanya kepada mereka tentang Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam.</em> Abu Sufyan berkata: “<em>Demi Allah! Kalau bukan karena rasa malu untuk mereka (rombongan dagang Quraisy) mempengaruhiku untuk berdusta  maka sungguh aku akan berdusta (perihal nabi ini).”</em></p>
<p>Demikianlah, wahai kaum mukminin. Orang-orang kafir dalam kekafirannya dan orang jahiliah dalam kejahiliahannya mejauhkan diri dari kedustaan, mereka malu untuk dipengaruhi dan disematkan kedustaan kepada mereka. Lalu bagaimana dengan kalian wahai kaum mukminin?! Allah telah menganugerahkan kepada kalian agama yang sempurna ini. Agama yang mengajak dan menganjurkan kalian untuk jujur. Agama yang menerangkan kepada kalian tentang akibat  dan buah yang baik dari kejujuran. Agama yang melarang dan mencegah kalian dari kedustaan. Agama yang menerangkan kalian tentang akibat dan buah yang buruk dari kedustaan.</p>
<p>Sesungguhnya sebagian orang yang tertipu dari umat ini merasa nikmat dengan kedustaan dan membolehkan hal itu untuk dirinya. Demikian ini bisa terjadi karena mereka meremehkan kedustaan, memiliki keyakinan yang rusak ketika dirinya menyangka bahwa kedustaan itu tidaklah diharamkan kecuali bila sampai memakan harta orang lain, adanya ketamakan terhadap materi duniawi, atau sekedar ikut-ikutan.</p>
<p>Kedustaan satu kali akan merobek tirai yang membatasi dirimu dari kedustaan sampai tidak ada satu pun tirai yang tersisa. Bila jiwa manusia itu terjatuh ke dalam kedustaan satu kali maka kedustaan akan terasa ringan baginya. Lalu terjatuh ke dalam kedustaan kedua kalinya. Dan terasa lebih ringan baginya, sampai kedustaan menjadi tabiat baginya. Dirinya berdusta dan membiasakan untuk berdusta sampai dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.</p>
<p>Kedustaan itu haram, sekalipun tidak memakan harta orang lain dengan cara batil. Tidak ada di dalam Al Qur’an maupun As Sunnah yang menyebutkan bahwa kedustaan itu baru diharamkan ketika memakan harta orang lain. Namun, bila sampai memakan harta orang lain maka lebih besar dosanya dan lebih keras siksanya.</p>
<p>Sebagian manusia berdusta untuk membuat orang lain tertawa. Mereka suka hal itu karena melihat manusia tertawa. Lalu mereka terus menerus melakukannya dan menganggap kecil kedustaan. Padahal telah datang sebuah hadits (artinya): “<em>Celaka bagi seseorang yang bercerita dan berdusta untuk membuat orang lain tertawa. Celaka ia dan celaka ia.”</em></p>
<p>Sebagian manusia lain berdusta terhadap anak-anak kecil dengan alasan anak-anak kecil belum mampu membantah dirinya. Padahal hakikatnya ia telah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kedustaan, mulai membuka pintu kedustaan kepada anak-anak dan mendidik kedustaan kepada mereka.</p>
<p>Ya Allah jauhkanlah kami dari kemungkaran akhlak, amalan, hawa nafsu dan penyakit. Berilah kami petunjuk berupa kebaikan akhlak dan amalan. Anugerahkanlah kepada kami kecintaan kepada iman dan hiasilah kalbu kami dengannya. Jadikanlah kami benci kepada kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Ya Allah limpahkanlah shalawat dan salam kepada hamba dan nabi-Mu Muhammad, keluarga dan segenap sahabat beliau.</p>
<p>Dialihbahasakan dari salah satu khutbah beliau yang dihimpun di dalam kitab <em>“Adh Dhiyaa’ul Laami’ Minal Khuthabil Jawaami</em>’ dengan beberapa perubahan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/assunnahmadiun.wordpress.com/683/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/assunnahmadiun.wordpress.com/683/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/assunnahmadiun.wordpress.com/683/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/assunnahmadiun.wordpress.com/683/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/assunnahmadiun.wordpress.com/683/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/assunnahmadiun.wordpress.com/683/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/assunnahmadiun.wordpress.com/683/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/assunnahmadiun.wordpress.com/683/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/assunnahmadiun.wordpress.com/683/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/assunnahmadiun.wordpress.com/683/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/assunnahmadiun.wordpress.com/683/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/assunnahmadiun.wordpress.com/683/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/assunnahmadiun.wordpress.com/683/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/assunnahmadiun.wordpress.com/683/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahmadiun.wordpress.com&amp;blog=6335013&amp;post=683&amp;subd=assunnahmadiun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2012/01/18/antara-kejujuran-dan-kedustaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c5fbd0536bb84a282bd6cec3987dcbfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">as sunnah madiun</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2012/01/250055_1853158571196_1307751853_31905581_1343768_n.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">250055_1853158571196_1307751853_31905581_1343768_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Umat Islam di Hadapan Orang- orang Kafir</title>
		<link>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2012/01/10/umat-islam-di-hadapan-orang-orang-kafir/</link>
		<comments>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2012/01/10/umat-islam-di-hadapan-orang-orang-kafir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 12:06:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>as sunnah madiun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[agama islam]]></category>
		<category><![CDATA[munafik]]></category>
		<category><![CDATA[umat islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://assunnahmadiun.wordpress.com/?p=675</guid>
		<description><![CDATA[Para pembaca  yang semoga dirahmati oleh Allah, sudah seharusnya setiap muslim itu bangga dan merasa mulia dengan agama Islam yang ia anut. Betapa tidak, Allah Yang Maha Mulia telah memuliakan kedudukan seseorang karena agama Islam yang ia peluk. Allah Ta’ala berfirman (artinya): “Dan janganlah kalian merasa lemah dan merasa sedih, padahal kalian itu mulia apabila [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahmadiun.wordpress.com&amp;blog=6335013&amp;post=675&amp;subd=assunnahmadiun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;" align="center"><a href="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2012/01/small_village_wallpaper_04aa51.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-677" title="small_village_wallpaper_04aa5" src="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2012/01/small_village_wallpaper_04aa51.jpg?w=150&#038;h=93" alt="" width="150" height="93" /></a>Para pembaca  yang semoga dirahmati oleh Allah, sudah seharusnya setiap muslim itu bangga dan merasa mulia dengan agama Islam yang ia anut. Betapa tidak, Allah Yang Maha Mulia telah memuliakan kedudukan seseorang karena agama Islam yang ia peluk. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman (artinya): “<em>Dan janganlah kalian merasa lemah dan merasa sedih, padahal kalian itu mulia apabila kalian beriman</em>.” [Ali Imran: 139].</p>
<p style="text-align:left;">Allah juga berfirman (artinya): “<em>Dan hany</em><em>a milik Allah-lah kemuliaan itu dan juga milik rasul-Nya serta milik orang-orang beriman. Akan tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahuinya</em>” [Al Munafiqun : 8]</p>
<p>Umar bin Al Khaththab <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata : <em>“Sesungguhnya Allah memuliakan kita dengan Islam. Bagaimanapun kita mencari  kemuliaan dengan selain Islam maka Allah (justru) akan menjadikan kita hina.</em>”</p>
<p>Di samping itu, Islam sendiri merupakan agama yang lengkap dan telah disempurnakan oleh Allah <em>Ta’ala</em>, Dzat yang memiliki kesempurnaan. Atas dasar itu maka umat Islam tidak perlu mencari  dan berpegang  dengan bimbingan selain Islam. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman (artinya) :<em> “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah aku cukupkan untuk kalian nikmat-Ku dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agama kalian.”</em> [Al Maidah : 3]</p>
<p>Apabila umat Islam berpegang teguh dengan agamanya dan merasa mulia dengannya maka mereka akan menjadi umat  yang terhormat  dan disegani oleh umat- umat lain. Allah berfirman (artinya) : <em>“Dialah (Allah) yang telah mengutus rasul-Nya dengan petunjuk  dan agama yang benar untuk memenangkan agama tersebut di atas seluruh agama lain, meskipun orang- orang musyrik benci terhadap hal itu.</em> ” [At Taubah : 33 dan Ash Shaff : 9].</p>
<p>Dia juga berfirman (artinya) : <em>“Dialah (Allah) yang telah mengutus rasul-Nya  dengan petunjuk  dan agama yang benar untuk memenangkan agama tersebut di atas seluruh agama yang lain. Cukuplah Allah sebagai saksi atas hal itu.</em>” [Al  Fath: 28].</p>
<p>Maka, tidak sepantasnya bagi umat Islam untuk berdecak kagum  tatkala melihat peradaban dan kekuatan materi orang-orang kafir. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman (artinya): “<em>Dan janganlah engkau menatap kagum  dengan kedua matamu terhadap apa yang Kami (Allah) berikan kepada beberapa golongan di antara mereka berupa keindahan dunia (yang sebenarnya) untuk Kami uji mereka dengan pemberian tersebut, (padahal) rizki Allah itu lebih baik dan kekal.” [Thahaa:131].</em></p>
<p>Namun sebaliknya, ketika umat Islam tidak peduli terhadap agamanya dan semakin jauh dari bimbingan Allah dan rasul-Nya, maka terhinalah mereka dan menjadi tunduk terhadap orang-orang kafir. Akhirnya umat Islam merasa minder untuk menampakkan keislaman yang sebenarnya, kalah dan mudah mengikuti pola pikir dan pola hidup orang-orang kafir.</p>
<p><strong>Sebagian Umat Islam Akan Mengikuti Jejak Orang-orang Kafir</strong></p>
<p>Di dalam sebuah hadits, Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam </em>bersabda (artinya): “<em>Sungguh-sungguh kalian akan mengikuti jejak orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sampai pun kalau orang-orang sebelum kalian itu masuk ke dalam lubang binatang semacam biawak, maka kalian pasti akan memasuki lubang tersebut.”</em></p>
<p>Lalu kami (para sahabat) bertanya: “<em>Wahai Rasulullah, apakah orang-orang sebelum kita itu adalah Yahudi dan Nashara?”. </em>Maka beliau menjawab (artinya)<em>: “Siapa lagi kalau bukan mereka?!” </em>[H.R Al Bukhari. Lihat Muslim]. Di dalam hadits lain beliau menyatakan (artinya): “<em>Tidaklah tiba saat-saat menjelang hari kiamat sampai umatku ini mengambil petunjuk generasi manusia sebelum mereka sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” </em>Lalu ditanyakan kepada beliau: “<em>Wahai Rasulullah, apakah umat ini akan seperti orang-orang Persia dan Romawi?” </em>Beliau menjawab (artinya): “<em>Siapa lagi manusia kalau bukan mereka?!” </em>[H.R Al Bukhari].</p>
<p>Sesungguhnya Islam tidak melarang umatnya untuk mengambil manfaat berupa ilmu pengetahuan, teknologi dan keahlian duniawi dari orang-orang kafir, walaupun sebenarnya umat Islam tidak kalah mampu dibanding orang-orang kafir dalam menghasilkan kemanfaatan duniawi asalkan mereka giat dan bersungguh-sungguh untuk itu. Allah sendiri pun telah menyiapkan kemanfaatan duniawi ini kepada orang-orang beriman. Allah berfirman (artinya): “<em>Katakanlah: “Perhiasan dan rizki yang baik itu diperuntukkan kepada orang-orang yang beriman di kehidupan dunia dan (kelak) hanya diperuntukkan kepada mereka pada hari kiamat.” </em>[Al A’raaf: 32].</p>
<p>Bila umat Islam itu giat dan bersungguh-sungguh dalam menghasilkan kemanfaatan duniawi untuk mereka sendiri, maka mereka tidak perlu mengambil kemanfaatan duniawi tadi dari orang-orang kafir. Terlebih, orang-orang kafir itu tidaklah memberi kemanfaatan duniawi kepada umat Islam melainkan harus dibayar dengan harga yang sangat mahal berupa harta, wilayah negeri, akhlak bahkan agama milik umat Islam.</p>
<p>Islam tidaklah melarang umatnya untuk menjalin hubungan dengan orang-orang kafir selama untuk kebaikan umat Islam. Hanyalah yang dilarang itu apabila umat Islam itu mengambil adat kebiasaan, pola hidup, pola pikir atau akidah orang-orang kafir. Lebih-lebih bila umat Islam justru merasa bangga apabila meniru dan mengikuti  jejak kejelekan orang-orang kafir.<em>Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raaji’uun.</em></p>
<p><strong>Umat Islam Jangan Merasa Aman Dari Makar Orang-orang Kafir</strong></p>
<p>Orang-orang kafir sejak dahulu sampai sekarang tidak henti-hentinya berupaya sekuat tenaga untuk memadamkan Islam dan umatnya. Ini bukanlah ungkapan berlebih-lebihan. Bahkan ini adalah penegasan Allah Yang Maha Mengetahui di dalam ayat-ayat Al Qur’an. Allah berfirman tentang orang-orang Yahudi dan Nashara (artinya): <em>“Dan orang-orang Yahudi dan Nashara tidak akan rela terhadap dirimu sampai dirimu mengikuti agama mereka.” </em>[Al Baqarah: 120].</p>
<p>Allah berfirman tentang orang-orang musyrik (artinya): “<em>Dan senantiasa mereka memerangi kalian sampai mereka mengeluarkan kalian dari agama  kalian, seandainya mereka sanggup.” </em>[Al Baqarah 217].</p>
<p>Allah berfirman tentang orang-orang munafik yang menampakkan keislaman tetapi menyembunyikan kekafiran di dalam hati mereka (artinya): “<em>Mereka berkeinginan kalau andaikata kalian kafir sebagaimana mereka telah kafir sehingga kalian sama dengan mereka.” </em>[An Nisaa’: 89].</p>
<p>Demikianlah! Seluruh orang-orang kafir dengan segala kekuatannya benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk memadamkan cahaya Islam dan umat Islam berdasar persaksian dari Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat. Lalu akankah kita sebagai umat Islam yang telah bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah semata dan Muhammad adalah utusan-Nya masih menyimpan keraguan terhadap persaksian Allah?! Ataukah justru menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada orang-orang kafir?! Semoga Allah senantiasa mengokohkan keimanan kita.</p>
<p><strong>Keterpurukan Umat Islam di Hadapan Orang-orang Kafir</strong></p>
<p>Sebuah berita menyedihkan pernah disampaikan Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam </em>di dalam sebuah hadits (artinya): “<em>Hampir-hampir umat-umat agama lain akan mengerumuni kalian ibarat orang-orang yang mengerumuni santapannya.” </em>Lalu seseorang bertanya: “<em>Apakah yang demikian karena saat itu kita dalam keadaan sedikit?” </em>Lantas beliau menjawab : “<em>Bahkan kalian saat itu dalam keadaan banyak. Hanya saja saat itu kalian seperti buih yang diterpa arus banjir. Sungguh, Allah akan benar-benar mencabut rasa segan dari hati musuh-musuh kalian terhadap kalian. Sungguh, Allah benar-benar akan menimpakan pada kalian penyakit Al Wahn.” </em>Lalu seseorang bertanya: “<em>Wahai Rasulullah, apa penyakit Al Wahn itu?” </em>Maka beliau menjawab: “<em>Cinta dunia dan takut mati (bila diperintah berjuang –pen).” </em>[H.R Abu Dawud dan dishahihkan asy-Syaikh Al Albani].</p>
<p>Wallahu a’lamu bish Shawaab</p>
<p>Daftar Pustaka:</p>
<p>1. Ad Dhiyaa’ul Laami’ Minal Khuthabil jawaami’ karya asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin <em>rahimahullah.</em></p>
<p><em></em>2. Al Khuthab Al Minbariyah fil Munasabatil ‘Ashriyah karya asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan <em>hafizhahullah</em></p>
<p><em></em>3.Sunan Abi Dawud</p>
<p>   </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/assunnahmadiun.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/assunnahmadiun.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/assunnahmadiun.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/assunnahmadiun.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/assunnahmadiun.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/assunnahmadiun.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/assunnahmadiun.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/assunnahmadiun.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/assunnahmadiun.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/assunnahmadiun.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/assunnahmadiun.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/assunnahmadiun.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/assunnahmadiun.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/assunnahmadiun.wordpress.com/675/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahmadiun.wordpress.com&amp;blog=6335013&amp;post=675&amp;subd=assunnahmadiun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2012/01/10/umat-islam-di-hadapan-orang-orang-kafir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c5fbd0536bb84a282bd6cec3987dcbfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">as sunnah madiun</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2012/01/small_village_wallpaper_04aa51.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">small_village_wallpaper_04aa5</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dauroh &#8220;Salah Kaprah Tentang HAM&#8221;</title>
		<link>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2011/12/16/dauroh-salah-kaprah-tentang-ham/</link>
		<comments>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2011/12/16/dauroh-salah-kaprah-tentang-ham/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 06:50:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>as sunnah madiun</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://assunnahmadiun.wordpress.com/?p=672</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahmadiun.wordpress.com&amp;blog=6335013&amp;post=672&amp;subd=assunnahmadiun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2011/12/pamflet-dauroh-ham.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-673" title="pamflet dauroh ham" src="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2011/12/pamflet-dauroh-ham.jpg?w=669&#038;h=1024" alt="" width="669" height="1024" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/assunnahmadiun.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/assunnahmadiun.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/assunnahmadiun.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/assunnahmadiun.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/assunnahmadiun.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/assunnahmadiun.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/assunnahmadiun.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/assunnahmadiun.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/assunnahmadiun.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/assunnahmadiun.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/assunnahmadiun.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/assunnahmadiun.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/assunnahmadiun.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/assunnahmadiun.wordpress.com/672/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahmadiun.wordpress.com&amp;blog=6335013&amp;post=672&amp;subd=assunnahmadiun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2011/12/16/dauroh-salah-kaprah-tentang-ham/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c5fbd0536bb84a282bd6cec3987dcbfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">as sunnah madiun</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2011/12/pamflet-dauroh-ham.jpg?w=669" medium="image">
			<media:title type="html">pamflet dauroh ham</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hakekat Nabi Isa ‘alaihis salaam</title>
		<link>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2011/12/13/hakekat-nabi-isa-alaihis-salaam/</link>
		<comments>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2011/12/13/hakekat-nabi-isa-alaihis-salaam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 11:48:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>as sunnah madiun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[diangkat ke langit]]></category>
		<category><![CDATA[kelahiran isa]]></category>
		<category><![CDATA[nabi]]></category>
		<category><![CDATA[rasul]]></category>
		<category><![CDATA[salib]]></category>
		<category><![CDATA[tusukan jin]]></category>
		<category><![CDATA[ulul azmi]]></category>
		<category><![CDATA[utusan Allah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://assunnahmadiun.wordpress.com/?p=655</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah tanya jawab, asy-Syaikh Muhammad bin shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: “Wahai syaikh yang mulia, bagaimana aqidah (keyakinan) kaum muslimin terhadap Isa Ibnu Maryam ‘alaihis salaam? Bagaimana hukum terhadap pernyataan bahwa beliau itu dbunuh dan disalib?” Maka beliau (asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin) menjawab: “Aqidah kaum muslimin terhadap Isa Ibnu Maryam ‘alaihish shalaatu was salaam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahmadiun.wordpress.com&amp;blog=6335013&amp;post=655&amp;subd=assunnahmadiun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2011/12/images.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-656" title="images" src="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2011/12/images.jpg?w=645" alt=""   /></a>Dalam sebuah tanya jawab, asy-Syaikh Muhammad bin shalih Al ‘Utsaimin <em>rahimahullah </em>pernah ditanya: <em>“Wahai syaikh yang mulia, bagaimana aqidah (keyakinan) kaum muslimin terhadap Isa Ibnu Maryam ‘alaihis salaam? Bagaimana hukum terhadap pernyataan bahwa beliau itu dbunuh dan disalib?”</em></p>
<p>Maka beliau (asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin) menjawab: “Aqidah kaum muslimin terhadap Isa Ibnu Maryam ‘alaihish shalaatu was salaam bahwa beliau adalah salah satu rasul yang mulia. Bahkan beliau adalah salah satu dari 5 rasul yang mendapat gelar<em>“Ulul ‘Azmi</em>”. Lima Rasul tersebut adalah: Muhammad, Ibrahim, Musa, Isa dan Nuh ‘alaihimush shalaatu was salaam. Allah Ta’ala menyebut keberadaan mereka di dalam dua tempat dari kitab-Nya. Allah berfirman di dalam Surat Al Ahzab  (artinya)<em>: “Dan (ingatlah) tatkala Kami (Allah) mengambil perjanjian dari para nabi dan juga engkau, serta dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa Ibnu Maryam. Kami pun mengambil perjanjian kuat dari mereka.” </em>[Al Ahzab:7].</p>
<p>Allah berfirman di dalam surat Asy Syuura (artinya): <em>“Allah menetapkan bagi kalian dari agama tentang apa yang pernah Dia wasiatkan kepada Nuh, apa yang Kami wahyukan kepadamu, apa yang Kami wasiatkan juga kepada Ibrahim, Musa, dan Isa (yaitu) agar kalian menegakkan agama dan jangan kalian berpecah belah di dalam agama tersebut.” </em>[Asy Syuura:13].</p>
<p>(Aqidah kaum muslimin terhadap Isa Ibnu Maryam) bahwa beliau ‘<em>alaihish shalaatu was salaam </em>adalah manusia biasa dari anak cucu Adam. Beliau diciptakan Allah dari seorang ibu tanpa ayah. Beliau adalah hamba dan utusan Allah. Beliau adalah hamba yang tidak boleh diibadahi dan rasul yang tidak boleh didustakan. Beliau sama sekali tidak memiliki sifat ketuhanan. Bahkan beliau sebagaimana yang disebut Allah <em>Ta’ala </em>(artinya): “<em>Tidaklah ia kecuali seorang hamba yang Kami beri nikmat kepadanya dan Kami jadikan ia sebagai tanda kekuasaan Kami terhadap Bani Israil.” </em>[Az Zukhruf:59].</p>
<p>Bahwa beliau <em>‘alaihish shalaatu was salaam </em>tidak pernah memerintah kaumnya untuk  menjadikan beliau dan ibu beliau sebagai dua sesembahan selain Allah. Hanyalah beliau memerintah mereka sebagaimana perintah Allah kepada beliau (artinya): “<em>Agar kalian beribadah kepada Allah Rabbku dan Rabb kalian” </em>[Al Maidah: 117].</p>
<p>Bahwa beliau, Isa ‘<em>alaihish shalaatu was salaam </em>dicipta dengan kalimat Allah <em>‘Azza Wa Jalla, </em>sebagaimana Allah <em>Ta’ala </em>berfirman: “<em>Sesungguhnya permisalan Isa di sisi Allah itu seperti permisalan Adam. (Bahkan) Allah menciptakan Adam dari tanah (tanpa ayah dan ibu-pen) lalu Allah berkata: “Jadilah”. Maka  terjadilah.” </em>[Ali Imran:59].</p>
<p>Bahwa antara Isa dan Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi Wassalam </em>tidak ada seorang rasul pun, sebagaimana Allah <em>Ta’ala </em>berfirman (artinya): “<em>Dan (ingatlah) tatkala isa Ibnu Maryam berkata kepada Bani Israil: “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian sebagai pembenar terhadap apa yang terdahulu di dalam Taurat dan sebagai pemberi kabar gembira tentang datangnya seorang rasul setelahku yang bernama Ahmad. Namun tatkala datang kepada mereka keterangan yang jelas ternyata mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” </em>[Ash Shaff: 6].</p>
<p>Tidaklah benar iman seseorang sampai ia beriman bahwa Isa adalah hamba dan utusan Allah. Beliau berlepas diri dan bersih dari tuduhan orang-orang Yahudi yang mengatakan: “<em>Sesungguhnya ia adalah anak pezina dan tumbuh dari perzinaan.” </em>Kita berlindung kepada Allah (dari tuduhan tersebut). Allah pun telah membersihkan diri beliau dari tuduhan tersebut.</p>
<p>Demikian pula, kaum muslimin berlepas diri dari jalan orang-orang Nasrani yng tersesat dalam memahami hakikat Isa Ibnu Maryam, ketika mereka menjadikan beliau dan ibunda beliau sebagai dua sesembahan selain Allah. Sebagian orang-orang Nasrani berkata: <em>“Isa adalah anak Allah.”</em> Sebagian lain berkata: “<em>Sesungguhnya Allah adalah ketiga dari yang tiga.”</em></p>
<p>Adapun terkait dengan terbunuh dan tersalibnya beliau, maka sesungguhnya Allah <em>Subhanahu Wa Ta’ala </em>telah meniadakan adanya pembunuhan dan penyaliban tersebut dengan jelas dan tegas. Allah ‘<em>Azza Wa Jalla </em>berfirman (artinya): <em>“Tidaklah mereka membunuhnya dan tidak pula menyalibnya. Akan tetapi diserupakan (seseorang) dengan dirinya di hadapan mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang hal itu benar-benar  dalam keraguan. Tidaklah mereka memiliki pengetahuan tentang hal tersebut kecuali sekedar dugaan belaka. Tidaklah mereka yakin telah membunuhnya. Bahkan Allah telah mengangkatnya (ke langit). Sesungguhnya Allah itu Dzat Yang Maha Kuasa dan Bijaksana.Tidaklah seorang pun dari Ahlul Kitab kecuali benar-benar beriman kepadanya (Nabi Isa-pen) sebelum wafatnya. Pada hari kiamat ia akan menjadi saksi atas perbuatan mereka.” </em>[An Nisaa’: 157-159].</p>
<p>Barangsiapa meyakini bahwa Isa Ibnu Maryam ‘<em>alaihish shalaatu was salaam </em>itu dibunuh dan disalib maka sungguh ia telah mendustakan Al Qur’an, dan barangsiapa mendustakan Al Qur’an maka ia telah kafir. Maka kita beriman bahwa Isa ‘<em>alaihish shalaatu was salaam </em>tidak dibunuh dan tidak pula disalib.</p>
<p>Kita mengatakan: Sesungguhnya orang-orang Yahudi mendapatkan dosa karena pembunuhan dan penyaliban, tatkala mereka beranggapan bahwa mereka telah membunuh Al Masih Isa Ibnu Maryam utusan Allah, padahal mereka pada hakikatnya tidak membunuh beliau. Akan tetapi hakikatnya mereka membunuh orang yang diserupakan dengan beliau di hadapan mereka. Saat itu Allah menyerupakan seseorang dari mereka dengan wajah beliau lalu mereka membunuh dan menyalib orang tersebut. Akhirnya mereka berkata: “<em>Kami telah membunuh Al Masih Isa Ibnu Maryam utusan Allah.” </em>Orang-orang Yahudi mendapatkan dosa karena pembunuhan dan penyaliban yang dinyatakan mereka sendiri. Padahal Al Masih Isa Ibnu Maryam telah dijaga dan diangkat ke langit oleh Allah. Kelak beliau akan turun ke bumi di akhir zaman dan berhukum dengan syariat Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam .</em></p>
<p>Setelah itu beliau meninggal dunia, dimakamkan ke dalam tanah dan akan dibangkitkan dari tanah sebagaimana layaknya seluruh anak keturunan Adam. Hal itu didasarkan firman Allah <em>Ta’ala </em>artinya: “<em>Dari tanah Kami ciptakan kalian, ke dalam tanah Kami kembalikan kalian  dan dari tanah pula Kami akan mengeluarkan (membangkitkan) kalian di suatu waktu.” </em>[Thaahaa: 55].</p>
<p>Juga firman-Nya (artinya): “<em>(Allah) berkata: “Di atas tanah kalian hidup, ke dalam tanah kalian mati dan dari tanah kalian dikeluarkan (dibangkitkan).” </em>[Al A’raaf:25].</p>
<p>[Dialihbahasakan dari Fiqhul Ibaadat hal. 83-86]</p>
<p><strong>Sebuah Hadits tentang Kelahiran Nabi Isa <em>‘alaihi salaam</em></strong></p>
<p>Disebutkan dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, berkata : <em>“Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam</em> bersabda (artinya): “<em>Tidaklah anak keturunan Adam itu dilahirkan melainkan syaithan menusuknya saat ia dilahirkan sehingga ia pun berteriak menangis karena tusukan tersebut, kecuali Maryam dan putranya.”</em> Kemudian Abu Hurairah membaca ayat (artinya): “<em>Dan sesungguhnya aku (istri Imran) mohon perlindungan kepada-Mu untuk dirinya (Maryam) dan keturunannya dari (gangguan) syaithan yang terkutuk.”</em> [Ali Imran: 36].</p>
<p>[H.R Al Bukhari. Lihat Muslim].</p>
<p><em>Wallahu a’lamu bish-shawaab</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/assunnahmadiun.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/assunnahmadiun.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/assunnahmadiun.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/assunnahmadiun.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/assunnahmadiun.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/assunnahmadiun.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/assunnahmadiun.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/assunnahmadiun.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/assunnahmadiun.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/assunnahmadiun.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/assunnahmadiun.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/assunnahmadiun.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/assunnahmadiun.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/assunnahmadiun.wordpress.com/655/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahmadiun.wordpress.com&amp;blog=6335013&amp;post=655&amp;subd=assunnahmadiun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2011/12/13/hakekat-nabi-isa-alaihis-salaam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c5fbd0536bb84a282bd6cec3987dcbfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">as sunnah madiun</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2011/12/images.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fatwa-Fatwa Ulama Tentang Bisikan dan Gangguan Syaithan/Jin</title>
		<link>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2011/12/13/fatwa-fatwa-ulama-tentang-bisikan-dan-gangguan-syaithanjin/</link>
		<comments>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2011/12/13/fatwa-fatwa-ulama-tentang-bisikan-dan-gangguan-syaithanjin/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 11:32:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>as sunnah madiun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[ayat kursy]]></category>
		<category><![CDATA[bantuan jin]]></category>
		<category><![CDATA[bantuan malaikat]]></category>
		<category><![CDATA[bisikan]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan]]></category>
		<category><![CDATA[jin]]></category>
		<category><![CDATA[kerasukan]]></category>
		<category><![CDATA[syaithan]]></category>
		<category><![CDATA[wirid-wirid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://assunnahmadiun.wordpress.com/?p=646</guid>
		<description><![CDATA[Melengkapi pembahasan tema “Mewaspadai Bisikan Syaithan” (1) dan (2), berikut ini kita simak fatwa dan penjelasan para ulama tentang bisikan dan gangguan syaithan/jin. Hakikat Jin Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: “Apakah jin memiliki hakikat, pengaruh (terhadap manusia) dan apa obat untuk menghadapi pengaruh  tersebut?” Maka beliau menjawab: “Adapun hakikat kehidupan jin sebenarnya, maka Allahlah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahmadiun.wordpress.com&amp;blog=6335013&amp;post=646&amp;subd=assunnahmadiun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;" align="center"><a href="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2011/12/buku-tamu_romadhon_byar2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-651" title="buku-tamu_romadhon_byar" src="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2011/12/buku-tamu_romadhon_byar2.jpg?w=300&#038;h=223" alt="" width="300" height="223" /></a>Melengkapi pembahasan tema “Mewaspadai Bisikan Syaithan” (1) dan (2), berikut ini kita simak fatwa dan penjelasan para ulama tentang bisikan dan gangguan syaithan/jin.</p>
<p><strong>Hakikat Jin</strong></p>
<p>Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin <em>rahimahullah </em>pernah ditanya: “<em>Apakah jin memiliki hakikat, pengaruh (terhadap manusia) dan apa obat untuk menghadapi pengaruh  tersebut?”</em></p>
<p>Maka beliau menjawab: “Adapun hakikat kehidupan jin sebenarnya, maka Allahlah yang lebih mengetahui tentang hal itu. Hanya saja kita mengetahui bahwa jin itu memiliki jasad secara hakiki. Mereka dicipta dari api. Mereka juga makan, minum, menikah dan memiliki keturunan.” Allah Ta’ala berfirman tentang syaithan (artinya): “Apakah kalian menjadikan syaithan dan anak keturunannya sebagai penolong selain-Ku, padahal mereka adalah musuh bagi kalian.” [Al Kahfi:50].</p>
<p>Mereka juga diperintah untuk beribadah. Allah telah mengutus Nabi ‘<em>alaihish Shalaatu Wassalaam </em>kepada mereka. Mereka pun hadir dan mendengarkan Al Qur’an Al Karim, sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala </em>berfirman (artinya):</p>
<p>“<em>Katakanlah (wahai Muhammad):”Telah diwahyukan kepadaku bahwa serombongan jin telah mendengarkan (Al Qur’an). Mereka pun berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan. Al Qur’an yang memberi petunjuk ke jalan lurus, lalu kami beriman kepadanya dan sekali-kali kami tidak akan menyekutukan Rabb kami dengan sesuatu apapun.” </em>[Jin:1-2].</p>
<p>Sebagaimana pula Allah <em>Ta’ala </em>berfirman (artinya)<em>: “Dan (ingatlah) tatkala Kami hadapkan serombongan jin kepadamu dalam keadaan mendengarkan Al Qur’an. Tatkala mereka hadir, mereka berkata kepada yang lainnya:”Diamlah kalian!” Tatkala selesai mendengarkan Al Qur’an maka mereka kembali ke kaumnya untuk memberi peringatan. Mereka berkata: “Wahai, kaum kami! Sesungguhnya kami telah mendengarkan sebuah kitab yang diturunkan setelah Musa yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya. Kitab yang memberi petunjuk kepada  kebenaran dan jalan yang lurus.” </em>[Al Ahqaf: 29-30] sampai akhir ayat.</p>
<p>Telah shahih dari Nabi ‘<em>alaihish Shalaatu Wassalaam </em>bahwa beliau berkata kepada jin yang datang dan minta perbekalan kepada beliau (artinya): “<em>Untuk kalian setiap tulang binatang yang disembelih dengan nama Allah dan akan diterima oleh kalian lebih banyak daripada dagingnya.”</em></p>
<p>Mereka –yang aku maksud jin- makan bersama manusia apabila manusia makan tanpa menyebut nama Allah ketika akan makan. Atas dasar ini membaca bismillah ketika akan makan hukumnya wajib, demikian pula wajib ketika akan minum sebagaimana perintah Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam </em>&#8230;” (Lalu asy-Syaikh  mengatakan): &#8230;”Adapun pengaruh jin terhadap manusia maka ini memang terjadi. Mereka dapat memberi pengaruh terhadap manusia: bisa dengan merasuki tubuh manusia sehingga manusia kejang dan merasa kesakitan, bisa pula mempengaruhi manusia berupa gemetarnya tubuh dan kebuasan  atau yang semisal dengan itu.”</p>
<p>Adapun obat untuk menghadapi pengaruh jin adalah wirid-wirid yang sesuai syariat seperti membaca ayat Kursy karena barangsiapa membaca ayat Kursy di malam hari maka Allah senantiasa menjaga dirinya dan tidak akan didekati syaithon sampai tiba pagi hari.” [Fataawa Ulama’ Baladil Haram hal. 480-481].</p>
<p><strong>Hukum Orang Yang Mengingkari Kemampuan Jin Merasuki Tubuh Manusia</strong></p>
<p>Asy-Syaikh Shalih Al Fauzan <em>hafizhahullah </em>pernah ditanya: “<em>Di masa kita sekarang ini banyak pembicaraan manusia tentang gangguan jin terhadap manusia dan merasuknya jin ke dalam tubuh manusia. Namun diantara manusia ada yang mengingkari hal itu. Bahkan sebagian manusia ada yang mengingkari adanya jin secara mutlak. Apakah pengingkaran seperti ini dapat mempengaruhi akidah seorang muslim? Apakah ada riwayat yang menuntut beriman tentang jin? Lalu apa perbedaan antara jin dengan malaikat?”</em></p>
<p>Maka beliau menjawab: “Mengingkari adanya jin adalah kekufuran dan kemurtadan. Sebab hal itu adalah pengingkaran terhadap perkara yang mutawatir dari Al Qur’an dan As Sunnah tentang keberadaan jin. Iman terhadap wujud mereka merupakan bagian dari iman terhadap perkara ghaib, karena kita tidak melihat mereka. Kita hanya bersandar kepada berita yang benar dalam menetapkan keberadaan jin.”</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman tentang Iblis dan bala tentaranya (artinya)<em>: “Sesungguhnya syaithan itu melihat kalian, demikian pula bala tentaranya dari sisi yang kalian tidak melihat mereka.” </em>[Al A’raaf: 27].</p>
<p>Adapun mengingkari hal merasuknya jin ke dalam tubuh manusia maka hal ini tidak mengakibatkan kekufuran. Namun ia telah keliru dan pengingkaran tersebut adalah mendustakan apa yang telah shahih dari dalil-dalil syar’i dan peristiwa nyata yang terjadi berulang-ulang. Hanya saja karena samarnya permasalahan ini maka orang yang menyelisihi permasalahan tersebut tidaklah dikafirkan. Namun tetap ia dinyatakan keliru, karena ia tidak bersandar pada dalil apapun. Ia hanya bersandar kepada akal dan kemampuan berpikir. Padahal, akal  tidak bisa dijadikan tolok ukur dalam perkara ghaib. Demikian pula akal tidaklah didahulukan di atas dalil-dalil syar’i, berbeda kalau (hal itu) menurut orang-orang sesat&#8230;.”( Lalu beliau menyebut perbedaan antara jin dan malaikat.) [Lihat Al Muntaqa 1/166-167].</p>
<p><strong>Hukum Meletakkan Mushaf Al Qur’an Disamping Bayi Untuk Menjaganya Dari Gangguan Jin</strong></p>
<p>Asy-syaikh Shalih Al Fauzan <em>hafizhahullah </em>sempat ditanya: “<em>Bagaimana pendapat anda tentang seorang wanita meletakkan mushaf Al Qur’an disamping bayi dengan alasan agar terjaga dari jin, ketika wanita tadi sibuk dan meninggalkan bayinya tersebut?”</em></p>
<p>Beliau pun menjawab: “Perbuatan ini tidak boleh karena mengandung penghinaan terhadap mushaf yang mulia. (Demikian pula) karena perbuatan tadi tidaklah disyariatkan (oleh agama).”<em> </em>[Al Muntaqa 1/179].</p>
<p><strong>Hukum Meminta Bantuan Malaikat Atau Jin Untuk Menjaga Badan (Dari Gangguan Jin)</strong></p>
<p>Al Lajnah Ad-Da’imah (Komite Tetap Fatwa Saudi Arabia) pernah mendapatkan tanya : “<em>Apakah seorang muslim boleh menulis nama-nama makhluk halus (jin atau malaikat), nama-nama Allah yang baik (Asma’ul Husna) atau selainnya dalam bentuk jimat dan jampi-jampi -yang sudah dikenal oleh kaum supranatural- dalam rangka untuk menjaga badan dari gangguan jin, syaithan dan sihir?”</em></p>
<p>Maka Al Lajnah memberikan jawaban, ‘’Meminta bantuan kepada jin atau malaikat untuk mencegah bahaya, mendapatkan manfaat atau membentengi diri dari gangguan jin adalah syirik besar yang dapat memurtadkan seseorang dari Islam. Kita berlindung kepada Allah (dari kemurtadan). Sama saja (hukumnya) apakah meminta bantuan dengan menyeru mereka, menulis nama-nama jin dan malaikat lalu menggantungkannya sebagai jimat, mencuci jimat tersebut lalu meminum  air cuciannya atau semisal hal itu, selama pelakunya meyakini bahwa jimat atau air cucian tadi dapat memberikan manfaat dn mencegah kejelekan selain Allah. Adapun tulisan nama-nama Allah Ta’ala dan dijadikannya sebagai jimat, maka sebagian salaf membolehkan hal itu. Namun sebagian yang lainnya membenci hal tersebut karena keumuman larangan tentang jimat dan pertimbangan kalau jimat yang bertuliskan nama-nama Allah tadi akan mengundang munculnya penggunaan jimat lain yang mengandung kesyirikan. (Demikian pula hal itu dibenci) karena dijadikannya tulisan nama-nama Allah sebagai jimat akan bersentuhan dengan kotoran-kotoran dan najis. Yang demikian ini mengandung penghinaan terhadap nama-nama Allah. Pendapat inilah yang benar. Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabat beliau.” [Majallatul Buhuts Al Islamiyah no. 28 hal 57, dinukil dari Fataawa ‘Ulama’ Baladil Haram hal. 1804-1805].</p>
<p><strong>Faedah</strong></p>
<p>Sebagai tambahan faedah, disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa di masa kekhilafahan Umar bin Al Khaththab <em>radhiyallahu ‘anhu </em>pernah ada seseorang yang hilang selama 4 tahun karena diculik/ ditawan jin. Lalu setelah 4 tahun ia kembali muncul dan mengabarkan peristiwa yang menimpa dirinya tersebut kepada Umar bin Al Khaththab. Riwayat selengkapnya tentang kisah tersebut dishahihkan asy-Syaikh Al Albani di dalam Al Irwa’ 1709. Atas dasar ini maka sangat mungkin bagi jin untuk mengganggu manusia dengan menculik, menawan dan menyembunyikan keberadaan manusia.</p>
<p><em>Wallahu a’lamu bish-shawaab</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/assunnahmadiun.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/assunnahmadiun.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/assunnahmadiun.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/assunnahmadiun.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/assunnahmadiun.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/assunnahmadiun.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/assunnahmadiun.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/assunnahmadiun.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/assunnahmadiun.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/assunnahmadiun.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/assunnahmadiun.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/assunnahmadiun.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/assunnahmadiun.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/assunnahmadiun.wordpress.com/646/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahmadiun.wordpress.com&amp;blog=6335013&amp;post=646&amp;subd=assunnahmadiun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2011/12/13/fatwa-fatwa-ulama-tentang-bisikan-dan-gangguan-syaithanjin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c5fbd0536bb84a282bd6cec3987dcbfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">as sunnah madiun</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2011/12/buku-tamu_romadhon_byar2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">buku-tamu_romadhon_byar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mewaspadai Bisikan Syaithan (2- Habis)</title>
		<link>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2011/12/07/mewaspadai-bisikan-syaithan-2-habis/</link>
		<comments>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2011/12/07/mewaspadai-bisikan-syaithan-2-habis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 06:28:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>as sunnah madiun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan]]></category>
		<category><![CDATA[iblis]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jin]]></category>
		<category><![CDATA[jiwa manusia]]></category>
		<category><![CDATA[kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[kejelekan]]></category>
		<category><![CDATA[setan]]></category>
		<category><![CDATA[syaithon]]></category>
		<category><![CDATA[zikir]]></category>
		<category><![CDATA[zikrullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://assunnahmadiun.wordpress.com/?p=642</guid>
		<description><![CDATA[Asy-Syaikh Muhammad Al Imam hafizhahullah menyebutkan macam- macam bisikan syaithan/ jin terhadap orang-orang  yang beriman, diantaranya: 1. Membuat keraguan tentang dzat Allah. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bersabda (artinya): “Sesungguhnya salah seorang dari kalian didatangi syaithan dan bertanya:”Siapa yang menciptakan engkau?” Maka orang tersebut menjawab :”Allah”. Lalu syaithan bertanya lagi :”Lantas siapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahmadiun.wordpress.com&amp;blog=6335013&amp;post=642&amp;subd=assunnahmadiun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2011/12/wo_scn081.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-643" title="WO_SCN08" src="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2011/12/wo_scn081.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Asy-Syaikh Muhammad Al Imam <em>hafizhahullah</em> menyebutkan macam- macam bisikan syaithan/ jin terhadap orang-orang  yang beriman, diantaranya:</p>
<p>1. Membuat keraguan tentang dzat Allah.</p>
<p>Dalam sebuah hadits, Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam </em>pernah bersabda (artinya): <em>“Sesungguhnya salah seorang dari kalian didatangi syaithan dan bertanya:”Siapa yang menciptakan engkau?” Maka orang tersebut menjawab :”Allah”. Lalu syaithan bertanya lagi :”Lantas siapa yang menciptakan Allah?!” Apabila salah seorang diantara kalian menjumpai pertanyaan seperti itu maka katakanlah : “Aku beriman kepada Allah dan rasul-Nya”, karena hal itu akan menghilangkan pertanyaan tadi.”</em> [Ash Shahihah 116]</p>
<p>Dalam riwayat lain :<em>”Maka hendaklah kalian ucapkan “Allahu Ahad. Allahush Shamad.Lam yalid wa lam yuulad. Wa lam yakul lahu kufuwan ahad.” Kemudian meludahlah ke sebelah kiri 3x dan berlindung kepada Allah dari bisikan syaithan.”</em> [H.R Abu Dawud dan dihasankan asy-Syaikh Al Albani].</p>
<p>2. Bisikan syaithan kepada sebagian kaum muslimin agar mereka menjadi tukang sihir, dukun, ahli nujum atau semisalnya. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman (artinya) : <em>”&#8230;mereka (para syaithan), mengajari sihir kepada manusia&#8230;” </em>[Al Baqarah:102].</p>
<p>3. Bisikan syaithan terhadap seorang muslim agar terjatuh kepada perbuatan syirik kepada Allah.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman (artinya) :” <em>Dan mereka (kaum Nabi Nuh) berkata:”Janganlah kalian meninggalkan sesembahan-sesembahan kalian. Janganlah sekali-kali meninggalkan Wadd, Suwaa’, Yaghuts, Ya’uuq dan Nar.”</em> [Nuuh :23]</p>
<p>Sejumlah ulama salaf, diantaranya Muhammad bin Ka’b Quradhi berkata : ”<em> Ini adalah nama orang-orang shalih yang pernah hidup antara  masa Nabi Adam dan Nabi Nuh. Tatkala mereka ini meninggal dunia, para pengikutnya mewarisi keshalihan mereka dan menapak tilasi tempat ibadah mereka. Lantas datanglah Iblis dan berkata kepada para pengikut tersebut :” Andaikata kalian membuat gambar orang-orang shalih ini, maka akan membuat kalian lebih bersemangat dalam beribadah.” Ternyata pengikut tadi menuruti gagasan Iblis tersebut. Kemudian lahirlah generasi setelah para pengikut tadi dan Iblis berkata kepada mereka: “Sesungguhnya nenek moyang – nenek moyang kalian dahulu beribadah kepada gambar orang-orang shalih ini maka hendaklah kalian ikut beribadah juga kepadanya.”</em></p>
<p>4. Bisikan syaithan dan ajakan kepada muslimin untuk berpecah belah.</p>
<p>Dari Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata, Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam </em>pernah membuat garis lalu berkata: “<em>Ini adalah jalan Allah”</em>. Kemudian beliau membuat garis-garis lain dari sebelah kanan dan kiri garis yang satu tadi. Lantas beliau berkata: “<em>Ini adalah jalan-jalan yang masing-masing terdapat syaithan yang menyeru untuk mengikuti jalan-jalan tersebut.” &#8230;</em>[Ash Shahihul Musnad: 836].</p>
<p>Empat macam bisikan syaithan tersebut merupakan sebagian dari apa yang disebutkan dalam kitab “Inqadzul Muslimin min Waswasatil Jinni Wasy Syayaathiin” hal 37-50 dengan beberapa perubahan.</p>
<p><strong>Benteng-Benteng Penghalang Bisikan dan Gangguan Syaithan</strong></p>
<p>Terdapat beberapa benteng penghalang bisikan dan gangguan syaithan, diantaranya:</p>
<p>1. Mendalami agama Allah</p>
<p>Sebagian ulama salaf berkata: “<em>Satu orang yang mengerti agama itu lebih berat bagi syaithan daripada seribu ahli ibadah (yang tidak mengerti agama -pen).” </em></p>
<p>2. Mengikuti bimbingan Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam </em>secara lahir maupun batin. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman (artinya): “<em>Maka barangsiapa mengikuti petunjukKu maka dia tidak akan sesat (di dunia) maupun celaka (di akhirat).” </em>[Thaahaa :123].</p>
<p>3. Menjaga zikrullah dan doa yang sesuai syariat.</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam </em>bersabda (artinya): “<em> &#8230;dan aku memerintah kalian untuk berzikir kepada Allah karena permisalan zikrullah seperti seseorang yang musuhnya bergegas mengejar dirinya dari belakang. Sampai ketika orang tersebut tiba di benteng yang kokoh maka ia berlindung dengannya dari musuh tadi. Demikianlah seorang hamba yang tidaklah ia bisa membentengi dirinya dari syaithan kecuali dengan zikrullah.” </em>[H.R At Tirmidzi yang dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dan Asy Syaikh Muqbil].</p>
<p>Tiga benteng penghalang ini merupakan sebagian dari apa yang disebutkan dari kitab “Inqadzul Muslimin” hal. 53-61.</p>
<p><strong>Syaithan Tidak Memiliki Kekuatan di Hadapan Orang Yang Beriman</strong></p>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>berfirman (artinya): “<em>Sesungguhnya syaithan itu tidak memiliki kekuatan di hadapan orang-orang yang beriman serta bertawakal kepada Allah semata. Hanyalah kekuatan syaithan itu ada di hadapan orang-orang yang cenderung kepadanya.” </em>[An Nahl: 99-100].</p>
<p>Syaikhul Islam <em>rahimahullah </em>berkata: <em>“Tatkala iman, tauhid, dan cahaya pembeda antara yang baik dan buruk itu kuat, serta pengaruh bimbingan Nabi itu telah nampak, maka perihal-perihal syaithan akan melemah.”</em> [Majmu’ Fataawa, dinukil dari<em> </em>Inqadzul Muslimin hal. 9].</p>
<p>Bahkan syaithan takut dan lari dari orang-orang yang beriman. Syaikhul Islam <em>rahimahullah </em>berkata: “<em>Dan apabila seseorang itu termasuk orang yang bertakwa, taat kepada Allah dan rasulNya maka syaithan-syaithan ini akan lari dari orang tersebut.” </em>[Ash-Shafadiyah 2/293, dinukil dari Inqadzul Muslimin hal. 64].</p>
<p><strong>Seorang Muslimin Tidak Hanya Menghadapi Bisikan Kejelekan dari Syaithan</strong></p>
<p>Seorang muslim menghadapi 3 bisikan jahat saat berjalan di muka bumi ini. 3 bisikan tersebut :</p>
<p>1. Bisikan hawa nafsu. Yang dimaksud dengan hawa nafsu di sini adalah hawa nafsu yang mengajak kepada kejahatan. Istilah “hawa nafsu” secara mutlak digunakan oleh para ulama untuk hawa nafsu yang mengajak kepada kejahatan/kejelekan. Allah <em>Ta’ala </em>pun berfirman (artinya): “<em>Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, niscaya engkau akan tersesat dari jalan Allah.” </em>[Shaad:26].</p>
<p>Adapun dalil yang menunjukkan seseorang muslim itu menghadapi bisikan hawa nafsu, diantaranya sabda Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam </em>(artinya): “ Sesungguhnya Allah memaafkan umatku dari apa yang dibisikkan hawa nafsunya selama (bisikan itu) belum diamalkan atau diucapkan.” [H.R Al Bukhari dan Muslim].</p>
<p>2. Bisikan syaithan dari kalangan manusia. Dalilnya firman Allah <em>Ta’ala </em>(artinya): “<em>(Syaithan) yang membisikkan kejelekan pada kalbu-kalbu manusia (yaitu syaithan) dari kalangan jin dan manusia.” </em>[An Naas: 5-6].</p>
<p>3. Bisikan syaithan dari kalangan jin. Syaikhul Islam <em>rahimahullah </em>berkata: <em>“Maka bisikan yang dihembuskan ke dalam kalbu-kalbu manusia adalah hawa nafsu, syaithan dari kalangan jin dan manusia&#8230;”</em> [Majmu’ Fataawa, dinukil kitab Inqadzul Muslimin hal. 26].</p>
<p>Bila 3 bisikan ini bahu membahu menyesatkan seorang muslim maka kebinasaan dan kehancuranlah yang akan ia peroleh.</p>
<p><em>Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Billah</em></p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Jiwa manusia itu asalnya di atas kebaikan. Namun seiring dengan itu ia sangat mudah menerima lawan dari kebaikan tersebut, yaitu kejelekan. Baik dan buruknya jiwa manusia itu sesuai dengan kebaikan dan keburukan yang diterima jiwa tersebut. Bila jiwanya menerima dan tumbuh dalam kebaikan maka ia adalah jiwa yang baik. Namun jika jiwanya menerima keburukan dan tumbuh dengannya maka jadilah ia jiwa yang buruk.</p>
<p>Di dalam Al Qur’an, Allah menyebutkan perihal dua bentuk jiwa tersebut (artinya): “<em>Demi jiwa manusia dan apa yang Dia (Allah) ciptakan jiwa tersebut (di atas kebaikan). Lalu Dia terangkan keburukan dan ketakwaan (kebaikan) kepada jiwa tersebut. Sungguh beruntung (bagi) seseorang yang membersihkan jiwanya (dengan kebaikan). (Dan) sungguh celaka (bagi) seseorang yang mengotori jiwanya (dengan keburukan).” </em>[Asy Syams: 7-10].</p>
<p>Sedangkan sebab awal dan terbesar yang menjadikan jiwa manusia itu buruk tidak lain adalah syaithan dari kalangan jin. Di dalam hadits Qudsy dinyatakan (artinya): ”<em>Sesungguhnya Aku (Allah) menciptakan seluruh hamba-Ku dalam keadaan lurus. (Namun) sesungguhnya syaithan mendatangi mereka lalu menyesatkan mereka dari agama (lurus). Syaithan mengharamkan untuk manusia apa yang telah Aku halalkan. Syaithan mengajak manusia untuk berbuat syirik kepada-Ku yang tidak pernah Aku turunkan ajakan untuk itu.” </em>[H.R Muslim].</p>
<p>Maka, sungguh! Syaithan itu benar-benar musuh yang nyata bagi kita. Jadikan ia sebagai musuh. Sesungguhnya ia terus menerus mengajak manusia menjadi penghuni As-Sa’iir (neraka).</p>
<p><em>Wallahu Musta’an</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/assunnahmadiun.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/assunnahmadiun.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/assunnahmadiun.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/assunnahmadiun.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/assunnahmadiun.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/assunnahmadiun.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/assunnahmadiun.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/assunnahmadiun.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/assunnahmadiun.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/assunnahmadiun.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/assunnahmadiun.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/assunnahmadiun.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/assunnahmadiun.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/assunnahmadiun.wordpress.com/642/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahmadiun.wordpress.com&amp;blog=6335013&amp;post=642&amp;subd=assunnahmadiun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2011/12/07/mewaspadai-bisikan-syaithan-2-habis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c5fbd0536bb84a282bd6cec3987dcbfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">as sunnah madiun</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2011/12/wo_scn081.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">WO_SCN08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mewaspadai Bisikan Syaithan (1)</title>
		<link>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2011/12/01/mewaspadai-bisikan-syaithan-1/</link>
		<comments>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2011/12/01/mewaspadai-bisikan-syaithan-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 21:42:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>as sunnah madiun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[bisikan kejahatan]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan]]></category>
		<category><![CDATA[iblis]]></category>
		<category><![CDATA[jin]]></category>
		<category><![CDATA[qarin]]></category>
		<category><![CDATA[setan]]></category>
		<category><![CDATA[setan pendamping]]></category>
		<category><![CDATA[syaithan]]></category>
		<category><![CDATA[zikrullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://assunnahmadiun.wordpress.com/?p=631</guid>
		<description><![CDATA[Di dalam salah satu ayat Al-Qur&#8217;an, Allah Ta&#8217;ala berfirman (artinya) : &#8220;(Iblis) berkata : &#8220;Berikanlah aku waktu tangguh (untuk menyesatkan manusia) sampai mereka (manusia) dibangkitkan (pada hari kiamat). (Allah) berkata : &#8220;Sesungguhnya engkau diberi waktu tangguh. (Iblis) berkata : &#8221; Karena Engkau telah menentukan aku tersesat maka  sungguh aku akan benar-benar menghalangi mereka (manusia) dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahmadiun.wordpress.com&amp;blog=6335013&amp;post=631&amp;subd=assunnahmadiun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2011/12/0881.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-635" title="088" src="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2011/12/0881.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></strong></p>
<p>Di dalam salah satu ayat Al-Qur&#8217;an, Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman (artinya) : <em>&#8220;(Iblis) berkata : &#8220;Berikanlah aku waktu tangguh (untuk menyesatkan manusia) sampai mereka (manusia) dibangkitkan (pada hari kiamat).</em></p>
<p>(Allah) berkata : <em>&#8220;Sesungguhnya engkau diberi waktu tangguh. (Iblis) berkata : &#8221; Karena Engkau telah menentukan aku tersesat maka  sungguh aku akan benar-benar menghalangi mereka (manusia) dari jalan-Mu yang lurus. Lalu aku akan benar-benar mendatangi mereka dari arah depan, belakang, sebelah kanan, dan sebelah kiri, lantas Engkau tidak mendapati kebanyakan mereka bersyukur  (kepada-Mu).&#8221; </em>[Al A'raaf : 14-17].</p>
<p>Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah, bila kita memperhatikan ayat di atas maka kita bisa memetik pelajaran berharga, diantaranya :</p>
<p>1. Iblis -<em>la&#8217;natullahi &#8216;alaihi</em>- diberi usia yang sangat panjang oleh Allah <em>Ta&#8217;ala</em> untuk menyesatkan anak cucu Adam <em>&#8216;</em><em>alaihis </em><em>salaam</em> sampai hari kebangkitan (hari kiamat).</p>
<p>2. Iblis tidak ingin dirinya saja yang tersesat, sehingga ia berupaya keras untuk manusia juga tersesat dari jalan Allah.</p>
<p>3. Iblis sangat bersemangat untuk memusuhi manusia yang berada di atas jalan Allah agar mereka menyimpang dari jalan tersebut.</p>
<p>4. Iblis memiliki banyak cara untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.</p>
<p>5. Iblis memperkirakan bahwa kebanyakan manusia justru tersesat dari jalan Allah. Di dalam ayat yang lain, Allah berfirman (artinya):  <em>&#8221; .. sungguh, bila Engkau beri aku waktu tangguh, niscaya aku akan benar-benar  menyesatkan keturunannya (Nabi Adam) kecuali sebagian kecil saja.&#8221;</em> [Al Israa' : 62]</p>
<p>Lalu tepatkah dugaan Iblis tersebut? Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman (artinya) : <em>&#8221; Dan sungguh ia (syaithan) telah menyesatkan banyak orang di antara kalian. Apakah kalian tidak memikirkannya?&#8221; </em>[Yaasiin : 62]</p>
<p>Dia <em>Ta&#8217;ala</em> juga berfirman (artinya) :<em></em></p>
<p><em>&#8220;</em><em>Dan sungguh Iblis benar-benar membuktikan kebenaran dugaannya terhadap mereka (manusia). Maka mereka mengikutinya kecuali sebagian dari orang-orang beriman.&#8221; </em>[Saba' : 20]</p>
<p><strong>Iblis Mengetahui Kelemahan Manusia</strong></p>
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> bahwa Rasulullah<em> Shallallahu &#8216;alaihi Wasallam</em> bersabda (artinya):</p>
<p><em>&#8220;Tatkala Allah menciptakan bentuk Adam di surga (Al-Jannah), Allah membiarkannya sesuai kehendak-Nya. Lalu Iblis mengitari Adam dan mengamatinya. Tatkala ia tahu bahwa Adam memiliki rongga, maka ia tahu bahwa Adam dicipta dalam keadaan tidak memiliki kekuatan.</em>&#8221; [H.R Muslim]</p>
<p>Sebagian ulama menyebutkan makna hadits tersebut bahwa manusia –dirinya semata tanpa ada kekuatan dari Allah- tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi bisikan syaithan.<strong></strong></p>
<p><strong>Bisikan Syaithan Merupakan Sumber Kejelekan</strong></p>
<p>Syaikhul Islam <em>rahimahullah</em> berkata : &#8220;<em>Bisikan syaithan merupakan sumber setiap kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. Bisikan syaithan merupakan sumber seluruh kejelekan. Kapan pun seseorang diselamatkan dari kejelekan bisikan syaithan maka ia akan diselamatkan dari azab jahanam, azab kubur, kejelekan saat hidup atau mati dan kejelekan Al Masih Ad- Dajjal. Sesungguhnya seluruh kejelekan ini muncul karena adanya bisikan syaithan.</em>&#8221; [Majmu' Fataawa, di nukil dari Inqadzul Muslimin hal. 25]</p>
<p>Adapun proses terjadinya sebuah perbuatan jelek yang berawal dari bisikan syaithan adalah berikut ini :</p>
<p>Bisikan syaithan untuk berbuat jelek &#8212;&#8211;&gt; lintasan pikiran jelek  &#8212;&#8211;&gt; mengingat- ingat pikiran jelek tersebut &#8212;-&gt; berniat jelek &#8212;-&gt; berbuat jelek yang apabila sering di lakukan maka akan menjadi sebuah kebiasaan.</p>
<p>[Disadur secara bebas dari Fawa'idul Fawa'id]<strong></strong></p>
<p><strong>Syaithan Bersemangat Untuk Membisikkan Kejelekan Kepada Seorang Muslim</strong><strong></strong></p>
<p>Dari Abu Musa Al Asy&#8217;ari <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> dari Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi Wasallam</em> bersabda (artinya): &#8220;<em>Bila tiba pagi hari maka Iblis mengerahkan bala tentaranya. Dia pun berkata : &#8220;Barangsiapa mampu menyesatkan seorang muslim hari ini maka aku akan memakaikan mahkota kepadanya.&#8221; Maka salah satu pasukannya berangkat lalu berkata : &#8220;Aku senantiasa membisikkan kejelekan kepada orang ini sampai dia menceraikan istrinya. &#8221; Namun Iblis berkata : &#8220;Aku khawatir ia akan menikah lagi.&#8221;Lalu salah satu tentaranya yang lain datang dan berkata : &#8220;Aku akan senantiasa  membisikkan kejelekan kepada orang ini sampai durhaka kepada kedua orang tuanya.&#8221; Namun Iblis berkata : &#8220;Hampir-hampir ia kembali berbakti kepada kedua orang tuanya&#8221;. Kemudian tentaranya yang lain datang dan berkata : &#8220;Aku senantiasa membisikkan kejelekan kepada orang ini sampai  ia berbuat syirik kepada Allah.&#8221; Maka Iblis berkata : &#8221; Engkaulah orangnya! </em><em>Engkaulah orangnya! Lantas datang lagi tentara yang lain dan berkata : “Aku selalu membisikan kejelekan kepada orang ini sampai ia melakukan pembunuhan.” Maka Iblis berkata: “Engkaulah orangnya! Engkaulah orangnya!” Akhirnya Iblis menyematkan mahkota kepada pasukan tersebut.</em><em>”</em> [Ash Shahihah :1280]</p>
<p><strong>Golongan Syaithan Yang Membisikkan Kejelekkan Atau Gangguan Lain Kepada Seorang Muslim</strong></p>
<p>Syaithan yang menyesatkan manusia melalui bisikan jahat atau gangguan lain terdiri dari beberapa golongan :</p>
<p>1) Qarin (syaithan pendamping) yang senantiasa menyertai seorang muslim Rasulullah <em>Shalla</em><em>llahu&#8217;</em><em>alaihi Wasallam</em> bersabda (artinya) : &#8220;<em>Tidaklah seorang pun diantara kalian melainkan telah ditetapkan bersamanya qarin dari kalangan jin&#8221; mereka (para sahabat)  bertanya : &#8220;Demikian pula engkau, wahai Rasulullah?&#8221; Beliau menjawab &#8220;Demikian pula aku. Hanya saja Allah telah menolongku untuk menghadapinya sampai ia pun masuk Islam. Tidaklah ia  memerintahku  kecuali sesuatu yang baik.&#8221;</em> [H.R Muslim]</p>
<p>2) Tentara Iblis yang berasal dari anak keturunannya.</p>
<p>3) Para syaithan yang diutus oleh para penyihir dan dukun.</p>
<p>4) Para syaithan  yang  menguasai orang-orang Islam  karena orang- orang tersebut dianggap telah mengganggu mereka.</p>
<p>5) Para syaithan yang menguasai orang-orang Islam karena jatuh cinta kepada orang-orang Islam tersebut. Golongan ini adalah syaithan pria yang jatuh cinta kepada wanita muslimah atau syaithan wanita yang jatuh cinta kepada pria muslim.</p>
<p>6) Para syaithan yang &#8220;iseng&#8221; mengganggu manusia seperti mengganggu anak-anak kecil atau orang-orang lanjut usia.</p>
<p>[Disadur secara bebas dari Inqadzul Muslimin hal. 27-28]</p>
<p><strong>Sebab-sebab Syaithan Mampu Menguasai Manusia</strong></p>
<p>Sebab-sebab yang menjadikan syaithan mampu menguasai atau mengganggu manusia , diantaranya :</p>
<p>1) Lalainya kalbu seseorang dari zikrullah.</p>
<p>Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman : <em>&#8220;Dan barangsiapa yang berpaling dari menyebut Ar-Rahman  (Allah) maka Kami akan mendatangkan syaithan untuknya lalu menjadi teman yang akan selalu mendampinginya.</em>&#8221; [Az-Zukhruf : 36]</p>
<p>Syaikhul Islam <em>rahimahullah</em> berkata :<em> &#8220;Dan syaithan itu membisikan kejelekan dan mundur dari membisikkan kejelekan tersebut. Bila seorang hamba berzikir kepada Allah maka syaithan akan mundur. Namun bila ia lalai dari zikrullah maka syaithan akan membisikkan kejelekan kepadanya. Atas dasar ini maka meninggalkan zikrullah merupakan sebab dan awal munculnya keyakinan yang batil dan keinginan yang rusak pada kalbu seseorang. Diantara bentuk zikrullah adalah membaca Al-Qur&#8217;an dan memahaminya.</em>&#8221; [Majmu' Fataawa, dinukil dari Inqadzul Muslimin hal.14]</p>
<p>2) Rasa  cinta dan kerinduan syaithan pria kepada orang wanita atau syaithan wanita kepada orang pria.</p>
<p>Syaikhul Islam <em>rahimahullah</em> berkata : <em>&#8220;Dan jin kadang kala mencintai manusia sebagaimana manusia mencintai manusia lainnya. Hal itu sebagaimana seorang pria mencintai wanita atau wanita mencintai seorang pria, rindu dan membantu dengan berbagai cara. Bila jin itu mengetahui pasangannya berselingkuh dengan yang lainnya maka kadangkala jin tersebut membalasnya dengan pembunuhan atau selainnya. Ini semua memang nyata terjadi.&#8221; </em>[An Nubuwwat,   dinukil dari Inqadzul Muslimin hal.15]</p>
<p>Asy-Syaikh Muhammad Al Imam <em>hafizhahullah</em> berkata :&#8221;<em>Maka hendaknya bagi seorang muslim dan muslimah untuk bersemangat membaca zikir-zikir yang disyariatkan (agama) terutama zikir-zikir yang terkait dengan masuk kamar kecil atau saat akan bersenggama, sebab bertelanjang tanpa zikrullah (terlebih dahulu)merupakan salah satu sebab kecintaan jin kepada manusia.“ </em>[Inqadzul Muslimin hal.15].</p>
<p><strong>Bentuk-Bentuk Gangguan Syaithan Selain Bisikan Kejahatan</strong></p>
<p>1. Perubahan bentuk syaithan/jin menjadi manusia atau hewan untuk mengganggu manusia.</p>
<p>2. Memukul tubuh manusia.</p>
<p>3. Membakar.</p>
<p>4. Menggiring manusia untuk mendatangi tempat-tempat sampah dengan anggapan membawa mereka ke taman yang indah.</p>
<p>5. Mencuri harta manusia untuk diberikan kepada syaithan dari kalangan manusia.</p>
<p>6. Menyembunyikan keberadaan manusia (menculik).</p>
<p>[Diringkas dari Inqadzul Muslimin hal. 68-70].</p>
<p>Wallahu a’lamu bish-shawaab</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/assunnahmadiun.wordpress.com/631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/assunnahmadiun.wordpress.com/631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/assunnahmadiun.wordpress.com/631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/assunnahmadiun.wordpress.com/631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/assunnahmadiun.wordpress.com/631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/assunnahmadiun.wordpress.com/631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/assunnahmadiun.wordpress.com/631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/assunnahmadiun.wordpress.com/631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/assunnahmadiun.wordpress.com/631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/assunnahmadiun.wordpress.com/631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/assunnahmadiun.wordpress.com/631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/assunnahmadiun.wordpress.com/631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/assunnahmadiun.wordpress.com/631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/assunnahmadiun.wordpress.com/631/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahmadiun.wordpress.com&amp;blog=6335013&amp;post=631&amp;subd=assunnahmadiun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2011/12/01/mewaspadai-bisikan-syaithan-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c5fbd0536bb84a282bd6cec3987dcbfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">as sunnah madiun</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2011/12/0881.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">088</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kehormatan Bulan Muharram</title>
		<link>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2011/11/23/kehormatan-bulan-muharram/</link>
		<comments>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2011/11/23/kehormatan-bulan-muharram/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 14:10:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>as sunnah madiun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[arba'atun hurum]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan bulan muharram]]></category>
		<category><![CDATA[muharram]]></category>
		<category><![CDATA[puasa 'asy syuura']]></category>
		<category><![CDATA[puasa sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa tasuu'a]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://assunnahmadiun.wordpress.com/?p=625</guid>
		<description><![CDATA[Al Imam Al Bukhari rahimahullah menyebutkan riwayat seorang sahabat bernama Sahl bin Sa’d  radhiyallahu‘anhuma, beliau berkata: ”Mereka (para sahabat) tidaklah menghitung (awal tahun) berdasar peristiwa diangkatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagai utusan Allah dan tidak pula peristiwa wafatnya beliau. Tidaklah mereka menghitungnya kecuali berdasar peristiwa kedatangan beliau di kota Madinah.” [Al Bukhari] Sedangkan kedatangan Nabi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahmadiun.wordpress.com&amp;blog=6335013&amp;post=625&amp;subd=assunnahmadiun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;" align="center"><a href="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2011/11/free-pictures-green-forest-sunshine-bbsc30.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-626" title="free-pictures-green-forest-sunshine-bbsc30" src="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2011/11/free-pictures-green-forest-sunshine-bbsc30.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Al Imam Al Bukhari <em>rahimahullah</em> menyebutkan riwayat seorang sahabat bernama Sahl bin Sa’d  <em>radhiyallahu‘anhuma,</em> beliau berkata: <em>”Mereka (para sahabat) tidaklah menghitung (awal tahun) berdasar peristiwa diangkatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagai utusan Allah dan tidak pula peristiwa wafatnya beliau. Tidaklah mereka menghitungnya kecuali berdasar peristiwa kedatangan beliau di kota Madinah</em>.” [Al Bukhari]</p>
<p>Sedangkan kedatangan Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam </em>di kota Madinah terjadi pada bulan Muharram. Saat itu beliau sempat menjumpai orang- orang Yahudi melakukan puasa <em>‘Asyuura’</em> (puasa tanggal 10 Muharram).</p>
<p>Atas dasar ini maka penghitungan tahun islami (hijriah) dimulai dari bulan Muharram.</p>
<p><strong>Bulan Muharram Adalah Salah Satu <em>Arba’atun Hurum</em></strong></p>
<p>Maksud <em>Arba’atun Hurum</em> adalah 4 bulan yang memiliki kehormatan. Keberadaan 4 bulan tersebut dinyatakan Allah Ta’ala dalam firman Nya (artinya) : “<em> Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah itu ada 12 bulan . Kesemuanya dalam ketetapan Allah di hari Dia menciptakan langit dan bumi. Diantara (12 bulan) tersebut terdapat 4 bulan yang memiliki kehormatan..</em>.” [At Taubah : 36 ].</p>
<p>Lalu Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam</em> menjelaskan maksud 4 bulan tersebut dalam sabdanya (artinya): “..<em>.1 tahun itu ada 12 bulan. Diantara 12 bulan tersebut terdapat 4 bulan yang memiliki kehormatan. 3 diantaranya tiba berturut- turut yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Sedangkan satunya adalah Rajab yang merupakan bulan pilihan orang- orang Mudhar dan terletak antara bulan Jumaada (Jumaadats Tsaniyah/ Jumadal Akhirah) dan Sya’ban&#8230;”</em> [H.R Al Bukhari dan Muslim].</p>
<p><strong>Puasa Muharram</strong></p>
<p>Di bulan Muharram disunnahkan untuk menunaikan puasa beberapa hari, berdasarkan sabda Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam</em> (artinya): “<em>Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa Muharram dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.</em>” [H.R Muslim].</p>
<p><strong>Puasa Tasuu’a’ Dan ‘Asyuura’</strong></p>
<p>Puasa <em>Tasuu’a’ </em>adalah puasa yang dikerjakan pada tanggal 9 Muharram. Sedangkan puasa <em>‘Asyuura’</em> adalah puasa yang ditunaikan pada tanggal 10 Muharram.</p>
<p>Apabila seseorang luput dari puasa beberapa hari di bulan Muharram, maka hendaknya ia berupaya untuk mampu mengerjakan puasa<em> Tasuu’a’</em> dan <em>‘Asyuura’.</em></p>
<p>Disebutkan oleh Abdullah bin ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>: “<em>Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menunaikan puasa ‘Asyuura’ dan memerintah para sahabat untuk menunaikannya juga, mereka (para sahabat) berkata: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya hari ‘Asyuura’ itu adalah hari yang diagungkan orang- orang Yahudi dan Nashrani. “. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi  Wasallam bersabda (artinya): “Bila tahun depan (aku masih hidup) insya Allah kita akan melakukan puasa Tasu’a’ juga</em>” [H.R Muslim].</p>
<p>Al Imam An Nawawi<em> rahimahullah</em> berkata: “<em>Asy Syafi’i, para pengikut beliau, Ahmad, Ishaq, dan selain mereka menyatakan: “Disunnahkan untuk berpuasa pada tanggal 9 sekaligus  tanggal 10 Muharram karena Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam menunaikan puasa ‘Asyuura’ dan berniat puasa Tasuu’a’&#8230; Sebagian ulama berkata: “Nampaknya sebab menunaikan puasa Tasuu’a’ bersama ‘Asyuura’ agar tidak menyerupai orang- orang Yahudi yang hanya mengerjakan puasa “Asyuura’.</em>” [Syarh Muslim].</p>
<p><strong>Keutamaan Puasa <em>‘Asyuura’</em></strong></p>
<p>Dari Abu Qatadah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> bahwa Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi Wasallam</em> pernah ditanya tentang puasa <em>‘Asyuura’</em> maka beliau menjawab (artinya): <em>“Menghapus dosa- dosa (kecil -pen) yang dilakukan setahun yang lalu.”</em> [H.R Muslim]</p>
<p><strong>Faedah          </strong></p>
<p>1.Puasa <em>‘Asyuura’</em> pernah dilakukan Nabi Musa ‘<em>alaihis Salaam</em> sebagai rasa syukur kepada Allah setelah beliau diselamatkan dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya. [Lihat Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim].</p>
<p>2.Puasa ‘<em>Asyuura’</em> dahulu adalah puasa wajib sebelum turunnya kewajiban puasa Ramadhan. Dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha,</em> berkata: “<em>Dahulu puasa ‘Asyuura’ dikerjakan orang- orang Quraisy di masa jahiliyah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam juga menunaikan hal itu di masa jahiliyah. Tatkala beliau tiba di kota Madinah maka beliau berpuasa ‘Asyuura’ dan memerintah para sahabat untuk berpuasa juga . Ketika diwajibkan puasa Ramadhan maka beliau meninggalkan puasa ‘Asyuura’. Barangsiapa ingin berpuasa Asyuura’ maka silakan ia berpuasa dan bagi yang tidak berhendak maka silakan ia meninggalkannya.”</em> [H.R Al Bukhari dan Muslim].</p>
<p><strong>Larangan Menzhalimi Diri Sendiri di Bulan Muharram</strong></p>
<p>Dalam salah satu ayat Al Qur’an, Allah <em>Ta’ala</em> berfirman (artinya): <em>“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah itu ada 12 bulan. Kesemuanya dalam ketetapan Allah di hari Dia menciptakan langit dan bumi. Di antara (12 bulan) tersebut terdapat 4 bulan yang memiliki kehormatan. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menzhalimi diri kalian sendiri pada bulan- bulan tersebut.”</em> [At Taubah: 36].</p>
<p>Menzhalimi diri sendiri merupakan perbuatan yang dilarang di seluruh bulan di mana dan kapan pun kita berada. Namun bila perbuatan tersebut dilakukan di 4 bulan yang memiliki kehormatan maka keadaannya lebih berat.</p>
<p>Sedangkan maksud perbuatan zhalim terhadap diri sendiri bentuknya ada 2 macam:</p>
<p>-Meninggalkan perintah Allah</p>
<p>-Melakukan larangan Allah</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> sendiri menegaskan di dalam satu firman-Nya (artinya):”<em>Dan barangsiapa melampaui batas- batas (hukum) Allah maka dia sungguh telah menzhalimi dirinya sendiri.”</em> [Ath Thalaaq : 1].</p>
<p>Para pembaca –semoga Allah merahmati kita semua- perlu menjadi bahan pelajaran bagi kita bahwa sebagian kita ternyata melalaikan perkara yang disunnahkan di bulan Muharram berupa puasa <em>Tasuu’a’</em> dan ‘<em>Asyuura’</em> atau perkara yang memang diwajibkan di bulan Muharram dan bulan-bulan lainnya seperti shalat 5 waktu berjamaah di masjid bagi pria kaum muslimin. Di sisi lain mereka justru masih memiliki anggapan keliru tentang bulan Muharram.</p>
<p>Di antara saudara-saudara kita, tidak sedikit yang masih beranggapan -atau minimalnya ikut-ikutan-  bahwa bulan Muharram yang diistilahkan orang Jawa dengan bulan Sura merupakan bulan keramat. Atas dasar itu mereka enggan untuk mengadakan hajatan seperti pesta pernikahan di bulan Muharram. Mereka lebih memilih bulan Dzulhijjah (bulan Besar <em>Jawa </em>) untuk mengadakan pesta pernikahan. Padahal tidak sepantasnya seorang muslim memiliki anggapan seperti itu karena hal itu merupakan <em>Tathayyur (Thiyarah). Tathayyur</em> adalah anggapan sial/mujur terhadap sesuatu yang tidak ada dasarnya dari agama maupun inderawi. <em>Tathayyur</em> merupakan salah satu bentuk kesyirikan kepada Allah, karena<em> Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam</em> bersabda (artinya): <em>“Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik dan thiyarah adalah syirik.”</em>  [H.R Abu Dawud yang dishahihkan asy-Syaikh Albani dan asy-Syaikh Muqbil].</p>
<p>Lebih menyedihkan lagi apabila berawal dari<em> tathayyur</em> ini akhirnya mendorong seseorang atau sekelompok masyarakat untuk melakukan ritual berupa sedekah /sesaji kepada laut,benda atau tempat tertentu yang dianggap keramat agar kampungnya selamat dari malapetaka. Padahal, ritual semacam ini –sekalipun terlanjur dianggap tradisi atau daya tarik wisata- merupakan bentuk persembahan ibadah kepada selain Allah <em>Ta’ala</em>. Sedangkan bentuk persembahan ibadah kepda selain Allah adalah perbuatan <em>syirik</em> kepada-Nya. Jadilah hal ini kesyirikan di atas kesyirikan. <em>Wallahul Musta’an!</em></p>
<p>Dalam atsar yang shahih dari Salman Al Farisi <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>beliau berkata: “<em>Seseorang masuk Al Jannah (surga) karena seekor lalat dan ada seseorang yang masuk An Naar (neraka) karena seekor lalat pula. “ </em>Mereka (orang-orang yang bersama Salman) bertanya<em>:”Bagaimana hal itu bisa terjadi?”</em> Salman menjawab:”<em>Ada 2 orang muslim dari umat sebelum kalian melewati suatu kaum yang memiliki sesembahan selain Allah (dalam riwayat lain: suatu kaum yang melakukan ritual ibadah di dekat sesembahan tersebut). Siapa pun tidak diperkenankan melewati kaum tersebut sampai mempersembahkan sesuatu kepada sesembahan tadi. Kaum tadi berkata kepada orang pertama:”Berikanlah sesuatu sebagai persembahan kepada sesembahan kami!” Orang itu menjawab:”Aku tdak memiliki apa pun (untuk aku persembahkan).” Mereka memaksa:”Berikanlah persembahan walaupun berupa seekor lalat!” Maka orang tersebut mempersembahkan seekor lalat dan dipersilahkan melewati mereka”</em> Salman berkata:”<em>Maka orang ini masuk neraka.” Lalu kaum tadi berkata kepada orang kedua:”Berikanlah persembahan walaupun berupa seekor lalat!” “Ternyata orang ini menjawab :”Aku tidak akan mempersembahkan sesuatu apa pun kepada selain Allah ‘Azza Wa Jalla!” Maka kaum tersebut membunuh orang ini dan akhirnya dia masuk surga”</em>.</p>
<p>Perbuatan <em>syirik </em>di atas akan semakin berat keadaannya apabila dilakukan di bulan Muharram yang merupakan salah satu bulan yang memiliki kehormatan. Belum lagi model acara lain berupa kirab seekor binatang yang dianggap keramat untuk diambil berkahnya.Semoga kita benar-benar dapat mengambil pelajaran. <em>Wallahu a’lamu bish-shawaab.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/assunnahmadiun.wordpress.com/625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/assunnahmadiun.wordpress.com/625/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/assunnahmadiun.wordpress.com/625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/assunnahmadiun.wordpress.com/625/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/assunnahmadiun.wordpress.com/625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/assunnahmadiun.wordpress.com/625/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/assunnahmadiun.wordpress.com/625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/assunnahmadiun.wordpress.com/625/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/assunnahmadiun.wordpress.com/625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/assunnahmadiun.wordpress.com/625/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/assunnahmadiun.wordpress.com/625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/assunnahmadiun.wordpress.com/625/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/assunnahmadiun.wordpress.com/625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/assunnahmadiun.wordpress.com/625/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahmadiun.wordpress.com&amp;blog=6335013&amp;post=625&amp;subd=assunnahmadiun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2011/11/23/kehormatan-bulan-muharram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c5fbd0536bb84a282bd6cec3987dcbfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">as sunnah madiun</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2011/11/free-pictures-green-forest-sunshine-bbsc30.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">free-pictures-green-forest-sunshine-bbsc30</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agar Doamu Terkabul</title>
		<link>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2011/11/15/agar-doamu-terkabul/</link>
		<comments>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2011/11/15/agar-doamu-terkabul/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Nov 2011 11:34:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>as sunnah madiun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[isti'anah]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan doa]]></category>
		<category><![CDATA[makna doa]]></category>
		<category><![CDATA[penghalang doa]]></category>
		<category><![CDATA[tawakal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://assunnahmadiun.wordpress.com/?p=612</guid>
		<description><![CDATA[penulis: Abu Abdillah Al Jawy Secara bahasa berdoa berarti meminta. Beberapa Keutamaan Doa Doa dalam Al Quran dan As Sunnah dinamakan ibadah seperti dalam ayat (artinya) : “Dan berkata rabb/tuhan kalian : &#8216;berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya. Sesungguhnya siapa yang sombong/enggan beribadah kepada-Ku maka akan masuk Jahannam dalam keadaan hina&#8217;” (suratal Mu&#8217;min 60). [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahmadiun.wordpress.com&amp;blog=6335013&amp;post=612&amp;subd=assunnahmadiun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2011/11/images-4.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-616" title="images (4)" src="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2011/11/images-4.jpg?w=645" alt=""   /></a></p>
<p>penulis: <em>Abu Abdillah Al Jawy<br />
</em><br />
Secara bahasa berdoa berarti meminta.<br />
<strong><br />
Beberapa Keutamaan Doa</strong></p>
<ol>
<li>Doa dalam Al Quran dan As Sunnah dinamakan ibadah seperti dalam ayat (artinya) : “Dan berkata rabb/tuhan kalian : &#8216;berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya. Sesungguhnya siapa yang sombong/enggan beribadah kepada-Ku maka akan masuk Jahannam dalam keadaan hina&#8217;” (suratal Mu&#8217;min 60). Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>mengatakan (artinya) : “Doa itu adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi dari shahabat Nu’man ibn Basyir <em>radhiyallahu ‘anhu</em>)</li>
<li>Doa termasuk ibadah yang paling mulia. Dalam sebuah hadits “Seutama – utama ibadah adalah doa.” (HR.Al Hakim dan Syaikh Al Albani menghasankannya).</li>
<li>Al Quran dimulai dan diakhiri dengan suratyang mengandung doa. Al Fatihah sebagai pembuka Al Quran mengandung doa yang wajib kita ulang minimal 17 kali dalam sehari semalam yaitu <em>ihdinash shiraathal mustaqim…</em>(sampai akhir surat)<em>. </em>Para ulama menjelaskan bahwa diperintahkannya kita untuk mengulang – ulang doa yang satu ini menunjukkan pentingnya doa tersebut. An Naas yang menutup Al Quran juga mengandung doa yaitu <em>qul a’uudzu birabbin naas…</em>
<ol>
<li>Orang yang berdoa dekat dengan rahmat Allah sebagaimana firman-Nya (artinya) ; “berdoalah kepada-Nya dengan takut dan berharap. Sesungguhnya rahmat Allah dekat dengan orang – orang yang berbuat <em>ihsan</em>/kebaikan. (surat Al A’raf 56)</li>
<li>Doa merupakan kebiasaan para nabi bahkan merekalah orang yang paling sempurna dalam berdoa kepada Allah. Allah menggambarkan bagaimana mereka berdoa “Sesungguhnya mereka (para nabi) berlomba – lomba dalam kebaikan dan berdoa kepada Kami dengan takut dan berharap dan mereka adalah orang yang khusyu&#8217; kepada Kami. (suratAl Anbiyaa 90)</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><strong>Beberapa Makna yang Terkandung Dalam Doa</strong></p>
<ol>
<li>Di dalam doa terdapat perendahan diri di hadapan Allah dan nampaknya kelemahan hamba Allah serta butuhnya si hamba kepada <em>Rabbul &#8216;aalamiin.</em></li>
<li>Suatu ibadah, kapan kalbu semakin khusyu&#8217; dan pikiran semakin terkonsentrasi maka ibadah itu makin sempurna. Doa adalah salah satu bentuk ibadah dimana kedua hal tersebut lebih mudah dan lebih mungkin tercapai karena doa didorong oleh kebutuhan hamba kepada pertolongan <em>rabb­</em>nya.</li>
<li>Doa berkaitan erat dengan <em>tawakkal</em> dan <em>isti&#8217;anah </em>(minta pertolongan) kepada Allah dimana keduanya merupakan intisari dari ayat <em>iyyaakaa na&#8217;budu wa iyyaaka nasta&#8217;iin.</em> Ayat ini merupakan inti Al Fatihah dan Al Fatihah merupakan inti dan induk Al Quran.</li>
</ol>
<p><strong>Gambaran Kebutuhan Kita Kepada Doa dan Gambaran Kemahakuasaan Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em></strong></p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits Qudsi bahwa Allah berkata (artinya) : “Wahai para hamba-Ku kalian semua adalah orang yang sesat kecuali siapa yang  Aku beri hidayah maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya Aku akan beri kalian hidayah. Wahai para hamba-Ku kalian semua adalah orang yang lapar kecuali siapa yang Aku beri makan maka mintalah makan kepada-Ku niscaya Aku akan beri makan kalian. Wahai para hamba-Ku kalian semua adalah orang yang telanjang kecuali siapa yang Aku beri pakaian maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku akan beri kalian pakaian.”</p>
<p>“ Wahai para hamba-Ku seandainya kalian semua-mulai makhluk pertama sampai makhluk terakhir baik manusia maupun jin-berkumpul di suatu lapangan kemudian semuanya meminta kepada-Ku kemudian Aku beri masing – masing apa yang diminta; yang demikian tidaklah mengurangi apa yang Kumiliki kecuali seperti air yang menempel di sebuah jarum yang baru saja dicelupkan ke dalam lautan.” <em>subhanallah allahu akbar.</em></p>
<p>Doa termasuk ibadah yang sangat utama sebagaimana telah lewat penjelasannya. Terkait dengan ini, ada dua hal yang penting untuk kita ingat.</p>
<p><strong>Wajibnya mengikhlaskan doa hanya kepada Allah</strong></p>
<p>“Dan berkata rabb/tuhan kalian : &#8216;berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya. Sesungguhnya siapa yang sombong/enggan beribadah kepada-Ku maka akan masuk Jahannam dalam keadaan hina&#8217;” (suratal Mu&#8217;min 60).</p>
<p>“ Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata&#8230;” (suratAl Bayyinah 5)</p>
<p>“Hanya milik Allahlah doa yang benar dan siapa yang berdoa kepada selain-Nya maka pada hakikatnya tidak bisa mengabulkan doa sedikitpun.” (suratAr Ra&#8217;d 14)</p>
<p>“Sesungguhnya siapapun yang kalian berdoa kepadanya selain Allah maka sebenarnya dia juga adalah hamba Allah seperti kalian.” (Al A&#8217;raf 194)</p>
<p>Makna ayat &#8211; ayat diatas secara jelas menunjukkan tidak bolehnya berdoa atau meminta kepada selain Allah dalam hal – hal yang tidak mampu memenuhinya kecuali Allah. Bahkan hal ini termasuk syirik besar yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam. Larangan ini sama saja apakah yang diminta selain Allah adalah seorang nabi yang telah meninggal maupun seorang yang dianggap wali seperti Wali Songo dan Syaikh Abdul Qadir Jailani, maupun orang shalih lainnya. Termasuk di dalamnya adalah meminta kepada jin, Nyi Roro Kidul, kuburan yang dikeramatkan, pohon – pohon besar yang diagungkan dan sebagainya.<em>Na&#8217;udzubillahi min dzalik</em>.</p>
<p><strong>Sebisa mungkin memilih doa yang diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em></strong></p>
<p>Beliau telah mencontohkan kepada kita berbagai dzikir dan doa dalam berbagai urusan mulai yang ringan seperti akan tidur dan bangun tidur sampai doa ketika menghadapi urusan – urusan yang berat. Allah mengatakan (artinya) : “Sungguh pada diri Rasulullah ada contoh yang baik bagi kalian yaitu bagi siapa saja yang berharap kepada Allah dan hari akhir dan banyak berdzikir kepada-Nya.” (suratAl Ahzab 21)</p>
<p>Beliau juga menjelaskan dalam beberapa hadits shahih bahwa beliau diberi kekhususan berupa <em>jawami&#8217;ul kalim </em>yang artinya kalimat – kalimat yang singkat namun padat makna.</p>
<p>&#8216;Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anhuma </em>juga mengatakan bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>mewasiatkan dengan <em>jawami&#8217;uddu&#8217;a </em>(doa yang singkat penuh makna).</p>
<p>Maka, sungguh merupakan kerugian yang nyata kalau ada yang meninggalkan doa – doa yang beliau ajarkan dan mengambil doa dari ajaran orang lain bahkan  menganggap doa yang diajarkan orang lain itu lebih baik dibanding ajaran beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</em>Contohnya adalah berbagai wirid yang diajarkan beberapa guru/mursyid tarekat dimana diyakini bahwa wirid – wirid tersebut memiliki khasiat tertentu padahal wirid tersebut tidak pernah Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>ajarkan. <em> </em></p>
<p><strong>Beberapa hal/keadaan yang mempermudah terkabulnya doa</strong></p>
<ol>
<li>Doa mengandung makna yang baik bukan bermakna dosa maupun memutus silaturrahmi. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim yang artinya : “Tidaklah seorang mukmin berdoa yang tidak mengandung dosa atau memutus silaturrahmi melainkan Allah akan kabulkan&#8230;”</li>
<li>Kalbu yang penuh berharap memohon kepada Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em></li>
<li>Merendahkan diri di hadapan Allah <em>ta&#8217;ala.</em></li>
<li>Yakin dikabulkan oleh Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em></li>
<li>Puasa (HR. Ahmad dan lainnya,dishahihkan Syaikh Al Albani <em>rahimahullah</em>)</li>
<li>Perjalanan/safar</li>
<li>Dalam keadaan terzhalimi. Dalilnya adalah hadits shahih (artinya) : “ Tiga doa yang pasti dikabulkan :doa musafir, doa orang yang terzhalimi dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR.Tirmidzi)</li>
<li>Mengangkat tangan</li>
<li>Rizki yang halal</li>
<li>Memperbanyak doa dengan <em>ya rabbi, ya rabbana</em></li>
<li>Tidak ada penghalang terkabulnya doa.</li>
</ol>
<p><strong>Beberapa penghalang terkabulnya doa</strong></p>
<ol>
<li>Rizki yang haram baik makan minum yang haram maupun pakaian yang haram.</li>
<li>Perbuatan maksiat pada umumnya.</li>
<li>Tergesa – gesa dalam berdoa dengan mengatakan <em>Aku sudah berdoa namun kok belum dikabulkan</em>.</li>
<li>Lisannya berdoa namun kalbunya tidak menghayati apa yang dia ucapkan.</li>
</ol>
<p><strong>Peringatan</strong></p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan dari shahabat Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu </em>bahwa Rasulullah pernah menceritakan seseorang yang dalam keadaan safar, berdoa dengan mengangkat tangannya, dengan mengatakan <em>ya rabbi ya rabbi</em>, penuh berharap dan merendahkan diri di hadapan Allah. Namun, orang ini rizkinya-seperti makanan dan pakaian-didapat dari harta yang haram. Kemudian Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>sampaikan ‘<em>Bagaimana yang seperti ini bisa terkabul doanya?</em>’ Dalam hadits ini ada pelajaran bagi kita bahwa terkadang terkumpul pada diri seseorang beberapa hal yang mempermudah terkabulnya doa, namun adanya satu sifat yang menghalangi terkabulnya doa bisa menyebabkan doa sulit untuk dikabulkan.</p>
<p>Di sisi lain, ketika kita merasa sudah banyak berdoa namun belum dikabulkan, maka kita harus banyak – banyak <em>muhasabatun nafs </em>atau koreksi diri jangan – jangan ada pada diri kita,satu atau bahkan lebih,penghalang terkabulnya doa.<em>waffaqonallah.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/assunnahmadiun.wordpress.com/612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/assunnahmadiun.wordpress.com/612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/assunnahmadiun.wordpress.com/612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/assunnahmadiun.wordpress.com/612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/assunnahmadiun.wordpress.com/612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/assunnahmadiun.wordpress.com/612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/assunnahmadiun.wordpress.com/612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/assunnahmadiun.wordpress.com/612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/assunnahmadiun.wordpress.com/612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/assunnahmadiun.wordpress.com/612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/assunnahmadiun.wordpress.com/612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/assunnahmadiun.wordpress.com/612/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/assunnahmadiun.wordpress.com/612/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/assunnahmadiun.wordpress.com/612/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=assunnahmadiun.wordpress.com&amp;blog=6335013&amp;post=612&amp;subd=assunnahmadiun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://assunnahmadiun.wordpress.com/2011/11/15/agar-doamu-terkabul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c5fbd0536bb84a282bd6cec3987dcbfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">as sunnah madiun</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://assunnahmadiun.files.wordpress.com/2011/11/images-4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">images (4)</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
