Hukum Jual Beli (1)


Pembahasan Syaikh Abdurrahman Al Marí dan diterjemahkan oleh Abu Abdillah Al Jawy.

بسم الله الرحمن الرحيم

o Makna jual beli :

Secara bahasa : – Menukar uang / harta untuk mendapatkan kebutuhan kita.

Menukar harta dengan harta.

Syar’i : Menukar harta dengan harta yang lain dalam keadaan ridho.

o Hukum umum dari jual-beli:

Secara umum : jaiz (boleh)

Dalil : – وَأَحَلَّ الله أَلْبَيْعَ … , (QS. Al Baqarah:275)

Artinya : “ … dan Allah telah menghalalkan jual beli, …”

Hadits : إنماالبيع بالتراضي

Ijma’ ulama’ disegala jaman dan disegala tempat sebagaimana disebutkan Imam Nawawi.

Qiyas : Hikmahnya adalah keadaan seseorang butuh benda yang ada di tangan orang lain.

o Syarat jual beli yang halal :

1. Saling ridho kedua belah pihak (التراضى).

2. Kedua belah pihak diizinkan oleh syariat agama diperbolehkan melakukan tindakan-tindakan (amalan-amalan), contoh : tidak sah jual beli dengan orang gila, mabuk atau anak kecil (akan datang rinciannya).

3. Keberadaan barang yang dijual sebagai barang yang halal dan ada manfaatnya.

4. Barang yang dijual bisa diserah terimakan diantara penjual dan pembeli.

5. Pihak penjual adalah pemilik barang atau orang yang mewakili barang.

6. Barang yang dijual bisa diketahui dengan jelas baik dilihat atau digambarkan dengan jelas.

Pembahasan :

o Syarat (I) :

1. Apa hukumnya menjual barang karena malu ?

(segan / tidak berniat menjual, tapi sungkan kepada pembeli. Seperti kalau ada calon pembeli yang terus mendesak pemilik barang untuk menjual kepadanya sampai pemilik menjualnya dalam keadaan malu).

Maka hukumnya tidak sah.

2. Serupa dengan hal di atas, memberi hadiah karena malu, atau segan, seperti kalau ada orang yang terus memuji sebuah barang dan berkata kepada pemilik “kok tidak dihadiahkan saja kepadaku”, sampai karena merasa tidak enak, si pemilik menghadihkan barang itu karena malu.

Maka hukumnya tidak sah.

3. Jual beli karena terpaksa.

Hukumnya tidak sah.

4. Jual beli dengan sendau gurau (tidak sungguh-sungguh dalam akadnya).

Hukumnya tidak sah.

Batasan sendau gurau, dilihat dari qorinah (tanda-tanda).

5. Hukum jual beli dalam keadaan darurat (terjepit).

Ada khilaf :

· Jumhur ulama : Sah tapi makruh.

· Sebagian ulama : Haram (harus menolong).

· Syaikul islam : Boleh mutlak, dan ini yang kuat.

Masalah Ijab Qobul :

6. Apakah sah seseorang meletakkan uang kepada pedagang, lalu penjual memberikan barang (keduanya paham), tapi tidak ada ucapan.

Hukumnya sah.

7. Bentuk lain tanpa lafadz : Seseorang datang ke penjual langsung mengambil barang (belum membayar uang), sepanjang si pembeli terbiasa/kebiasaan (lain kali dibayar) dan penjual faham (mengetahui), kecuali barang-barang yang disyariatkan taqobudh (tidak boleh di akhirkan serah terimanya).

Hukumnya boleh (rajih).

8. Al Wa’du (menjanjikan).

Seseorang berkata “InsyaAlloh akan saya beli”, apakah ucapan ini merupakan ketetapan (akad), apakah ada ilzaam (kewajiban).

Jawaban : Hal ini bukan merupakan ucapan pengikatan (akad jual beli).

Artinya penjual boleh menjual barang miliknya kepada orang lain, selama belum terjadi akad. Begitu pula calon pembeli tadi tidak harus membeli barang yang telah dia janjikan untuk dia beli.

9. Transaksi dengan tulisan seperti kalau seseorang menulis kepada orang lain, “Aku jual kepadamu barang ini dengan harga sekian”, kemudian diterima tawaran tertulis itu.

Maka hukum dari bentuk ini adalah boleh, dan kalau terjadi penipuan, kembali ke kaidah-kaidah umum dalam syariat islam,

Dalil :

Ridho kedua belah pihak tidak terbatas pada ucapan, tapi juga perbuatan seperti tulisan.

Perintah Allah سبحانه وتعالى, untuk menulis hutang.

Dakwah nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, melalui surat kepada raja.

10. Transaksi via telepon atau fax, dan sebagainya.

Maka hukumnya sah dan jika terjadi kecurangan maka dikembalikan ke kaidah umum dalam syariat islam.

o Syarat (II) :

Tentang pihak-pihak yang melakukan jual beli.

Syarat ini mengeluarkan beberapa jenis orang, antara lain:

1. المجنون (Orang gila)

Merupakan ijma’ ulama, kecuali gilanya dalam keadaan terputus-putus (1/2 stres). Ketika sehat sah, tapi ketika gila batal (tidak sah).

2. السكرن (pemabuk)

Dibagi dua :

· Mabuk dengan keluar batas kesadaran (الطافح), golongan ini tidak sah (jumhur).

· Mabuk tapi masih sadar (غيرالطافح), golongan ini sah (ijma’).

3. الطفل

· غيرمميز, maka tidak sah (tidak ada khilaf).

· مميز, sepanjang walinya menginginkan jual beli, maka sah (jumhur).

Seseorang yang mumayyis tapi masih kecil, dan dalam jual belinya ada kerugian yang parah (karena kecil/kurang paham), maka dalam hal ini wali boleh membatalkan transaksi (jumhur).

o Syarat (III)

Tentang keberadaan barang : Halal dan bermanfaat.

Keluar dari syariat ini jual beli barang yang haram :

1. Khamr (setiap barang yang memabukkan).

Terkait hal ini adalah minyak/obat yang beralkohol :

Apa hukumnya?

Apakah zat alkohol itu masih ada atau tidak dalam zat yang baru tersebut.

Cara mengetahui :

· Khaidah : barang yang banyaknya memabukkan, maka haram seidkitnya.

· Bertanya kepada ahlinya (diuji coba).

Ahsan ditinggalkan

2. الميّتة (bangkai)

· Ijma’ Ulama’.

· Yang dilarang dari bangkai, bagian-bagian dalam hewan yang ada unsur kehidupan didalamnya. Berkata mu’alliq semoga Allah سبحانه وتعالى mengampuninya, “yaitu yang darah mengalir padanya”.

Misal : daging, tulang, jerohan, dll.

· Yang tidak ada unsur kehidupan, boleh diperjual belikan.

Misal : bulu, kuku, rambut.

Yang dimaksud bangkai adalah mati dengan cara tidak syar’i.

· Kulit bangkai : tohir/suci setelah disamak, sehingga boleh diperjual belikan.

Najis jika belum disamak.

· Tulang dan tanduk ada khilaf. Menurut jumhur ulama’ hukumnya adalah najis.

· Syaikuna Abdurrahman menguatkan pendapat yang tidak membolehkan makan kulit dari bangkai hewan secara umum walaupun telah disamak. Alasannya walaupun telah suci dengan penyamakan akan tetapi tidak ada padanya unsur kehidupan sehingga belum hilang darinya sifat bangkai. Dan ini pendapat Ibnu Hazm dan Ibnul Qoyim.

3. الخنزر (babi)

Ijma’ulma tentang keharamannya.

· Bulu babi ada khilaf :

Jumhur ulama’ tidak membolehkan dan ini yang kuat.

· Termasuk disini celeng.

· Apa boleh memelihara babi?

Tidak boleh dan ini kesepakatan ulama.

4. الصنام (patung)

Yaitu semua yang disembah selain Allah Taála yang berbentuk, baik dari besi atau dari kayu, dsb (definisi masyhur).

Tidak boleh jual beli “shonaam”dengan kesepakatan ulama.

Permasalahan :

· Jika patung itu telah dipecah-pecah dan pecahan-pecahan itu untuk digunkan sesuatu yang halal maka boleh.

· Membeli patung utuh untuk dihancurkan oleh pembeli dan pecahannya akan dimanfaatkan tetap tidak boleh : jumhur.

· Termasuk boneka, robot, dll.

Kecuali boneka yang tidak nampak detail tubuhnya (tidak menyerupai ciptaan Allah سبحانه وتعالى).

5. الكلب (anjing)

· Haram jual beli segala jenis anjing (untuk apapun) : menurut jumhur.

· Termasuk menyewakan (karena memperjual belikan manfaat benda tersebut).

· Anjing penjaga terbunuh secara tidak sengaja, maka tidak boleh meminta ganti rugi. Berkata mualliq “karena ketika dia minta ganti rugi berarti dia telah mengambil harga untuk anjing itu”.

· Jika anjing untuk dihadiahkan dan untuk tukar menukar maka boleh.

· Boleh dimasukkan anjing ke warisan karena setiap yang boleh dihadiahkan maka boleh dimiliki.

· Boleh menukar anjing dengan anjing lain karena anjing tidak berharga dan bukan harta.

· Tidak boleh menukar dengan barang lai, karena tukar menukar termasuk jual beli.

· Jual beli binatang yang diawetkan, fatwa para ulama tidak boleh.

6. (kucing) السنور

Menurut jumhur : boleh, ada dalam shahih muslim larangan namun dhoif (فيه كلام)

, , , ,

  1. #1 by layla on Kamis,7 Juli 2011 - 19:45

    bismillah

    ada titipan pertanyaan dari ummahat untuk ustadz,.berikut an copas pertanyaannya

    bismillah…

    ini titipan pertanyaan ana, um….ttg jual beli ^^

    ada sebuah produk yg dr produsennya sdh ditentukan hrg jualnya. Untuk mendapatkan hrg yg lbh murah, harus menjadi member dg syarat membeli starter kit seharga 225rb yg berisi produk2 yg sdh ditentukan. Maka member berhak mendpt diskon 30% utk pembelanjaan slanjutnya.

    Dr sini, member juga bisa menjual ke org lain…tentu sj dg keuntungan 30% (dr diskon yg dia dpt td)..*ingat, hrg jual sdh ditentukan di katalog
    dan ada bonus2 utk pencapaian jumlah penjualan tertentu dlm wkt tententu…
    penjualan 750rb-1jt dpt bonus produk A, penjualan 1-2jt mendpt bonus produk B dst…
    dimana bonus2 berupa produk2 tsb jg dibeli dg diskon yg lebih besar….misal hrg jual konsumen 100%, hrg member dpt diskon 30%….maka krn bonus bisa dibeli dg diskon 70%…..dan tentu sj bonus tsb bisa dijual lg dg hrg 100% (sesuai hrg yg sdh ditentukan di katalog)

    kemudian member ini telah memiliki pelanggan yg byk…dan di antara pelanggannya jg adayg ingin daftar mjd member (entah utk dpt hrg murah, ato mo ikut jualan)

    member yg pertama kita sebut sj member A, dan pelanggannya yg mau daftar jd member kita sebut member B.

    spt proses yg telah diikuti member A, calon “member B” membeli starter kit ke member A seharga 225rb yg berisi produk2 yg sdh ditentukan & berhak dpt diskon 30% tiap pembelanjaan…akhirnya jadilah dia member B

    utk pendaftaran member B ini, member A lg2 mendpt bonus produk….tp member A tdk mendpt keuntungan dr tiap penjualan member B….krn member A dpt diskon 30%, dan dia jg harus memberi diskon 30% ke member B utk tiap pembelanjaan. Jd tdk ada laba utk member A dlm tiap penjualan member B. TAPI jika member B memenuhi target penjualan yg ana sebutkan di atas (750rb-1jt dpt bonus produk A dst), yg seharus member B dpt bonus produk A (dibeli dg diskon yg lbh besar)…..dan ternyata member B tidak mau mengambil/membeli bonusnya….maka member A bisa menebusnya.

    dan jika member A ini bisa mendapat member sebanyak 4 member, misal: member C, member D, member E (dg pola yg sama) …maka diskon yg didpt oleh member A mjd 32% (yg semula 30%)

    pertanyaan:
    apakah sistem penjualan semacam ini diperbolehkan?
    apakah ini termasuk MLM?

    jazakillahu khoiro wa barokallohu fik

    • #2 by as sunnah madiun on Jumat,8 Juli 2011 - 21:57

      apakah jika B punya member lain C mislnya, si A dpt tambahan bonus pula?
      artinya trus berantai sampai bwh shg membentuk pola piramid? kalo memang demkian, sangat dikhawatirkn ini trmasuk MLM yg telah dihukumi haram oleh para ulama.wallaahua’lam

  2. #3 by ummu daffaa on Minggu,12 Agustus 2012 - 12:22

    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
    Afwan ustad,, bisa kah hujjah untuk jual beli kucing yg diperbolehkan itu di share? Karena ana juga sedang mengembang biakkan kucing Ras..
    Jazaakumullah khair

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: