JANGAN MELAMPAUI BATAS


oleh Abu Abdillah Al Jawy.

بسم الله الرحمن الرحيم

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan dunia ini sebagai negeri ujian dan cobaan. Diantara ujian itu adalah penciptaan iblis dan anak buahnya yang selalu mengajak manusia agar jauh dari jalan Allah. Secara umum tipu daya iblis ada dua macam : 1). Membuat manusia lalai dari perintah dan larangan Allah, 2). Membuat manusia melampaui batas dalam menjalankan perintah atau menjauhi larangannya.


Diantara sikap melampaui batas dalam beragama adalah dalam hal menghormati dan memuliakan orang solih. Sebenarnya nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mengingatkan dalam sabdanya:

لا تُطْرُوْنِى كَمَا أطْرَتِ النَصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ (رواه البخارى)

Artinya :

“Janganlah kalian melampaui batas dalam menghormatiku sebagaimana Nashoro telah melampaui batas pada Isa bin Maryam”. (HR. Bukhari).

Oeh karena itu, mari kita posisikan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai hamba Allah dan utusan Allah. Beliau sebagai hamba Allah berarti tidak boleh kita sembah, beliau sebagai hamba Allah tidak boleh kita dustakan dan tidak boleh kita keluar dari bimbingannya. Bahkan dalam sabda beliau yang lain :

إياكم والغلو,فانما اَهلك من كان قبلكم الغلو

Artinya :

“Hati-hatilah kalian dari melampaui batas karena hanyalah yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah perbuatan melampaui batas (ghuluw)”.

Kalau kita melihat kenyataan, diantara bentuk melampaui batas ini adalah pujian yang berlebihan kepada Al Musthafa Muhammad r, seperti perkataan seseorang ketika menyanjung beliau :

وتَنْفَرِجُ بِهِ الكُرَبُ و تُقْضَى به الحوَائجُ

Artinya:

Dengan pertolongannya (yaitu Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam), akan hilang berbagai kesulitan dan akan terpenuhi kebutuhan-kebutuhan.

Demikian cuplikan dari ucapan penyanjung Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kalau kita lihat dari kaca mata syariat islam yang jernih sebenarnya ucapan ini mengandung pengangkatan derajat Rasulullah lebih dari yang Allah berikan kepadanya sekaligus mengandung kesyirikan kepada Allah. Si penyanjung ini telah meminta kepada Rasulullah dalam perkara yang tidak mampu melakukannya kecuali Allah padahal dia mungkin selalu membaca ayat:

إياَّكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Mu (Allah) kami beribadah dan hanya kepada Mu kami meminta pertolongan”.

Kalau Rasulullah ketika perang Badr berdoa dengan doa yang panjang kepada Allah, dan ketika perang Uhud beliau terkena anak panah sampai ke gigi beliau, begitu pula beliau tidak bisa memberi taufik kepada paman beliau Abu Thalib untuk memeluk islam, maka ini merupakan beberapa contoh bahwa diri beliau tidak bisa memberi manfaat dan tidak bisa menolak bahaya kecuali dengan izin dari Allah semata.

Maka, kalau sanjungan yang tersebut di atas diucapkan dengan keyakinan hati bahwa Rasulllah lah yang melepaskan dari kesulitan dan yang memenuhi berbagai kebutuhan berarti sesungguhnya si penyanjung telah terjatuh pada syirik besar. Tinggal, mungkin ada yang bertanya : saya hanya menyanjung beliau dan saya tetap berkeyakinan bahwa Allah lah yang melepaskan kesulitan dan memenuhi kebutuhan.

Kita katakan : tetap tidak boleh sanjungan seperti ini, karena ini termasuk syirik ucapan (syirik kecil). Lebih dari itu, sanjungan seperti itu merupakan hal yang baru dalam Islam dan tidak pernah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam contohkan.

Bentuk lain dari sikap melampaui batas ialah mengagungkan kubur orang solih atau kubur para wali. Termasuk di dalamnya adalah membangun masjid di atas kuburan wali atau mengubur mayat orang solih di dalam masjid atau di bagian mihrab.

Apakah yang demikian benar menurut syariat islam? Rasulullah sebagai tauladan kita di akhir hayat beliau telah memberikan peringatan yang keras dengan sabdanya (yang artinya) “Sesungguhnya Allah melaknat orang Yahudi dan Nashoro karena mereka menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid”.

Larangan beliau ini terucap di akhir kehidupan beliau dan tidak dibatalkan larangan ini sampai beliau wafat. Artinya, larangan ini berlaku sampai akhir zaman dan tidak dihapus. Salah satu hikmah dari larangan ini adalah agar jangan sampai kubur nabi atau kubur orang sholih disembah sebagai tandingan bagi Allah Ta’ala.

Mungkin ada yang bertanya tentang keadaan kubur Rasulullah yang terletak di dalam Masjid Nabawi apakah ini tidak bertentangan dengan apa yang baru kita sampaikan tadi? Jawabannya dari beberapa sisi:

  1. Masjid tidak dibangun di atas kubur karena Masjid Nabawi dibangun ketika Rasulullah masih hidup
  2. Rasulullah tidak dikubur di masjid tapi di rumah beliau di kamar Aisyah
  3. Dimasukkannya kamar Aisyah ke dalam masjid ketika terjadi perluasan Masjid Nabawi tidaklah disetujui oleh sebagian ulama yang masih hidup ketika itu bahkan sebagian besar shahabat telah wafat.
  4. Kubur beliau pada hakikatnya tidak di dalam masjid walaupun setelah perluasan Masjid Nabawi karena dia berada di kamar terpisah dari masjid(walaupun sekitarnya adalah masjid) maka masjid tidak dibangun di atas kubur. Oleh karena itu, lokasi kubur ini dikelilingi oleh tiga tembok yang diatur sedemikian rupa sehingga orang yang sholat tidak bisa dengan tepat menghadap ke kubur.

Di akhir tulisan ini kita ingin mengingatkan tentang awal terjadinya kesyirikan di muka bumi. Syirik atau menyekutukan Allah dengan sesuatu dari makhluk-Nya merupakan dosa terbesar sebagaimana Rasulullah pernah ditanya tentang dosa terbesar maka beliau menjawab (yang artinya): ”Kamu menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dialah yang mencipakanmu” (HR.Bukhari)

Datang di Shahih Bukhari bahwa pertama kali terjadi kesyirikan adalah di zaman Nabi Nuh ‘alaihis salam. Ketika ada sebagian dari orang shalih yang meninggal maka setan membisikkan kepada manusia untuk membuat gambar dari orang shalih tersebut agar bisa mengenang mereka sehingga manusia bersemangat dalam beribadah kepada Allah. Setelah generasi awal ini meninggal dan berjalan beberapa generasi dan ilmu mulai dilupakan maka setan pun kembali membisikkan bahwa tidaklah gambar – gambar itu dibuat melainkan agar disembah sebagai bentuk pengagungan kepada orang shalih sekaligus mendekatkan diri kepada Allah dengan perantaraan mereka.

Dari sejarah ini kita bisa mengambil beberapa pelajaran diantaranya:

  1. Bahayanya sikap berlebihan dalam mengagungkan satu individu tertentu walaupun itu adalah orang shalih
  2. Bahaya gambar makhluk bernyawa dan dia merupakan salah satu sebab terjadinya kesyirikan
  3. Inti dakwah para rasul adalah untuk memberantaskan kesyirikan
  4. Bahayanya kebatilan yang dicampuri dengan selubung kebenaran. Hal ini lebih berbahaya dari kebatilan murni
  5. Perbuatan bidáh/kreasi baru dalam agama merupakan salah satu sebab kesyirikan
  6. Jelinya setan dalam mengetahui akibat dibalik bidáh walaupun pelaku bidáh berniat baik
  7. Niat yang baik tidak cukup untuk menjadikan sebuah amalan benar di sisi Allah melainkan juga harus disertai dengan kesesuaian amalam itu dengan ajaran Rasulullah. Oleh karena itu, ucapan Yang penting kan niatnya tidak mutlak benarnya.

, , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: