PUASA DALAM BINGKAI ILMU (1)


Oleh Al Ustadz Abdurrahman

Sudah selayaknya bila saat ini kita mulai berbenah didalam menunaikan setiap ritual ibadah sehingga harapan agar ibadah tersebut memiliki nilai disisi Allah bisa terwujud. Terkhusus ibadah puasa Ramadhan yang hanya datang sebulan dalam setahun. Jangan sampai ibadah mulia tersebut hanya lewat begitu saja tanpa bimbingan ilmu. Semoga kita termasuk diantara hamba-hamba Allah yang mampu mengambil pelajaran dari firman-Nya (artinya) : “Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmu tentangnya. (Karena) sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya (disisi Allah)” (Al Israa’ : 36).

DEFINISI PUASA

Puasa secara bahasa maknanya adalah menahan. Dalilnya adalah firman Allah (artinya) : “Sesungguhnya aku (Maryam) bernadzar untuk berpuasa karena Ar Rahman (Dzat Yang Maha Pengasih). Maka akupun tidak akan berbicara dengan seorangpun pada hari ini” (Maryam : 26). Lafadzh “berpuasa” dalam ayat ini artinya menahan dari berbicara.

Adapun secara istilah syariat puasa adalah beribadah kepada Allah dengan menahan dari makan, minum dan setiap pembatal puasa semenjak terbit fajar sampai terbenamnya matahari. (Lihat Asy Syarhul Mumti’ 6/298). Lafadzh “beribadah kepada Allah“ sangat penting untuk kita perhatikan agar puasa kita tidak hanya sekedar menahan dari pembatal-pembatal puasa tetapi lebih dari pada itu hendaklah puasa tersebut berbuah pahala dari Allah Ta’ala.

HUKUM PUASA

Telah dimaklumi bersama bahwa puasa Ramadhan hukumnya fardhu ‘ain sebagaimana firman Allah (artinya) : “Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kalian untuk berpuasa sebagaimana (puasa) tersebut pernah diwajibkan pula kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (Al Baqarah : 183). Bahkan puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam sebagaimana hadits Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, berkata : Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Islam itu dibangun diatas 5 perkara : Syahadat Laa ilaaha illallah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, haji ke Baitullah Al Haram dan puasa Ramadhan” (Al Bukhari 8 dan Muslim 16).

Hanya saja kewajiban tersebut hanya berlaku bagi seseorang yang memenuhi 5 kriteria sebagai berikut :

  1. Muslim
  2. Mukallaf (telah dibebani syariat)
  3. Mampu
  4. Mukim
  5. Tidak sedang terhalang oleh suatu keadaan.

Keluar dari kriteria pertama adalah orang kafir karena amalan ibadah orang kafir tidak diterima oleh Allah. Allah berfirman (artinya) :”Barangsiapa memeluk agama selain agama Islam maka tidak akan diterima (amalan ibadah) nya dan dia di akherat termasuk diantara orang-orang yang merugi” (Ali Imran : 85).

Keluar dari kriteria kedua adalah orang yang hilang akal sehatnya seperti orang gila atau orang pikun. Demikian juga anak yang belum baligh. Hal itu disebabkan orang yang hilang akal sehatnya dan anak yang belum baligh tidak dibebani syariat. Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Diangkat pena catatan amal itu dari 3 golongan : orang yang tidur sampai bangun, anak yang masih kecil sampai dia baligh dan orang gila sampai dia sembuh atau kembali berakal sehat” (Abu Dawud 4398 – 4403, An Nasa’i 3432, At Tirmidzi 1423 dan Ibnu Madjah 2031 dengan sanad shahih). Hanya saja anak kecil yang belum baligh namun dia sudah mampu untuk berpuasa hendaknya diajari untuk berpuasa sehari penuh agar bila kelak telah baligh dia terbiasa untuk berpuasa. Ar Rubayyi’ bintu Mu’awwidz bin ‘Afra’ Radhiyallahu ‘anha berkata : “ … Maka kami setelah itu berpuasa dan melatih anak-anak kami berpuasa dengan ijin Allah. Kami pergi ke masjid dan memberi mereka mainan dari bulu. Bila salah seorang diantara mereka menangis karena lapar maka kami beri dia mainan tadi sampai berbuka” (Al Bukhari 1960 dan Muslim 1136). Asy Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah menerangkan bahwa puasa bagi anak kecil itu hukumnya sunnah. Namun dia tetap mendapatkan pahala bila berpuasa dan tidak mendapat dosa bila meninggalkannya (Lihat Fatawa Fii Ahkamish Shiyam hal.84).

Keluar dari kriteria ketiga yaitu orang sakit, orang lanjut usia, wanita hamil atau menyusui yang memang tidak mampu berpuasa. Dalilnya adalah firman Allah (artinya) : “Maka barangsiapa diantara kalian sedang sakit atau dalam perjalanan(kemudian berbuka) maka (wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang dia tinggalkan) pada hari-hari lain” (Al Baqarah 184). Juga hadits Anas bin Malik Al Ka’bi Radhiyallahu ‘anhu berkata : “ … Beliau (Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam-pen) bersabda (artinya) : “… sesungguhnya Allah menggugurkan setengah shalat (2 rakaat-pen) dan puasa bagi orang yang dalam perjalanan dan puasa bagi wanita yang menyusui atau hamil” . (Abu Dawud 2408, An Nasa’i 2274, 2275 dan 2277, At Tirmidzi 715 dan Ibnu Majah 1667 dengan sanad hasan atau hasan shahih).

Keluar dari kriteria keempat adalah orang yang mengadakan perjalanan (safar) sebagaimana surat Al Baqarah 184 dan hadits Anas bin Malik Al Ka’bi tadi.

Keluar dari kriteria kelima yaitu wanita haidh atau nifas berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘anhuma berkata : Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Bukankah wanita bila sedang haidh tidak boleh shalat dan puasa? Itulah kekurangan agamanya” (Al Bukhari 1951).

TATA CARA MENENTUKAN MASUK DAN KELUARNYA BULAN RAMADHAN

Hanya ada dua cara yang dibenarkan syariat dalam penentuan masuk dan keluarnya bulan Ramadhan yaitu :

  1. Ru’yatul Hilal (Melihat munculnya hilal)
  2. Menggenapkan hitungan satu bulan menjadi 30 hari

Dua cara ini didasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam (artinya) : “Satu bulan itu ada 29 malam maka janganlah kalian mulai masuk berpuasa (bulan Ramadhan) sampai kalian melihat hilal Ramadhan. Bila (hilal tersebut) terhalangi awan maka genapkanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi 30 hari” (Al Bukhari 1907). Juga sabda beliau (artinya) : “Bila kalian melihat hilal Ramadhan maka mulailah berpuasa dan bila melihat hilal Syawwal maka mulailah beridhul fithri” (Al Bukhari 1900 dan Muslim 1080).

Wallahu a’lam.

, , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: