PUASA DALAM BINGKAI ILMU (2)


Oleh : Al Ustadz Abdurrahman

Perbedaan Mathla’ (Tempat Munculnya Hilal)
Asy Syaikh Aalu Bassam Hafidhahullah menyebutkan bahwa Ha’iah Kibaaril Ulama (Majelis Ulama Besar) Saudi Arabia menyatakan bahwa perbedaan mathla’ hilal itu merupakan salah satu perkara yang telah dimaklumi banyak orang baik dengan tinjauan indera maupun akal. Manusia sepakat tentang hal itu. Akan tetapi yang menjadi titik perbedaan pendapat diantara para ulama adalah ada tidaknya pengaruh dari perbedaan mathla’ tadi dalam menentukan masuk dan keluarnya bulan puasa (Lihat Taudhihul Ahkam 3/142).

Diantara para ulama memandang adanya pengaruh dari perbedaan mathla’ tadi sehingga bila hilal sudah dilihat disuatu negeri maka tidak melazimkan negeri lain untuk mengikuti negeri tadi dalam memulai masuk atau keluarnya Ramadhan. Sebagian ulama lain berpandangan tidak adanya pengaruh dari perbedaan mathla’ tersebut. Sehingga bila hilal telah dilihat disuatu negeri maka melazimkan seluruh negeri di penjuru dunia untuk mengikuti negeri tadi.

Namun seiring dengan perbedaan pendapat itu, ternyata mereka (para ulama) bersama-sama menasehatkan kepada seluruh kaum muslimin untuk memulai dan mengakhiri puasa Ramadhan bersama waliyul ‘amr (pemerintah muslimin) mereka. Tidak menampakkan perbedaan dengan pemerintahnya.

Asy Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah salah satu ulama yang berpandangan adanya pengaruh dari perbedaan mathla’-berkata : “Akan tetapi bila 2 negeri berada dibawah satu wilayah hukum dan penguasanya meme-rintah untuk (mulai) berpuasa atau beridul fitri maka wajib untuk dipenuhi perintahnya. Sebab permasalahan ada/tidak adanya pengaruh dari perbedaan mathla’ merupakan permasalahan khila-fiyah dan keputusan penguasa menggugurkan permasalahan khilafiyah tersebut“. (Fatawa Fii Ahkamish Shiyam hal.41).

Asy Syaikh Al Albani Rahima-hullah- salah satu ulama yang berpandangan tidak adanya pengaruh dari perbedaan mathla’- berkata : “Maka aku berpandangan agar penduduk setiap negeri untuk berpuasa bersama penguasanya dan tidak membedakan diri sehingga sebagian mereka ber-puasa bersama penguasanya namun sebagian lainnya berpuasa bersama selain penguasanya. Maka ada yang berpuasa lebih dahulu/lebih terlambat dari yang lainnya. Yang demikian itu akan semakin mendatangkan luasnya lingkup perbedaan dalam satu negeri, sebagaimana yang telah terjadi pada beberapa negeri Arab semenjak 3 sampai 9 tahun yang lalu. Allah-lah Dzat tempat kita meminta tolong.” (Tamamul Minnah hal.398-399).

Terlebih bila ternyata para penguasa tadi telah berupaya untuk menentukan masuk dan keluarnya bulan Ramadhan dengan 2 cara yang diajarkan syariat yaitu ru’yatul hilal atau menggenapkan hitungan satu bulan menjadi 30 hari. Jika memang demikian maka para penguasa telah menjalankan per-kara yang ma’ruf (baik) dan kita sebagai rakyatnya wajib untuk mentaatinya. Allah Ta’ala berfirman (artinya) :
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan para penguasa diantara kalian (dalam perkara yang ma’ruf-pen)”. (An Nisaa’ : 59).

Niat Berpuasa
Wajib bagi seseorang yang telah mengatahui bahwa bulan Ramadhan telah tiba untuk berniat sebelum munculnya fajar kedua. Perlu pembaca ketahui bahwa pergantian hari atau bulan dalam agama Islam itu dimulai semenjak tenggelamnya matahari pada hari atau bulan sebelumnya. Bukan terbitnya matahari.

Maka dengan demikian, bulan Ramadhan dimulai semenjak dilihatnya hilal Ramadhan (ru’yatul hilal) atau tenggelamnya matahari di akhir bulan Sya’ban. Sehingga sejak itu sampai sebelum mun-culnya fajar kedua diwajibkan bagi seseorang untuk mulai berniat puasa.

Adapun tentang maksud fajar kedua Insya Allah akan disebutkan pada edisi yang akan datang. Dalil yang melandasi wajibnya berniat dalam berpuasa adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam (artinya) : “Barangsiapa yang tidak ber-niat puasa sebelum munculnya fajar (kedua) maka tidak ada puasa baginya.” (Abu Dawud 2454, An Nasa’i 2331-2334, At Tirmidzi 730 dan Ibnu Majah 1700 dengan sanad shahih).

Al Imam At Tirmidzi Rahima-hullah berkata : ”Dan maksud hadits ini menurut sabagian para ulama adalah tidak ada puasa bagi seseorang yang tidak berniat sebelum munculnya fajar (kedua-pen) baik puasa Ramadhan, hu-tang puasa Ramadhan atau puasa nadzar. Bila dia tidak berniat se-belum itu maka puasanya tidak sah.” (Sunan At Tirmidzi tentang hadits no.730).

Penting untuk diketahui pula bahwa niat itu tempatnya di hati dan tidak perlu dilafazhkan dengan lisan. Oleh karena itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam sendiri pernah bersabda (artinya) :
“Hanyalah amalan-amalan itu terwujud karena adanya niat.”
Didalam hadits ini beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam mem-bedakan penyebutan antara amal-an yang tempatnya di lisan dan anggota badan dengan niat yang tempatnya di hati. Sekalipun tentunya antara amalan dengan niat itu sangat terkait erat.

Allah-pun Maha Tahu tentang setiap niat dan keinginan kita sehingga tidak perlu untuk kita beritahu dengan melafazhkan niat baik di dalam shalat, puasa dan segenap ibadah yang lainnya.

Selain itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebagai uswatun hasanah (suri tauladan yang baik) dan para sahabat beliau Radhiyallahu ‘anhum sebagai generasi terbaik umat ini ternyata sama sekali tidak melafazhkan niat dalam setiap ibadah mereka. Kalau memang melafazhkan niat itu merupakan perkara yang disyariatkan niscaya telah diajarkan dan dipraktekkan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan para sahabatnya sebab mereka adalah generasi yang terdepan di dalam beramal shalih.

Asy Syaikh Al Fauzan Hafi-dhahullah menukilkan ucapan Syaikhul Islam Rahimahullah bahwa para ulama telah bersepakat bila melafazhkan niat itu bukan perkara yang disyariatkan. (Lihat Al Mulakhash Al Fiqhi 1/93).

Cukuplah niat dalam berpuasa itu ditandai dengan makan sahur. Asy Syaikh Ibnu Utsaimin Rahima-hullah berkata : “Telah diketahui bahwa setiap orang yang bangun di akhir malam lalu makan sahur maka dia telah berkeinginan untuk berpuasa. Hal itu tidak disangsikan lagi. Sebab, setiap yang berakal tentu dia berbuat sesuai keinginan-nya. Tidak mungkin dia berbuat kecuali adanya keinginan. Keingin-an itulah yang dinamakan niat. Seseorang tidaklah makan di akhir malam kecuali karena ingin ber-puasa. Kalau seandainya keingin-annya (disaat itu) hanya sekedar makan malam maka bukan ke-biasan dia makan malam disaat itu…” (Fatawa Fii Ahkamish Shiyam hal.176).

Wallahu a’lamu bish shawab.

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: