PUASA DALAM BINGKAI ILMU ( 3 )


Oleh : Al Ustadz Abdurrahman

Makan Sahur

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memberi tuntunan kepada kita untuk mengakhirkan makan sahur dan menyegerakan buka puasa. Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata : “Ibnul Abdil Barr telah berkata : Hadits-hadits tentang menyegerakan buka puasa dan mengakhirkan makan sahur adalah hadits-hadits yang shahih mutawatir. “ ( Fathul Bari tentang hadits 1957 dan 1958 )

Asy Syaikh Aalu Bassam Hafidhahullah berkata :”…dan para ulama telah bersepakat bahwa menyegerakan buka puasa dan mengakhirkan makan sahur adalah sunnah ( ajaran – pen ) yang hendaknya diikuti. Hal ini dinyatakan Al Waziir Ibnu Hubairah dan ditegaskan Asy Syaikh Taqiyyuddin.” [ Taudhihul Ahkam 3/153 ].

Diantara hadits-hadits yang menyebutkan tentang mengakhirkan makan sahur adalah hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Abu ‘Athiyyah  pernah berkata kepada ‘Aisyah : “Diantara kami ada 2 orang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang salah satunya menyegerakan buka puasa dan mengakhirkan makan sahur.  Sedangkan yang lainnya mengakhirkan buka puasa dan mengakhirkan makan sahur. ” Beliau ( Aisyah ) bertanya : ” Siapa yang menyegerakan buka puasa dan mengakhirkan makan sahur ?” Aku ( Abu ‘Athiyyah ) menjawab : ” Abdullaah bin Mas`ud. “ Beliau ( ‘Aisyah ) berkata : ”  Demikianlah yang dikerjakan  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. “ [ An Nasa`i 2158 dengan sanad shahih ].

Gambaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam ketika mengakhirkan makan sahur dapat kita pahami dari penuturan Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabiyullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan Zaid bin Tsabit pernah makan sahur bersama. Tatkala keduanya selesai dari makan sahur, Nabiyullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam beranjak untuk melakukan shalat lalu keduanya shalat. Kami ( murid-murid Anas – pen ) bertanya kepada Anas : ” Berapa tenggang waktu antara selesainya mereka berdua dari makan sahur dengan mulainya mereka shalat? “ Beliau menjawab : ” Kira-kira bacaan seseorang sebanyak 50 ayat.” ( Al Bukhari 576 dan 1134 ).

Yang dimaksud  bacaan 50 ayat disini ialah bacaan yang sedang artinya tidak cepat namun tidak pula lambat ( Lihat Fathul Bari tentang hadits 1921 ). Bacaan 50 ayat itu kira-kira antara 10 – 15 menit ( Lihat Syarh Riyadhush Shalihin 3/312. ) Sehingga bisa kita simpulkan bahwa tenggang waktu antara selesainya makan sahur Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dengan adzan kedua ( adzan Subuh ) hanya beberapa saat saja.

Lalu kenapa didalam kesimpulan diatas kita sebutkan adzan Subuh ? Ya, sebab batas akhir waktu makan sahur adalah fajar kedua yang ditandai dengan adzan kedua yang kita kenal dengan adzan Subuh. ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha menyebutkan bahwa Bilal biasa adzan di malam hari ( adzan pertama – pen ). Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda  ( artinya ) : “ Makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan ( adzan kedua – pen ). Karena dia ( Ibnu Ummi Maktum – pen ) tidaklah mengumandangkan adzan kecuali ketika muncul fajar  ( fajar kedua ) .“ ( Al Bukhari 1918,1919 dan Muslim 1092 ).

Perlu diketahui – para pembaca yang mulia – bahwa fajar itu ada 2 macam yang masing-masingnya ditandai kumandang adzan. Hal ini sangat dikenal di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

1.     Fajar pertama yang dinamakan fajar al kadzib. Pada saat itu dikumandangkan adzan pertama dan belum diperbolehkan shalat Subuh namun masih dibolehkan makan sahur.

2.     Fajar kedua yang juga dinamakan fajar ash shadiq. Pada saat itu dikumandangan adzan kedua yang kita kenal sekarang ini dengan adzan Subuh. Ketika itu telah diperbolehkan shalat Subuh namun telah dilarang makan sahur.

Sedangkan tanda-tanda fajar pertama dan kedua adalah sebagai berikut :

Fajar Pertama :

  1. Pancaran cahayanya memanjang dari arah timur ke arah barat.
  2. Setelah memancar maka cahayanya tersebut kemudian meredup dan menjadi gelap .
  3. Antara pancaran cahaya tersebut dengan ufuk langit dipisah dengan kegelapan.

Fajar Kedua:

  1. Pancaran cahayanya memanjang dari arah utara ke selatan.
  2. Setelah memancar maka cahaya tersebut semakin bertambah terang sampai terbitlah matahari.
  3. Pancaran cahayanya yang berwarna putih bersambung dengan ufuk langit.

Nasehat

Asy Syaikh Shalih Al Fauzan Hafidhahullah berkata : ” Sebagian kaum muslimin menyegerakan makan sahur karena tidak tidur pada sebagian besar waktu malamnya. Mereka makan sahur dan tidur beberapa jam sebelum muncul fajar. Mereka telah berbuat kesalahan :

Pertama     :   Mereka telah memulai waktu puasa sebelum dimulainya waktu tersebut.

Kedua         :   ( Hal itu dapat berakibat ) meninggalkan shalat Subuh secara berjamaah. Sehingga mereka telah                                                  bermaksiat kepada Allah dengan meninggalkan kewajiban dari Allah berupa shalat berjamaah.

Ketiga         :   Kadangkala mereka mengakhirkan waktu shalat Subuh sampai tidak shalat kecuali setelah matahari                                                             terbit. Maka ini lebih parah dan lebih besar dosanya.” ( Al Mulakhash Al Fiqhi 1/304 )

Buka Puasa

Berbeda dengan makan sahur, buka puasa justru disyariatkan untuk disegerakan ketika telah tiba waktunya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menegaskan ( artinya ) : ” Senantiasa agama ini jaya selama kaum muslimin menyegerakan untuk berbuka puasa. Sebab orang-orang Yahudi dan Nashara biasa mengakhirkannya. ” ( Abu Dawud 2353 dengan sanad hasan ).

Adapun awal waktu berbuka adalah terbenamnya bulatan matahari bagian atas walaupun masih tampak sisa cahayanya dengan terang. Dalilnya adalah hadits Abdullah bin Abi Aufa Radhiyallahu ‘anhuma, berkata : ” Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dalam sebuah perjalanan di bulan Ramadhan. Tatkala matahari terbenam, beliau berkata : ” Wahai fulan! Turunlah dari kendaraanmu dan campurkanlah tepung gandum dengan air untuk kita ( berbuka ). Orang tersebut berkata : ” Wahai Rasulullah! Sesungguhnya engkau masih melihat siang.” Namun beliau tetap berkata : ” Turunlah dari kendaraanmu dan campurkanlah tepung gandum dengan air untuk kita ( berbuka ). ” Maka orang tersebut turun dari kendaraannya lalu mencampur tepung gandum dengan air dan memberikannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Maka beliaupun meminumnya. Lantas beliau berkata dengan mengisyaratkan tangannya : ” Bila matahari telah terbenam dari arah ini ( barat ) dan malam tiba dari arah ini ( timur ) maka boleh bagi seseorang untuk berbuka. ” ( Al Bukhari 1941 dan Muslim 1101 )

Nasehat

Asy Syaikh Al Fauzan Hafidhahullah menyebutkan bahwa apa yang dilakukan kaum muslimin berupa menyantap hidangan yang beraneka ragam sekaligus ketika berbuka puasa adalah perbuatan yang tidak tepat. Didalamnya mengandung beberapa kemudharatan :

Pertama     :   Tidak sesuai dengan sunnah ( bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam ) .

Kedua         :   Akan berakibat seseorang terlambat dari shalat ( Maghrib – pen ) secara berjamaah bahkan                                                         meninggalkannya.

Ketiga         :   Dapat menimbulkan penyakit pada perutnya. ( Lihat Tashilul Ilmaam 3/212 )

Adapun yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam – selain menyegerakan buka puasa – yaitu menyegerakan untuk menunaikan shalat Maghrib. Abu ‘Athiyyah Rahimahullah pernah berkata : “Aku pernah bersama Masruq menemui ‘Aisyah. Lalu aku berkata : ” Wahai Ummul Mukminin ! Ada 2 orang sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang salah satunya menyegerakan buka puasa dan shalat ( Maghrib ) dan lainnya mengakhirkan buka puasa dan shalat ( Maghrib ).” Maka beliau ( ‘Aisyah ) bertanya : “Siapa yang menyegerakan buka puasa dan shalat ?” Kami menjawab : ” Abdullah ( yakni Ibnu Mas’ud. )” Lalu ‘Aisyah berkata : “Demikianlah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.” ( Muslim 1099 ).

Wallahu a’lam.

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: