PUASA DALAM BINGKAI ILMU (4)


Oleh : Al Ustadz Abdurrahman

Pembatal- Pembatal Puasa

Ada beberapa hal yang wajib untuk kita ketahui sebagai pembatal-pembatal puasa. Beberapa hal tersebut adalah

1. Makan

2. Minum

3. Jima’ (bersetubuh)

Tiga hal diatas disebutkan dalam firman Allah sebagai pembatal-pembatal puasa, yaitu didalam surat Al Baqarah:187 (artinya) : “Maka sekarang (setelah matahari terbenam-pen) gaulilah istri-istri kalian dan carilah apa yang telah Allah tetapkan bagi kalian. Makan dan minumlah kalian sampai tampak bagi kalian benang putih dari benang hitam berupa fajar”.

4. Muntah dengan sengaja

Hal ini disebutkan Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam (artinya) : “Barangsiapa yang tidak sengaja muntah maka tidak ada qadha’ (hutang puasa) baginya. Dan barangsiapa sengaja muntah maka hendaklah dia mengqadha’”. (Abu Dawud 2380, At Tirmidzi 720 dan Ibnu Majah 1676 dengan sanad shahih).

5. Haidh dan nifas

Hal ini berdasarkan hadits yang pernah kita sebutkan pada beberapa edisi yang lalu (artinya) : “Bukankah wanita bila sedang haidh tidak boleh shalat dan puasa?”.

Lima pembatal puasa diatas merupakan pembatal-pembatal puasa yang disebutkan nash-nash (keterangan) yang terdapat didalam Al Qur’an atau hadits Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam. Adapun pembatal-pembatal puasa yang tidak disebutkan didalam nash adalah

  1. Suntikan yang mampu mengganti makanan atau minuman bagi tubuh. Hal ini disebutkan para ulama sebagai bentuk pengkiasan terhadap makanan atau minuman. Adapun suntikan yang tidak mampu mengganti makanan atau minuman bagi tubuh maka tidaklah membatalkan puasa. (Lihat Fatawa Fii Ahkamish Shiyam hal. 213-221).
  2. Uap atau cairan yang dimasukkan ke dalam hidung dan dapat masuk ke perut atau lambung. (Lihat Fatawa Fii Ahkamish Shiyam hal.205-206,210,211 dan 221-224). Hal ini dilandaskan pada hadits Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam (artinya) : “ …Dan bersungguh-sungguhlah dalam memasukkan air ke hidung ketika berwudhu’ kecuali bila engkau dalam keadaan berpuasa.” (Abu Dawud 142, An Nasa’i 87, At Tirmidzi 788 dan Ibnu Majah 407 dengan sanad shahih).

Asy Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah memberikan sebuah kaidah kepada kita dalam permasalahan ini bahwa hukum asal sebuah perkara bukanlah merupakan pembatal puasa sampai disebutkan oleh dalil bahwa perkara tersebut merupakan pembatal puasa baik dari Al Qur’an, hadits, ijma’ (kesepakatan) para ulama, maupun qiyas yang tepat. (Lihat Fatawa Fii Ahkamish Shiyam hal.211).

Akan tetapi sangat penting kita ketahui bahwa pembatal-pembatal puasa yang telah disebutkan tadi akan berfungsi sebagai pembatal puasa apabila memenuhi salah satu dari 3 hal:

Pertama   : pelakunya mengerti bahwa sesuatu yang dia kerjakan memang merupakan pembatal puasa.

Kedua       : pelakunya dalam keadaan ingat/tidak lupa ketika mengerjakan pembatal puasa tersebut.

Ketiga       : pelakunya memang sengaja ketika melakukan pembatal itu.

Berkaitan dengan hal pertama, ketidakmengertian atau ketidaktahuan seseorang bahwa muntah dengan sengaja-misalnya-itu merupakan pembatal puasa maka ketika itu puasanya tidak batal.

Demikian pula dengan hal kedua, ketika seseorang makan-misalnya-dalam keadaan lupa bahwa dia dalam keadaan berpuasa maka tidaklah batal puasanya. Dalilnya keumuman sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam (artinya) : “Barangsiapa lupa bahwa dia sedang berpuasa namun ternyata dia makan atau minum maka hendaklah dia tetap melanjutkan puasanya. Sesungguhnya Allah telah memberi makan dan minum kepadanya” (Al Bukhari 1933,6669 dan Muslim 1155).

Juga berkenaan dengan hal ketiga, tatkala seseorang tidak sengaja mengerjakan salah satu pembatal puasa maka tidaklah batal puasanya. Dalilnya hadits Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam (artinya) : “Barangsiapa yang tidak sengaja muntah maka tidak ada qadha’ (hutang puasa) baginya…”.

Hukum Seseorang Yang Membatalkan Puasa Karena Udzur (Alasan Yang Syar’i)

Udzur yang membolehkan seseorang untuk tidak berpuasa ialah

  1. Tidak mampu seperti sakit dan usia lanjut.
  2. Safar (tidak dalam keadaan mukim)
  3. Adanya halangan seperti haidh dan nifas

Hanya saja seseorang yang tidak berpuasa karena udzur tadi tetap diwajibkan untuk mengqadha’ (mengganti puasa di hari lain) atau fidyah (memberi makan kepada fakir miskin sebanyak hari yang ia tinggalkan).

Qadha’

Yang diwajibkan mengqadha’ puasa adalah

  1. Orang yang menderita penyakit namun masih ada harapan-menurut tinjauan medis-untuk sembuh.
  2. Musafir (orang yang mengadakan perjalanan/safar)

Dalil tentang kewajiban qadha’ bagi dua orang ini adalah firman Allah didalam surat Al Baqarah:184.

  1. Wanita haidh atau nifas. Dalilnya ialah hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha tatkala Mu’adzah berkata : “Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah : “Kenapa wanita haidh mengqadha’ puasa namun tidak mengqadha’ shalat?” Beliau menjawab : “Apakah engkau seorang wanita Haruriyah (Khawarij-pen)?” Aku menjwab : “Aku bukan seorang wanita Haruriyah. Aku hanya sekedar bertanya. “Beliau berkata : “Hal itu (haidh atau nifas-pen) pernah menimpa kami. Maka kami diperintah Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintah untuk mengqadha’ shalat” (Muslim 335).

Sedangkan wanita hamil atau menyusui, bila keduanya ternyata mampu untuk berpuasa maka tetap diwajibkan untuk berpuasa. (Lihat Fatawa Fii Ahkamish Shiyam hal.161-162). Namun bila keduanya memang tidak mampu berpuasa maka diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Gambaran ketidakmampuan keduanya untuk berpuasa bisa dilihat dari tiga sisi :

Pertama   : tidak mampu karena khawatir terhadap kesehatan dirinya sendiri.

Kedua       : tidak mampu karena khawatir terhadap kesehatan janin yang dikandungnya atau bayi yang dia susui.

Ketiga       : tidak mampu karena khawatir terhadap kesehatan dirinya sekaligus janin yang dikandungnya atau bayi yang dia susui.

Kemudian para ulama berbeda pandangan tentang kewajiban selanjutnya bagi mereka berdua ketika tidak berpuasa. Perbedaan pandangan tersebut yaitu :

  1. Wajib qadha’ bagi mereka berdua baik karena hal pertama, kedua maupun ketiga tadi. Artinya secara mutlak.
  2. Wajib fidyah secara mutlak.
  3. Hanya wajib qadha’ bila khawatir terhadap kesehatan dirinya dan qadha’ sekaligus fidyah bila khawatir terhadap janin atau bayinya.
  4. Boleh memilih antara qadha’ atau fidyah bila khawatir terhadap kesehatan dirinya sekaligus janin atau bayinya.

(Lihat pembahasan hal ini dalam Asy Syarhul Mumti’ 6/349, Fatawa Fii Ahkamish Shiyam hal.161-162 dan Al Mulakhash Al Fiqhi 1/315). Wallahu a’lam.

Asy Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata : “Dan sebab (munculnya) perbedaan pandangan tadi disebabkan karena tidak adanya nash (keterangan) yang shahih dan jelas yang menentukan salah satu dari kewajiban tadi.” (Asy Syarhul Mumti’ 6/350).

Wallahu a’lamu bish shawab.

, , , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: