Santun Dalam Berdoa


Banyak dari kaum muslimin membiasakan diri berdoa setelah sholat dengan berjama’ah dan dengan suara yang keras. Sebagian lain memilih berdzikir sendiri dengan suara yang pelan dan lembut. Mana yang lebih utama? Atau semuanya baik? Tentu harus kita kembalikan kepada Al Quran dan Al Hadits untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Allah subhanahu wa ta’ala berkata (artinya): Berdoalah kepada rabb(tuhan) kalian dengan merendahkan diri dan memelankan suara. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang – orang yang melampaui batas. ( Al A’raf 55). Dalam ayat lain Allah berkata (artinya): Dan berdzikirlah/ingatlah rabb(tuhan)mu di dalam dirimu dengan merendahkan diri dan diiringi rasa takut dengan tanpa mengeraskan suara… (Al A’raf 205).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari pernah melakukan safar/perjalanan bersama para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Ketika sebagian shahabat mengeraskan suara ketika bertakbir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur mereka Lembutlah pada diri kalian dan lembut/pelankan suara – suara kalian karena kalian tidak sedang menyeru zat yang tuli dan ghaib. Zat yang kalian seru Maha Mendengar dan Maha Dekat..(HR. Bukhari Muslim)
Dua ayat dan satu hadits tersebut mengajari kita agar memelankan dan melembutkan suara ketika berdzikir dan berdoa kepada Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat. Penjelasan para ulama juga menunjukkan kepada yang demikian
Imam Nawawi-seorang ulama besar dari Madzhab Syafi’i- berkata menjelaskan hadits di atas : disunnahkan merendahkan suara ketika berdzikir kecuali pada keadaan – keadaan yang syariat Islam menjelaskan bahwa pada keadaan tersebut berdzikirnya dikeraskan seperti ketika talbiyah dalam ibadah haji.
Imam Al Qurthubi-seorang ahli tafsir terkemuka dari madzhab Maliki- mengatakan : Syariat Islam telah menetapkan bahwa pada asalnya beramal dengan sirr (pelan dan sembunyi – sembunyi) lebih besar pahalanya dibanding dengan jahr (keras dan dinampakkan).
Imam Ahmad ibn Taimiyyah-senada dengan Imam Nawawi-berkata: Sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam seluruh doanya adalah dengan merendahkan suara kecuali pada keadaan yang ada sebab yang syar’i/sesuai syariat untuk mengeraskannya. Beliau juga menyatakan bahwa hal ini juga berlaku untuk dzikir. Bahkan beliau menyebut bahwa yang demikian merupakan kesepakatan para ulama.

Faidah dan Nilai Lebih dalam Berdoa dan Berdzikir dengan Suara yang Pelan
Hal ini menunjukkan kepada besarnya keimanan yang ada pada seorang hamba karena ketika berdoa dia tahu dan yakin kalau Allah mendengar doa yang pelan sekalipun.
Hal ini menunjukkan kepada adab yang lebih sopan dan pengagungan yang lebih besar kepada-Nya. Kalau Dia subhanahu wa ta’ala mendengar doa yang pelan maka tidak pantas menyeru dan berdoa kepada-Nya dengan mengeraskan suara. Mari kita bandingkan dengan keadaan para pembesar dan para raja di dunia. Mereka akan marah kalau ada yang berani mengangkat suara dihadapan mereka padahal dengan suara pelan saja mereka sudah mendengar ucapan tersebut. Tentu, Allah Ta’ala lebih mulia dan tinggi sifat – sifat-Nya.
Hal ini lebih memudahkan seseorang untuk merendahkan diri dan khusyu’ ketika berdoa-yang itu merupakan ruh dan inti dari sebuah doa. Seseorang yang khusyu’ dan merendahkan diri akan memohon dengan permohonan orang yang mengharap belas kasih; kalbunya pasrah dan anggota tubuhnya tunduk. Suaranya penuh kekhusyu’an sehingga hampir – hampir lisannya kelu tidak kuasa berucap. Bersamaan dengan itu, kalbunya dengan penuh pengharapan meminta dan berharap kepada-Nya. Keadaan yang demikian tidak akan datang bersama dengan kerasnya suara dalam berdoa.
Hal ini lebih memudahkan untuk ikhlas dan jauh dari riya’ (beramal agar dilihat dan dipuji) dan jauh dari sum’ah (beramal agar didengar dan dipuji).
Hal ini lebih memudahkan untuk menyatukan kalbu dan konsentrasi dalam merendahkan diri di hadapan-Nya karena suara yang keras akan menceraiberaikan kalbu dalam bermunajat/memohon kepada-Nya. Ketika dia melembutkan/memelankan suara, akan lebih mudah untuk memurnikan/menyatukan niat dan tujuan kepada Zat yang diminta subhanahu wa ta’ala.
Hal ini menunjukkan kedekatan dengan Zat yang Maha Dekat. Dengan hadirnya kalbu merasakan kedekatan ini maka orang tersebut akan meminta seperti permintaan orang terdekat kepada-Nya, bukan seperti permintaan orang yang jauh sehingga harus berteriak dan mengangkat suara. Oleh karena itu, Allah memuji hamba-Nya yang shalih, Nabi Zakaria ‘alaihis salam dengan firman-Nya (artinya) : …ketika dia[Zakaria] menyeru rabb(tuhan)nya dengan panggilan yang pelan.(Maryam ayat 3). Kapan kalbu merasakan kedekatan ini, dia akan merendahkan suaranya serendah mungkin dan menganggap bahwa mengangkat suara ketika dihadapan-Nya bukanlah hal yang pantas. Sebagaimana kita berbicara dengan teman duduknya yang sebenarnya bisa mendengar ucapan dengan suara yang pelan tapi justru kita keraskan suara kita, tentu teman itu akan mencela kita dengan kerasnya suara itu. Tentu, Allah Ta’ala lebih mulia dan tinggi sifat – sifat-Nya. Suri teladan kita,Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,telah mengisyaratkan kepada kita tentang rahasia ini ketika suatu ketika beliau bersama para shahabatnya dalam suatu perjalanan. Ketika itu sebagian shahabat mengangkat suara mereka dalan bertakbir. Beliaupun menegur mereka dan berkata Lembutlah pada diri kalian dan lembut/pelankan suara – suara kalian karena kalian tidak sedang menyeru zat yang tuli dan ghaib. Zat yang kalian seru Maha Mendengar dan Maha Dekat..(HR. Bukhari Muslim). Dan Allah telah berkata (artinya): Jika para hamba-Ku bertanya kepadamu[Nabi] tentang-Ku maka sesungguhnya Aku dekat. Aku menjawab/mengabulkan doa seorang yang berdoa dan meminta kepada-Ku.( Al Baqarah 186). Kedekatan ini adalah kedekatan khusus tidak seperti kedekatan Allah yang umum bersama seluruh makhluk-Nya. Dan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajari kita bahwa saat paling dekat antara hamba dengan Sang Pencipta adalah ketika sujud oleh karena itu kita sangat dianjurkan untuk memperbanyak doa ketika bersujud. (HR.Muslim)
Kedekatan yang tersebut di atas merupakan kenikmatan besar bagi seorang hamba dan setiap kenikmatan sangat dimungkinkan adanya orang yang hasad/iri terhadap kenikmatan itu. Dengan dia memelankan suaranya ketika berdoa sehingga tidak ada yang tahu, akan mengurangi kemungkinan adanya orang yang iri terhadap kedekatannya dengan Allah.
Hal ini-memelankan suara dalam berdoa-lebih membantu seseorang untuk terus berdoa dengan tanpa dihingggapi rasa bosan pada lisannya dan tanpa letih. Ini tentu berbeda dengan ketika suara dikeraskan yang akan lebih mudah membuat letih dan bosan.
Selain ini semua, Allah juga mengatakan-setelah memerintahkan kita untuk berdoa dengan merendahkan diri dan memelankan suara-: Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang – orang yang melampaui batas. (Al A’raf 55). Para ahli tafsir menyebutkan bahwa diantara bentuk melampaui batas dalam berdoa adalah mengangkat suara melebihi apa yang telah disyariatkan/dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantara yang menyatakan demikian adalah Ibnu Juraij, Ibnu Jarir Ath Thabari, Al Baghawi, Al Qurthubi, As Sa’di, dll.
Sebagai penutup, diriwayatkan bahwa Imam Hasan Al Bashri pernah berkata : “Sungguh dahulu kaum muslimin (para shahabat dan tabi’in) bersungguh – sungguh dalam berdoa dan tidak terdengar suara dari mereka kecuali hanya desis suara antara yang berdoa dengan Allah Ta’ala. Mereka sama sekali tidak pernah menampakkkan amal – amal mereka sepanjang mereka mampu untuk menyembunyikannya.
Dari uraian di atas, seyogyanya kita perlu mengoreksi kembali apa yang mungkin biasa kita lakukan seperti mengeraskan berdzikir dan berdoa setelah salam dari sholat maupun membiasakan dzikir secara bersama – sama/berjama’ah. Apakah telah sesuai dengan bimbingan Islam yang benar? Jangan sampai kita merugi karena sudah capek beramal namun amalan kita tidak diterima di sisi-Nya. Uswah/teladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda (yang artinya) : “Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari kami maka amalan itu tertolak. “(HR.Muslim). Allahua’lam.

, , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: