Catatan Kaki terhadap KITAB TAUHID (1)


(ini adalah catatan ringan terhadap “Kitab Tauhid” karya Syaikh Muhammad At Tamimi. Kami ringkas untuk menyesuaikan dengan kapasitas buletin Jum’at yang kami terbitkan. Insya Allah kami terbitkan berseri)

Bismillahirrahmanirrahim

Catatan Kaki terhadap KITAB TAUHID (1)

Tauhid merupakan hal mendasar dalam kehidupan manusia karena tidaklah Allah menciptakan kita kecuali agar kita beribadah kepada – Nya. Allah mengatakan dalam kitab-Nya (artinya): Dan tidaklah kuciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku. (Adz Dzariyat 56). Ayat yang mulia ini menunjukkan kepada beberapa hal, diantaranya :

–          wajib atas setiap hamba Allah untuk bertauhid. Apa itu tauhid? Tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu – satunya zat yang diibadahi dan mengkhususkan bagi-Nya apa – apa yang menjadi kekhususan-Nya. Adapun ibadah, maka istilah ini mencakup segala sesuatu yang Allah Ta’ala cintai dan ridhoi baik berupa perkataan maupun perbuatan lahir dan batin.

–          tujuan kenapa kita diciptakan yaitu agar kita beribadah dan bertauhid kepada-Nya. Manfaat dari tauhid ini kembali kepada para hamba.

–          kemahakayaan Allah dan Dia tidak butuh kepada makhluk-Nya. Allah tidak menginginkan dari para makhluk-Nya bantuan maupun pertolongan sebagaimana para pembesar di bumi ini butuh kepada para pembantu atau asisten. Justru para hambalah yang butuh kepada Sang Pencipta dan Sang Pemberi Rizqi.

–          pelajaran kepada kita bahwa alasan kenapa kita hanya boleh beribadah kepada Allah yaitu bahwa Dialah yang menciptakan kita, memberi rizqi, dan mengatur kita. Artinya, sesuatu yang tidak memiliki sifat – sifat tersebut tidak layak untuk diibadahi dan disembah

–          adanya hikmah dan tujuan dibalik perbuatan – perbuatan Allah sekaligus meluruskan pendapat sebagian orang bahwa perbuatan Allah tidak mengandung hikmah.

Dalam ayat yang lain Allah subhanahu wa ta’ala berkata (artinya) : Sungguh – sungguh Kami telah mengutus bagi setiap umat seorang rasul/utusan [agar menyeru]: Sembahlah Allah semata dan jauhilah thagut. (An Nahl 36). Thagut adalah setiap yang disembah selain Allah dan dia rela diperlakukan demikian. Ayat yang mulia ini menunjukkan kepada beberapa hal, diantaranya :

–          seruan kepada tauhid dan peringatan dari syirik-lawan tauhid-merupakan inti dakwah para rasul seluruhnya. Artinya, dalam tata cara ibadah mungkin ada perbedaan dari satu rasul ke rasul yang lain; namun dalam hal inti ibadah yaitu tauhid maka semuanya membawa misi utama yang sama. Namun, hal ini bukan berarti bahwa semua agama sama atau semua agama langit adalah sama dan menyerukan wihdatul adyan atau persatuan agama langit (yang dia maksud adalah Islam, Yahudi dan Nasrani). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :”tidaklah seorang Yahudi atau Nasrani mendengar tentangku kemudian tidak mau mengikuti agamaku kecuali dia akan menjadi penghuni neraka.

–          besar dan pentingnya urusan tauhid di sisi Allah dan bahwa tauhid merupakan kewajiban bagi setiap umat tanpa terkecuali.

–          Diantara konsekuensi/kelaziman dari menjauhi thagut adalah benci dan tidak ridho jika ada yang disembah selain Allah.

–          secara umum, dengan diutusnya utusan – utusan Allah, terputuslah alasan bagi seseorang untuk tidak menjawab panggilan Allah, yaitu tidak ada alasan bahwa dia belum pernah mendengar tentang Islam karena setiap umat memiliki rasul/utusan. (Memang disana ada beberapa golongan yang Allah beri udzur karena memang sama sekali belum mendengar dakwah islamiyah atau sama sekali tidak memahaminya. Golongan – golongan ini akan mendapat ujian di akhirat insyaallah)

–          tauhid yang benar dibangun di atas dua rukun. Pertama : menolak segala bentuk ibadah kepada selain Allah. Kedua : menetapkan ibadah kepada-Nya. Jika salah satu dari keduanya hilang, maka belum lurus tauhidnya.

Masih banyak ayat – ayat serupa dalam Al Quran yang menujukkan pentingnya nilai tauhid dan bahwa tauhidlah awal kewajiban yang dibebankan kepada seorang hamba. Bahkan, kalau kita telusuri dari awal Al Quran, akan kita dapatkan bahwa tauhidlah perintah pertama dalam Al Quran sebagaimana Allah katakan dalam surat Al Baqarah ayat 21 (artinya): Wahai sekalian manusia sembahlah (tauhidkanlah) Rabb[Tuhan] kalian …Disamping itu, kita dapatkan bahwa larangan pertama dalam Al Quran adalah larangan untuk berbuat kesyirikan yang tidak lain merupakan lawan tauhid. Allah mengatakan pada ayat berikutnya Maka janganlah kalian menjadikan bagi Allah tandingan – tandingan untuk menandingi-Nya. Dan inilah hakikat syirik yaitu menjadikan bagi Allah suatu tandingan.

Junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah menjelaskan betapa pentingnya tauhid dalam banyak hadits. Diantaranya, apa yang diceritakan oleh salah seorang shahabatnya yang utama yaitu Mu’adz ibn Jabal radhiyallahu ‘anhu di dalam sebuah hadits shahih: Suatu ketika aku dibonceng rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seekor keledai. Beliau berkata kepadaku : “Wahai Mu’adz, tahukan kamu apa hak Allah atas para hamba-Nya?Dan apa hak para hamba-Nya atas Allah?” Aku menjawab : “Allah dan rasul-Nya lebih tahu”. Beliaupun berkata : “Hak Allah atas para hamba-Nya[kewajiban hamba yang harus ditunaikan kepada Allah] adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak berbuat syirik kepada-Nya. Dan hak hamba atas Allah[Allah menetapkan bahwa Dia akan membalas perbuatan hamba] adalah bahwa Dia tidak akan mengadzab seseorang yang beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.” Aku berkata : “Wahai Rasulullah, bolehkah aku mengabarkan berita gembira ini kepada manusia?” Beliau menjawab :”Jangan kamu beri tahu mereka karena aku khawatir mereka akan bersandar dengan tauhid mereka(yang mereka anggap bagus) kemudian mereka meninggalkan amal.

(Dalam sebagian riwayat dijelaskan bahwa Mu’adz di akhir umur beliau mengkabarkan hal tersebut  karena beliau khawatir berdosa karena menyembunyikan ilmu.)

Dalam hadits ini ada beberapa pelajaran yang bisa diambil, diantaranya:

–          salah satu cara yang bagus dalam menyampaikan ilmu adalah dalam bentuk soal jawab karena akan lebih mengena. Seseorang yang diuji tentang sesuatu kemudian tidak bisa menjawab, maka setelah diberitahu jawabannya dia akan lebih mudah dan mantap dalam memahami dan menghafalkannya.

–          Kerendahan hati rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau mau menaiki keledai (bukan hewan tunggangan yang mewah) dan memboncengkan seseorang di belakang beliau. Ini berbeda dengan kebiasaan orang – orang yang sombong.

–          Bolehnya memboncengkan di atas seekor hewan dengan catatan tidak membebani di luar kemampuannya

–          Keutamaan tauhid dan keutamaan orang yang berpegang teguh dengannya

–          Penafsiran tauhid yaitu ibadah kepada Allah dan menjauhi syirik

–          Barangsiapa tidak meninggalkan syirik maka dia pada hakikatnya belum beribadah kepada Allah dengan benar walaupun dia sholat secara rutin.

–          Diantara adab seseorang yang ditanya kemudian tidak mengetahui jawabannya adalah mengatakan Allahu a’lam.

–          Bolehnya menyembunyikan suatu ilmu karena adanya maslahat dan manfaat (kebolehan ini bukan secara mutlak tentunya).

–          Tidak bolehnya seseorang bersandar dengan luasnya rahmat dan ampunan Allah sampai dia bermudah – mudahan dalam melakukan maksiat dan meninggalkan perintah Allah.

–          Bolehnya mengkhususkan suatu ilmu tertentu kepada sebagian orang karena adanya maslahat. Seperti misalnya kalau dikhawatirkan sebagian orang yang dangkal pemahamannya tahu tentang janji bagi orang yang bertauhid sebagaimana tersebut dalam hadits di atas; dia akan meremehkan amal shalih dan hanya bertumpu kepada tauhidnya (yang dianggapnya benar). Adapun anggapan sebagian orang bahwa dia mendapatkan pengkhususan dari Allah berupa ilmu khusus yang diilhamkan ke dalam dadanya yang sering disebut dengan ilmu laduni, maka anggapan tersebut sama sekali tidak benar karena Allah telah mengkhususkan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan-Nya di muka bumi. Maka dikhawatirkan apa yang dianggapnya ilham dari Allah itu tidak lain adalah ilham dari iblis. Allahua’lam.

, , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: