Hikmah dari Sebuah Bencana


Hari – hari ini kita bersedih dengan berbagai bencana yang menimpa saudara – saudara kita. Jatuhnya korban jiwa, orang – orang yang sakit dan terluka, musnah dan rusaknya harta benda merupakan sebagian akibat dari bencana – bencana tersebut. Bagaimana kita memandang sebuah bencana?

Sebagian orang melihat berbagai bencana itu sebatas sebagai fenomena alam tanpa melihat hikmah dibalik itu. Keberadaan Allah sebagai pengatur alam terlupakan atau memang sebagian mereka tidak menganggapnya. Bahkan mungkin ada yang berpikir kalau memang Allah adalah Zat yang Maha Penyayang, mengapa Dia tega menimpakan bencana kepada para hamba-Nya?

Sebaliknya, seorang muslim akan berusaha menyelaraskan pola pikirnya dengan tuntunan Islam di dalam Al Quran dan As Sunnah.

Allah mengatakan dalam kitab-Nya (artinya) : “Dan tidak ada satu musibahpun yang menimpa kalian kecuali disebabkan perbuatan kalian” (Asy Syuro 30). Dalam ayat lain Allah mengatakan (artinya) : “ Maka masing – masing kami adzab dengan sebab dosanya” (Al Ankabut 40). Maka, dosa merupakan sebab turunnya adzab Allah. Kalau begitu, mengapa di sekitar kita masih banyak pelaku maksiat yang ‘aman’ dari adzab Allah? Begitu pula orang – orang kafir masih hidup dengan penuh kenikmatan? Jawabnya adalah kelanjutan firman Allah di atas(Asy Syuro 30) “dan Dia memberi ampunan yang banyak” Yaitu masih banyak kesalahan yang tidak segera diadzab pelakunya oleh Allah (Tafsir Ibn Katsir dan Tafsir Qurthubi).

Di sisi lain, ini sebagai ujian bagi hamba Allah yang lain apakah mereka tertipu dengan kenikmatan yang masih saja dirasakan orang – orang kafir dan pelaku maksiat. Maka, Allah sama sekali tidak lalai. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda (artinya) :” Sesungguhnya Allah membiarkan seorang yang zhalim sampai (tiba waktunya)kalau Dia mengadzabnya maka tidak akan melepaskannya.” (HR.Bukhari Muslim). Dalam hadits yang lain :”Kalau engkau lihat Allah memberi berbagai kenikmatan dunia kepada seorang ahli maksiat, maka itu tidak lain adalah istidraj. Kemudian rasulullah shallallahu alaihi wasallam membaca firman Allah dalam surat Al An’am 44 (yang artinya):” Ketika mereka telah melalaikan peringatan yang datang kepada mereka, Kami bukakan segala pintu kenikmatan dunia kepada mereka sampai ketika mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka[berbagai nikmat duniawi] maka Kami mengadzab mereka secara tiba – tiba sehingga mereka menjadi orang – orang yang putus asa[dari berbagai kebaikan dan kenikmatan]”. (hadits dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah 413).Na’udzubillah min dzalik.

Lalu, apa yang dimaksud istidraj ? Istidraj adalah dekat dengan adzab Allah tanpa disadari sedikit demi sedikit dimana syaithon menampakkan kepadanya bahwa derajatnya semakin tinggi kemudian dia dijatuhkan dari ‘ketinggian’ itu sampai binasa. (lihat kitab Ta’rifat Jurjani).

Namun, perlu diingat bahwa bencana juga bisa menimpa hamba – hamba Allah yang shalih. Allah mengatakan (artinya) :” Dan bergembiralah orang – orang yang bersabar. Yaitu, yang jika datang musibah menimpa mereka , mereka mengatakan innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Merekalah yang akan mendapatkan shalawat/doa dari rabb/tuhan mereka dan mendapatkan rahmat dan merekalah orang – orang yang mendapatkan petunjuk. (Al Baqarah ayat 152 – 157).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, suatu malam rasulullah shallallahu alaihi wasallam terjaga dari tidur beliau dengan wajah memerah kemudian beliau menyebutkan tentang fitnah Ya’juj Ma’juj yang semakin dekat datangnya. Lalu, beliau ditanya Apakah kita akan binasa padahal diantara kita ada orang – orang shalih? Beliau menjawab Ya, jika kemaksiatan semakin banyak. An Nawawi Asy Syaf’i menjelaskan hadits ini bahwa kemaksiatan kalau sudah merajalela maka akan dimungkinkan datangnya bencana kebinasaan yang bersifat umum walaupun disana ada orang –orang shalih. (Syarh Shahih Muslim). Semakna dengan hadits ini adalah firman Allah (artinya) : “ Takutlah kalian terhadap fitnah yang tidak hanya menimpa orang – orang zhalim diantara kalian.” (Al Anfal 25). Al Qurthubi dalam tafsir beliau terkait ayat inimenyebutkan beberapa pelajaran, diantaranya :

–       Ibnu Abbas berkata bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada kaum muslimin agar tidak membiarkan terjadinya kemungkaran terjadi di tengah mereka sehingga kalau dibiarkan akan menjadikan adzab datang secara menyeluruh.

–       Ditinggalkannya amar ma’ruf nahi munkar merupakan sebab datangnya adzab.

–       Kalau kemungkaran tidak bisa diubah, maka wajib bagi kaum muslimin untuk hijrah dan menjauhi tempat mungkar tersebut. Diriwayatkan dari Imam Malik : Dihijrahi/ditinggalkan daerah yang disitu dilakukan kemungkaran terang – terangan dan tidak tinggal di tempat tersebut.

Mungkin ada yang bertanya, bukankah dalam ayat (surat An An’am 164) dijelaskan bahwa seseorang tidak akan diadzab dengan sebab dosa yang dilakukan orang lain ? Al Qurthubi menjelaskan bahwa kalau suatu kemungkaran telah nampak jelas kemudian tidak ada yang mengingkari maka semuanya berdosa. Yang bermaksiat berdosa karena perbuatannya dan yang mendiamkan berdosa karena meridhoi terjadinya kemungkaran itu. Allahulmusta’an.

Tentu dalam mengingkari kemungkaran diliperhatikan cara yang tepat dan sesuai dengan kemampuan kita. Dan pengingkaran minimal yang harus kita lakukan adalah pengingkaran di dalam kalbu dengan membenci kemungkaran tersebut. Kalau pengingkaran kalbu ini sudah tidak ada, maka perlu dipertanyakan kembali keimanan yang dimiliki.

Sebagai pelipur lara bagi kaum muslimin yang tertimpa musibah, kami sampaikan :

–       Semoga musibah ini merupakan tanda bahwa Allah ‘azza wa jalla menghendaki kebaikan bagi mereka. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda (artinya) : “Barangsiapa Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya” (HR. Bukhari).

–       Semoga kaum muslimin yang meninggal pada musibah ini dibangkitkan kelak di hadapan Allah dalam keadaan yang baik sesuai dengan keadaan mereka di dunia.

–       Semoga mereka memiliki kesabaran dalam menghadapi musibah ini dimana sabar merupakan kewajiban yang harus ada dalam jiwa seorang yang beriman. Dengan kesabaran yang dimiliki, insyaallah akan mendapatkan pahala sebagaimana dijanjikan dalam surat Al Baqarah di atas.

–       Semoga musibah ini sebagai penghapus dosa – dosa yang kita lakukan siang dan malam sekaligus mengangkat derajat kita di sisi Allah Ta’ala

–       Semoga mereka dan kita semua segera bertaubat kepada Allah dari berbagai kemaksiatan yang terjadi dimana taubat merupakan salah satu tanda kebaikan yang Allah inginkan dari kita. Dan kemaksiatan terbesar yang terjadi di mana – mana,terlebih di daerah pegunungan dan tepi pantai,adalah kesyirikan yang diantara bentuknya adalah mempersembahkan sesajen  kepada Sang Penguasa/Penunggu/Bahurekso daerah tersebut. Ini merupakan syirik besar yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam. Faktanya, setelah terjadi bencana bukannya kemaksiatan berkurang justru kemaksiatan dan kesyirikan semakin digalakkan dengan dalih sebagai tolak bala.

Sebagai penutup, kita tidak mengingkari secara mutlak teori – teori ilmu pengetahuan yang menjelaskan terjadinya berbagai bencana, baik gempa bumi maupun meletusnya gunung berapi. Namun, yang menyedihkan adalah kurang atau tidak adanya pengambilan hikmah dari sebuah bencana. Kita harus meyakini bahwa semua terjadi dengan izin dan kekuasaan Allah dan setiap perbuatan Allah pasti ada hikmahnya. Wallahua’lam.

, , , , , , , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: