Ahmadiyyah


Berbagai berita tentang pengrusakan tempat ibadah golongan Ahmadiyyah serta komentar berbagai tokoh mengenainya membuat kita semua harus hati – hati dalam menyikapinya. Sekilas Tentang Ahmadiyyah dan Perkembangan Dakwah Mereka -Kelompok ini menisbahkan mereka kepada seorang bernama Mirza Ghulam Ahmad (meninggal tahun 1908 M) yang berasal dari India. Sebagian ulama yang membahas tentang mereka menamai mereka dengan Qadiyaniyyah yang berasal dari kata “Qadiyan” yang merupakan desa asal dari Mirza Ghulam Ahmad. -Mirza Ghulam Ahmad asalnya adalah seorang penganut tarekat sufi. -Mereka memiliki televisi internasional dengan siaran 24 jam dengan nama “Televisi Islam” -Dakwah mereka tersebar ke seluruh penjuru dunia, mulai dari berbagai belahan Asia, Eropa, Amerika, dan Afrika. Kelompok ini sangat giat dalam berdakwah seperti melalui situs resmi mereka di dunia maya, para dokter, para insinyur, serta para da’i yang secara khusus berdakwah menyebarkan dakwah “Islam” ala mereka. Sampai Syaikh Al Albani-seorang ulama yang telah berdebat langsung dengan mereka dan menjelaskan kesesatan kelompok ini-mengatakan bahwa dakwah Ahmadiyyah berkembang dengan pesat dan mengherankan. -Di Indonesia perkembangan Ahmadiyyah juga pesat dengan sebagian dari mereka termasuk golongan terpelajar dan di beberapa kota mereka memiliki masjid yang dari bentuk fisiknya terlihat indah. -Belakangan kelompok ini terpecah menjadi dua bagian. Beberapa Keyakinan Ahmadiyyah -Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan nabi terakhir; maka disana ada nabi setelah beliau. -Nabi Isa ‘alahis salam telah meninggal dan tidak benar bahwa beliau akan turun di akhir zaman. -Al Jannah/surga dan An Naar/neraka tidak ada wujudnya kelak di akhirat. -Beberapa keyakinan mereka sangat terpengaruh oleh keyakinan Yahudi dan Nasrani seperti keyakinan mereka bahwa Allah ‘azza wa jalla memiliki anak. -Hukum – hukum terkait zakat dan waris yang telah tersebut dalam Al Quran dan As Sunnah bukan hukum yang berlaku abadi sampai akhir zaman bahkan pada waktu tertentu tidak akan berlaku. -Jihad fi sabilillah tidak berlaku lagi. -Pengingkaran terhadap iman kepada takdir Allah. -Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib ditaati hanya ketika beliau hidup; adapun setelah wafat, maka ketaatan dalam masalah syariat diberikan kepada pemimpin mereka. Pemimpin utama dan pertama adalah Mirza Ghulam Ahmad yang pada awalnya mengaku sebagai Al Mahdi pemimpin akhir zaman. Kemudian setelah itu, dia menganggap dirinya mendapat wahyu dari Allah sebagai nabi. Bahkan beberapa ulama menyebutkan bahwa mereka memiliki kitab suci tersendiri. Catt : Apa yang tersebut disini adalah contoh dan penyimpangan mereka yang lain masih banyak. Hukum Islam bagi orang yang memiliki sebagian dari keyakinan – keyakinan di atas Keyakinan – keyakinan di atas mengandung pendustaan kepada ayat – ayat Al Quran dan hadits – hadits shahih yang sangat banyak; sekaligus mendustakan Allah ‘azza wa jalla dan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama dari berbagai negara seperti Pakistan, India, Arab Saudi, Yaman, Mesir, Aljazair, dll telah menyatakan kafirnya orang yang berpemahaman demikian. Bahkan, Syaikh Ibnu Baz sampai menggambarkan bagaimana jelasnya kekafiran orang yang berkeyakinan di atas dengan ungkapan kekafiran mereka lebih jelas dibandingkan matahari yang terbit di siang hari dalam cuaca yang cerah. Seorang muslim awam sekalipun akan mengingkari berbagai keyakinan Ahmadiyyah di atas yang hal ini menunjukkan bahwa keyakinan Ahmadiyyah menyelisihi hal – hal yang dimaklumi bersama oleh seluruh umat Islam. Kita sebutkan satu contoh yaitu pemahaman kaum muslimin bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi. Ayat Al Quran dalam hal ini sangat jelas yaitu firman Allah dalam surat Al Ahzab ayat 40 yang menyebut nabi kita sebagai khotamun nabiyyin (penutup para nabi). Para ulama dan ahli tafsir telah sepakat ini merrupakan ayat yang jelas menunjukkan kenabian telah berhenti dengan wafatnya nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun dari hadits, maka dalam sebuah hadits shahih Rasulullah berkata (artinya) : “Tidak ada nabi setelahku”. Peringatan Syaikh Al Albani-yang telah lama berdebat langsung dengan mereka dan menjelaskan kesesatan mereka-mengatakan bahwa Ahmadiyyah menjalankan sholat lima waktu, berpuasa, berhaji, dan mengaku berlandaskan Al Quran dan As Sunnah sebagaimana kaum muslimin umumnya namun pada hakikatnya mereka sangat jauh dari Islam karena ritual ibadah mereka dan pemahaman terhadap Al Quran dan As Sunnah berbeda dengan kaum muslimin. Sebagai contoh, ayat ke 40 dari surat Al Ahzab yang menegaskan bahwa nabi kita sebagai khotamun nabiyyin yaitu penutup para nabi. Mereka mengatakan bahwa makna yang benar dari khotamun nabiyyin adalah perhiasan(cincin) para nabi. Tentu penyelewengan makna ayat ini untuk mendukung keyakinan mereka tentang kenabian pemimpin mereka dan bahwa akan terus ada nabi setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagitu pula hadits yang kita sebutkan tadi bahwa beliau bersabda “tidak ada nabi setelahku.” Ahmadiyyah menyelewengkan makna hadits ini dan mengatakan bahwa maknanya “tidak ada nabi bersamaku.” Artinya,kata mereka,semasa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup tidak ada nabi lain; adapun setelah beliau wafat maka masih menungkinkan keberadaan nabi – nabi yang lain. Jadi, mereka tidak secara terang – terangan menolak Al Quran dan As Sunnah. Mereka menerimanya-secara lafazh saja-namun maknanya mereka simpangkan sesuai keyakinan mereka. Begitu pula kalau kita lihat situs resmi mereka di dunia maya. Tertera dengan jelas ikrar terhadap dua kalimat syahadat. Hal ini tidak lain untuk merancukan/membingungkan kaum muslimin bahwa mereka juga bagian dari kaum muslimin padahal pada hakikatnya keyakinan dan ibadah mereka bertentangan dengan ikrar mereka terhadap dua kalimat syahadat. Sikap yang salah 1. Dengan alasan HAM dan demokrasi membiarkan Ahmadiyyah tumbuh berkembang tanpa ada usaha menjelaskan kepada kaum muslimin tentang hakikat Ahmadiyyah. HAM dan demokrasi dijadikan hakim paling bijaksana dengan toleransi penuh dan membiarkan tiap orang dengan keyakinannya-bagaimanapun bentuk keyakinannya-sepanjang perdamaian terjaga. Slogan seperti ini tidak lain adalah ghozwul fikri/perang pemikiran dan produk orang kafir untuk menjauhkan umat Islam dari agama mereka yang lurus dan benar sekaligus upaya mengikis amr ma’ruf nahi munkar diantara kaum muslimin. 2. Main hakim sendiri dengan bertindak keras, sampai terjadi pertumpahan darah walaupun yang menjadi korban adalah dari Ahmadiyyah. Berbagai keyakinan kafir Ahmadiyyah tidak serta merta membolehkan kita sebagai rakyat untuk main hakim sendiri terhadap mereka. Iqomatul hudud/penegakan hukuman – hukuman syariat-termasuk hukuman kepada orang yang murtad/keluar dari Islam-menjadi wewenang pemerintah. Syaikh Ibnu Utsaimin berkata :” Sebagian saudara kita yang bersemangat tinggi dalam agama terkadang bertindak sembarangan dalam mengingkari kemungkaran yang pada akhirnya terjadi berbagai kerusakan yang lebih parah dibanding manfaat yang dihasilkan. (kitab Syarhul Mumti’). Inilah yang terjadi di lapangan pada hari – hari ini. 3. Jauhnya kebanyakan kaum muslimin dari ilmu agama yang benar dan lemahnya iman. Berkembangnya Ahmadiyyah tidak lepas dari kurangnya ilmu agama sehingga mudah tertipu ketika mereka menyebutkan ayat atau hadits yang telah mereka selewengkan untuk mendukung akidah mereka dan tidak lepas pula dari faktor ekonomi dimana Ahmadiyyah memang didukung oleh donasi/pendanaan yang kuat dari musuh – musuh Islam yang menjadikan Ahmadiyyah sebagai duri dalam daging kaum muslimin. Kita berharap dan berdoa agar Allah subahanahu wa ta’ala memberi taufik kepada pemerintah agar segera mengambil tindakan yang tepat sesuai syariat Islam terhadap Ahmadiyyah sekaligus kita semua berjihad menghadapi Ahmadiyyah sesuai tuntunan syariat. Kalau kita teliti sebenarnya selain Ahmadiyyah juga masih banyak pemahaman – pemahaman menyimpang yang terdapat di tengah kaum muslimin yang semuanya membutuhkan perhatian dari kita semua. Sebagai penutup, Syaikh Al Albani mengingkatkan-setelah beliau contohkan bagaimana penyelewengan Ahmadiyyah terhadap makna ayat dan hadits-bahwa tidak cukup mengatakan ‘Kita berpedoman dengan Al Quran dan As Sunnah’ namun harus juga diiringi dengan pemahaman yang benar terhadap keduanya yaitu pemahaman para shahabat dan salafus shalih. (diambil dari rangkaian pelajaran beliau yang berjudul Silsilah Huda Wan Nur kaset no.630). Allahu a’lam.

, , , , , , , , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: