Sekali lagi tentang Maulid Nabi


بسم الله الرحمن الرحيم

Telah sampai kepada saya sebuah tulisan yang membahas disyariatkannya maulid nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, walaupun mungkin momen pembahasan ini telah lewat; sebagai nasihat buat kaum muslimin pada umumnya, saya menulis tulisan susulan dari apa yang telah saya tulis sebelumnya. Semoga ini menjadi amal saya yang bisa mendekatkan kepada Allah ‘azza wa jalla.

1. Pencetus pertama perayaan maulid nabi
Merupakan kesepakatan para ulama-baik yang mendukung perayaan maulid maupun yang mengingkari perayaan maulid-bahwa perayaan maulid tidak terjadi di zaman hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula terjadi di zaman Khulafaur Rasyidin radhiyallahu ‘anhum bahkan tidak pula terjadi pada tiga abad hijriyah pertama. (lihat terkait kesepakatan ini tulisan Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh haqiqah syahadah anna muhammad rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)
Ada beberapa pendapat/versi mengenai pencetus pertama perayaan maulid :
a) Pencetusnya adalah Bani Ubaid Al Qoddah Al Bathiniyyah Al Fathimiyyah Ar Rafidhah yang menguasai Mesir pada abad 4-5 hijriyah. Hal ini disebutkan oleh Al Maqrizy rahimahullah dalam buku beliau tentang sejarah negeri Mesir. Buku ini bernama Al Khuthoth wal Aatsar. (lihat ceramah Syaikh Abdul Muhsin ‘Abbad yang telah ditranskip sebagaimana dalam situs sahab.net). Beberapa ulama lain juga sependapat dengan Al Maqrizy seperti Syaikh Muqbil rahimahullah, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, dan Syaikh Sholih Suhaimi hafizhahumallah. Syaikh Sholih Suhaimin menyebutkan bahwa setelah berkuasanya Bani Ubaid ini maka perayaan maulid terus berlanjut sampai tiba masa Perdana Menteri Badr Al Jamali dimana beliau adalah seorang yang sangat berpegang dengan sunnah rasul. Maka, beliau memerintahkan penghentian perayaan maulid. Namun, setelah beliau meninggal; kembalilah disemarakkan perayaan maulid. Demikianlah terus berlangsung perayaan maulid sampai masa pemerintahan Sholahuddin Al Ayyubi rahimahullah, seorang yang sangat berpegang dengan sunnah nabi. Maka, beliau pun memerintahkan penghentian perayaan maulid di seluruh wilayah kekuasaan beliau. Demikianlah terhenti perayaan maulid, kecuali apa yang dilakukan oleh Raja Muzhaffar yang raja ini menikah dengan saudara perempuan Sholahuddin.
(diambil dari tulisan Syaikh Sholih Suhaimi yang dimuat di Majalah Buhuts Islamiyah edisi 15/157; juz 16 hal. 160-161. lihat Maktabah Syamilah)

b) Pendapat kedua : pencetus maulid adalah Raja Muzhaffar penguasa daerah Irbil. Ini adalah pendapat Ibnu Katsir, Ibnu Khalikan, dan selainkeduanya dan pendapat ini dikuatkan oleh Syaikh Sholih Fauzan (lihat situs sahab.net). Adapun Abu Syamah mengatakan bahwa yang pertama melakukannya di daerah Mushil adalah Syaikh Umar ibn Muhammad Al Mula seorang yang solih dan terkenal dan kemudian diikuti oleh raja Irbil [yakni Al Muzhaffar].
Para ahli sejarah menyebutkan bahwa perayaan Raja Muzhaffar ini sangat meriah dan dihadiri para kaum sufi. Perayaan dimulai setelah sholat Zhuhr dan terus berlangsung sampai waktu Fajr dengan menelan biaya lebih dari 300.000 dinar. (lihat Bidayah wan Nihayah kejadian tahun 630 H)
Bagi yang ingin mengetahui lebih jauh bagaimana gambaran perayaan yang diadakan Raja Muzhaffar ketika itu, silahkan membaca Bidayah wa Nihayah karangan Ibnu Katsir dan Wafiyatil A’yan karangan Ibnu Khalikan.

Demikianlah dua pendapat di atas mengenai siapa pencetus pertama perayaan maulid. Bagi yang mencermati kedua pendapat di atas akan tampak bahwa pendapat pertama kemungkinan lebih dekat kepada kebenaran karena mereka mengetahui sejarah apa yang tidak diketahui olehyang berpendapat dengan pendapat kedua. Bahkan, Syaikh Sholih Suhaimi bisa menarik benang merah yang menjelaskan runtutan antara apa yang terjadi sejak zaman Bani Ubaid Al Bathiniyyah sampai zaman Raja Muzhaffar. Wallahua’lam.
Namun, yang lebih penting untuk dibahas disini adalah hukum peringatan maulid itu sendiri.

2. Hukum peringatan maulid nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Perayaan maulid telah dilakukan oleh sebagian kaum muslimin-bahkan bisa dikatakan bahwa sebagian besar kaum muslimin melakukannya. Bahkan sebagian mengatakan bahwa peringatan maulid telah berlangsung dari masa ke masa tanpa ada yang mengingkari dan barulah datang orang belakangan mengingkarinya. Kemudian disebutkan nama beberapa ulama yang menyetujui peringatan maulid kalau terlepas dari perkara – perkara yang menyelisihi syariat yang lain. Mereka seperti Ibnu Dihyah (yang disebut telah menulis buku khusus sebagai hadiah untuk Raja Muzhaffar yang telah merayakan maulid secara besar – besaran), Al Hafizh Ibnu Hajar, Al Iraqi, Jalaluddin As Suyuti (yang menulis buku khusus mendukung peringatan maulid), As Sakhawi, dll rahimahumullah.
Demikian perkataan sebagian mereka yang membela adanya peringatan maulid. Namun, kenyataan membuktian lain. Para ulama telah mengingkari peringatan maulid telah ada sejak dulu seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (dalam buku beliau Iqtidha Shirathil Mustaqim), Asy Syathibi (dalam Al I’tishom), Ibnul Haj (dalam Al Madkhol), bahkan beberapa ulama menulis buku khusus untuk mengingkarinya seperti Tajudin Al Lakhmi, Syaikh Muhammad ibn Ibrahim Alu Syaikh,dll.
Yang menjadi tujuan kita bukan berlomba mencari pendukung terhadap apa yang kita pegangi; namun lebh dari itu kita harus tahu apa yang menjadi dasar pedoman/dalil para ulama tersebut. Syaikh Al Albani mengingatkan bahwa kebanyakan orang dalam menyikapi sesuatu cenderung mengedepankan ‘awathif/perasaan mereka sehingga dalam menimbang sesuatu terkadang tidak adil.
Beberapa dalil orang yang merayakan maulid dan menganggapnya termasuk syariat Islam :
1. dalil – dalil tentang adanya bid’ah hasanah dan maulid nabi termasuk bid’ah hasanah
2. hadits tentang disyariatkannya puasa ‘Asyura dimana ketika itu dalam rangka bersyukur atas nikmat Allah berupa kemenangan nabi Musa dengan ditenggelamkannya Fir’aun.
3. Hadits tentang disunnahkannya puasa di hari Senin dimana ketika beliau ditanya tentangnya beliau menjawab bahwa itu merupakan hari dimana beliau dilahirkan.
Dari dalil kedua dan ketiga ini diambil kesimpulan bahwa merayakan suatu nikmat-termasuk kelahiran nabi kita-adalah disyariatkan.

Jawaban terhadap dalil – dalil di atas :
– Tentang adanya bid’ah hasanah dalam masalah agama. Anggapan adanya bid’ah hasanah dalam masalah agama bertentangan dengan banyak hadits rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan كل بدعة ضلالة (setiap bid’ah adalah sesat).(HR.Muslim dari shahabat Jabir ibn Abdillah dan datang pula dari shahabat ‘Irbadh ibn Sariyah diriwayatkan Ashhabus Sunan).
Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan terkait dengan anggapan adanya bid’ah hasanah : “Tidak halal bagi seorang pun untuk melawan kalimat yang umum dan menyeluruh dari rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu sabda beliau كل بدعة ضلالة (setiap bid’ah adalah sesat); [dia melawannya]dengan mengatakan : ‘tidak setiap bid’ah itu sesat’. [Penafsiran] yang demikian lebih menyerupai penentangan kepada rasulullah dibanding dikatakan sebagai penafsiran belaka.” (kitab Iqtidho’ Shirothol Mustaqim). Beliau juga mengatakan dalam kitab yang sama bahwa pengkhususan keumuman larangan bid’ah tanpa disertai dalil dari Al Quran, As Sunnah, dan Ijma’ tidak bisa diterima; maka yang wajib adalah berpegang dengan keumuman [yakni keumuman larangan berbuat bid’ah].
Asy Syathibi rahimahullah mengatakan bahwa pembagian bid’ah menjadi lima hukum (wajib, sunnah, mubah, makruh, haram) atau dengan kata lain pembagian bid’ah menjadi hasanah/baik dan sayyi-ah/jelek adalah suatu hal yang baru yang tidak ada dalilnya. (kitab Al I’tishom).
Masih banyak ulama lain yang mengingkari pembagian bid’ah menjadi bid’ah yang baik dan yang buruk.
Dalil – dalil yang dipakai untuk membagi bid’ah menjadi baik dan buruk telah dipakai bukan pada tempatnya dan terkesan dipaksakan. Padahal, sikap yang benar adalah seseorang ketika menghadapi suatu masalah hendaknya mencari dalil – dalil,baik ayat maupun hadits, kemudian dipahami dengan pemahaman yang benar; baru diambil kesimpulan dari masalah tersebut. Namun, seringkali seseorang dalam menghadapi suatu masalah meyakini atau mengamalkan sesuatu, baru kemudian mencari – cari dalil yang sekiranya sesuai dengan keyakinan maupun amalannya itu.
Kita contohkan satu saja. Sebuah hadits yang sering dipakai dalil tentang bid’ah hasanah. Hadits di dalam shahih Muslim
من سن في الاسلام سنة حسنة فله أجرها و أجر من عمل بها من غير ان ينقص من أجورهم شيئا artinya “barangsiapa mencontohkan suatu amalan yang baik di dalam Islam maka dia mendapat pahala dari amalannya itu dan juga mendapat pahala dari orang – orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala orang yang mengikutinya tersebut.”
Mereka katakan bahwa hadits ini adalah dalil adanya bid’ah hasanah dengan dasar sabda beliau yang artinya barangsiapa mencontohkan suatu sunnah yang baik .
Jawabnya adalah :
i) Perlu kita lihat sababu wurudil hadits (sebab diucapkannya hadits ini). Kisahnya ada dalam Shahih Muslim (no.1007) yang ringkasnya : suatu hari ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para shahabatnya; ada serombongan orang yang datang dalam keadaan mengenaskan disebabkan kemiskinan yang menimpa mereka. Maka, beliaupun segera mendorong para shahabat untuk berinfak kepada kaum tersebut hingga yang pertama datang adalah seorang shahabat dari Anshar dengan membawa kantong berisi perak yang akan diinfakkan. Melihat hal ini, para shahabat yang lain tergerak mencontoh untuk berinfak sehingga terkumpullah harta dan pakaian yang cukup banyak. Melihat hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memuji shahabat Anshar yang memberi contoh tadi kemudian mengucapkan sabda beliau yang tersebut di atas.
Dari sini jelaslah bahwa makna hadits ini adalah ‘ barangsiapa menjadi contoh dalam mengerjakan sebuah amalan yang baik dalam Islam ‘ seperti yang dilakukan shahabat Anshar yang ketika mendengar anjuran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berinfak, dia segera mengerjakannya sehingga menjadi contoh bagi yang lain. Apakah yang demikian tepat dijadikan dalil untuk bid’ah hasanah ? Dalam hadits ini yang dicontohkan adalah berinfak-yang memang ada dalilnya di dalam agama kita; sedangkan bid’ah-seperti maulid-apakah ada dasarnya dalam Islam sehingga bisa dikiaskan ?
ii) Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan (artinya) ‘barangsiapa mencontohkan suatu amalan yang baik’ padahal dalam hadits – hadits lain telah beliau tegaskan bahwa setiap bid’ah adalah sesat. Sesuatu yang sesat berarti tidak baik.
iii) Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan (artinya) ‘barangsiapa mencontohkan suatu amalan yang baik di dalam Islam’ padahal bid’ah bukan termasuk dari syariat Islam karena syariat Islam berlandaskan pada dalil dan bid’ah tidak ada dalilnya.
Dari uraian di atas semoga menjadi contoh dalam mendudukkan sebuah dalil pada tempatnya sesuai pemahaman yang benar. Sengaja kita bawakan hadits tersebut karena hadits tersebut termasuk paling sering dipakai oleh pihak yang melihat adanya bid’ah hasanah yang ternyata dipakai tidak pada tempatnya. Allahu a’lam.

 Jawaban terhadap dua hadits yang disebutkan di atas-tentang disyariatkannya mensyukuri sebuah nikmat dengan jalan melakukan sebuah amalan dalam hal ini puasa ‘Asyura dan puasa di hari Senin- adalah sebagai berikut :
i) Kalau memang setiap nikmat bisa dikiaskan seperti pola pikir seperti ini niscaya perayaan maulid akan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adakan sejak beliau masih hidup. Tapi, ketika beliau tidak merayakannya berarti memang beliau tinggalkan perayaan itu karena beliau tahu perayaan yang demikian bukan sebuah amalan yang baik. Seandainya sebuah kebaikan, niscaya akan beliau jelaskan atau minimal beliau lakukan walaupun sekali seumur hidup beliau. Inilah tugas para nabi sebagaimana telah beliau sabdakan (artinya) : “Tidak seorang nabi pun kecuali wajib baginya untuk menunjuki umatnya suatu kebaikan yang dia ketahui bagi umatnya.” (HR.Muslim). Mungkin ada yang berkata bahwa beliau tidak merayakannya disebabkan tawadhu’/rendah hati yang beliau miliki. Maka jawabnya bahwa para shahabat yang mereka merupakan generasi pilihan untuk mendampingi nabi kita; yang mereka adalah orang – orang yang paling mencintai nabi mereka; ternyata tidak juga merayakannya sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
ii) Begitu banyak nikmat dirasakan kaum muslimin sejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup sampai beliau meninggal. Tapi apakah semuanya ‘dirayakan’ ? Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa dalam syariat Islam sebuah ibadah memang harus dilandasi dengan dalil yang benar.

Catatan : Sebuah kesalahan yang fatal kalau ada yang mengatakan bahwa kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai kenikmatan terbesar bagi umat Islam. Satu bukti yang menunjukkan pada kesalahan ini adalah tidak ada dalam Al Quran ayat yang menyifati kelahiran beliau sebagai rahmat. Justru pengutusan beliau sebagai nabi dan rasul inilah yang disifati sebagai rahmat sebagaimana dalam surat Al Anbiyaa 107 (artinya) “Dan tidaklah Kami mengutus engkau [wahai Nabi] kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.”. Jadi, seandainya boleh dirayakan, maka hari pengangkatan beliau sebagai nabi lebih pantas untuk dirayakan dibanding hari kelahiran beliau.
Oleh karena itulah, para ulama yang memandang peringatan maulid di kalangan kaum muslimin tidak lebih dari sikap taqlid/membebek kepada kebiasaan Nashara yang merayakan kelahiran Nabi Isa ‘alahis salam. Bahkan,kata Syaikh Al Albani,perayaan hari kelahiran Nabi Isa ini bukan ajaran Nabi Isa ‘alaihis salam; tapi tidak lebih sebagai tambahan/bid’ah dalam agama mereka yang diada – adakan oleh pengikut beliau yang jauh dari ajaran Nabi Isa yang murni. Padahal, kelahiran Nabi Isa adalah suatu kejadian luar biasa, suatu ayat kebesaran Allah dimana beliau lahir tanpa memiliki bapak. Meski demikian, beliau sendiri tidak merayakannya. Jadi, antara ajaran Nabi Isa ‘alaihis salam yang murni dan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang murni ada kesesuian dalam hal tidak disyariatkannya merayakan hari kelahiran seseorang walaupun orang tersebut adalah utusan Allah sekalipun.

PERINGATAN
Sebagian orang menisbahkan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa beliau membolehkan peringatan maulid nabi dengan dasar apa yang telah beliau tulis di kitab beliau Iqtidho Shirothil Mustaqim :” Pengagungan terhadap maulid dan menjadikannya musim/peringatan terkadang dilakukan sebagian manusia dan dia dengan peringatan tersebut mendapat pahala yang besar disebabkan kebaikan niatnya dan pengagungannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana telah saya jelaskan terdahulu bahwa terkadang dianggap baik apa yang dilakukan sebagian orang dimana seandainya dilakukan oleh seorang mukmin yang lurus agamanya maka perbuatan itu akan dianggap jelek. “
Syaikh Muhammad ibn Ibrahim rahimahullah menjawab hal ini sebagai berikut :
Adapun ucapan Syaikhul Islam [Pengagungan terhadap maulid dan menjadikannya musim/peringatan terkadang dilakukan sebagian manusia dan dia dengan peringatan tersebut mendapat pahala yang besar disebabkan kebaikan niatnya dan pengagungannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.] maka di dalam ucapan ini tidak terkandung makna kecuali pahala yang diperoleh disebabkan niat yang baik dan tidak melazimkan disyariatkannya amalan yang terjadi dengan niat baik tersebut. Oleh karena itulah Syaikhul Islam menyebutkan di akhir ucapan beliau bahwa amalan ini-yaitu maulid- teranggap jelek jika dilakukan oleh seorang mukmin yang lurus agamanya. [yakni ucapan Ibnu Taimiyah : “ terkadang dianggap baik apa yang dilakukan sebagian orang dimana seandainya dilakukan oleh seorang mukmin yang lurus agamanya maka perbuatan itu akan dianggap jelek”]
Syaikhul Islam sendiri di awal pembahasan maulid di kitab beliau mengatakan tentang orang yang menjadikan maulid sebagai peringatan atas dasar kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (hal.294-295): “Allah ‘azza wa jalla terkadang memberi pahala kepadanya disebabkan kecintaan dan kesungguhannya bukan disebabkan peringatan maulid tersebut, padahal kita tahu bahwa manusia berselisih tentang penentuan tanggal maulid. Hal ini karena peringatan ini tidak dilakukan salaf padahal sebab – sebab yang mendorong peringatan maulid ada sejak dulu dan tanpa ada penghalang diadakannya maulid ketika itu. Seandainya peringatan ini baik niscaya para salaf lebih berhak melakukannya dibanding kita karena kecintaan dan pengagungan mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dibanding kecintaan dan pengagungan kita kepada beliau; juga mereka lebih bersemangat kepada kebaikan dibanding kita. Ini semua tidak lain karena kesempurnaan kecintaan dan pengagungan kepada beliau adalah dengan mengikuti, mentaati, dan melaksanakan perintah beliau serta menghidupkan ajaran lahir batin, menyebarkan apa yang beliau diutus dengannya serta berjihad di atas itu semua dengan kalbu, lisan, dan tangan. Inilah jalan As Sabiqunal Awwalun dari Muhajirin dan Anshar dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik.)
Kemudian disebutkan perkataan beliau yang lain di kitab yang sama (hal.295-296):
“Kebanyakan dari mereka-yang memperingati maulid-sangat bersemangat terhadap bid’ah – bid’ah ini diiringi niat baik mereka dan semangat mereka untuk mengerjakannya yang dengan itu diharapkan mereka mendapat pahala[disebabkan niat baik dan kesungguhan]; namun kita dapati mereka sangat kurang dalam mengamalkan apa yang telah nyata Rasulullah perintahkan untuk mengerjakannya. Permisalan mereka seperti orang yang menghiasi masjid namun tidak sholat di dalamnya atau kalaupun sholat hanya sedikit saja. Atau seperti perumpamaan orang yang memakai alat tasbih dan sajadah yang dipenuhi hiasan. Hiasan – hiasan lahir seperti ini tidak disyariatkan dan sangat mungkin dimasuki riya’ serta menyibukkan dari apa yang sebenarnya disyariatkan yang demikian bisa merusak keadaan pelakunya.”
Beliau juga berkata (hal.317):” Siapa yang memiliki niat yang baik akan diberi pahala dengan sebab niat tersebut walaupun amalan yang dia lakukan tidak disyariatkan selama dia tidak menyengaja untuk menyelisihi syariat.”
Beliau juga menegaskan (hal.290) bahwa pahala yang mungkin didapatkan oleh orang yang melakukan peringatan – peringatan bid’ah karena dia mena’wilkan atau dia berijtihad dalam melakukannya yang diiringi niat yang tulus; tidak menghalangi larangan terhadap perbuatan bid’ah itu dan perintah untuk berpaling darinya kepada amalan yang tidak mengandung bid’ah sama sekali.
Beliau juga menjelaskan bahwa amalan yang kebaikannya hanya ditinjau dari sisi niat baik pelakunya maka amal yang demikian bukanlah jalan yang ditempuh salafus shalih; yang demikian adalah jalannya beberapa orang belakangan. Adapun jalan salafus shalih adalah perhatian terhadap amalan yang sepenuhnya baik dan tidak ada kejelekannya dari segala sisi dimana amalan seperti inilah yang telah dijelaskan dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Diantara bukti lain bahwa beliau mengingkari peringatan maulid seperti ini adalah penegasan beliau dalam beberapa fatwa yang lain seperti perkataan beliau (lihat kitab Al Fatawa Al Kubro):
“Adapun menjadikan beberapa peringatan yang tidak disyariatkan seperti beberapa malam dari bulan Rabi’ul Awwal yang dinggap sebagai maaulid nabi, atau beberapa malam dari bulan Rajab, atau 18 Dzulhijjah, atau Jum’at pertama dari Rajab, atau tanggal 8 Syawwal yang dinamakan ‘ ‘Idul Abrar ‘ adalah termasuk bi’ah yang salafus shalih tidak menyukainya dan tidak melakukannya.”

Demikian sebagian yang Syaikh Muhammad ibn Ibrahim jelaskan untuk membantah syubhat/kerancuan orang yang menisbahkan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa beliau membolehkan peringatan maulid nabi.
Tentu yang harus kita ingat bahwa perkataan beliau di atas bahwa orang yang mendapat pahala disebabkan niatnya yang ikhlas ketika melakukan perbuatan bid’ah ; ini pada keadaan orang tersebut belum mengetahui kalau itu adalah perbuatan bid’ah. Adapun kalau dia mengetahui kemudian sengaja melakukannya maka dikhawatirkan dia termasuk orang yang sengaja menyelisihi syariat. Allahul musta’an.

Beberapa bahaya bid’ah dalam masalah agama :
1. Pembuat bid’ah dikhawatirkan telah mensejajarkan dirinya dengan Allah subhanahu wa ta’ala dalam suatu sifat yang menjadi kekhususan Allah yaitu dalam membuat syariat. Allah telah mengingkari yang demikian dalam firman-Nya
أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله artinya “Apakah mereka memiliki sekutu – sekutu yang membuat syariat bagi mereka yang Allah tidak mengizinkannya? (surat Syuro 21)”
2. Bid’ah merupakan kesesatan dengan dalil firman-Nya فمذا بعد الحق الا الضلال artinya “Dan apakah ada setelah kebenaran kecuali kesesatan? (surat Yunus 32)” yaitu bahwa apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kebenaran; maka hal baru yang datang dalam hal agama setelah ajaran beliau berarti kesesatan. Dalil lain adalah hadits yang telah sebutkan di awal pembahasan.
3. Bid’ah berarti keluar dari mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
4. Bid’ah bertentangan dengan perwujudan syahadat Muhammad Rasulullah karena diantara konsekuensinya adalah tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang telah beliau tuntunkan.
5. Bid’ah mengandung makna celaan terhadap kesempurnaan Islam yang telah Allah tegaskan dalam surat Al Maidah ayat 3.
6. Bid’ah mengandung makna celaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena yang melakukan bid’ah diantara dua kemungkinan : dia anggap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak tahu bahwa bid’ah ini adalah ibadah yang berarti dia anggap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bodoh; atau dia anggap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tahu kalau bid’ah yang dia lakukan adalah ibadah namun beliau tidak menyampaikan kepada umat sehingga beliau telah teranggap berkhianat terhadap tugas beliau sebagai penyampai risalah dari Allah kepada manusia.
7. Bid’ah membuka pintu perpecahan umat Islam dan inilah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri karena dengan dibolehkannya bid’ah maka setiap orang bebas berkreasi dalam ibadah kepada Allah sehingga timbullah perpecahan. Minimal orang yang tidak mau melakukan bid’ah dianggap menyimpang dan seringkali dimusuhi dan dianggap memecah belah umat, sebagaimana ini terjadi pada orang – orang yang mengingkari peringatan maulid.
8. Bid’ah yang tersebar akan mematikan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang asli.

Semoga apa yang kami sampaikan bisa menjadi dzikra/peringatan bagi orang – orang yang Allah kehendaki baginya hidayah. Memang betapa mahalnya hidayah taufiq karena Allah sematalah yang memilikinya.
Jangan sampai kita hanya menimbang kebenaran hanya dari banyak atau sedikitnya orang yang melakukannya. Allah telah membantah pola pikir seperti ini dalam firman-Nya
و ان تطع أكثر من في الأض يضلوك عن سبيل الله. Artinya “Kalau kamu mengikuti kebanyakan orang yang ada di dunia maka mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”

Wallahu a’lam bis showab.
ربنا لا تزغ قلوبنا بعد اذ هديتنا و هب لنا من لدنك رحمة انك انت الوهاب
و صلى الله على نبيينا محمد و على أله و صحبه و سلم
و أخر دعوانا ان الحمد لله رب العالمين

, , , , , , , , , , , , , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: