Akhlaq Seorang Muslim Terhadap Pemerintah


Pada edisi kali ini redaksi mengangkat tema tentang akhlak seorang muslim terhadap pemerintah. Kami mengangkat tema tersebut dengan menyadur secara bebas dari ceramah ilmiah yang disampaikan Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed dalam pengajian akbar dengan tema yang sama pada hari Ahad, 31 Mei 2009 M/6 Jumadal Akhirah 1430 H di Masjid Agung Baitul Hakim Madiun. Semoga sajian dalam dua kajian ini bisa memberikan manfaat bagi pembaca.
Kajian Pertama
Para ulama menyatakan bahwa manusia bila tidak meng-hormati dan memuliakan pemerintahnya maka akan rusak kehidupan dunia mereka. Sedangkan bila mereka tidak menghormati dan memuliakan para ulamanya maka akan rusak kehidupan agama mereka. Sehingga para penguasa (umara) dan ulama merupakan dua komponen yang harus kita hormati dan muliakan.
Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah mengingatkan dalam sabda-nya (artinya) :
“Wajib bagi kalian untuk bersama Al Jama’ah dan hati-hatilah kalian dari perpecahan (diantara kaum muslimin). Sesungguhnya syaithan itu bersama orang yang berpisah dari Al Jama’ah dan dia terhadap dua orang lebih jauh…”.
Adapun makna Al Jama’ah sendiri ada dua macam :
1. Kebenaran yang bersumber dari Al Qur’an dan Al Hadits/As Sunnah berserta orang-orang yang berpegang teguh dengan keduanya.
2. Kaum muslimin beserta para penguasanya/pemerintah.
Berkaitan dengan macam kedua maka kita diwajibkan untuk berjalan bersama penguasa dan tetap mentaati peraturan dan hukum mereka selama dalam kebaikan (ma’ruf). Dengan demikian akan terwujud persatuan dan kekuatan kaum muslimin. Akan tetapi bila kita tidak mentaati mereka (para penguasa) maka akan muncul perpecahan dan kerusakan. Lihatlah ketika masing-masing kelompok menganggap pemimpin mereka sebagai penguasa! Tentu akan timbul perpecahan. Demikian pula ketika muncul para Khawarij (pemberontak) yang melawan penguasa, maka akan muncul perpecahan bahkan pertumpahan darah sesama kaum muslimin dan kehancuran negeri-negeri kaum muslimin.
Allah Ta’ala melarang kita untuk bercerai-berai dan berpecah-belah. Dia berfirman (artinya) :
“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah datang keterangan-keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan adzab yang besar.” (Ali Imran : 105).
Adapun makna perpecahan juga ada dua macam sebagaimana makna Al Jama’ah :
1. Kebatilan dan orang-orang yang mengikutinya.
2. Orang-orang yang memisahkan diri mereka dari kaum muslimin dan peng-uasanya.
Kemunculan para penentang dan pem-berontak yang melawan penguasa me-rupakan sebab berkurangnya nikmat ukhuwwah (kebersamaan) kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman (artinya) :
“Dan berpegang teguhlah kalian terhadap tali agama Allah dan janganlah kalian berpecah belah. Dan ingatlah kalian terhadap nikmat Allah tatkala kalian saling bermusuhan kemudian Allah persatukan hati kalian sehingga kalian menjadi bersaudara.” (Ali Imran : 103).
Ketahuilah bahwasanya persatuan kaum muslimin dengan pemerintahnya akan mendatangkan rahmat Allah. Sedangkan perpecahan akan menda-tangkan adzab-Nya. Rasulullah J ber-sabda (artinya) :
“Persatuan itu rahmat dan perpecahan itu adzab.” (Ahmad dan Ibnu Abi Ashin).
Perpecahan yang terjadi pada negeri kaum muslimin yang diakibatkan muncul-nya para pemberontak walaupun dengan dalih mendirikan negara Islam atau menegakkan syariat Islam, sebenarnya sangat dimanfaatkan orang-orang kafir. Sehingga tidak mengherankan bila para pemberontak itu justru didukung negara-negara kafir. Tentu saja orang-orang kafir sama sekali tidak menginginkan dengan dukungan itu akan terwujud sebuah negara Islam atau tegaknya syariat Islam. Akan tetapi yang mereka inginkan adalah pertumpahan darah sesama kaum muslimin dan hancurnya negeri-negeri Islam.
Perlu untuk diingat bahwa Rasulullah J bersabda (artinya) :
“Barangsiapa keluar dari ketaatan terhadap penguasanya dan berpisah dari mereka lalu mati dalam keadaan seperti itu maka dia mati jahiliyah.” (Muslim).
Juga perlu diketahui bahwa kemun-culan para pemberontak pada awalnya dimulai dengan percikan-percikan api berupa su’udzhan (berprasangka buruk) dan ghibah (menceritakan kejelekan-kejelekan) para penguasa di berbagai media massa. Padahal Allah Ta’ala ber-firman (artinya) :
“Wahai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa. Janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan sebagian kalian menceritakan kejelekan (ghibah) sebagian yang lain”. (Al Hujuraat : 12). Maka hendaknya semenjak dini para penguasa segera mencegah percikan-percikan api tadi sebelum berkobarnya api-api pemberontakan dan kekacauan.
Kita perlu bertanya kepada para penentang dan pemberontak penguasa :
“Apa yang telah kalian hasilkan dari pemberontakan yang kalian lakukan?”. Ternyata hasilnya adalah tertumpahnya darah kaum muslimin dalam jumlah yang sangat besar sebagaimana yang pernah terjadi di Sudan. Atau hilangnya beberapa syiar Islam seperti di majelis-majelis taklim dan shalat berjama’ah di masjid-masjid sebagaimana yang sempat terjadi di Aljazair.
Kita juga perlu bertanya :
“Apakah bila pemberontakan yang kalian lakukan itu berhasil menggulingkan penguasa akan memunculkan seorang pemimpin yang lebih baik dari sebe-lumnya?”. Ternyata tidak berbeda jauh. Kapan akan ada pemimpin yang sempurna dan tidak memiliki kekurangan!? Akan adakah pemimpin yang bisa diridhai semua pihak!?
Sekalipun kita melihat adanya kenya-taan bahwa para penguasa memiliki ke-kurangan bahkan kejahatan maka tetap dilarang untuk kita memberontak mereka selama mereka beragama Islam. Rasulullah J bersabda (artinya) :
“… Kemudian kelak akan muncul para penguasa yang hati kalian tidak tenang dan kulit kalian merinding (karena me-nyaksikan kejahatan mereka).” Lalu seseorang berdiri dan berkata : “Apakah kita tidak melawan mereka?” Beliau menjawab : “Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat (beragama Islam).” (Ahmad dan Ibnu Abi Ashim).
Kita memang tidak ridha dan mem-benci kejahatan yang mereka lakukan. Namun hal demikian tidak kemudian kita lampiaskan dengan perlawanan kepada penguasa sekalipun “hanya” dengan demontrasi. Lebih-lebih pemberontakan.
Kajian Kedua
Sekian banyak sabda Rasulullah J yang memerintahkan untuk tetap bersama Al Jama’ah dan larangan untuk berpecah belah atau berpisah darinya.
Namun perlu untuk kita ketahui tentang ucapan para ulama khususnya para sahabat radhiyallahu ‘anhum berkaitan sabda-sabda tadi.
Diantaranya ucapan Umar bin Al Khaththab kepada Suwaid bin Ghafa-lah:
“Bisa jadi engkau akan hidup panjang setelahku sehingga akan engkau saksikan kejahatan para pnguasa. Maka dengar dan taatilah mereka sekalipun mereka adalah bekas budak. Bila mereka men-dzalimi dan memukul punggungmu maka tetap bersabarlah. Namun bila mereka memerintahmu untuk merusak agamamu maka katakanlah : “Dengar dan taat dalam urusan darahku namun tidak dalam urusan agamaku”. Tetaplah engkau jangan memisahkan diri dari Al Jama’ah.”
Abu Umamah Al Bahili pernah ber-kata kepada Abu Ghalib :
“… Wajib bagimu untuk mengikuti As Sawaadul A’dham (kaum muslimin dan penguasanya).” Lalu dikatakan kepada beliau: “Engkau tentunya telah tahu tentang kejelekan yang ada pada para penguasa.” Beliau menjawab : “Ya, aku tahu tentang itu. Namun kewajiban yang mestinya mereka emban merupakan tanggung jawab mereka di hadapan Allah. Sedangkan kewajiban yang mestinya kalian tunaikan merupakan tanggung jawab kalian di hadapan Allah”.
Kejahatan para penguasa mestinya jangan dibalas dengan kejahatan atau dosa dari kita berupa menentang dan memberontak. Tetapi yang justru kita lakukan adalah menasehati mereka dan mendoakan kebaikan/hidayah bagi me-reka. Rasulullah J bersabda (artinya) : “Barangsiapa memiliki nasehat kepada penguasanya maka hendaknya dia pegang tangannya (artinya tidak di depan umum-red). Bila penguasa itu menerima nasihat tersebut maka itu yang diharapkan. Namun bila dia tidak menerima maka telah lepas sebuah tanggung jawab.”
Al Imam Al Fudhail bin ‘Iyyadh rahi-mahullah berkata : “Kalau seandainya aku memiliki satu doa yang dikabulkan Allah maka akan aku panjatkan untuk kebaikan penguasa.” Kemudian ditanyakan kepada beliau : “Kenapa demikian?” Beliau menja-wab : “Kalau aku memanjatkan doa terse-but untuk diriku maka aku saja yang men-jadi bailk. Namun bila aku memanjatkan doa tersebut untuk penguasaku maka seluruh rakyat (termasuk aku) akan menjadi baik.”

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: