Antara Demonstrasi dan Kezhaliman Penguasa


Kenyataan yang sedang menghangat di berbagai negeri Arab, mulai Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, Saudi, Bahrain, dll untuk-kata mereka-menghentikan penindasan dan kesewenang – wenangan penguasa dengan melakukan demonstrasi besar – besaran perlu kita cermati dengan seksama  Terlebih di negeri kita juga sangat sering terjadi berbagai demo memprotes pemerintah bahkan sebagian elemen masyarakat dengan terang – terangan ingin menggulingkan pemerintah yang sah.

Fenomena Kezhaliman Penguasa

Islam adalah agama yang sempurna untuk setiap waktu dan tempat. Islam mengatur berbagai segi kehidupan manusia mulai dari hal – hal yang teranggap sepele seperti adab buang air sampai hal – hal yang menyangkut hubungan bermasyarakat bahkan hubungan kenegaraan. Allah subhanahu wa ta’ala sebagai pembuat syariat Islam mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembawa risalah Islam kepada seluruh umat manusia. Allah ‘azza wa jalla ketika mengutus nabi-Nya memberikan ayat – ayat / tanda – tanda kenabian atau yang lazim disebut mu’jizat untuk memperkuat kenabian beliau.

Diantara tanda – tanda kenabian tersebut berupa kabar – kabar yang beliau sampaikan terkait hal – hal yang akan terjadi setelah kematian beliau dan termasuk diantaranya akan adanya para pemimpin yang zhalim dan semena – mena. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari shahabat Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata (artinya): Aku bertanya: “Wahai Rasulullah,kami dulu berada dalam kejelekan kemudian Allah datang dengan kebaikan [agama Islam] maka kami pun sekarang berada dalam kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan?“ Rasulullah jawab: ”Ya” Aku bertanya : “Apakah setelah kejelekan itu akan datang kebaikan ?” Beliau jawab : “Ya” Aku bertanya : “Apakah setelah kebaikan itu akan datang kejelekan ?” Beliau jawab : ”Ya” Aku bertanya : “Bagaimana[bentuk kejelekan itu]?” Beliau jawab : “Akan ada setelahku para pemimpin yang tidak berjalan dengan petunjukku dan tidak berrpedoman dengan sunnah/ajaranku. Akan ada diantara mereka orang – orang yang kalbu mereka seperti kalbu setan padahal tubuh mereka adalah tubuh manusia biasa.” Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, apa yang kuperbuat seandainya kutemui masa itu ?” Beliau jawab : “Dengar dan taatlah kepada pemimpin walaupun mereka memukul punggungmu dan mengambil hartamu. Dengar! Taatlah!”

Tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini ternyata bukan hanya beliau sampaikan kepada Hudzaifah radhiyallahu ‘anhuma namun juga ketika ada seseorang yang bertanya tentang bagaimana jika ada para pemimpin yang selalu meminta kepada rakyat untuk memenuhi hak – hak mereka namun di sisi lain tidak memberikan hak – hak rakyat. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab (artinya) : “ Dengar dan taatlah karena atas mereka beban tanggung jawab mereka dan atas kalian tanggung jawab kalian.”

Makna hadits ini bahwa Allah ‘azza wa jalla mewajibkan pemimpin untuk bersikap adil dan kalau mereka tidak melaksanakannya maka mereka berdosa. Allah juga mewajibkan rakyat untuk taat kepada pemimpin. Kalau mereka taat akan mendapat pahala, kalau tidak maka mereka berdosa. (lihat kitab Muamalatul Hukkam karya Syaikh Abdussalam ibn Barjas).

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dan An Nawawi Asy Syafi’i memberi judul bab untuk hadits ini : Bab wajibnya taat kepada pemimpin walaupun mereka tidak memberi hak – hak [rakyat].

Dalam hadits yang lain (artinya) : “Barangsiapa melihat pada pemimpinnya sesuatu yang dia benci hendaklah bersabar…” (HR.Bukhari Muslim dari shahabat  Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma). Ibnu Taimiyah rahiomahullah berkata : “Bersabar terhadap kezhaliman penguasa adalah salah satu pokok pemikiran ahlus sunnah wal jama’ah.” (lihat Majmu’ Fatawa 28/179).

Kewajiban taat kepada pemimpin ini dibatasi selama mereka tidak menyuruh untuk bermaksiat kepada Allah. Kalau menyuruh kepada suatu kemaksiatan, kita tidak boleh taat kepada mereka dalam perintah yang mengandung maksiat itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya) : “Tidak ada ketaatan kepada makhluk kalau dengan ketaatan itu mengakibatkan bermaksiat kepada Al Khaliq/Allah.” Dalam keadaan seperti inipun kita tidak boleh keluar memberontak kepada penguasa muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya apakah boleh memberontak kepada penguasa beliau jawab (artinya): “Tidak boleh,  selama mereka masih shalat.” (HR.Muslim). Dalam hadits yang lain diungapkan tidak boleh memberontak kecuali kalau telah melihat kekafiran yang nyata yang dilakukan pemimpin. Toh, seandainya ada penguasa yang kafir tidak serta merta langsung memberontak. Perlu ditimbang dengan matang dampak yang timbul dari pemberontakan kepada penguasa kafir. Jangan sampai timbul kerusakan yang lebih besar seperti binasanya kaum muslimin dan sebagainya.

Demonstrasi

Kalau dilihat sepintas, maka demonstrasi merupakan perbuatan yang sangat terpujiyaitu dalam rangka membela yang tertindas dan menyingkirkan rezim yang penuh kezhaliman. Namun kalau kita melihat lebih cermat, tentu dari sudut pandang syariat Islam, maka dalam demonstrasi ada banyak penyimpangan terhadap syariat seperti :

a) demo merupakan bentuk pemberontakan kepada pemerintah dimana memberontak kepada pemerintah muslim dilarang dalam syariat Islam sebagaimana telah lewat dalil – dalilnya.

Mungkin ucapan ini segera disanggah bahwa demo yang terjadi bukanlah mengangkat senjata jadi tidak tepat dikatakan sebagai pemberontakan. Demikian sanggahan itu. Namun, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa tidak mungkin terjadi pemberontakan dalam bentuk mengangkat senjata kecuali pasti didahului pemberontakan dalam bentuk ucapan dan kata – kata yang memprovokasi. Hal ini berupa celaan kepada penguasa dan menutup – nutupi kebaikan mereka yang dengan ini akan menjadikan kalbu – kalbu manusia dipenuhi kemarahan kepada penguasa. Jadi, pasti ada tahap pendahuluan berupa provokasi sebelum diangkatnya senjata sehingga demo dan provokasi massa juga bagian dari pemberontakan.

b) sebuah demo hampir mustahil terbebas dari celaan kepada pemerintah di hadapan umum. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam bersabda (artinya) : “Barangsiapa merendahkan penguasa Allah di muka bumi maka Allah akan merendahkannya.” (hadits ini dihasankan Syaikh Al Albani rahimahullah). Mungkin mereka berdalih bahwa itu semua dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar dan untuk menghilangkan kezhaliman. Kita katakan bahwa amar ma’ruf nahi munkar adalah salah satu pondasi penting dalam Islam namun semua ada rambu – rambunya termasuk kepada penguasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya) : “Barangsiapa ingin menasihati penguasanya maka janganlah melakukannya di hadapan manusia namun hendaklah dia gandeng tangannya [rahasia] dan dengan sembunyi – sembunyi. Kalau diterima maka itu baik, kalau tidak diterima maka dia telah melakukan kewajibannya [dalam menasihati].” (HR.Ahmad dan dishahihkan Syaikh Al Albani). Pengingkaran kepada penguasa di muka umum akan menimbulkan kebencian di dada – dada manusia terhadap penguasa. Terlebih seringkali hal ini terjadi tidak di hadapan penguasa langsung dimana seandainya dilakukan di hadapan penguasa memungkinkan baginya untuk membela diri atau menjelaskan alasannya terhadap apa yang dianggap rakyatnya sebagai kesalahan.

c)   sering ditumpahkan darah dan hilangnya jiwa pada suatu demonstrasi terlebih kalau demo itu bertujuan menggulingkan kekuasaan. Apa yang terjadi di Tunisia kemudian disusul dengan Mesir dan Libya adalah bukti nyata yang tidak terpungkiri. Berapa banyak demonstrasi yang awalnya didengung – dengungkan sebagai demonstrasi damai namun pada akhirnya berujung pada tertumpahnya darah baik dari kalangan demonstran maupun dari kalangan yang membela penguasa seperti para tentara. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya) : “Hilangnya dunia seisinya sungguh lebih ringan di sisi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa alasan yang benar.” (HR.Ibnu Majah dan Syaikh Al Albani menghasankannya.) Dalam hadits lain : “Seandainya seluruh penduduk langit dan bumi bekerja sama dalam membunuh seorang mukmin niscaya Allah akan campakkan mereka semua ke dalam neraka.” (HR.Tirmidzi dan Syaikh Al Albani menghasankannya). Syaikh Rabi’-seorang ulama besar-mengingatkan kekacauan yang terjadi di negara Somalia ketika penguasa yang zhalim digulingkan ketika itu. Ternyata, sampai hari ini pertumpahan darah terus terjadi di sana dan kita tidak tahu apakah bisa berakhir. Yang terjadi di Irak pun tidak jauh beda.

Di sisi lain, Rasulullah shaallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan (artinya) : “Barangsiapa keluar/memberrontak kepada penguasa walaupun sejengkal saja kemudian dia mati maka matinya adalah mati jahiliyah.” (HR.Bukhari Muslim). Maka, kita khawatir kematian demonstran yang berniat menggulingkan kekuasaan penguasa muslim termasuk ke dalam hadits ini dan sama sekali bukan mati syahid. Na’udzubillahi min dzalik.

d)   dihinakannya kehormatan dan harta kaum muslimin dimana ini terjadi pada sebagian besar demonstrasi yang terjadi baik berupa pengrusakan, penjarahan, pembakaran, dan sebagainya. Ini semua tentu merupakan kemungkaran yang besar dan pelakunya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

e) Tidak tegaknya amar ma’ruf nahi munkar diantara para demonstran itu sendiri karena tujuan yang sama diantara mereka dan mereka membutuhkan satu sama lain. Syaikh Muhammad Al Imam-seorang ulama dari  Yaman-menyebutkan bahwa ketika demonstrasi di Lapangan Tahrir yang menjadi pusat demonstran Mesir untuk menggulingkan Husni Mubarak terjadilah pemandangan yang aneh tapi nyata: seorang muslim mengangkat Al Quran, dan disampingnya seorang Nasrani mengangkat Injil. Yakni telah hilang amar ma’ruf nahi munkar. Ini tidak lain merupakan buah dari demokrasi yang diagung – agungkan para demonstran. Yaitu : kebebasan mutlak bagi setiap individu menentukan pilihannya dalam berbagai hal selama tidak mengganggu orang lain.

f) terlupakannya kemungkaran lain yang lebih besar bahkan merupakan dosa terbesar yaitu kesyirikan kepada Allah. Sebagaimana jawaban Rasulullah ketika ditanya tentang dosa terbesar maka beliau menjawab : syirik. (HR.Bukhari).

Pada akhirnya, marilah kita renungkan hadits shahih yang artinya : “Tidaklah manusia mengurangi takaran dan timbangan melainkan akan ditimpakan kepada mereka [adzab berupa]kekeringan, kesuitan hidup, dan adanya kezhaliman penguasa atas rakyatnya.” (HR.Ibnu Majah dan Syaikh Al Albani menshahihkannya).

Imam Hasan Al Basri mengatakan bahwa kezhaliman penguasa merupakan adzab Allah yang tidak bisa diselesaikan dengan mengangkat senjata/memberontak. Adzab ini bisa hilang dengan doa, taubat, dan menjauhi berbagai kemaksiatan. Allahu A’lam.

, , , , , , , , , ,

  1. #1 by cah ponorogo on Rabu,25 Mei 2011 - 05:38

    bagus banget ana minta izin cetak mau ana tempel dimasjid. syukron

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: