Amanah


Penulis : Abu Abdillah Al Jawy

Penunaian amanah merupakan sebuah kewajiban sebagaimana yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala katakan dalam Al Quran (yang artinya):
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian agar kalian menunaikan amanat amanat kepada pihak yang berhak menerimanya…” (An Nisaa 58).

Bahkan pernah diriwayatkan dari junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebuah hadits (artinya): “Tidak ada iman bagi yang tidak memiliki sifat amanah”. Hadits ini menunjukkan bahwa masalah amanah merupakan masalah yang sangat penting dalam agama ini. Dalam hadits yang lain beliau mengingatkan kita bahwa diantara sifat-sifat kemunafikan adalah berkhianat terhadap kepercayaan yang diberikan.

Shahabat Imran ibn Hushain radhiyallahu ‘anhu pernah meriwayatkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya: “Sebaik baik generasi adalah generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya. Kemudian akan datang setelahnya suatu kaum yang suka memberikan persaksian padahal mereka tidak diminta persaksiannya, mereka berkhianat dan tidak terpercaya,…” Hadits ini mengandung berbagai faedah, diantaranya :

– Sebaik-baik generasi adalah generasi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersama para shahabatnya, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya lagi.
– Semakin jauh dari generasi kenabian maka kejelekan akan semakin banyak. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyatakan bahwa hari kiamat tidak akan terjadi kecuali pada kaum/generasi terjelek.
– Hilangnya amanah merupakan salah satu kejelekan yang menonjol di akhir zaman.
– Bermudah-mudahan dalam bersaksi padahal tidak diminta adalah hal yang tercela.[dikecualikan dalam hal ini kalau seandainya tidak bersaksi akan menimbulkan kerugian bagi pihak yang benar.

Ketika telah hilang sifat amanah secara menyeluruh dari suatu kaum, maka keadaannya seperti yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam gambarkan dalam haditsnya bahwa seseorang akan disanjung bahwa dia cerdas dan terpuji padahal di dalam kalbunya tidak ada sedikitpun iman.

Amanah menurut Syaikh As Sa’di adalah setiap kepercayaan yang diberikan kepada seseorang yang dia diminta untuk menjaganya. Hal ini bisa berupa harta, suatu rahasia, kedudukan, dan lainnya. Termasuk di dalam pengertian amanah adalah kewajiban-kewajiban syariat yang pelaksanaannya tidak diketahui oleh orang lain kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. Kalau melihat pengertian amanah di depan, maka secara garis besar amanah bisa terdapat dalam urusan dunia dan urusan agama.

Dalam urusan agama, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi kita amanah berupa tubuh yang lengkap disertai dengan akal. Amanah yang diembankan kepada kita adalah agar kita mempergunakan nikmat-nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala ini untuk beribadah kepada-Nya karena memang itulah tujuan dari penciptaan jin dan manusia yaitu untuk beribadah kepada-Nya.

Kalau kita lihat lebih jauh, mata adalah amanah, telinga adalah amanah, lisan adalah amanah, dan seterusnya dari anggota-anggota tubuh kita adalah amanah/titipan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jangan sampai kita sia-siakan apalagi dipakai untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah mengaruniai kita nikmat-nikmat tersebut. Kapan kita memakai nikmat tersebut dengan tidak sebagaimana mestinya maka dikhawatirkan kita telah berkhianat kepada pemberi amanah itu.

Beberapa contoh pengkhianatan terhadap amanah terkait masalah agama :

– Seseorang diberi amanah berupa harta. Ternyata, dia memakai hartanya untuk mensponsonsori acara larung sesaji yang notabene merupakan bentuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan, termasuk syirik besar yang bisa mengeluarkan pelakunya dari keislaman karena larung sesaji berarti dia mempersembahkan sesuatu yang seharusnya diberikan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala namun justru diberikan kepada jin dan syaithon.

– Banyak dari kaum muslimin yang berpaling dari mempelajari agamanya sebagaimana ajaran yang datang dari nabi-Nya. Mereka hanya mencontoh apa yang dilakukan kebanyakan orang. Mereka terlalu disibukkan dengan mengejar dunia mereka.

– Contoh lain, sebagian orang mengumpulkan zakat dari kaum muslimin tapi tidak menyalurkan zakat tersebut kepada pihak pihak yang memang berhak menerimanya yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala jelaskan dalam kitab-Nya.

Dalam urusan dunia, khianat terhadap amanah juga telah dilakukan oleh manusia dengan berbagai jenis dan derajat diantaranya :

– Korupsi di negeri ini, negeri yang sebagian besar penduduknya adalah kaum muslimin adalah contoh yang sangat nyata dari pengkhianatan terhadap amanah.

– Suap yang dibungkus dengan embel-embel hadiah terhadap seorang pejabat. Junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa-sallam pernah mengatakan tentang hal ini:
“Mengapa dia [pejabat/pegawai] tidak duduk-duduk saja di rumahnya sehingga datang hadiah kepadanya seandainya dia jujur [kalau itu memang murni hadiah yang diperuntukkan baginya].”

– Mencuri-curi jam kerja. Baik dengan telat masuk kantor, mengulur-ulur jam istirahat, atau pulang lebih cepat apalagi ketika pimpinan sedang tidak di kantor. Seorang ulama besar, Syaikh ‘Utsaimin, bahkan menyerupakan perbuatan mengkorupsi jam kerja seperti ini dengan al muthoffifin yaitu orang-orang yang curang dalam masalah timbangan. Kalau dia sebagai penjual maka dia mengurangi timbangan dan kalau dia sebagai pembeli maka dia minta timbangan yang lebih. Begitu juga pegawai ini, dia mencuri waktu alias tidak menunaikan amanah sebagaimana mestinya, tapi dia akan marah besar atau bahkan berdemo seandainya gajinya dikurangi atau tertunda. Jadi, perlu diingat korupsi tidak hanya dilakukan oleh para pejabat di tingkat atas. Para pegawai di tingkat rendah pun melakukan korupsi yang walaupun tingkatnya kecil tapi tetap dikatakan korupsi. Mungkin, seandainya para pegawai di tingkat bawah itu diberi jabatan yang tinggi, dia pun akan melakukan korupsi yang besar pula.

– Menyalahgunakan kendaraan dinas untuk kepentingan pribadi.

– Utusan dari suatu perusahaan yang ditugaskan mencari barang bagi perusahaan dengan kualitas baik dan harga miring. Ternyata, dengan hadiah yang diberikan toko tertentu dia hanya mengambil barang dari toko tersebut tanpa menunaikan amanah perusahaan sebagaimana mestinya.

– Menggunakan fasilitas kantor seperti pena dan kertas untuk kepen-tingan pribadi, kecuali pada perangkat kantor yang seandainya dipakai tidak mengurangi kadarnya seperti peng-garis.

Beberapa contoh di atas adalah sedikit dari hal-hal lain yang banyak terjadi di masyarakat berupa pengkhianatan kepada amanah yang tidak lain sebagai bentuk korupsi. Maka, kita tidak boleh hanya mengkritisi para pejabat di tingkat atas tapi juga mari kita kritisi diri kita masing-masing. Kita bersama melakukan muhasabatun nafs [koreksi diri].

Bagaimanapun juga, adanya para pemimpin/pejabat yang zhalim adalah bagian dari hukuman Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada suatu kaum yang suka mengurangi timbangan sebagaimana hal ini telah dinyatakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh shahabat Ibnu ‘Abbas dan Buraidah radhiyallahu ‘anhum. Sebagian kaum muslimin begitu getol menyuarakan penegakan syariat di suatu negara tapi ternyata mereka sendiri belum bisa menegakkan syariat Islam dalam diri mereka dan dalam keluarga mereka. Allahul musta’an.

Beberapa kalimat sebagai renungan :
– Sifat dasar manusia adalah banyak berbuat zhalim dan banyak kebodohan (Surat Al Ahzab ayat 72)
– ”Setiap daging [manusia] yang tumbuh dari yang haram maka api neraka lebih berhak untuk menjilat-nya”. (HR Muslim)
– ”Setiap kalian adalah penanggung-jawab dan setiap kalian akan ditanya tentang apa yang menjadi tanggung-jawabnya” (HR Bukhari Muslim)
– ”Setiap orang yang curang akan memiliki sebuah bendera pada hari kiamat sehingga [akan terkenal dan] akan dikatakan inilah kecurangan fulan ibn fulan.” [dengan disebut namanya dan nama ayahnya]. (HR Bukhari Muslim)
– ”Sesungguhnya sholat akan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (Surat al Ankabut 45).
Kalau kita sudah mengerjakan sholat tapi masih melakukan berbagai kemungkaran maka perlu kita koreksi kembali sholat kita. Apakah sudah sesuai dengan tata-cara sholat Rasulullah shallallahu alaihi wa-sallam? Apakah kalbu kita ikut sholat dan merasa menghadap Allah bersama tubuh dan lisan kita atau kalbu kita lalai? Perlu diingat, yang diminta dari kita adalah menegakkan sholat dan bukan sekedar mengerjakan sholat.
Allahulmuwaffiq.

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: