MENGHORMATI BULAN RAJAB


Al Ustadz Abdurrahman

Para pembaca yang mulia, kalau pada edisi ke-14 yang lalu kita telah membaca tentang hadits-hadits lemah dan palsu tentang kemuliaan bulan Rajab, maka pada edisi ke-16 ini kami berkeinginan untuk mengetengahkan tema tentang kedudukan bulan Rajab yang sebenarnya menurut timbangan syariat.

Namun sebelum itu perlu untuk kita ketahui bahwa manusia terbagi menjadi 3 keadaan dalam menyikapi bulan Rajab:

1)       Golongan manusia yang bersikap ifrath (berlebih-lebihan dalam memuliakan) bulan Rajab sampai-sampai memunculkan, meyakini atau mengamalkan hadits-hadits lemah dan palsu tentang kemuliaan bulan tersebut secara khusus.

2)       Golongan manusia yang bersikap tafrith (meremehkan) kemuliaan bulan Rajab sampai-sampai tidak mau peduli terhadap kemuliaan bulan tersebut.

3)       Golongan manusia yang bersikap wasath (pertengahan) dengan menempatkan kedudukan bulan Rajab sebagaimana mestinya.

Ironisnya, golongan yang pertama bersama yang kedua ternyata jumlahnya jauh lebih banyak daripada golongan ketiga. Memang sangat disayangkan, tapi itulah realita yang telah terjadi sejak dahulu dan telah diisyaratkan Allah sendiri dalam salah satu ayat-Nya (artinya):

“Ikutilah apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian (berupa petunjuk) dan janganlah kalian mengikuti (petunjuk-petunjuk) selain-Nya. Sangat sedikitlah dari kalian yang mengambil pelajaran.” (Al A’raaf : 3)

Bila kita perhatikan ayat yang mulia, maka kita dapat memetik faedah:

1)       Perintah untuk mengikuti petunjuk Allah berupa kebenaran.

2)       Larangan dari mengikuti petunjuk selain petunjuk Allah berupa kebatilan.

3)       Ketentuan (sunnatullah) bahwa yang mengikuti kebenaran itu jumlahnya lebih sedikit daripada yang mengikuti kebatilan.

Atas dasar itu bila ternyata muncul sebuah kebatilan beserta pengikutnya, maka janganlah dibiarkan atau sebaliknya dipungkiri kenyataannya di tengah umat. Akan tetapi, hendaknya umat diperingatkan dari kebatilan beserta pengikutnya dengan harapan kebaikan umat tetap terjaga sekaligus kebatilan sirna dan pengikutnya kembali ke jalan kebenaran. Itulah hakekat dan tujuan sebuah peringatan.

 

Bulan Rajab Adalah Salah Satu Arba’atun Hurum

Arba’atun Hurum maksudnya 4 bulan yang memiliki kehormatan. Keberadaan 4 bulan tersebut dinyatakan Allah Ta’ala dalam firman-Nya (artinya):

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah itu ada 12 bulan. Kesemuanya dalam ketetapan Allah di hari Dia menciptakan langit dan bumi. Di antara (12 bulan) tersebut terdapat 4 bulan yang memiliki kehormatan…” (At Taubah : 36).

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menegaskan dalam salah satu sabda beliau (artinya):

“….1 tahun itu ada 12 bulan. Diantara 12 bulan tersebut ada 4 bulan yang memiliki kehormatan, 3 diantaranya tiba berturut-turut yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Sedangkan yang satu adalah Rajab yang merupakan bulan pilihan orang dari Mudhar dan terletak antara bulan Jumada (Jumadats Tsaniyah / Jumadal Akhirah) dan Sya’ban….” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Apabila sesuatu itu mendapatkan kehormatan dari Allah Yang Maha Mulia, maka kita juga turut memberikan penghormatan kepadanya. Barangsiapa mengagungkan sesuatu yang diagungkan Allah, maka dia akan mendapatkan pahala dari sisi Allah. Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman (artinya):

“Demikianlah (perintah Allah). Maka barangsiapa mengagungkan sesuatu yang diagungkan di sisi Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Rabbnya.” (Al Hajj : 30).

Maka kita memuliakan bulan Rajab karena Allah memuliakannya dan itu adalah tanda kecintaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Bulan Rajab tetap memiliki kemuliaan dan kehormatan karena Allah sendiri yang memuliakannya, sekalipun banyak diantara manusia yang tidak peduli dengan hal itu.

Di sisi lain, kemuliaan bulan Rajab tidak bertambah sedikit pun dengan muncul dan tersebarnya hadits-hadits lemah atau palsu tentang kemuliaan bulan tersebut. Cukuplah dengan kemuliaan dari Allah, sesuatu itu memiliki kemuliaan. Kita hanya seorang hamba yang tunduk dan patuh sepenuhnya terhadap tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Seorang shahabat mulia bernama Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata : “Ikutilah (petunjuk Allah dan Rasul-Nya) dan janganlah kalian membuat perkara-perkara baru pada agama ini. Sungguh kalian telah diberi kecukupan (berupa syariat ini).” (Syarhus Sunnah Al Laalika’I 1/1/86).

 

Faedah

Bila kita perhatikan urutan bulan-bulan hijriyah / Islam dalam satu tahun, maka kita dapati bahwa dalam satu tahun itu diawali dengan bulan Muharram, ditengahi dengan bulan Rajab dan diakhiri dengan bulan Dzulhijjah. Sedangkan ketiga bulan tersebut adalah bulan-bulan yang memiliki kehormatan. Wallillahil Hamdu.

 

Sikap Pertengahan (Wasath) Terhadap Bulan Rajab

Sikap ini akan dimiliki seseorang apabila ia senantiasa berpijak lurus di atas tuntunan syariat. Bila seseorang telah memiliki sikap ini maka seketika itu juga ia akan terhindar dari sikap ifrath maupun tafrith.

Para ulama menyebutkan bahwa pahala amal shaleh akan dilipatgandakan apabila dikerjakan di waktu atau tempat yang memiliki kehormatan dibandingkan di waktu atau tempat lain. Demikian pula dosa amal kejelekan juga dilipatgandakan apabila dikerjakan di waktu atau tempat yang memiliki kehormatan dibanding dosa di waktu atau tempat yang lain. Dengan demikian amalan shaleh yang dilakukan di bulan Rajab akan dilipatgandakan pahalanya sebagaimana amalan kejelekan juga akan dilipatgandakan dosanya bila dikerjakan di bulan tersebut.

Namun satu hal yang patut kita jadikan patokan bahwa selama syariat tidak menetapkan dzat, tata cara atau keutamaan khusus dari sebuah ibadah bila dilakukan di waktu atau tempat tertentu, maka kita menunaikan ibadah di waktu atau tempat tersebut sebagaimana ibadah di waktu atau tempat lain.

Berdasar pernyataan para ulama dan adanya patokan yang kita sebutkan ini, maka sikap pertengahan (wasath) terhadap bulan Rajab adalah:

1)       Tetap menjaga ketaatan kepada Allah di bulan tersebut dengan menjalankan amal shaleh seiring harapan dilipatgandakan pahalanya di sisi Allah. Demikian pula menjauhi amal kejelekan seiring rasa takut dari dilipatgandakan dosanya oleh Allah Ta’ala.

2)       Menjalankan amal shaleh di bulan Rajab tanpa diiringi keyakinan tentang dzat, tata cara atau keutamaan amal shaleh di bulan tersebut secara khusus.

Wallahu a’lam Bish Shawaab.

 

Larangan Menzhalimi Diri Sendiri Di Bulan Rajab

Dalam satu satu ayat, Allah Ta’ala berfirman (artinya):

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah itu ada 12 bulan. Kesemuanya dalam ketetapan Allah di hari Dia menciptakan langit dan bumi. Diantara (12 bulan) tersebut terdapat 4 bulan yang memiliki kehormatan. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menzhalimi diri kalian pada bulan-bulan tersebut.” (At Taubah : 36)

Saat menyampaikan ayat ini dalam salah satu khutbah, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkata : “Rabb kita Ta’ala telah melarang kita untuk menzhalimi diri-diri kita pada bulan-bulan tersebut. Sedangkan larangan dari menzhalimi diri sendiri itu meliputi seluruh keadaan dan tempat (dimana kita berada-pen). Namun 4 bulan ini memiliki kekhususan yang perbuatan zhalim terhadap diri sendiri pada 4 bulan itu keadaannya lebih berat. Atas dasar itu Allah melarang dari kezhaliman pada bulan-bulan tersebut secara tersendiri. Maka hendaknya kalian menghormati dan mengagungkan bulan-bulan tersebut. Jauhilah perbuatan zhalim terhadap diri sendiri di bulan-bulan itu agar kalian beruntung. Lalu bila kalian bertanya : “Apa itu perbuatan zhalim terhadap diri sendiri?” (Jawabannya-pen) Perbuatan zhalim terhadap diri sendiri bentuknya ada 2 macam:

–          Meninggalkan perintah Allah

–          Melakukan larangan Allah

Itu semua adalah perbuatan zhalim terhadap diri sendiri. Jiwa itu merupakan amanah untukmu, sehingga engkau wajib menjaga amanah tersebut dengan sebaik-baiknya. Arahkanlah jiwamu untuk mengerjakan sesuatu yang merupakan kebahagiaan dan kebaikan bagi jiwa tersebut serta jauhkan ia dari sesuatu yang merupakan kesengsaraan dan kejelekan baginya.” (Lihat Adh Dhiyaa’ul Laami’ Minal Khurhabil Jawaami’).

 

Antara Bulan Rajab dan Isra’ Mi’raj

Para pembaca yang mulia, tidak bias disangkal lagi bahwa Isra’ Mi’raj merupakan tanda kekuasaan Allah dan kemuliaan peristiwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Kita harus meyakini bahwa peristiwa besar ini memang benar-benar terjadi karena Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam menegaskan hal itu.

Namun yang menjadi pertanyaan bagi kita saat ini dan selanjutnya:

  1. Apakah peristiwa Isra’ Mi’raj itu memang terjadi di bulan Rajab (tepatnya tanggal 27) ?
  2. Kalau memang peristiwa tersebut terjadi di bulan Rajab lalu apakah ada tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam agar mengadakan perayaan Isra’ Mi’raj di bulan tersebut?

Kalau kami diberi ijin untuk menjawab 2 pertanyaan ini, maka kami akan menyatakan sebagaimana yang pernah dinyatakan Samahatu asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah bahwa:

  1. Peristiwa Isra’ Mi’raj tidak disebutkan di dalam hadits-hadits yang shohih tentang penentuan kapan terjadinya, tidak di bulan rajab dan tidak pula selain di bulan Rajab. Setiap riwayat yang menyebutkan penentuan waktunya adalah riwayat yang tidak sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam menurut para ulama hadits. Hanya milik Allah hikmah yang sempurna kenapa Allah menjadikan manusia tentang penentuan waktunya.
  2. Bila seandainya penentuan waktunya ternyata sah dari Nabi Shalllallahu ‘alaihi Wasallam maka kaum muslimin tidak diperkenankan untuk mengkhususkan malam Isra’ Mi’raj dengan suatu ibadah tertentu dan merayakannya. Hal itu disebabkan Nabi Shallallhu ‘alaihi Wasallam dan para shahabat Radhiyallahu ‘anhum tidak pernah merayakannya dan mengkhususkan malam Isra’ Mi’raj dengan ibadah tertentu.

Wallahu a’lamu Bish Shawaab.

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: