NISHFU SYA’BAN


Yang dimaksud dengan istilah Nishfu Sya’ban adalah pertengahan bulan Sya’ban yang dikhususkan padanya perkara- perkara tertentu seperti mengadakan perayaan di malam harinya, menunaikan shalat tertentu di malam harinya pula atau mengerjakan puasa di siang harinya.

Berkaitan dengan hal ini, redaksi akan membawakan fatwa ulama yang semoga memberikan faedah dan manfaat bagi kita semua.

Hukum Perayaan Malam Nishfu Sya’ban

Berikut ini akan kami nukilkan fatwa Samahatu asy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah (mantan Ketua Majelis Ulama Senior dan Komite Tetap Fatwa , Riset dan Dakwah Saudi Arabia):

“Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan agama dan kenikmatanNya bagi kita. Shalawat dan salam tercurahkan kepada nabi dan rasulNya Muhammad sebagai nabi yang penuh rahmat dan kasih sayang. Selanjutnya, Allah Ta’ala telah berfirman (artinya): “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, Aku cukupkan bagi kalian nikmatKu dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agama kalian” [Al Maidah 3].

Allah Ta’ala berfirman (artinya): “Apakah mereka memiliki sekutu- sekutu yang membuat syariat agama bagi mereka yang tidak diijinkan Allah?” [Asy Syuuraa 21].

Di dalam ash-Shahihain dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, bersabda (artinya): “Barangsiapa membuat perkara baru dalam urusan (agama) kami yang sebenarnya tidak ada contohnya dari urusan kami maka ia tertolak.” Dalam Shohih Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah berkata dalam khutbah Jum’at: ”Selanjutnya, sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah (Al Qur’an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang dibuat-buat (dalam agama ini) serta setiap perkara yang dibuat-buat itu adalah kesesatan.”

Ayat dan hadits yang semakna dengan ini jumlahnya banyak. Ini benar-benar menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyempurnakan agama untuk umat ini, mencukupkan nikmatNya untuk mereka dan tidaklah mewafatkan nabiNya ‘alaihi ash-shalatu waas-salam kecuali setelah nabi tersebut menyampaikan risalah yang jelas dan menjelaskan seluruh yang diajarkan Allah baik berupa ucapan atau perbuatan kepada umat ini. Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam telah menjelaskan bahwa setiap perkara yang dibuat manusia sepeninggal beliau lalu disandarkan kepada agama Islam baik berupa ucapan atau perbuatan, itu semua adalah bid’ah dan orang yang membuat/ mengerjakannya tertolak sekalipun ia memiliki niat yang baik untuk itu. Perkara ini telah diketahui oleh sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Demikian pula para ulama Islam setelah mereka. Mereka mengingkari perbuatan bid’ah dan mengingatkan tentang hal itu. Pengingkaran ini disebutkan oleh setiap ulama yang menulis tentang pengagungan as Sunnah dan pengingkaran bid’ah seperti Ibnu Wadhdhah, Ath Thurtusi, Abu Syaamah dan selainnya.

Diantara perkara yang diada-adakan oleh sebagian manusia adalah perayaan malam Nishfu Sya’ban dan mengkhususkan hari itu (siangnya-pen) dengan puasa. Sebenarnya hal itu tidak ada dalil yang mendasarinya. Telah diriwayatkan hadits-hadits lemah tentang keutamaan hari itu yang tidak boleh dijadikan sandaran hukum. Adapun hadits-hadits tentang keutamaan shalat di hari itu adalah hadits-hadits palsu semua, sebagaimana dijelaskan para ulama …..” [Dinukil dari Hiraasatut Tauhid halaman 60-61]

Kemudian asy-Syaikh rahimahullah menyebutkan beberapa pernyataan para ulama, diantaranya: “Al Hafizh Al ‘Iraaqi berkata: “Hadits tentang shalat malam Nishfu Sya’ban adalah palsu dan kedustaan yang diatasnamakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam”. Al Imam an-Nawawi dalam kitab al Majmu’ berkata:Shalat yang dikenal dengan nama Shalat Ragha’ib yang berjumlah 12 raka’at dan dikerjakan antara Maghrib dan ‘Isya’ di malam Jum’at pertama bulan Rajab, demikian pula shalat malam Nishfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat keduanya adalah perkara yang diada-adakan dan mungkar. Janganlah terpedaya dengan pernyataan dan hadits yang disebutkan dalam kitab Quutul Qulub dan Ihya’ Ulumiddin. Pernyataan dan hadits tersebut seluruhnya bathil. Jangan pula terpedaya oleh sebagian ulama yang tersamarkan oleh hukum dua shalat tadi. Sampai-sampai membuat tulisan dalam beberapa lembar tentang sunnahnya dua shalat tersebut. Sesungguhnya hal ini adalah keliru..”[ Dinukil dari Hiraasatut Tauhid hal 65-66]

Perlu untuk kita ketahui bahwa Al Hafizh Al ‘Iraaqi dan Al Imam An-Nawawi adalah ulama besar dari madzhab Syafi’i. Walillaahil Hamdu.

Hukum Mengkhususkan Hari Nishfu Sya’ban Dengan Shalat Atau Puasa

Berikut ini akan kami bawakan fatwa Asy Syaikh Al ‘Al’aamah Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan Hafizahullah (anggota Majelis Ulama Senior dan Komite Tetap Fatwa, Riset dan Dakwah Saudi Arabia). Tatkala beliau ditanya: “Apakah ada keterangan Al Qur’an atau hadits nabi yang memberi faedah tentang shalat di malam Nishfu Sya’ban dan puasa di siang harinya? Bila memang ada lalu bagaimana tata cara shalat di malam Nishfu Sya’ban tersebut?” maka beliau menjawab: “Sesungguhnya tidak sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam tentang pengkhususan malam Nishfu Sya’ban (dengan shalat  -pen), demikian pula di hari kelima belas dari bulan Sya’ban. Tidak sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam satu dalil pun yang bisa dijadikan sandaran hukum. Malam Nishfu Sya’ban sama halnya dengan malam-malam lain. Barangsiapa yang memiliki kebiasaan shalat malam atau tahajjud di malam hari maka ia tetap melakukan kebiasaan tersebut baik di malam Nishfu Sya’ban maupun malam-malam lain, tanpa ada pengkhususan pada malam Nishfu Sya’ban. Sebab pengkhususan sebuah waktu dengan melakukan ritual ibadah tertentu harus berdasarkan dalil yang shahih.

Maka bila tidak ada dalil shahih, jadilah pengkhususan sebuah waktu dengan ritual ibadah tersebut sebagai bid’ah dan setiap bid’ah itu kesesatan.

Demikian pula tidak ada riwayat tentang puasa di hari kelima belas dari bulan Sya’ban atau pertengahan Sya’ban. Tidak ada dalil yang sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang menunjukkan tuntunan puasa di hari itu. Selama tidak ada satu pun dalil yang shahih tentang pengkhususan tersebut maka mengkhususkan hari itu dengan puasa adalah bid’ah. Bid’ah adalah sesuatu yang diyakini pelakunya sebagai ibadah kepada Allah namun ternyata tidak memiliki dalil baik dari Kitabullah maupun sunnah rasulNya Shallallahu’alaihi Wasallam. Ibadah itu adalah tuntunan yang harus ada dalilnya dari pembuat syariat. Adapun hadits-hadits tentang permasalahan Nishfu Sya’ban ini seluruhnya lemah, sebagaimana dinyatakan para ulama. Maka tidak ada landasan dalam penetapan sebuah ibadah padanya baik shalat di malam Nishfu Sya’ban tersebut maupun puasa. Namun, barangsiapa yang memiliki kebiasaan puasa tiga hari di pertengahan tiap bulan maka dia tetap berpuasa pada bulan Sya’ban sebagaimana dia juga berpuasa di bulan-bulan lainnya. Atau, barangsiapa berpuasa Senin dan Kamis lalu bertepatan dengan pertengahan Sya’ban maka tidak mengapa ia tetap melanjutkan kebiasaannya tersebut. Bukan karena adanya pengkhususan terhadap pertengahan Sya’ban.

Demikian pula (hal itu diperbolehkan bagi) seseorang yang banyak berpuasa di bulan Sya’ban sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam banyak berpuasa di bulan tersebut. Namun dia jangan mengkhususkannya di hari kelima belas dengan puasa. Puasa di hari kelima belas tersebut hanyalah ia jadikan sebagai rangkaian dari puasa-puasa (hari-hari) sebelumnya di bulan Sya’ban.

Kesimpulannya, bahwa tidak ada dalil yang shahih tentang pengkhususan malam Nishfu Sya’ban dengan menghidupkan shalat padanya. Demikian juga tidak ada dalil yang shahih tentang pengkhususan hari kelima belas bulan Sya’ban dengan puasa. Apa yang dilakukan sebagian orang terkhusus orang awam di malam atau hari itu (dengan shalat khusus dan puasa khusus –pen) merupakan perkara yang diada-adakan dan wajib untuk dilarang serta diingatkan. Ibadah-ibadah yang telah sah dari nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam berupa shalat dan puasa sebenarnya sudah cukup dan tidak membutuhkan perkara-perkara yang diada-adakan tersebut. Wallahu Ta’ala A’lam.”

[Dinukil dari Al Muntaqa Min Fataawa asy Syaikh Al Fauzan 1/199-200]

, , , , , , , ,

  1. #1 by abumuawiah on Selasa,19 Juli 2011 - 10:01

    Insya Allah akan terbit di bulan Ramadhan: Ezine Islami Al-Atsariyyah. Selengkapnya silakan lihat di sini: http://al-atsariyyah.com/ezine-al-atsariyyah.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: