Kesungguhan di 10 Hari Akhir Ramadhan


Asy Syaikh Muhammad Bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah

 Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik –dengan rahmatNya- kepada orang-orang yang dia kehendaki, sehingga mereka mengerti tentang kedudukan bulan kebaikan lalu menyemarakannya dengan ketaatan. Segala puji bagi Allah yang telah menghinakan orang-orang yang dia kehendaki dengan hikmahNya, sehingga mata dan hati mereka buta lalu mengabaikan bulan tersebut. Akhirnya mereka menukar dengan kerugian. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tidak ada sekutu bagiNya Dzat Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana dan Maha Mengalahkan. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya, sosok manusia yang paling lurus ketaatan kepada Rabbnya secara lahir dan batin. Shalawat dan salam tercurahkan kepada beliau, keluarga, para sahabat dan pengikutnya yang baik.

Selanjutnya, wahai manusia : bertakwalah kepada Allah Ta’ala  dan ketahuilah bahwa Allah Ta’ala telah menjadikan malam dan siang itu datang silih berganti bagi seseorang yang ingin mengambil pelajaran atau seseorang yang ingin bersyukur. Malam dan siang merupakan perbendaharaan amal dan waktu perjalanan menuju akhirat. Seseorang menyimpan di malam dan siang tersebut perbendaharaan amalan yang telah dia tunaikan. Dia menghabiskan waktu demi waktu sampai berakhir kehidupannya. Maka hendaklah kalian melihat –semoga Allah merahmati kalian- apa yang kalian simpan di malam atau siang. Setiap jiwa akan menjumpai apa yang telah ia perbuat. Setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah ia perbuat dan apa yang telah ia lalaikan pada hari yang seseorang tidak mampu lagi mengerjakan apa yang pernah ia lalaikan. Allah berfirman (artinya):

Pada hari itu dieritakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang telah dilalaikannya. Bahkan manusia itu menjad saksi atas dirinya sendiri.” [Al iyaamah 13-15].

Wahai manusia, kalian telah melewati sebagian besar dari bulan puasa ini. Tidak tersisa kecuali beberapa hari dan malam saja. Barangsiapa di antara kalian telah beramal sebagaimana mestinya maka hendaklah kalian menyempurnakan lagi, memuji Allah dan berharap diterima Allah. Barangsiapa diantara kalian masih lalai dan berbuat jelek maka segeralah bertaubat kepada Rabbnya. Pintu taubat itu masih terbuka dan belum tertutup.

Wahai manusia, sesungguhnya kalian berada pada 10 hari akhir bulan mulia ini. Manfaatkanlah untuk melakukan ketaatan kepada Allah Dzat Maha Penolong dan Maha Agung. Perbaikilah siang harinya dengan puasa dan sinarilah malam harinya dengan shalat malam. Tutuplah bulan ini dengan taubat, istighfar, permintaan maaf dan keselamatan dari Neraka kepada Allah. Betapa banyak manusia berharap menjumpai 10 hari akhir ini, namun kematian menjemput mereka. Maka di kubur mereka tergadaikan tidak mampu lagi menambah amal shaleh dan bertaubat dari kelalaian. Adapun kalian telah menjumpai 10 hari akhir ini dengan kenikmatan dari Allah dalam keadaan sehat dan kuat. Bersungguh-sungguhlah di 10 hari akhir ini untuk beramal shaleh dan berdoa. Bisa jadi kalian akan meraih limpahan rahmat Allah Ta’ala sehingga kalian bahagia di dunia dan akhirat.

Wahai hamba Allah, nabi kita Shallallahu ‘alaihi Wasallam  dahulu mengagungkan 10 hari akhir ini, mengkhususkannya dengan i’tikaf di masjid dalam rangka menyibukkan diri untk beribadah kepada Rabbnya dan mencari Lailatul Qadar, yang Allah berfirman di dalam kitabNya (artinya): “Lailatul Qadar itu lebih baik daripada 1000 bulan.” [Al Qadar 3]. Maksud firman Allah tersebut bahwa Lailatul Qadar itu lebih baik dari 30.000 atau hampir 30.000 malam. Lebih baik dalam barakahnya dan apa yang dilimpahkan Allah Yang Maha Menolong dan Maha Mulia kepada hamba-hambaNya di malam itu berupa rahmat, ampunan, terkabulnya doa dan diterimanya amal shaleh.

Maka hendaklah kalian –hamba-hamba Allah-  bersungguh-sungguh dalam mencari malam itu. Hal ini sebagaimana nabi kalian Shallallahu ‘alaihi Wasallam  berbuat. Bila telah memasuki 10 hari akhir, maka beliau menyingsingkan “lengan bajunya” dengan menghidupkan malam harinya dengan ibadah. Ya, beliau melakukan hal itu dalam keadaan Allah telah mengampuni dosa beliau baik yang lalu maupun yang akan datang, dalam keadaan beliau adalah manusia yang paling bertakwa dan paling takut kepada Allah ta’ala. Lalu bagaimana dengan kita yang lalai dan melakukan dosa ?!

Hendaklah kalian –hamba-hamba Allah- bersungguh-sungguh dalam mencari malam yang mulia dan penuh berkah tersebut. Carilah kebaikan dan berkah malam itu dengan menjaga shalat-shalat wajib, memperbanyak shalat, menunaikan zakat, memperbanyak shadaqah, menjaga puasa, memperbanyak ketaatan, menjauhi kemaksiatan dan dosa serta menghindari permusuhan di antara kalian. Sesungguhnya permusuhan merupakan salah satu sebab dihalanginya seseorang dari kebaikan malam Lailatul Qadar. Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah keluar untuk memberitahu para sahabat tentang Lailatul Qadar. Ternyata dua orang muslim berselisih dan bermusuhan lalu dihapuslah kebaikan Lailatu Qadar dari keduanya.

Hendaklah kalian bersemangat utuk shalat malam bersama imam di awal malam atau akhir malam. Bila kalian bangun dari tidur maka ucapkanlah, “Alhamdulillahil Ladzii Ahyaana ba’da maa Amaatana wa ilaihin Nusyuur”. Berdzikirlah dan berdoalah kepada Allah. Bersucilah dan mulailah shalat malam kalian dengan 2 raka’at yang ringan. Hal itu dalam rangka mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Lepaskanlah ikatan-ikatan syaithan yang mengikat setiap orang yang tidur. Bila seseorang bangun tidur dan berdzikirlah kepada Allah maka lepaslah satu ikatan. Bila ia bersuci maka lepaslah ikatan kedua. Bila ia shalat maka lepaslah ikatan ketiga. Lalu jadilah ia bersemangat dan lapang jiwanya. Barangsiapa tiba di masjid dan ternyata imam telah mulai shalat namun dirinya belum shalat 2 raka’at yang ringan di rumah, maka hendaknya ia langsung bergabung dengan imam tersebut. Janganlah ia shalat 2 raka’at ringan agar tidak terpisah dari shalat jama’ah.

Hendaknya kalian memperpanjang shalat malam, memperpanjang bacaan shalatnya dan pahamilah bacaan tersebut. Panjangkanlah ruku’ dan i’tidalnya, panjangkanlah sujud dan duduk diantara dua sujud. Jadikanlah panjang i’tidal dan duduk antara dua sujud itu hampir menyamai panjang ruku’ dan sujudnya. Janganlah kalian berbuat seperti kebanyakan orang yang memanjangkan ruku’ namun memendekkan i’tidal atau memanjangkan sujud namun memendekkan duduk diantara dua sujud. Sesungguhnya hal itu berbeda dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Al Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Dahulu ruku’ dan sujud Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam hampir sama panjangnya dengan i’tidal dan duduk antara dua sujud.” Perbanyaklah mengagungkan Allah ketika ruku’ dengan ucapan: “Subhaana Rabbiyal ‘Azhim” atau semisal itu. Perbanyaklah memuji Allah ketika i’tidal sampai panjangnya hampir sama dengan ruku’nya. Perbanyaklah doa ketika sujud setelah ucapan: “Subhaana Rabbiyal A’laa” atau yang semisalnya. Doa ketika sujud itu lebih dikabulkan Allah dan sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Rabbnya adalah saat hamba tersebut melakukan sujud. Perbanyaklah doa ketika duduk di antara dua sujud sampai panjangnya hampir sama dengan sujudnya. Hadirkanlah hati kalian ketika shalat wajib dan shalat sunnah. Ikhlaskan saat berdoa dan teruslah meminta kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang terus menerus meminta kepadaNya ketika berdoa karena kecintaan  Dia terhadap kedermawanan dan kemurahan. Allah Ta’ala berfirman:

Dan bila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka sesungguhnya Aku ini dekat. Aku mengabulkan doa seseorang ketika dia berdoa kepadaKu. Maka hendaknya mereka memenuhi perintahKu dan beriman kepadaKu agar mereka mendapatkan petunjuk.” [Al Baqarah 186].

Ya Allah berikanlah kepada kami taufik untuk berdoa kepada-Mu dan anugerahkanlah kepada kami pengkabulan doa. Ya Allah terimalah doa dan ibadah kami, ampunilah kelalaian dan kesalahan kami. Ya Allah ampunilah kami, orang tua kami dan segenap kaum muslimin. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Shalawat dan salam tercurahkan kepada nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabat beliau.

 

Dialihbahasakan dari salah satu khutbah beliau yang terhimpun dalam kitab “Adh Dhiyaa’ul Laami’ Minal Khuthabil Jawaami’ “

, , , , , , , ,

  1. #1 by Rasyid on Sabtu,20 Agustus 2011 - 21:39

    Assalamualaikum Akhi, izin tag ya akhi, jazakallah khoir…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: