Idul Fithri Sebuah Kemuliaan Bagi Kaum Muslimin


 Redaksi Blog: assunnahmadiun.wordpress.com

Idul Fithri merupakan hari raya yang mencerminkan kemuliaan bagi umat Islam. Hal itu dapat diketahui tatkala Allah Ta’ala sendiri yang memilihkan hari raya tersebut untuk mereka. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah  tiba di kota Madinah. Ketika itu penduduk kota Madinah masih memiliki 2 hari raya yang mereka mengadakan permainan di dalamnya. “Beliau pun bertanya: “2 hari raya apa ini?” Mereka menjawab: “Kami biasa mengadakan permainan di dalamnya sejak masa Jahiliyah.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam berkata: “Sesungguhnya Allah telah mengganti 2 hari tersebut dengan 2 hari raya yang lebih baik bagi kalian yaitu hari raya Idul Fithri dan hari raya Idul Adha.” [H.R Abu Dawud dan An Nasa’i yang dishahihkan asy-Syaikh Al Albani].

Kemuliaan yang tercermin dari Idul Fithri juga dapat dilihat  saat kaum muslimin di hari raya tersebut   menampakkan 2 kebaikan yaitu :

  1. Kebaikan duniawi.
  2. Kebaikan ukhrawi.

Kebaikan pertama (duniawi) adalah kegembiraan karena limpahan nikmat dari Allah berupa makanan, minuman,  pakaian dan ucapan selamat. Bila limpahan nikmat ini diperlihatkan seseorang di hadapan orang lain sebagai wujud rasa syukur –dan dalam batas yang benar- maka akan bernilai ibadah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Sesungguhnya Allah cinta bila nikmat yang Dia berikan kepada hamba-Nya itu diperlihatkan (kepada orang lain)”. [H.R At Tirmidzi dan asy-Syaikh Al Albani berkata:”Hasan Shahih’].

Namun sangat disayangkan, kebaikan ini di masa sekarang kerapkali terwarnai oleh perbuatan-perbuatan yang jauh dari norma keislaman yang agung. Sebagian kaum muslimin menjadikan Idul Fithri sebagai momen untuk menghamburkan harta dan berbangga diri dengan status sosial ekonominya. Padahal Allah Ta’ala telah mengingatkan (artinya): “Dan janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” [Al An’aam: 141].

Dia Ta’ala juga menegaskan (artinya): “Janganlah engkau berbangga diri. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” [Al Qashash: 76].

Tidak sedikit di antara kaum muslimin mengeluarkan harta –karena nilainya kecil menurut anggapan mereka- untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang ternyata tidak luput dari nuansa kemaksiatan dan kemungkaran. Bahkan ada di antara mereka yang mendatangi tempat-tempat yang dianggap keramat atau memiliki keistimewaan khusus dalam beribadah kepada Allah atau selain Allah. Tempat-tempat ibadah non muslim pun –karena sudah dianggap sebagai obyek wisata- tidak luput dari kunjungan mereka. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Hendaknya kita senantiasa ingat bahwa kedua telapak kaki kita tidak akan bergeser dari hadapan Allah di hari pembalasan sampai kita ditanya tentang 4 perkara:

  1. Untuk apa umur itu kita gunakan?
  2. Untuk apa ilmu itu kita amalkan?
  3. Dari mana harta itu kita peroleh dan ke mana ia kita belanjakan?
  4. Untuk apa pula jasad itu kita gerakkan ?

Tidak ada satu pun kenikmatan – termasuk harta- yang pernah kita dapatkan kecuali kita akan diminta pertanggungjawabannya oleh Sang Pemilik dan Pemberinya yaitu Allah. Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “Kemudian kalian niscaya akan ditanya pada hari itu (hari pembalasan) tentang kenikmatan (yang pernah kalian peroleh). [At Takaatsur: 8].

Adapun kebaikan kedua (kebaikan ukhrawi) adalah kegembiraan karena berhasil menunaikan 2 ibadah agung yang merupakan 2 rukun Islam yaitu Puasa Ramadhan dan zakat (Zakat Fithri). Kaum muslimin berharap Allah menerima ibadah puasa dan zakat mereka beserta ibadah-ibadah lainnya. Di saat Idul Fithri, segenap kaum muslimin mengucapkan takbir, tahlil, tahmid dan shalat Idul Fithri, yang itu semua merupakan ibadah mulia di sisi Allah. Maka tampaklah di hari itu kemuliaan yang Allah anugerahkan kepada umat Islam, umat Nabi terbaik Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Walillahil Hamdu

Agar kemuliaan kaum muslimin di saat Idul Fithri tetap terjaga, para wanita muslimah memilik peran besar  tatkala mereka tetap menjaga kehormatan diri mereka dengan memakai busana yang sesuai tuntunan syariat. Memakai busana/ jilbab yang syar’i bagi segenap kaum muslimah merupakan perintah Allah Ta’ala, baik ketika Idul Fitri maupun di saat-saat lainnya. Allah berfirman (artinya): “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan (segenap) wanita kaum mukminin: Hendaklah mereka menjulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah diketahui sehingga mereka tidak diganggu. Allah adalah Dzat Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang”. [Al Ahzaab: 59].

Para wanita muslimah dilarang untuk menyentuh pria yang bukan mahram bagi mereka, sebagaimana para pria muslim dilarang pula untuk menyentuh wanita yang bukan mahram bagi mereka. Termasuk dalam hal ini adalah berjabat tangan dengan pria/ wanita yang bukan mahram, baik diiringi syahwat maupun tidak diiringi syahwat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Kepala salah seorang (di antara kita) ditusuk  jarum besi itu lebih ringan (perkaranya) daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya (untuk disentuh –pen).” [Ash Shahihah 226].

Berjabat tangan merupakan perkara yang baik ketika seorang muslim berjumpa dengan saudaranya selama dalam batasan syariat, baik di saat Idul Fithri maupun di saat-saat lainnya.

Di hari raya Idul Fithri, kaum muslimin di negeri kita ini memiliki kebiasaan/ tradisi saling memaafkan (bermaaf-maafan) atas kesalahan yang pernah terjadi. Tentu saling memaafkan merupakan perbuatan yang sangat terpuji. Namun jangan sampai kita beranggapan bahwa saling memaafkan itu lebih tepat atau harus menunggu momen Idul Fithri. Kapan dan di mana pun terjadi kesalahan –terlebih bila sampai terjadi kesenjangan- maka masing-masing dari kita dituntut segera memperbaiki kembali persaudaraan kita yaitu dengan berlapang dada dan saling memaafkan. Persaudaraan di atas iman merupakan ciri yang ada pada kaum mukminin, yang tentu kita semua berharap ciri itu senantiasa terjaga dan jangan sampai hilang. Allah berfirman (artinya): “Hanyalah kaum mukminin itu bersaudara.” [Al Hujuraat:10].

Bahkan, ampunan Allah kepada seorang muslim akan terhalang bila ia masih memiliki permusuhan dengan saudaranya. Rasulullah Shallallah ‘alaihi Wasallam mengingatkan hal itu dalam sebuah sabda (artinya):

Pintu-pintu surga (Al Jannah) itu dibuka pada hari Senin dan Kamis. Dan akan diampuni setiap hamba yang tidak berbuat syirik kepada Allah kecuali seorang hamba yang masih memiliki perselisihan dengan saudaranya. Maka dikatakan: “Tunggulah 2 orang tersebut sampai keduanya memperbaiki hubungannya kembali, tunggulah 2 hamba tersebut sampai keduanya memperbaiki hubungannya kembali, tunggulah 2 hamba tersebut sampai keduanya memperbaiki hubungannya kembali.” [H.R Muslim].

Beliau juga mengingatkan (artinya): “Tidaklah halal bagi seorang muslim untuk menjauhi saudaranya lebih dari 3 hari.. Barangsiapa menjauhi (saudaranya) lebih dari 3 hari kemudiaan ia meninggal dunia maka ia akan masuk neraka (An Naar).” [H.R Abu Dawud dan dishahihkan asy-Syaikh Al Albani].

Di hari raya Idul Fithri juga, tidak jarang kita jumpai kaum muslimin di negeri kita memberikan shadaqah kepada fakir miskin atau orang-orang lemah (dhuafa). Tentu shadaqah merupakan perbuatan terpuji, baik itu dilakukan di hari raya Idul Fithri maupun di hari-hari yang lain. Allah berfirman (artinya): “Dan apa saja (yang baik –pen) yang kalian infakkan maka Dia (Allah) yang akan menggantinya. Dialah sebaik-baik pemberi rizki.” [Saba’ :39].

Allah akan mengganti infak/ shadaqah yang baik dari kita di dunia berupa sesuatu yang senilai infak kita tersebut atau bahkan lebih besar daripada itu dan di akhirat berupa pahala yang besar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam juga pernah bersabda: “Sesungguhnya shadaqah itu dapat memadamkan panas di kubur bagi pelakunya. Hanyalah seorang mukmin itu bernaung di bawah naungan shadaqahnya pada hari kiamat.” [Ash Shahihah 3484].

Apabila infak/ shadaqah tersebut kita berikan kepada kerabat keluarga maka itu adalah shadaqah sekaligus silaturahim (menyambung tali kekerabatan]. Sehingga shadaqah kepada kerabat keluarga memiliki nilai tambah di sisi Allah.

Para pembaca yang mulia, di akhir risalah sederhana ini tidak lupa kami sampaikan kepada para pembaca sebagai bentuk kepedulian dan saling mengingatkan di atas kebenaran agar tidak meninggalkan masjid usai bulan Ramadhan. Seseorang yang hatinya terikat dengan masjid akan mendapatkan keutamaan besar dari Allah pada hari kiamat kelak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “7 golongan yang akan mendapatkan naungan Allah di hari yang tidak ada lagi naungan kecuali naungan-Nya: “ …. seseorang yang hatinya terikat dengan masjid…” [H.R Al Bukhari dan Muslim].

Bila di bulan Ramadhan banyak dari kita melangkahkan kaki menuju rumah Allah, maka semestinya hal itu juga kita lakukan di bulan-bulan lain. Terlebih menunaikan shalat 5 waktu secara berjamaah di masjid merupakan kewajiban bagi tiap individu muslim pria, bukan sekedar sunnah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pun mengingatkan kita melalui sabdanya (artinya): “Barangsiapa mendengar kumandang adzan namun ia tidak menghampirinya (mengerjakan shalat berjamaah di masjid –pen) maka tidak ada (kesempurnaan –pen) shalat baginya kecuali bila ada alasan syar’i (untuk tidak menghampirinya –pen).” [H.R Ibnu Majah dan dishahihkan asy-Syaikh Al Albani].

Insya Allah pembahasan shalat berjamaah akan kami ketengahkan kepada para pembaca pada edisi/ beberapa edisi mendatang.

Semoga di tahun ini, tahun 1432 Hijriyah ini, Allah Ta’ala menerima puasa, qiyamul lail/ tarawih, zakat dan ibadah-ibadah kita lainnya selama bulan Ramadhan lalu, sehingga menjadi bekal yang baik bagi kita semua di saat berjumpa dengan Allah. Semoga Allah memudahkan kita semua untuk  bisa bertemu dengan bulan Ramadhan di tahun mendatang. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.

Wallahu a’lamu bish-Shawaab.

, , , , , ,

  1. #1 by asep on Kamis,25 Agustus 2011 - 16:44

    Terimkasih atas blog ini. tapi kalau boleh minta tolong Mohon dimuat dulu donk bahasa Arab haditsnya, nampaknya mantap tuch buat konsep ceramah. jajakumullah….

  2. #2 by abu abdul aziz on Kamis,8 September 2011 - 10:18

    alhamdulillah madiun dah ada blok bahasan ilmiah diniyah,ana sgt mendukung sekali, ahsan klo di buka kolom tanya jawab..abah ari,madiun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: