Bekal Menjadi Haji Mabrur


Redaksi Blog Assunnah.wordpress.com

 

Menjadi haji mabrur merupakan harapan setiap orang yang akan menunaikan haji ke Baitullah. Betapa tidak, karena tidaklah orang yang mendapatkan predikat haji mabrur melainkan akan menerima balasan berupa surga (Al Jannah). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “ Dari umrah ke umrah berikutnya merupakan penghapus dosa di antara keduanya. Haji mabrur tidaklah akan mendapatkan balasan melainkan surga (Al Jannah).” [H.R Al Bukhari dan Muslim].

Al Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “ Dan makna “tidaklah akan mendapatkan balasan melainkan surga” adalah tidaklah balasan bagi haji mabrur itu sebatas gugurnya sebagian dosa-dosanya. Bahkan ia niscaya akan masuk surga.” [Syarh Shahih Muslim].

Lalu apa pengertian haji mabrur itu?

Al-Imam an-Nawawi menyebutkan: “Haji mabrur adalah haji yang pelakunya tidak melakukan kemaksiatan dalam ibadah hajinya.” [Riyadhush Shalihin].

Lebih lengkap lagi, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin  rahimahullah menyatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang berkumpul padanya beberapa perkara:

  1. Ikhlas, tidak riya’, tidak sum’ah, atau tidak ingin disebut sebagai orang yang berhaji.
  2. Sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dalam berhaji sebatas kemampuan.
  3. berhaji dengan harta yang halal.
  4. Menjauhi kekejian, kefasikan atau perdebatan.

[Lihat Syarh Riyadhush Shalihin].

Ikhlas dalam mengerjakan ibadah –tak terkecuali haji- merupakan perkara yang paling penting dan mempengaruhi diterimanya ibadah tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘aalaihi Wasallam sendiri menyatakan (artinya): “ Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak menerima sebuah amalan kecuali bila ikhlas dan diharapkan padanya wajah Allah.” [Ash Shahihah 52].

Asy-Syaikh Alu Bassam hafizhahullah berkata :” Asy-Syaikh Taqiyyudin berkata:” Wajib bagi seorang yang berhaji untuk berharap dalam ibadah hajinya mendapatkan wajah Allah Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya, menjauhi niat untuk memperoleh harta duniawi, saling berbangga diri, sebutan haji, riya’ atau sum’ah karena hal itu akan menyebabkan gugur dan tidak diterimanya sebuah amalan.” [Taudhihul Ahkam].

Riya’ adalah keinginan agar amalannya dilihat lalu dipuji manusia. Sum’ah adalah keinginan agar amalannya didengar lalu dipuji manusia.

Demikian pula, mengikuti bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dalam berhaji merupakan perkara yang sangat mempengaruhi nilai ibadah seseorang di hadapan Allah Ta’ala. Maka tak mengherankan bila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sendiri menegaskan (artinya): “ Hendaklah kalian mengambil dari aku tentang tata cara manasik haji kalian.” [Al ‘Irwa’ 1074, 1105 dan 1119 yang dishahihkan asy-Syaikh Al Albani].

Bekal ilmu dan pengetahuan terhadap bimbingan/sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam merupakan sebuah keharusan dalam menunaikan ibadah haji. Seseorang dapat membekali dirinya untuk mengerti bimbingan haji yang benar dengan cara -diantaranya- membaca buku panduan resmi yang telah diterbitkan dan disebarluaskan pemerintah Saudi Arabia dalam berbagai bahasa di bawah panduan guru terpercaya. Buku tersebut –dalam bahasa aslinya yaitu bahasa Arab- merupakan tulisan para ulama terpercaya dan berpegang teguh dengan bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Di saat yang sama hendaknya setiap orang benar-benar menjauhi sifat fanatisme terhadap pendapat seseorang, kelompok atau kebangsaan tertentu yang tidak berdasar bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Sifat fanatisme ini tentu saja merupakan sifat yang buruk dan tercela, karena Allah Ta’ala berfirman di banyak ayat-Nya, diantaranya (artinya): “ Dan (ingatlah) hari (yang ketika itu) orang zhalim menggigit tangan (jarinya), seraya berkata:” Aduhai, seandainya saja aku dahulu mengambil jalan bersama rasul. Kecelakaan besarlah bagiku. Seandainya saja aku dahulu tidak menjadikan si fulan itu teman dekatku. Sesungguhnya dia (teman dekatku) itu telah menyesatkan aku dari peringatan ketika peringatan itu telah datang kepadaku. Memang syaithan senantiasa menjadikan manusia itu hina.” [Al Furqaan: 27-29].

Sangat disayangkan apabila seseorang telah berupaya mengerahkan tenaga, waktu dan harta yang tidak sedikit untuk berhaji, ternyata belum ikhlas dan jauh dari  tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Padahal, hal itu akan mengakibatkan ibadah hajinya tidak diterima oleh Allah Ta’ala.

Pembaca rahimakumullah, disamping itu seorang yang akan berhaji hendaknya berupaya agar harta yang ia gunakan untuk berhaji adalah harta yang halal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “ Sesungguhnya Allah itu baik dan tidaklah menerima kecuali sesuatu yang baik.” [H.R Muslim].

Asy-Syaikh Shalih  Al Fauzan hafizhahullah pernah ditanya: “Apa tanda- tanda haji yang diterima?”, maka beliau menjawab bahwa tanda-tanda haji mabrur itu banyak, diantaranya: harta yang digunakan untuk berhaji berasal dari usaha yang halal karena nafkah (harta) itu memiliki pengaruh besar bagi kehidupan seorang muslim apalagi dalam masalah haji. [Lihat Al Muntaqa 2/574-575].

Beliau juga pernah ditanya oleh seseorang: “Saya bekerja pada sebuah bank. Bolehkah saya berhaji dengan biaya dari gaji saya di bank?” Maka beliau menjawab:”Bekerja di bank yang berinteraksi dengan riba itu tidak boleh. Sebab hal itu termasuk tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam melaknat orang yang makan dari hasil riba, saksi transaksi riba dan penulis transaksi riba. Orang yang bekerja di bank itu tepat untuk  dikatakan sebagai orang yang tolong menolong dengan bank –sekalipun sekedar menulis transaksi riba- sehingga ia dilaknat melalui keterangan hadits tadi. Atas dasar itu maka gaji yang dia peroleh adalah haram, tidak boleh untuk dimakan dan berhaji darinya. Sebab haji itu menuntut nafkah yang baik dan dihasilkan  dari usaha yang halal. Bila dia berhaji dari harta tadi maka hajinya sah namun ia berdosa.” [Al Muntaqa 2/491-492].

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah, selain ikhlas, sesuai bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan harta yang halal, orang yang berhaji dituntut untuk meninggalkan kekejian, kefasikan atau perdebatan. Allah Ta’ala  berfirman (artinya): “Musim haji adalah beberapa bulan yang telah diketahui. Barangsiapa berihram di bulan-bulan tersebut maka tidak boleh berbuat keji, kefasikan atau perdebatan selama berhaji.” [Al Baqarah:197]. Beberapa bulan yang dimaksud di ayat tersebut adalah bulan Syawwal, Dzulqa’dah dan 10 hari awal Dzulhijjah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menyatakan (artinya): “Barangsiapa berhaji karena Allah lalu tidak berbuat keji dan kefasikan maka ia pulang seperti dalam keadaan di hari ia dilahirkan oleh ibunya.” [H.R Al Bukhari. Semisal itu diriwayatkan Muslim]. Maksud kalimat “….seperti dalam keadaan di hari ia dilahirkan oleh ibunya” adalah tidak memiliki dosa.

Jelas merupakan kefasikan yang besar –bahkan terbesar- apabila seseorang berbuat kesyirikan ketika menunaikan haji seperti berdoa kepada nabi/orang shalih atau mengais berkah dari benda- benda yang ada di tanah suci dengan anggapannya yang keliru.

Kewajiban Wanita Berhaji Bersama Mahramnya

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Tidaklah seorang wanita itu berhaji kecuali (harus) bersama mahramnya.” Lalu seseorang bertanya: “Wahai nabi Allah! Sesungguhnya aku telah ditetapkan untuk mengikuti perang tertentu, sedangkan istriku akan berhaji?” Maka beliau menjawab: “Pulanglah engkau dan berhajilah  bersamanya.’ [Ash Shahihah 3065].

Apabila seorang wanita telah berhaji tanpa mahramnya maka hajinya tetap sah, namun ia berdosa sehingga wajib bertaubat kepada Allah.

 

Keutamaan Seseorang Yang Meninggal Dunia Di Saat Berhaji Atau Umrah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Barangsiapa keluar berhaji lalu meninggal dunia maka Allah catat baginya pahala haji sampai hari kiamat. Barangsiapa keluar berumrah lalu meninggal dunia maka Allah catat baginya pahala umrah sampai hari kiamat. Barangsiapa keluar berperang di jalan Allah lalu meninggal dunia maka Allah catat baginya pahala perang sampai hari kiamat.” [Ash Shahihah 2553].

 

Ziarah/ Berkunjung ke Masjid Nabawi

Dalam bab ini ada beberapa rincian yang harus diketahui:

  1. Bahwa ziarah ke Masjid Nabawi yang terletak di kota Madinah sama sekali tidak terkait dengan tata cara manasik haji. Artinya, bila seseorang tidak menziarahi Masjid Nabawi sebelum atau sesudah menunaikan manasik haji maka sama sekali tidak mengurangi kesempurnaan ibadah hajinya.
  2. Para ulama menyebutkan bahasan ziarah ke Masjid Nabawi dalam manasik haji semata-mata merangkaikan keinginan kaum muslimin yang berasal dari negeri jauh untuk sekaligus mengunjungi Masjid Nabawi dalam satu kali perjalanan haji mereka.
  3. Niat mengunjungi/ziarah ke Masjid Nabawi bukanlah untuk menziarahi makam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam –yang hakekatnya makam beliau terpisah dengan Masjid Nabawi. Akan tetapi niatnya untuk melakukan shalat di dalamnya yang 1 kali shalat di dalam Masjid Nabawi itu lebih utama daripada 1000 kali shalat di selain Masjid Nabawi, kecuali Masjidil Haram.
  4. Apabila seseorang usai menunaikan shalat di Masjid Nabawi maka  boleh saat itu untuk berniat menziarahi makam Rasulullah Shalllallahu ‘alaihi Wasallam dengan tata cara yang dibenarkan syariat. Hanya saja menziarahi makam beliau di saat seseorang berada di Masjid Nabawi bukanlah sebuah keharusan atau sesuatu yang memiliki keutamaan khusus . Adapun hadits yang artinya: “Barangsiapa berhaji namun tidak menziarahiku maka ia telah melecehkanku”, adalah hadits yang sama sekali tidak bisa dijadikan sandaran. Demikian pula hadits yang artinya: “Barangsiapa berhaji lalu menziarahi makamku setelah wafatku maka ia seakan-akan menziarahiku saat aku hidup,” adalah hadits yang derajatnya lemah sekali, sebagaimana pernyataan asy-Syaikh Al Albani rahimahullah di dalam Al Irwa’ 1128.

Wallahu a’lamu bish Shawaab

, , , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: