Fatwa-Fatwa Ulama Tentang Haji


Redaksi As Sunnah Madiun.wordpress.com

Pada edisi yang lalu, kita telah mengetahui beberapa hal yang terkait dengan haji. Sebagai tambahan faedah, redaksi menampilkan kembali sebagian permasalahan haji dengan menyebutkan fatwa-fatwa ulama besar pada edisi kali ini. Semoga para pembaca –terkhusus saudara-saudara kita yang akan menunaikan ibadah haji- bisa

memperoleh manfaat dari bahasan edisi kali ini.

Nasehat Bagi Seseorang Yang Akan Berhaji Untuk Pertama Kalinya

Asy-Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah pernah ditanya: “Apa yang wajib bagi seseorang ketika ingin berhaji untuk pertama kalinya ? Lalu apa yang anda nasehatkan ?”

Beliau menjawab : “Wajib bagi seseorang yang ingin berhaji untuk pertama kalinya agar menunaikan haji sesuai tuntunan syariat. Hendaknya dia berteman dengan orang-orang baik yang membantu dirinya di atas ketaatan kepada Allah dan membimbing dirinya dalam manasik haji bila dirinya belum mengerti tentang manasik tersebut. Sebab, orang yang berhaji untuk pertama kalinya (biasanya) tersamar oleh beberapa atau mayoritas amalan dalam haji.Maka dia butuh orang yang memberikan penjelasan bagi dirinya. Sehingga, dia memilih orang yang layak dari pendampingnya.” [Al Muntaqa 2/485]

Kewajiban Orang Yang Mampu Berhaji Untuk Segera Menunaikannya

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: “Apakah kewajiban berhaji itu bersifat segera atau bisa ditunda ?”

Maka beliau menjawab :”Yang benar bahwa kewajiban berhaji itu bersifat segera. Tidak boleh bagi seseorang yang sudah mampu berhaji ke Baitullah Al Haram untuk menundanya. Demikian pula seluruh kewajiban dalam syariat apabila tidak terikat dengan waktu atau sebab tertentu, maka kewajiban itu ditunaikan dengan segera.” [Majmu Fataawa Wa Rasa’il 21/13 soal ke-3, dinukil dari Fataawa ‘Ulama Baladil Haram hal. 951].

Hukum Anak Yang Belum Baligh Menunaikan Haji

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: “Bila  anak belum baligh berhaji lalu tiba waktu baligh … apakah dirinya harus berhaji untuk kedua kalinya?”

Beliau memberikan jawaban: “Hajinya yang pertama kali belumlah cukup. Dia harus berhaji untuk kedua kalinya, karena haji yang pertama itu hukumnya sunnah bukan wajib. Sedangkan haji wajib dalam Islam itu maksudnya haji yang sifatnya wajib. Maka wajib bagi anak tadi untuk berhaji kedua kalinya, karena hajinya yang pertama hukumnya sunnah.” [Majmu’ Fataawa Wa Rasa’il 21/78 soal ke-79, dinukil dari Fataawa ‘Ulama Baladil Haram hal. 953].

Adapun tanda baligh seseorang adalah salah satu dari beberapa hal berikut ini:

  1. Keluar mani
  2. Tumbuhnya rambut di sekitar kemaluannya
  3. Telah mencapai usia 15 tahun (pada umumnya)
  4. Haid (khusus pada wanita)

Hukum Haji Bagi Wanita Yang Tidak Mendapati Mahram Untuk Menemaninya

Asy- Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah dimintai fatwa: “Seorang wanita bila tidak mendapati mahramnya dan wanita tersebut belum menunaikan kewajiban baginya maka manakah yang lebih utama baginya antara mewakilkan hajinya kepada orang lain atau ia berhaji bersama bibinya?”

Maka beliau menjawab: “Bila seorang wanita tidak mendapati mahram untuk menemani dirinya, maka haji tidak menjadi wajib bagi dirinya. Sebab, ia (dianggap –pen) tidak mampu berhaji secara syar’i sedangkan haji itu tidak wajib kecuali bagi yang mampu. Dia tidak boleh berhaji tanpa mahram (meski) bersama bibinya. “ [Majmu’ Fataawa Wa Rasa’il 21/209 soal ke-262, dinukil dari Fataawa ‘Ulama Baladil Haram hal. 958].

Hukum Seorang Ayah Menghajikan Anaknya

Asy-syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: “Seorang ayah memiliki anak laki-laki dan perempuan yang sudah dibebani syariat. Namun anak-anak tersebut tidak memiliki kemampuan harta. Apakah wajib bagi ayah tersebut untuk mencukupi nafkah mereka agar dapat berhaji? Atau mereka menunggu sampai mereka mampu membiayai sendiri?”

Beliau pun menjawab :”Tidak wajib bagi ayah tadi untuk menghajikan anak-anaknya sekalipun ayah tersebut memiliki harta yang banyak. Sebab, (haji) ini adalah agama. Apabila syarat pada mereka telah terpenuhi yaitu mampu dengan sendirinya maka di saat itu haji menjadi wajib bagi mereka. Hanya saja kalau sang ayah tadi ingin berbuat baik lalu menghajikan anak-anaknya maka ini adalah kebaikan. Tidak disangsikan lagi bahwa ia akan memperoleh pahala, namun tetap hal itu bukan sebuah kewajiban. Lantas bisa jadi kami katakan: apabila sang ayah menghajikan sebagian anak-anaknya dan tidak menghajikan sebagian yang lain, maka sebagian yang lain tadi wajib untuk dihajikan. Hal itu berdasar kewajiban untuk berbuat adil (kepada seluruh anak-anaknya). Akan tetapi bila sebagian anak berlapang dada dengan mengatakan :”Wahai ayah kami, bila engkau ingin maka hajikanlah kami. Namun bila tidak maka tidak mengapa”, maka saat itu gugurlah kewajiban untuk berbuat adil kepada sebagian anak tersebut.” [Majmu’ Fataawa Wa Rasa’il 21/109 soal ke-128, dinukil dari Fataawa ‘Ulama Baladil Haram hal. 956].

Hukum Melafazhkan Niat Ketika Ihram

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: “Asy-Syaikh yang mulia, akan tetapi apakah niat akan berhaji itu adalah lafazh yang diucapkan ketika bertalbiyah?”

Maka beliau menjawab: “Bukan. Talbiyah adalah seseorang mengucapkan: “Labbaika ‘umratan” bila ia berumrah atau “Labbaika hajjatan” bila ia berhaji. Adapun niat maka ia tidak boleh dilafazhkan dengan ucapan, sehingga ia tidak perlu megucapkan “Allahumma ‘inni uriidul ‘umrah” (Ya Allah, sesungguhnya aku ingin berumrah –pen) atau ‘Allahumma ‘inni uriidul hajj” (Ya Allah, sesungguhnya aku ingin berhaji –pen). Ini adalah sesuatu yang tidak teriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam.” [Fiqhul ‘Ibaadaat hal 318].

Hukum Istirahat Saat Melakukan Thawaf

Ada pertanyaan diajukan kepada asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah : “Seseorang melakukan thawaf 2 putaran. Namun karena banyaknya orang maka ia keluar dari thawaf dan istirahat sekitar 1 atau 2 jam. Lalu ia melanjutkan thawafnya … apakah ia mulai thawaf dari awal lagi atau menyempurnakan thawafnya sejak ia istirahat?”

Maka beliau menjawab: “Bila jarak waktu antara mulai istirahat dengan mulai thawaf lagi ini lama maka ia wajib mulai thawafnya dari awal lagi. Namun bila jarak waktunya sebentar maka tidak mengapa ia sekedar menyempurnakan thawafnya. Hal ini dikarenakan thawaf dan sa’i itu disyaratkan padanya putaran berturut-turut. Maka bila diantara putaran tersebut disela oleh sesuatu yang menyita waktu lama maka putaran awal batal dan wajib mengulangi thawaf atau sa’i dari awal. Adapun bila sesuatu itu hanya menyita waktu sebentar seperti duduk sekitar 2 atau 3 menit lalu berdiri dan menyempurnakan thawafnya maka hal ini tidak mengapa. Adapun 1 atau 2 jam maka keduanya adalah waktu yang lama yang menuntut untuk mengulangi thawaf.” [Al Liqaa’ Asy-Syahr 16/37, dinukil dari Fataawa ‘Ulama Baladil Haram hal. 981].

Hukum Seorang Wanita Mewakilkan Kepada Seorang Pria Untuk Melempar Jumrah

Sebuah pertanyaan diajukan kepada Al-Lajnah Da’imah Lil Buhuts ‘Ilmiyah wal Ifta’: “Bolehkah seorang wanita mewakilkan kepada seseorang untuk melempar jumrah, karena khawatir padatnya manusia sedangkan ia tengah menunaikan haji wajib atau ia harus melempar jumrah sendiri?”

Maka Al-Lajnah menjawab: “Boleh ketika padatnya manusia saat melempar jumrah untuk seorang wanita mewakilkan seseorang melempar jumrah, sekalipun hajinya wanita tersebut adalah wajib. Hal itu disebabkan rasa sakit, lemah, upaya menjaga kehamilannya bila wanita tersebut hamil atau kehormatannya sehingga kehormatannya tidak ternodai.” [Fataawa Al Lajnah 11/284, dinukil dari Fataawa ‘Ulama Baladil Haram hal. 1009].

Wallahu a’lamu bish shawaab

 

, , , , , , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: