Sekilas Tentang Shalat Id (Hari Raya)


Para ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat id, baik shalat Idul Fithri maupun shalat Idul Adha. Sebagian besar (jumhur) ulama berpandangan bahwa shalat id itu hukumnya sunnah. Sebagian lain berpendapat fardhu kifayah yang apabila sebagian kaum muslimin telah mengerjakan shalat id, maka yang lain tidak wajib mengerjakannya. Namun ada pula dari kalangan ulama yang berpandangan bahwa shalat id itu hukumnya fardhu ‘ain (wajib bagi setiap individu dari kalangan muslimin).

Di antara 3 pendapat ulama di atas, pendapat terakhir adalah pendapat yang sangat kuat. Hal itu dapat ditinjau dari gugurnya kewajiban shalat Jum’at bagi seseorang yang telah menunaikan shalat id tatkala hari id-nya bertepatan dengan hari Jum’at. Sedangkan sesuatu yang wajib –dalam hal ini shalat Jum’at- tidaklah dapat digugurkan keuali dengan sesuatu yang wajib pula. Wallahu a’lam.

Adapun dalil yang menerangkan gugurnya kewajiban shalat Jum’at bagi seseorang yang telah mengerjakan shalat id tatkala hari id-nya bertepatan dengan hari Jum’at, di antaranya hadits Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda (artinya): “Telah berkumpul 2 hari raya (hari Jum’at dan hari raya -pen) di hari ini. Barangsiapa ingin maka ia boleh meninggalkan shalat Jum’at. Adapun kami (sebagai penguasa rakyat -pen) akan tetap mengadakan shalat Jum’at insya Allah.” [H.R Ibnu Majah dan dishahihkan asy-Syaikh Al Albani].

Para Wanita Diperintah Untuk Keluar Menuju Mushalla (Tanah Lapang)

Hal ini sebagaimana penuturan Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu anha : “Nabi memerintah kami untuk mengajak para wanita dan gadis keluar (menuju tanah lapang).” [H.R Al Bukhari dan Muslim]. Bahkan dengan jelas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menyatakan bahwa para wanita wajib untuk keluar menuju tanah lapang. Beliau mengatakan (artinya): “Wajib bagi setiap wanita untuk keluar (menuju tanah lapang).” [Ash Shahihah 2408].

Para wanita haid pun juga diperintah untuk keluar menuju tanah lapang. Hanya saja mereka diperintah untuk menghindari tempat shalat. Hal ini sebagaimana penuturan Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ‘anha:Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memerintah kami untuk mengeluarkan para wanita, gadis dan wanita haid (menuju tanah lapang) pada Idul Fithri dan Idul Adha. Adapun wanita haid menghindari tempat shalat … “ [H.R Muslim. Lihat Al Bukhari].

Ketentuan-Ketentuan Bagi Wanita Saat Keluar Dari Rumah

Agama Islam memberikan ketentuan-ketentuan bagi wanita tatkala mereka berada di luar rumah, baik untuk melakukan ibadah maupun kepentingan duniawi yang dibolehkan syariat. Diantara ketentuan-ketentuan tersebut adala

1. Tidak tabarruj (menampakkan aurat)

Dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Janganlah kalian cegah para wanita dari masjid-masjid Allah. Namun (ketika ke masjid) hendaknya mereka keluar dengan tidak bertabarruj.” [H.R Abu Dawud dan dihasankan Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i]. Saat keluar menuju tanah lapang di hari raya, mereka juga diperintah memakai busana yang sesuai syariat. Ummu Athiyyah pernah bertanya pada Rasululah Shallallahu ‘alaihi Wasallam :”Wahai Rasulullah! Salah seorang diantara kami tidak memiliki jilbab (saat ini).” Maka beliau menjawab (artinya): “Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbab kepadanya.” [H.R Muslim. Lihat Al Bukhari]

2. Tidak memakai wewangian

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Bila salah seorang diantara kalian (para wanita) menuju ke masjid maka jangan memakai wewangian.” [H.R Muslim]

3. Tidak ikhtilath (bercampur baur dengan pria).

Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah keluar dari masjid sedangkan para wanita bercampur baur dengan para pria di jalan. Lantas beliau berkata kepada para wanita (artinya) : “Hendaklah kalian berada di belakang. Sesungguhnya kalian tidak berhak menguasai jalan. Hendaklah kalian berada di tepi jalan.” [H.R Abu Dawud dan dihasankan Asy-Syaikh Al Albani].

Menyelenggarakan Shalat Id di Tanah Lapang (Mushalla)

Yang dimaksud kata “Mushalla” menurut pengertian syariat adalah tanah lapang. Di kota Madinah pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam terdapat 2 bentuk mushalla:

  1. Mushalla untuk shalat Idul Fithri maupun Idul Adha
  2. Mushalla untuk shalat jenazah

Dalil yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam shalat id di tanah lapang (mushalla) adalah hadits Abu Said Al Khudri radhiyallahu ‘anhuma, berkata: “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam senantiasa keluar rumah menuju tanah lapang pada Idul Fithri dan Idul Adha.” [H.R Bukhari dan Muslim].

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah –salah seorang ulama besar dari madzhab Syafi’i- berkata: “Dan diambil petunjuk dari hadits ini tentang anjuran keluar menuju tanah lapang untuk menunaikan shalat id. Yang demikian ini lebih utama daripada shalat id di masjid karena Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam biasa melakukan hal itu, padahal terdapat keutamaan untuk shalat di masjid beliau (Masjid Nabawi-pen).” [Fathul Bari].

Al ‘Allaamah Ibnul Haaj rahimahullah –ulama dari madzhab Maliki- berkata: “Dan anjuran yang terus berlaku dalam shalat id adalah dilakukannya shalat tersebut di tanah lapang. Sebab, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “”Shalat di masjidku (Masjid Nabawi-pen) ini lebih utama daripada 1000 kali shalat di masjid lain kecuali Masjidil Haram.” Namun seiring keutamaan yang besar ini, ternyata beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam tetap keluar menuju tanah lapang dan meninggalkan masjid.” [Al Madkhal, dinukil dari Ahkamul ‘Idain].

Al Imam Ibnu Qudamah rahimahullah –ulama dari madzhab Hambali- berkata: “Yang dianjurkan adalah ditunaikannya shalat id di tanah lapang. Hal ini juga diperintahkan Ali radhiyallahu ‘anhu yang dipandang baik oleh Al Auza’i dan  ulama Madzhab Ra’yu (Hanafi-pen). Ini juga pendapat Ibnu Mundzir.” [Al Mughni, dinukil dari Ahkamul ‘Idain].

Al ‘Allaamah Al ‘Aini rahimahullah –ulama dari madzhab Hanafi- berkata tentang hadits Abu Said tadi: ”Di dalam hadits ini terdapat pelajaran berupa keluar menuju mushalla dan tidaklah shalat id dilakukan di masjid kecuali kalau dalam keadaan darurat.”

Hukum mengucapkan “Ash Shalaatu Jaami’ah” Sebelum Shalat Id Dimulai

Diriwayatkan Al Imam Az Zuhri rahimahullah bahwa beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah memerintah mu’adzinnya pada shalat Idul Fithri dan Idul Adha untuk mengicapkan “Ash Shalaatu Jaami’ah.”

Namun riwayat ini lemah karena mursal (terputus periwayatannya) antara Az-Zuhri dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Sedangkan mursal Az-Zuhri disebut oleh Al Imam Yahya Al Qaththan sebagai mursal yang lebih buruk daripada mursal selainnya.

Bahkan sebaliknya, hadits-hadits shahih justru menunjukkan bahwa di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam tidak ada adzan, iqamah atau zikir/ ucapan apa pun sebelum shalat id dimulai.

Hukum Mengqadha Shalat Id Bila Ketinggalan Shalat Id Bersama Imam

Para ulama berbeda pendapat tentang seseorang yang ketinggalan shalat id bersama imam. Apakah ia mengqadha (mengganti) shalat tersebut atau tidak? Ada beberapa pendapat ulama tentang hal itu:

  1. Mengqadhanya dalam bentuk shalat 2 raka’at dengan takbir tambahan sebagaimana shalat id.
  2. Mengqadhanya dalam bentuk shalat 2 raka’at tanpa takbir tambahan (seperti shalat 2 raka’at biasa).
  3. Mengqadhanya dalam bentuk shalat 4 raka’at seperti shalat Zhuhur.
  4. Tidak mengqadhanya sama sekali.

Dari 4 pendapat di atas, pendapat terakhir adalah pendapat yang paling kuat menurut syaikhul Islam dan Ibnu ‘Utsaimin rahimahumallah. Hal ini didasarkan kepada tidak adanya keterangan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam tentang mengqadha shalat id. Selain itu shalat id adalah shalat kebersamaan dengan imam yang tidaklah ditunaikan kecuali bersama imam tersebut.

Adapun riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengqadha shalat id tatkala beliau tidak shalat id bersama imam adalah riwayat yang lemah. Demikian pula riwayat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan: “Barangsiapa ketinggalan shalat id maka shalatlah 4 raka’at” adalah riwayat yang lemah. [Lihat al Irwa’ 68].

Wallahu a’lamu bish-Shawaab

, , , , , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: