Penjelasan Ilmiah Tentang Perayaan Maulid Nabi


Para ulama telah banyak menjelaskan pemasalahan di atas melalui ceramah, khutbah atau karya- karya tulis sebagai wujud kepedulian mereka terhadap kehidupan beragama umat Islam. Mereka menyampaikan penjelasan tersebut berdasarkan keterangan yang bersumber dari Al Qur’an, As Sunnah dan kaidah- kaidah syar’i, sehingga keilmiahan menjadi ciri yang sangat nampak pada mereka.

Pada edisi kali ini, redaksi mengetengahkan ringkasan beberapa penjelasan yang disampaikan 3 ulama besar di masa kita sekarang berkenaan hukum perayaan maulid nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Semoga memberikan pencerahan atau pelajaran bagi kita semua.

Penjelasan Samahatu asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah

Beliau berkata: “Tidak boleh menyelenggarakan perayaan maulid (kelahiran) Rasul Shallallahu ‘alaihi Wasallam atau kelahiran selain beliau. Dikarenakan hal itu tidak pernah dilakukan Rasul Shallallahu ‘alaihi Wasallam, para khulafa’ur rasyidin, para sahabat lain dan para pengikut mereka dari generasi yang utama. Padahal, mereka adalah orang yang lebih mengerti tentang sunnah nabi, lebih sempurna kecintaan dan ittiba’nya terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam daripada generasi setelahnya. Telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda (artinya): “Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan (agama) kami yang sebenarnya tidak ada contohnya maka ia tertolak.”

Beliau bersabda dalam hadits lain (artinya) : “Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin setelahku. Berpegang teguhlah dengannya. Gigitlah dengan gigi geraham kalian. Hati- hatilah dari perkara- perkara yang diada- adakan, karena setiap perkara yang diada- adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan.” Di dalam 2 hadits ini terdapat peringatan tegas terhadap perkara yang diada- adakan dan mengamalkan perkara tersebut…”

Selanjutnya asy-Syaikh berkata: “Dan membuat perayaan kelahiran seperti ini dapat dipahami bahwa Allah Ta’ala belum menyempurnakan agama ini. (Di-pahami pula) bahwa Rasul ‘alaihi ash-Shalaatu Was Salaam belum menyampaikan sesuatu yang semestinya dilakukan umat ini. Lalu datanglah orang- orang belakangan dan membuat perkara baru di dalam syariat Allah yang Dia tidak memberi ijin untuk itu. Ini mereka lakukan karena persangkaan bahwa perayaan maulid nabi itu termasuk taqarrub kepada Allah. Tentu, ini mengandung bahaya yang besar. Sekaligus penentangan terhadap Allah dan rasul-Nya. Padahal Allah itu telah menyempurnakan agama ini untuk hamba- hamba-Nya sekaligus Dia telah mencukupkan kenikmatan ini kepada mereka…”

Lalu asy-Syaikh pun berkata: “Dan sekelompok ulama telah terang- terangan mengingkari perayaan maulid (kelahiran-pen) ini dan memperingatkan darinya, dalam rangka mengamalkan dalil- dalil yang disebutkan tadi dan dalil semisalnya. (Namun), sebagian  orang- orang  belakangan justru menyelisihi dalil-dalil tersebut. Orang- orang ini membolehkan  perayaan maulid nabi selama tidak terdapat kemungkaran padanya seperti berlebih- lebihan menyanjung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, campur baur antara pria dengan wanita atau penggunaan alat- alat musik dan selain itu yang memang diingkari oleh syariat yang suci ini. Orang- orang ini menduga bahwa perayaan maulid nabi itu adalah perkara baru yang baik. Padahal, kaidah syar’i menyatakan agar mengembalikan perkara yang diperselisihkan manusia itu kepada Al Qur’an maupun sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam…”

Kemudian asy-Syaikh bertutur: “Dan termasuk perkara yang aneh dan mengherankan bahwa banyak manusia bersemangat, beersungguh- sungguh menghadiri perayaan ini dan membelanya, namun (di sisi lain) menjauhi kewajiban dari Allah berupa shalat jum’at atau shalat berjama’ah. Manusia tidak peduli terhadap kewajiban tersebut, dan tidak merasa kalau dirinya telah melakukan kemungkaran yang besar…” [Dinukil dari Hirasatut Tauhid].

Penjelasan Fadhilatu asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah

Beliau berkata: “Dan di antara sejumlah perkara yang diada- adakan adalah perkara yang dibuat- buat oleh sebagian orang di bulan Rabi’ul Awwal yaitu perayaan Maulid Nabi. Mereka berkumpul di malam ke-12 bulan tersebut di masjid atau rumah lalu bershalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dengan shalawat- shalawat yang dibuat- buat. Mereka membaca pujian- pujian terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam sampai melewati batas yang sebenarnya hal itu dilarang oleh beliau. Kadang-kadang mereka juga membuat  makanan dan begadang semalaman. Mereka telah menyia-nyiakan harta, waktu dan badan untuk sesuatu yang tidak disyariatkan Allah, Rasul-Nya, tidak pula pernah diamalkan oleh  para khulafa’ur rasyidin, para sahabat, kaum muslimin di masa yang memiliki keutamaan dan para pengikut mereka. Andaikata perayaan maulid nabi itu adalah perkara yang baik, nicaya mereka (orang-orang terbaik ini-pen) akan mendahului kita dalam mengerjakannya. Seandainya perayaan tersebut itu adalah sesuatu yang baik, niscaya Allah Ta’ala tidak mencegah pendahulu umat ini –yang di antara mereka ada para khulafa’ur rasyidin dan imam- imam besar- untuk menyelenggarakannya. Niscaya Allah tidak mencegah mereka bila perayaan maulid nabi itu adalah sebuah kebaikan. Lalu datanglah generasi manusia di abad ke-4 Hijriah yang selanjutnya membuat sesuatu yang diada-adakan ini…”

Lalu asy-Syaikh berkata: “Sesungguhnya maulid nabi yang diselenggarakan pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal itu tidak memiliki dasar sama sekali menurut sejarah. Hal ini disebabkan tidak bisa dipastikan bahwa kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam itu pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Para ulama sejarah berbeda pendapat tentang penentuan tanggal kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Ada yang mengatakan tanggal 2, 8, 9, 10, 12, 17 dan 22 Rabi’ul Awwal. Masing-masing pendapat ini tidak lebih kuat daripada pendapat lainnya, sehingga penentuan tanggal kelahiran beliau adalah sesuatu yang tidak diketahui pasti oleh kita. Hanya saja sebagian peneliti masa sekarang (justru) menguatkan pendapat bahwa beliau lahir pada tanggal 9 Rabi’ul Awwal.

Bila perayaan maulid nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam itu tidak memiliki dasar sama sekali menurut sejarah, maka perayaan itu pun juga tidak memiliki dasar sama sekali menurut agama. Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam tidak pernah mengerjakannya dan tidak pula memerintahkannya. Tidak pula dilakukan oleh seorang pun dari kalangan sahabat dan pengikut mereka…” [Adh Dhiyaa’ul Laami’ Minal Khuthabil Jawaami’].

Penjelasan Fadhilatu asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan hafizhahullah

Beliau menyatakan : “Maka perayaan yang mereka ada- adakan yang berkaitan dengan kelahiran Rasul ini adalah perkara yang terlarang dan tertolak dari beberapa sisi:

Pertama: Perayaan ini bukan dari tuntunan Rasul Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan tuntunan para khulafa’ur rasyidin. Bila demikian maka termasuk perbuatan bid’ah yang terlarang, berdasar sabda beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam (artinya): “Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa’ur rasyidin sepeninggalku. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan geraham kalian. Hati- hatilah kalian dari perkara yang diada- adakan, karena setiap perkara yang diada- adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan.”

Perayaan maulid nabi itu adalah perkara yan diada- adakan oleh kaum Syi’ah Fathimiyah (Rafidhah-pen) setelah berlalunya generasi terbaik untuk merusak agama umat Islam. Siapa saja yang melakukan sesuatu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah namun ternyata sesuatu itu tidak pernah dilakukan Rasul, tidak pula beliau perintahkan, atau tidak pernah dilakukan para khalifah beliau setelahnya, maka orang tersebut telah menganggap rasul tidak menjelaskan perkara agama kepada manusia. Orang tersebut mendustakan firman Allah Ta’ala (artinya): “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama ini, telah Aku cukupkan bagi kalian nikmatKu dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agama kalian.” [Al Maidah : 3].

Kedua: Perayaan maulid nabi  itu menyerupai orang-orang Nashara, yang orang-orang Nashara itu merayakan maulid (kelahiran) nabi Isa ‘alaihis Salaam. Menyerupai mereka ini sangat diharamkan. Di dalam sebuah hadits terdapat larangan dari menyerupai orang- orang kafir dan perintah untuk membedakan diri dengan mereka. Terlebih bila meniru sesuatu   yang menjadi syiar agama mereka…”

Kemudian asy-Syaikh menyebutkan sisi-sisi yang lain. [Lihat Al Khuthab Al Minbariyah].

Alasan Dan Sanggahannya

Terdapat beberapa alasan yang dikemukakan untuk menyelenggarakan perayaan maulid nabi yang dapat kami simpulkan sebagai berikut:

1.Menyelenggarakan perayaan maulid nabi merupakan wujud kecintaan terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Sanggahannya adalah sebuah pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban yaitu apakah kecintaan kita terhadap beliau itu melebihi kecintaan Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali dan seluruh sahabat terhadap beliau ?! Kenapa para khalifah dan sahabat ini tidak menyelenggarakan perayaan maulid nabi padahal mereka sangat mencintai beliau ?! Sesungguhnya mereka ini tidak menyelenggarakan perayaan maulid nabi karena beliau tidak mensyariatkan bahkan melarangnya.

2.Menyelenggarakan perayaan maulid nabi dapat mengingatkan kita kepada perjuangan, kedudukan dan kemuliaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Sanggahannya adalah mengingat perjuangan, kedudukan dan kemuliaan beliau mestinya dengan mengikuti bimbingan beliau sepanjang hidup kita, bukan (justru) dengan menyelisihi bimbingan beliau. Mengingat perjuangan dan kedudukan Rasul mestinya dilakukan sepanjang kehidupan kita, bukan sekedar saat perayaan maulid nabi. Itu pun kalau perayaan tersebut merupakan tuntunan beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Wallahu a’lamu bish Shawaab 

, , , , , , , ,

  1. #1 by Muntaha on Kamis,2 Februari 2012 - 00:45

    Saya termasuk salah satu yang kurang memahami hal ini. Tapi saya pernah mendengar dan membaca bahwa mafhumnya kurang lebih begini. Bahwa pada suatu hari Rasulullah puasa hari senin dan beliau ditanya oleh sahabat mengapa beliau berpuasa pada hari tersebut. Maka beliau menjawab tahukah kalian hari ini adalah hari kelahiranku. Maka aku berpuasa karenanya. Ada yang menjadikan hadits ini sebagai dalil boleh bahkan sunah merayakan maulid Nabi SAW. Mohon penjelasannya biar ane nggak bimbang. Trim’s.

  2. #3 by agus on Sabtu,4 Februari 2012 - 12:04

    barakallahu fiykum,terlepas dari boleh apa gak nya kita melakukan perayaan maulid nabi,bismillahi saya sendiri sudah meninggalkannya,dan saya akan mempertanggung jawabkannya esok dihari kiamat karena saya tidak ikut memperingatinya,karena menurut saya gak ada perintah wajibnya tuk merayakannya seperti halnya sholat,puasa,zakat ,haji,menyekutukan ALLAH yg semua itu sudah jelas ada perintahnya dari alqur’an ataupun hadits rosulullah,nah bagi yg ngotot dan matia2an merasa itu wajib dan merasa itu kebaikan silahkan,dan esok juga pasti diminta pertangung jawabkan,saya org awam dan ALLAH memberikan saya akal,sesuai pemikiran saya ya saya bismillahi tak ikut2an dech,wallahu a’alam

  3. #5 by Akhifa Danie R on Minggu,5 Februari 2012 - 02:42

    ga perlu di baca artikel seperti ini tidak akan membawa manfaatnya juga bagi kita, diam menghadapi orang-orang dungu adalah JIHAD juga,
    tidakkah kalian tahu sungguh banya para Ahli fiqh muktabar yang mengarang kitab-kitabnya demi agar umat mengerti tentang ke sunnahan merayakan maulid nabi.
    saya melihat mereka yang menentang perayaan maulid tidak ada dari kalangan pesantren semua dari hali-ahli buku, ahli-ahli artikel tidak ada yang dari ahli kitab, orang-orang sperti ini tak perlu di ikuti ilmunya jangankan untuk membimbing orang lain, untuk dirinya aza tidak faham bagaimana ini ? emang saat orang merayakan maulid itu mengadakan pesta dansa apa, ato mabuk-mabukan dan euforia, dasar ! mereka yang merayakan maulid nabi itu membacakan sholawat, berceramah, memberi kenduri kepada anak-anak yatim, membaca dalail khairat yang kesemuanya penghormatan dan puji-pujian kepada Rasulullah dengan mengharapkan syafaat dan berkah dari Allah karena memuji Rasulnya. apa memuji dan memulyakan Rasul juga salah ?
    yang benar za bro, jika di kaitkan dengan hadis di atas maka sungguh saidina Abu bakar, saiyidina Umar, saiyyidina Usman termasuk yang mengada adakan, karena d jaman beliaulah Al-Qur’an di bikin menjadi mushaf, padahal tidak ada ayat dan hadis yang menyuruh menjilid Al-Qur’an, tapi ini adalah perbuatan yang terpuji.
    maka mengada adakan hal baru yang di maksud dalam hadis di atas yang ga bole adalah yang bertentangan dengan syari’at bro.

    • #6 by as sunnah madiun on Senin,6 Februari 2012 - 20:03

      bismillah,
      pengumpulan mushaf tidak dapat dikatakan sebagai bid’ah karena merupakan ijma shahabat. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam justru memerintahkan kita untuk mengikuti mereka, sebagaimana sabdanya: “Maka hendaknya kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Al-Khulafa Ar-Rasyidin, berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham.”(Shahih, HR. Abu Dawud)

  4. #7 by fajar achmad on Kamis,15 Maret 2012 - 19:04

    semoga byk hati yg tergerak tuk meningglkn apa2 yg tdk ada tununan dr ROSULULOH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: