Janganlah Kalian Mencela Angin!


Dari Abul Mundzir Ubay bin ka’b Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Janganlah kalian mencela angin! Bila kalian melihat sesuatu yang kalian benci (dari angin itu) maka ucapkanlah : ”Allahumma innaa nas’aluka min khairi hadzihir riih wa khairi maa fiihaa wa khairi maa umirat bihi wa na’udzu bika min syarri hadzihir riih wa syarri maa fiihaa wa syarri maa umirat bihi” (Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan dari angin ini, kebaikan  yang ada padanya dan kebaikan  yang angin ini diperintah untuk bertiup kepadanya. Dan kami berlindung kepada-Mu dari kejelekan angin ini, kejelekan yang ada padanya dan kejelekan yang angin ini diperintah untuk bertiup kepadanya)” [H.R At Tirmidzi yang dishahihkan asy-Syaikh Al Albani dan asy-Syaikh Muqbil rahimahumallah]

Angin merupakan salah satu tanda kebesaran dan kasih sayang Allah terhadap hamba-hambaNya yang menuntut rasa syukur dalam bentuk ketaatan kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman (artinya): “Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya yaitu Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira untuk memberikan kasih sayang terhadap kalian, supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan kalian dapat mencari karunia-Nya sehingga kalian dapat bersyukur kepada-Nya.” [Ar Ruum:46].

Namun, tidak jarang angin itu dapat menjadi azab yang Allah timpakan kepada hamba-hambaNya. Di dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Angin itu rahmat dari Allah. Angin itu bisa datang membawa rahmat dan bisa pula datang membawa azab. Apabila kalian melihat angin maka janganlah kalian cela ia. Tetapi mohonlah kepada Allah dari kebaikan angin tersebut dan berlindunglah kepada Allah dari keburukan angin itu.” [H.R Abu Dawud. Lihat Ibnu Majah. Dishahihkan asy-Syaikh Al Albani dan asy-Syaikh Muqbil].

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan bahwa angin itu ada jenis:

  1. Angin yang bertiup biasa dan tidak menakutkan.  Tidak disunnahkan untuk mengucapkan zikir tertentu.
  2. Angin yang bertiup kencang dan menakutkan. Bila angin bertiup kencang maka kita tidak boleh mencelanya, tetapi mengucapkan zikir sebagaimana zikir Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. [Diringkas dari Syarh Riyadhus Shalihin].

Hukum Mencela Angin

Jelas sekali bahwa mencela angin itu dilarang di dalam agama . Larangan mencela angin di dalam hadits Ubay bin Ka’ab bersifat pengharaman bukan sekedar pemakruhan. Seiring dengan itu mencela angin merupakan kebodohan dan kelemahan akal pikiran pelakunya, sebab angin itu tidak bertiup dengan sendirinya tetapi sesuai pengaturan Allah Ta’ala, sehingga mencela angin merupakan celaan terhadap Dzat yang mencipta dan mengatur angin tersebut yaitu Allah Azza wa Jalla. Dengan demikian, mencela angin dapat menodai iman dan tauhid seseorang. Kita memohon kekokohan dan kemurnian tauhid kepada Allah.

Al Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Tidak sepantasnya bagi seseorang untuk mencela angin. Sesungguhnya ia itu makhluk Allah yang taat dan salah satu tentara-Nya yang bila. Dia berkehendak maka kadang Dia jadikan angin tadi rahmat atau azab.”

Mewujudkan Tauhid Saat Angin Bertiup Kencang

Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam melarang kita dari mencela angin, beliau pun memberi arahan saat angin bertiup kencang dan menimbulkan rasa takut kepada kita. Arahan tersebut berupa zikir atau doa yang mengandung perwujudan tauhid seseorang berupa sikap tawakal, ketergantungan, harapan (raja’), berlindung dari keburukan (isti’adzah) dan rasa takut (khauf) hanya kepada Allah tiada sekutu bagi-Nya.

Masya Allah ! Ternyata Islam adalah agama yang lengkap dan sempurna. Dalam situasi yang mungkin kita anggap alami seperti ini, ternyata agama ini memberi tuntunan kepada kita, terlebih ketika –nyatanya- terkait erat dengan tauhid seseorang. Apakah hal-hal seperti ini terlintas di dalam benak kita ?!

Doa Saat Angin Bertiup Kencang dan Maknanya

Lafazh doa tersebut adalah:

Allahumma innaa nas’aluka min khairi hadzihir riih wa khairi maa fiiha wa khairi maa umirat bihi wa na’udzu bika min syarri hadzihir riih wa syarri maa fiihaa wa syarri maa umirat bihi”

artinya: “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dari kebaikan angin ini, kebaikan apa yang ada padanya dan kebaikan  yang angin ini diperintah untuk bertiup kepadanya. Kami memohon kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan  yang ada padanya dan keburukan  yang angin ini diperintah untuk bertiup.”

Adapun makna kalimat-kalimat pada doa tersebut yaitu:

–      “Kebaikan angin ini” maksudnya agar angin bertiup tenang kembali.

–      “Kebaikan  yang ada padanya” yakni tiupan angin yang membawa kesejukan, serbuk bagi buah-buahan dan tanaman atau air yang menyuburkan tanah.

–      “kebaikan  yang angin ini diperintah untuk bertiup kepadanya” maksudnya angin yang menggiring dan mengumpulkan potongan-potongan awan lalu turunlah hujan ke bumi, tumbuhnya tanaman dan buah-buahan, angin yang menggerakkan laut dan kapal-kapal yang berlayar di atasnya.

–      “Keburukan angin ini” adalah angin yang tetap bertiup kencang dan menakutkan.

–      “Keburukan  yang ada padanya” ialah angin yang membawa wabah penyakit bagi manusia, hewan, tumbuhan, dan buah-buahan.

–      “keburukan  yang angin diperintah untuk bertiup kepadanya” berupa angin yang mampu memporak-porandakan rumah, tanaman, menumbangkan pepohonan, atau menimbulkan ombak di lautan yang dapat menenggelamkan kapal.

Daratan dan lautan tidak luput dari keburukan angin yang diperintah Allah Yang Maha Kuasa untuk bertiup kencang, agar manusia bisa mengambil pelajaran di balik itu.

Asy-Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah berkata: “Hanyalah sikap seorang muslim tatkala angin bertiup kencang adalah takut kepada Allah Ta’ala, bertaubat kepada-Nya dari dosa-dosa, memohon kepada Allah dari kebaikan angin tersebut, berlindung kepada Allah dari keburukannya, karena tidak ada yang mampu mengatur, mencegah keburukan dan menganugerahkan kebaikan angin tadi kecuali Allah semata.” [Al Khuthab Al Minbariyah].

Doa Lain Saat Angin Bertiup Kencang

Dari Salamah bin ‘Amr bin Al Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam apabila angin bertiup kencang, beliau berdoa: “Allahumma Laqihan Laa ‘aqiima” (Ya Allah, datangkanlah angin ini dengan membawa air bukan angin  tanpa membawa air)” [Al Adabul Mufrad yang dishahihkan asy-Syaikh Al Albani dan asy-Syaikh Muqbil].

, , , , , , , , , , , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: