Mewujudkan Kasih Sayang Di Tengah Umat Islam


Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullah

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kaum mukminin itu bersaudara di atas iman. Mereka dalam mendukung dan membantu  satu sama lain ibarat sebuah bangunan. Aku bersaksi  bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang.Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, sebaik-baik manusia.

Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan bagi hamba dan utusan-Nya tersebut, keluarga beliau, sahabat dan para pengikut beliau yang baik.

Selanjutnya, wahai manusia: Bertakwalah kepada Allah Ta’ala. Ketahuilah bahwa kalian itu bersaudara di dalam agama Allah dan persaudaraan tersebut lebih kuat daripada segala bentuk persaudaraan (lainnya). Pada hari kiamat tidak ada pertalian nasab di antara kalian. Pertemanan akrab pada hari itu berubah menjadi permusuhan antara satu dengan  yang lainnya, kecuali orang- orang yang bertakwa. Tumbuhkanlah persaudaraan tadi wahai kaum muslimin dan perkuatlah dengan  upaya- upaya yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya.Tanamkanlah pada kalbu kalian kasih sayang dan kecintaan kepada kaum mukminin. Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Barangsiapa cinta karena Allah, benci karena Allah, membela karena Allah dan memusuhi karena Allah maka dengan itu pembelaan Allah akan dapat diraih.

Wahai kaum muslimin, sesungguhnya umat ini tidaaklah menjadi umat yang satu, tidaklah memiliki kekuatan dan kewibawaan sampai  umat ini (sendiri) mengikat diri dengan ikatan- ikatan agama. Sehingga, umat ini seperti apa yang disifatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam (artinya): “Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain itu seperti satu bangunan, sebagian menguatkan sebagian lainnya.”  Syariat ini telah meletakkan pondasi ikatan- ikatan tadi. Allah dan Rasul-Nya telah mengajari umat ini apa yang mempersatukan dan  memperkuat kesatuan mereka, menjaga kemuliaan dan kewibawaan mereka serta menumbuhkan kasih sayang dan kecintaan.

Allah dan Rasul-Nya telah mensyariatkan agar sebagian mengucapkan salam kepada sebagian yang lain tatkala saling bertemu. Ucapan salam itu dapat menanamkan kecintaan, memperkuat iman dan memasukkan pelakunya ke dalam surga. Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Demi Allah, tidaklah kalian dapat masuk ke dalam surga sampai kalian beriman. Tidaklah kalian beriman sampai kalian saling mencinta. Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang sesuatu yang bila kalian lakukan niscaya kalian akan saling mencinta? Tebarkanlah salam di antara kalian.”

Sebaik-baik orang adalah orang yang lebih dulu mengucapkan salam. Apabila salah seorang di antara kalian bertemu dengan saudaranya muslim maka ucapkanlah :” Assalaamu’alaikum.” Lalu saudaranya hendaklah membalas dengan ucapan semisal yang ia dengar: “Wa’alaikumus Salaam”. Tidak cukup ia sekedar mengucapkan: “Selamat berjumpa” atau kalimat semisal itu, sampai ia mengucapkan : “Wa’alaikumus Salaam”  .

Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot saudaranya muslim, karena hal itu akan menimbulkan kebencian, permusuhan, dan perpecahan. Kecuali, bila saudaranya tadi terang- terangan melakukan kemaksiatan dan pemboikotan terhadapnya memiliki faedah yaitu mencegahnya dari kemaksiatan. Pemboikotan itu seperti obat. Bila obat itu bisa memberikan manfaat berupa menghilangkan kemaksiatan atau memperkecil kemaksiatan maka ini sesuatu yang dituntut. Bila tidak memberikan manfaat maka tidak dilakukan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya): “Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot saudaranya melebihi 3 hari.”  Barangsiapa memboikot saudaranya lebih dari 3 hari lalu dirinya meninggal dunia, maka dirinya masuk ke dalam neraka.

Beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam juga bersabda (artinya): “Amalan- amalan shalih akan diangkat menuju Allah pada hari Senin dan Kamis. Allah mengampuni setiap orang yang tidak menyekutukan Allah di hari itu keuali seseorang yang memiliki permusuhan dengan saudaranya. Maka (Allah) mengatakan: “Tundalah terlebih dahulu 2 orang (bermusuhan) ini sampai keduanya berdamai.”

Allah dan Rasul-Nya mengajarkan umat ini untuk sebagian menjenguk sebagian lain bila menderita sakit. Menjenguk orang sakit itu dapat menumbuhkan kecintaan,melembutkan kalbu, menambah iman dan pahala. Barangsiapa menjenguk orang sakit maka penyeru  di langit akan menyeru:  “Engkau telah berbuat baik, perjalananmu adalah perjalanan baik.” Barangsiapa menjenguk saudaranya muslim maka senantiasa dirinya berada di kebun buah surga sampai ia pulang. Seyogyanya bagi seseorang yang menjenguk orang sakit untuk tidak   berlama- lama duduk di dekatnya, kecuali bila orang sakit tersebut senang hal itu. Seyogyanya bagi seseorang yang menjenguk orang sakit untuk mengingatkan orang yang sakit tersebut tentang janji Allah bagi orang yang bersabar berupa pahala , penghapusan dosa dan bahwa di setiap musibah itu ada jalan keluar. Membukakan pintu taubat dan pintu keluar dari penyelesaian hak-hak manusia. Membukakan juga pintu untuk memanfaatkan waktu berupa zikir, membaca Al Qur’an, istighfar dan apa saja yang bisa mendekatkan diri kepada Allah. (Demikian pula) mengajari apa  yang harus dilakukan saat berwudhu bila mampu berwudhu atau bertayammum dan bagaimana cara shalatnya. Sesungguhnya banyak diantara orang sakit yang tidak tahu banyak tentang hukum- hukum bersuci dan shalat. Janganlah salah seorang di antara kalian menganggap kecil perkara yang dapat mengingatkan orang  yang sakit dan perkara yang dapat memberikan bimbingan baginya. Orang yang sakit itu lebih mudah menerima kebenaran dan arahan.

Allah dan Rasul-Nya memerintah untuk mendamaikan manusia. Allah berfirman (artinya): “Hanyalah kaum mukminin itu bersaudara. Maka damaikanlah kedua saudara kalian. ” [Al Hujuraat: 10].

Allah memberitakan bahwa mendamaikan manusia itu adalah sebuah kebaikan (artinya): “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan pembicaraan mereka kecuali siapa saja yaang mengajak bershadaqah, kebaikan atau mendamaikan manusia. Barangsiapa melakukan hal itu demi mengharap ridha Allah maka Kami akan memberikan pahala yang besar baginya.” [An Nisaa’: 114].

Di dalam sebuah hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, bersabda (artinya): “Mendamaikan 2 orang itu adalah shadaqah.” Sesungguhnya mendamaikan manusia itu dapat menyambung keretakan, menyatukan keterpisahan, perbaikan seluruh masyarakat dan pahala yang besar bagi orang yang berharap ridha Allah. Sesungguhnya orang yang mendapatkan taufik dari Allah apabila melihat 2 orang bermusuhan dan berjauhan, maka dirinya berupaya menghilangkan permusuhan dan keterjauhan di antara keduanya sampai keduanya kembali berteman dan berdekatan.

Allah dan Rasul-Nya memerintah untuk mempersatukan kaum muslimin di atas kebenaran dan bermusyawarah dalam urusan– urusan mereka. Sampai kemudian urusan mereka teratur dan berhasil sempurna. Sesungguhnya pendapat- pendapat orang itu bila disatukan lalu diiringi saling memahami, pembelajaran dan niat yang baik, maka kebaikan akan terwujud dan kejelekan akan sirna dengan izin Allah.

Wahai kaum muslimin, sesungguhnya kaidah asal bagi kaum muslimin adalah berupaya dengan segala cara untuk menyatukan kalbu mereka, visi dan persepsi mereka. Berupaya untuk mencegah segala hal yang bertentangan dengan hal itu. Atas dasar itu diharamkan bagi kaum muslimin untuk sebagian mereka memboikot sebagian yang lain kecuali untuk kebaikan yang sesuai syariat. Engkau melihat sebagian kaum muslimin bersemangat dalam kebaikan dan bersungguh- sungguh mengerjakannya. Namun, syaithan telah menipu dirinya dengan memboikot saudaranya muslim karena kepentingan- kepentingan pribadi dan kenikmatan duniawi. Dirinya belum mengetahui bahwa Islam yang Allah anugrahkan kepadanya lebih tinggi daripada sekedar kepentingan- kepentingan pribadi atau kenikmatan- kenikmatan duniawi untuk mengikat individu- individu muslimin. Diharamkan bagi kaum muslimin untuk menciptakan permusuhan dengan adu domba dan menebar kerusakan. Seseorang mendatangi orang lain lalu berkata: ”Si fulan berkata buruk tentang dirimu demikian dan demikian.” (Orang yang berkata ini) menciptakan permusuhan di antara kedua orang tadi. Orang (yang berkata ini) belum mengetahui bahwa dengan adu dombanya dapat menyebabkan dirinya termasuk orang- orang yang berbuat kerusakan di muka bumi dan menjerumuskan dirinya ke dalam siksa Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah melewati 2 kubur , lalu beliau berkata (artinya): “Sesungguhnya penghuni kedua kubur ini sedang di siksa. Tidaklah keduanya disiksa karena perkara yang besar (menurut anggapan keduanya-pen). Orang pertama dahulu tidak membersihkan diri dari air kencingnya. Adapun orang kedua dahulu berjalan melakukan adu domba.” Beliau juga bersabda (artinya): “Tidak masuk ke dalam surga (bagi) orang yang sering mengadu domba.” Allah berfirman (artinya): “Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian. Taatilah Allah dan Rasul-Nya bila kalian itu adalah orang- orang yang beriman.” [Al Anfaal: 1]

  1. #1 by lukman on Kamis,29 Maret 2012 - 12:44

    assalamualaikum. minta koleksian syeikh utsaimin lagi ex. akhlak sesama manusia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: