Shalat Berjamaah (1)


Shalat berjamaah merupakan salah satu syi’ar agama Islam yang agung. Para ulama bersepakat bahwa shalat berjamaah merupakan salah satu ibadah atau ketaatan yang sangat agung di sisi Allah Ta’ala. Ibadah ini memiliki keutamaan yang sangat besar. Di antara keutamaan shalat berjamaah adalah sebagai berikut :

1.Shalat berjamaah lebih utama daripada 25 kali shalat sendirian

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Shalat bersama imam (berjamaah) itu lebih utama daripada 25 kali shalat yang ditunaikan seseorang dengan sendirian.” [H.R Muslim]

Apabila  seseorang mengerjakan shalat subuh dengan berjamaah, maka hal itu lebih utama daripada dirinya mengerjakan shalat subuh dengan sendirian sebanyak 25 kali. Masya Allah, sebuah amal shalih yang tidak sepatutnya kita abaikan !

Pembahasan lebih lanjut tentang keutamaan pertama ini insya Allah bisa para pembaca dapatkan di dalam majelis taklim kami.

2.Shalat berjamaah itu lebih suci di hadapan Allah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Dan sesungguhnya shalat seseorang bersama 1 orang itu lebih suci daripada shalat sendirian. Shalat bersama 2 orang itu lebih suci daripada shalat bersama 1 orang. Semakin banyak orang yang shalat bersamanya maka semakin dicintai oleh Allah Ta’ala.” [H.R Abu Dawud dan semisal itu diriwayatkan An Nasa’i. Dihasankan asy syaikh Al Albani].

3.Shalat berjamaah itu dikagumi oleh Allah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Sesungguhnya Allah sangat kagum terhadap shalat berjamaah.” [Ash Shahihah 1652].

 

Kewajiban Shalat Berjamaah    

Sering dengan keutamaan tadi, shalat berjamaah merupakan ibadah yang bersifat WAJIB BAGI SETIAP MUSLIM PRIA. Hal ini bisa kita ketahui dari beberapa dalil berikut ini :

1.Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “Dan apabila engkau berada di tengah- tengah mereka (saat di medan perang-pen), maka engkau memimpin shalat mereka. Hendaknya  kelompok ke-1 di antara mereka mengerjakan shalat terlebih dahulu bersamamu dengan tetap  memegang senjata. Apabila kelompok ke-2 ini akan melakukan sujud maka hendaknya mereka terlebih dahulu mundur ke belakang. Lalu ke-2 yang belum mengerjakan shalat hendaknya bergabung bersamamu dengan tetap menjaga kewaspadaan dan memegang senjata.” [An Nisaa’: 102]

Telah dimaklumi bahwa peperangan itu dilakukan oleh para pria yang memang lebih memiliki keberanian dan kekuatan, dibandingkan para wanita. Meski dalam keadaan perang, Allah tetap memerintah kelompok ke-1 untuk menunaikan shalat bersama (berjamaah) dengan imam/ komandan mereka. Ternyata tidak cukup hanya itu. Kelompok ke-2 pun diperintah untuk menunaikan shalat berjamaah dengan imam/ komandannya beserta kelompok ke-1. Sedangkan hukum asal perintah itu adalah  wajib dan kewajibannya bersifat ‘ain (bagi setiap pria) karena kelompok ke-2 juga tetap diprintah untuk shalat  berjamaah, tidak sekedar diwakili oleh kelompok ke-1.

Kalau yang demikian ini diwajibkan Allah saat keadaan perang, lalu bagaimana saat keadaan aman ?!

2.Seorang sahabat bernama Ibnu Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhu pernah mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah orang yang buta, rumahku jauh dari masjidmu dan tidak ada seorang pun yang layak untuk menuntunku. Apakah ada keringanan bagiku untuk  shalat   di rumah?” Lalu beliau bertanya lebih dahulu: “Apakah engkau mendengar suara adzan?” Sahabat tadi menjawab “Ya (aku mendengar suara adzan).” Maka beliau mengatakan : “Aku tidak mendapati engkau memperoleh keringanan (untuk shalat di rumah).” [H.R Abu Dawud dan asy-syaikh Albani berkata :”Hasan Shahih”].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang sangat mengasihi dan menyayangi umatnya, ternyata tetap memerintah Ibnu Ummi Maktum untuk shalat berjamaah, padahal sahabat ini keadaannya buta, rumahnya jauh dari masjid dan tidak memiliki penuntun yang layak menuju masjid. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam ternyata tidak memandang bahwa shalatnya para sahabat yang lain bersama beliau dapat menggugurkan kewajiban shalat berjamaah bagi Ibnu Ummi Maktum. Sehingga jelas sekali bahwa shalat berjamaah itu hukumnya WAJIB BAGI SETIAP MUSLIM PRIA.

Kalau yang demikian itu diwajibkan kepada sahabat yang keadaan seperti tadi, lalu bagaimana bagi pria muslim yang sehat, rumahnya dekat masjid atau agak jauh namun bisa berkendara dengan nyaman ?!

Di dalam riwayat-riwayat lain menyebutkan bahwa Ibnu Ummi Maktum mengadu kepada Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bahwa dirinya telah berusia lanjut, terdapat pepohonan antara rumahnya dengan masjid Nabawi, banyak binatang berbisa dan buas di kota Madinah saat itu. Namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam tetap memerintah sahabat mulia tadi untuk menunaikan shalat berjamaah di masjid.

 

Ancaman Bagi Orang Yang Tidak Menunaikan shalat Berjamaah di Masjid         

Dari hadits Ibnu Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhu, kita juga dapat mengambil faedah bahwa shalat berjamaah itu wajib ditunaikan di masjid tidak cukup hanya di rumah. Barangsiapa menunaikan shalat sendirian atau berjamaah namun di rumah bukan di masjid, maka ia mendapatkan ancaman dari Rasulullahu Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Beliau bersabda (artinya): “Barangsiapa mendengar suara adzan lalu tidak menghampirinya (untuk shalat berjamaah-pen) maka tidak ada kesempurnaan pada shalat yang  ia lakukan, kecuali kalau ada halangan (syar’i).” [H.R Ibnu Majah dan dishahihkan asy-Syaikh Al Albani].

Lebih tegas lagi beliau mengatakan (artinya) : “Sungguh-sungguh aku akan memerintahkan shalat lalu dikumandangkan iqamah padanya. Kemudian aku meminta seseorang untuk mengimami manusia, sedangkan aku akan pergi bersama beberapa orang dengan membawa seikat kayu bakar menemui orang-orang yang tidak menghadiri shalat (berjamaah di masjid). Lalu aku akan bakar rumah-rumah mereka.” [H.R Muslim. Lihat Al Bukhari].

Allahu akbar! Sedemikian kerasnya sikap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam terhadap orang-orang yang meninggalkan shalat berjamaah di masjid, padahal bisa jadi orang-orang tersebut masih mengerjakan shalat di rumah. Akankah setelah ini, seorang muslim yang mengaku cinta terhadap Rasul masih menganggap remeh kewajiban shalat berjamaah di masjid. Wallahu Musta’an!

Seorang sahabat yang mulia, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “ Barangsiapa ingin berjumpa dengan Allah esok dalam keadaan muslim, hendaklah menjaga shalat 5 waktu yang dikumandangkan adzan padanya. Sesungguhnya Allah telah mengajari jalan-jalan  petunjuk kepada Nabi kalian Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Sedangkan shalat 5 waktu tadi merupakan salah satu jalan petunjuk beliau. Kalau seandainya kalian shalat di rumah-rumah kalian, sebagaimana orang yang meninggalkan shalat berjamaah itu menunaikan shalat di rumahnya, maka sungguh kalian telah meninggalkan petunjuk Nabi kalian. Bila kalian telah meninggalkan petunjuk Nabi kalian maka niscaya kalian akan tersesat.” [Muslim].

Beliau juga menegaskan, “Sungguh-sungguh aku telah melihat diri-diri kami (saat itu) yang tidaklah meninggalkan shalat (berjamaah) melainkan ia seorang munafik yang memang diketahui kemunafikannya atau orang yang sakit. Sekalipun demikian orang yang sakit tersebut dibopong oleh dua orang sampai mendatangi shaf shalat.” [Muslim]

Tidak diragukan lagi bahwa ucapan beliau ini menunjukkan keseriusan dan kesungguhan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam menunaikan shalat berjamaah di masjid. Padahal,mereka juga melakukan aktifitas duniawi seperti berdagang, bertani, berkebun dan semisal itu sebagaimana aktifitas muslimin di masa sekarang.

Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan aktifitas rumah tangga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam melaui penurannya: “Beliau mengerjakan aktifitas rumah tangga –yakni membantu urusan keluarganya-. Apabila telah tiba waktu shalat, maka beliau keluar untuk menunaikan shalat (berjamaah-pen).” [Al Bukhari]

Wallaahu a’lam bish-Shawaab

, , , , , , , ,

  1. #1 by siti khaeriah on Jumat,20 Juli 2012 - 19:15

    Bismillah, afwan mungkin sebaiknya setiap hadits atau ayat yg disertakan dilengkapi dengan no hadits tersebut utk memudahkan pembaca. Jazakumulullah khairan,salam ukhuwah

  2. #2 by El Gohr Mohon Doakan on Selasa,4 September 2012 - 22:06

    semoga bisa segera terlaksana…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: