Bimbingan Untuk Imam dan Makmum


Ketika seseorang mengerjakan shalat berjamaah maka ia tidak akan terlepas dari salah satu diantara dua keadaan. Kalau ia tidak menjadi makmum maka pasti ia menjadi imam dan demikian pula sebaliknya. Masing-masing dari dua keadaan tersebut memiliki aturan/ bimbingan yang telah disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Dengan demikian, sangat penting bagi setiap imam maupun makmum untuk mengetahui bimbingan tersebut.

Bimbingan Untuk Imam
Ada beberapa hal yang sangat perlu diketahui oleh setiap imam, diantaranya:
1.Menjadi imam dalam shalat berjamaah adalah tanggung jawab yang besar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Imam itu adalah orang yang memiliki tanggung jawab. Apabila ia baik (saat memimpin shalat-pen) maka pahala akan diberikan kepada dirinya dan para makmum. Namun apabila ia buruk (saat memimpin shalat –pen) maka dosa akan ditimpakan kepada dirinya saja dan tidak ditimpakan kepada para makmumnya.” [H. R Ibnu Majah dan dishahihkan asy-Syaikh al-Albani].
2. Hendaknya yang menjadi imam adalah orang yang baik bacaan Al-Qur’annya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): (Hendaknya) yang mengimami manusia itu adalah orang yang paling baik bacaan Kitabullah-nya…” [H.R Muslim].
3. Diwajibkan bagi seorang imam untuk thuma’ninah (tenang) dalam melakukan gerakan-gerakan shalat dan tidak tergesa-gesa berpindah dari satu gerakan ke gerakan berikutnya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam mengancam setiap orang yang tidak thuma’ninah dalam shalatnya melalui sabdanya (artinya): “Sesungguhnya seseorang mengerjakan shalat selama 60 tahun namun shalatnya tidak diterima. Dia menyempurnakan ruku’nya tapi tidak menyempurnakan sujudnya. Dia menyempurnakan sujudnya tapi tidak menyempurnakan ruku’nya.” [ash-Shahihah 2535].
Beliau juga bersabda (artinya): “Allah Azza Wa Jalla tidak melihat shalat seseorang yang tidak menegakkan tulang sulbinya antara gerakan ruku’ dan sujudnya.” [ash-Shahihah 2536].
4. Diwajibkan bagi setiap imam untuk memperhatikan keadaan makmumnya dan tidak memberatkan mereka. Rasulullah Shalallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Apabila salah seorang dari kalian mengimami manusia maka hendaklah ia ringankan shalatnya. Sesungguhnya diantara mereka ada anak kecil, orang lanjut usia, orang lemah, dan orang sakit. Namun, bila ia shalat sendirian maka silakan ia panjangkan shalatya sesuai keinginannya.” [H.R Muslim. Lihat al-Bukhari].
Tentu saja saat meringankan shalatnya, sang imam tetap memperhatikan thuma’ninah dalam shalatnya. Asy-syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Namun yang dimaksud “meringankan” disini adalah sesuai sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, bukan sesuai hawa nafsu manusia. Sebab, kalau kita meringankan shalat sesuai hawa nafsu manusia, maka akan menyebabkan manusia menunaikan shalat tanpa thuma’ninah. Ini dikarenakan sebagian manusia memang berharap shalat dengan cepat seperti burung gagak yang mematuk.” [Syarhul Bukhari].
5. Hendaklah ia mengeraskan bacaan “Aamiin”-nya setelah membaca surat al-Fatihah pada shalat jahriyah (shalat yang bacaan suratnya dikeraskan).
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bila usai membaca Ummul Qur’an (Al Fatihah –pen) maka beliau meninggikan suaranya saat membaca “Aamiin”. [Ash-Shahihah 464]

Bimbingan Untuk Makmum
Adapun bimbingan untuk setiap makmum, diantaranya:
1.Setiap makmum hendaknya tidak memulai gerakan dalam shalat melainkan setelah imam telah sempurna melakukan gerakannya. Misal: makmum tidak memulai gerakan sujudnya kecuali setelah imam menempelkan dahinya di atas tanah/ lantai.
Al-Baraa’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu memberitakan bahwa para sahabat pernah shalat di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Apabila beliau telah mengangkat kepalanya dari ruku’ maka tidaklah aku melihat seorang pun dari mereka (para sahabat –pen) membungkukkan punggungnya sampai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam meletakkan dahinya di atas tanah, lalu mereka yang ada di belakang beliau menyungkurkan badannya dalam keadaan sujud.” [H.R Muslim. Lihat al- Bukhari].
Namun hal ini bisa kita lakukan apabila terdapat 2 hal berikut ini:
a.Makmum mampu melihat gerakan imam. Apabila sebaliknya -makmum tidak mampu melihat gerakan imamnya tetapi hanya suaranya- maka makmum dapat memulai gerakan dalam shalatnya setelah selesainya ucapan takbir (Allahu Akbar), tasmi’ (sami’allahu liman hamidah) atau salam imam.
b.Imam diketahui (dari kebiasaannya mengimami shalat) tidak segera berpindah ke gerakan berikutnya tatkala makmumnya belum sempurna melakukan gerakannya. Apabila sebaliknya -imam ternyata diketahui segera berpindah ke gerakan berikutnya-, maka makmum dapat memulai gerakannya walaupun imam belum sempurna melakukan gerakannya. Misal: makmum dapat memulai gerakan sujudnya walaupun imam belum meletakkan dahinya di atas tanah/ lantai, tetapi sekedar imam usai membaca takbir. Wallahu a’lam
2. Setiap makmum dilarang untuk mendahului imam dalam gerakannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menegaskan dalam salah satu sabdanya (artinya):
“Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah imam kalian. Janganlah kalian mendahului aku dalam ruku’, sujud, berdiri, maupun salam.” [H.R Muslim].
Lebih tegas lagi, beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam mengancam (artinya): “Apakah salah seorang diantara kalian tidak takut apabila mengangkat kepalanya sebelum imam (mengangkat kepalanya –pen) untuk Allah ubah kepalanya menjadi kepala keledai atau Allah ubah bentuknya menjadi bentuk keledai?!” [H.R al-Bukhari. Lihat Muslim].
Asy-Syaikh Shalih al Fauzan hafizhahullah berkata: “Mendahului imam adalah permainan syaithan terhadap sebagian orang yang mengerjakan shalat sampai merusak shalatnya. Bila bukan permainan syaithan maka manfaat apa yang akan diperoleh orang yang mendahului imamnya?! Sebab, ia tidak akan menyelesaikan shalatnya melainkan setelah salamnya imam.” [Al Mulakhash Al Fiqhi].
Dengan demikian, mendahului imam itu hukumnya haram. Adapun berkenaan dengan sah atau tidaknya shalat makmum tersebut, maka terdapat rincian:
a.Bila makmum tersebut mengetahui haramnya mendahului imam dan dalam keadaan sadar/ ingat ketika mendahului imam maka shalatnya batal dan harus diulangi dari awal.
b.Bila makmum tersebut belum/tidak mengetahui haramnya mendahului imam atau mengetahui tapi tidak sadar/lupa maka shalatnya sah. Hanya saja tatkala makmum sudah sadar/ ingat dan imam belum melakukan gerakan yang didahului makmum tadi, maka makmum harus segera kembali ke gerakan sebelumnya untuk selanjutnya melakukan gerakan setelah imam. Apabila tidak segera kembali maka shalatnya tidak sah.
3. Setiap makmum tidak diperkenankan untuk melakukan gerakan bersamaan dengan gerakan imam. Apabila gerakan yang bersamaan ini adalah takbiratul ihram maka shalat makmum tersebut tidak sah.
4. Setiap makmum juga tidak diperkenankan untuk tertinggal dari gerakan imam, padahal gerakan imam sudah sempurna. Dalam hal ini ada rincian:
a.Bila makmum tertinggal karena udzur/halangan seperti tidak mendengar suara imam atau lalai maka tatkala sudah mendengar/ sadar maka makmum tersebut segera mengejar ketertinggalannya.
b. Bila makmum tertinggal bukan karena udzur tetapi dirinya masih dapat mengikuti gerakan imam sebelum imam beralih ke gerakan yang berikutnya, maka shalatnya sah namun tidak sesuai tuntunan yang benar. Sedangkan bila makmum yang tertinggal bukan karena udzur ini ternyata tidak dapat mengikuti gerakan imam dan imam sudah beralih ke gerakan berikutnya, maka shalat makmum tersebut tidak sah menurut pendapat yang kuat.
Wallahu a’lamu bish shawaab

, , , , , , , ,

  1. #1 by inuk on Selasa,10 April 2012 - 23:56

    Blognya islami
    untuk hadistnya mohon tulisannya dibikin tebal biar g bingung
    salam kenal blogger madiun buat yg punya situs

  1. Bimbingan Untuk Imam dan Makmum « catatanmms

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: