Bahaya Perdukunan


Dukun adalah orang yang mengabarkan perkara- perkara ghaib di masa yang akan datang. Bisa dikatakan pula bahwa dukun ialah orang yang mengabarkan sesuatu yang ada di hati manusia. Demikian pula, dapat dikatakan bahwa dukun yaitu orang yang mengaku mengetahui perkara-perkara tertentu melalui pengantar-pengantar tertentu pula untuk mengetahui barang yang dicuri dan keberadaannya. Adapun arti perdukunan yaitu penyampaian berita tentang perkara- perkara yang telah disebutkan di atas.
Al Imam al- Khaththabi rahimahullah menerangkan bahwa para dukun adalah manusia yang memiliki pola pikir menyimpang, jiwa yang buruk dan tabiat kemarahan. Syaithan menyenangi mereka karena adanya kesamaan dalam sifat-sifat tadi dan keinginan membantu mereka dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Dahulu masa jahiliah, perdukunan menyebar luas terkhusus di kalangan Arab karena terputusnya kenabian di tengah mereka. Sedangkan perdukunan itu ada beberapa golongan :
1.Perdukunan yang didapatkan dari jin pencuri berita yang ada di langit.
2.Perdukunan yang didapatkan dari jin tentang peristiwa di seluruh permukaan bumi.
3.Perdukunan yang disandarkan pada dugaan, perkiraan dan sangkaan yang memang sebagian orang memiliki kekuatan untuk itu. Hanya saja tetap dibumbui banyak kedustaan.
4.Perdukunan yang disandarkan pada pengalaman dan kebiasaan. Kemudian sebuah peristiwa dicocokkan dengan peristiwa-peristiwa lain sebelum itu. Tidak jarang dibumbui pula dengan hal-hal yang berbau mistik.
Semua golongan itu dicela oleh syariat Islam. [Disadur bebas dari Fathul Bari].

Dukun Bisa Mendapatkan Berita Dari Syaithan
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, berkata: “Manusia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam tentang para dukun.Lalu beliau menjawab: “Mereka ini tidak memiliki keistimewaan sama sekali.” Maka mereka (para sahabat) berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka itu kadang mengabarkan kepada kami tentang sesuatu yang ternyata memang terjadi.” Lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menegaskan : “Sesuatu yang dikabarkan itu asalnya adalah berita benar yang dicuri oleh jin (dari langit-pen) Kemudian jin mengabarkannya ke telinga walinya (dukun-pen) namun (dukun tersebut) menambahkan 100 kedustaan pada berita tadi.” [H.R al Bukhari. Lihat Muslim]
Dalam hadits yang lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam memberitakan (artinya): “Apabila Allah menetapkan sebuah perkara di langit maka para malaikat meletakkan sayap-sayapnya dalam keadaan tunduk terhadap ucapan-Nya. Seakan-akan ucapan yang didengar itu seperti rantai yang diseret di atas batu yang halus. Tatkala ketakutan dicabut dari hati mereka maka mereka bertanya (kepada malaikat lainnya -pen) :”Apa yang diucapkan Rabb kalian?” Malaikat (yang ditanya) pun menjawab: “Kebenaran dan Dia (Allah) adalah Dzat Yang Maha Tinggi dan Maha Besar.” Ternyata (jawaban malaikat tadi) didengar oleh para pencuri pendengaran. Para pencuri pendengaran keadaannya demikian (yaitu) sebagian berada di atas sebagian yang lain. Apabila sebagian mendengar berita tadi maka segera menyampaikan kepada sebagian lain yang berada di bawahnya. Kemudian sebagian berikutnya menyampaikan berita tadi kepada sebagian lain yang ada di bawahnya lagi lalu menyampaikanya kepada tukang sihir atau dukun…” [H.R al Bukhari]
Asy-Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah berkata :”Dan para syaithan (jin-pen) tidaklah memberikan berita kepada dukun kecuali bila dukun itu mentaati mereka, kufur kepada Allah ‘Azza wa Jalla, syirik kepada Allah, menjalani ketentuan yang disebutkan mereka berupa kekufuran dan kesyirikan. Bila tidak, maka syaithan tidak akan mentaati seorang mukmin yang bertauhid karena orang mukmin tersebut tidak mentaati syaithan. Hanyalah syaithan itu mentaati siapa saja yang bersedia menuruti kemauannya berupa kekufuran dan kesyirikan.” [‘I’anatul Mustafid].
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:”Al-Khaththabi berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam menerangkan bahwa kadang kala dukun itu tepat dalam menyampaikan berita dikarenakan jin menyampaikan berita yang ia curi pendengaran dari malaikat kepadanya. Kemudian dukun menambahkan kedustaan-kedustaan yang ia cocokkan dengan apa yang ia dengar. Maka, jarang dukun itu benar sedangkan kesalahannya itu lebih banyak.” [Fathul Bari].
Dengan demikian –para pembaca- kita tidak diperkenankan untuk kagum terhadap ucapan para dukun yang ternyata sesuai dengan kejadian di masa mendatang. Lebih-lebih menggelari mereka dengan sebutan “orang pintar” atau bahkan wali Allah yang memiliki karamah. Samarnya lagi, mereka sering disebut sebagai “kyai” hanya karena berpenampilan Islami. Lebih ironis lagi kalau sebagian kita justru mengadukan permasalahan hidup/ nasibnya kepada mereka, bukan kepada Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Akhirnya para dukun pun menjadi tempat bertanya dan pengaduan, padahal kita dilarang keras oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam untuk mendatangi dan bertanya tentang suatu permasalahan hidup kepada mereka.

Faidah:
Asy-Syaikh Shalih bin Abdil Aziz Aalu asy-Syaikh hafizhallah menerangkan bahwa pencurian pendengaran dari langit oleh jin itu ada 3 keadaan:
1.Sebelum diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, pencurian pendengaran dari langit itu jumlahnya banyak sekali.
2.Setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, tidak ada pencurian dari langit oleh jin. Kalaupun ada, maka hal itu jarang sekali. Itu pun tidak mempengaruhi wahyu Allah terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam.
3.Setelah wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, pencurian pendengaran dari langit kembali muncul tapi tidak sebanyak sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. [Lihat at-Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid].

Ancaman Keras Terhadap Siapa pun Yang Mendatangi Dukun
Dari sebagian istri Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Barangsiapa mendatangi dukun lalu bertanya tentang suatu permasalahan (hidup) kepadanya maka shalatnya tidak diterima selama 40 malam” [H.R Muslim]. Dalam hadits yang lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam mengingatkan (artinya): “Barangsiapa mendatangi dukun lalu membenarkan apa yang diucapkannya maka dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan Muhammad.” [Ash-Shahihah 3387].
Dari dua hadits ini, kita dapat mengetahui bahwa barangsiapa mendatangii dukun dan bertanya/ mengadu tentang sebuah permasalahan hidup kepadanya -sekalipun tidak percaya/ membenarkan ucapannya– maka shalat orang tadi tidak diterima selama 40 hari. Sedangkan barangsiapa mendatangi dukun lalu percaya/ membenarkan ucapannya maka dirinya telah kafir terhadap Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.
Termasuk dalam ancaman ini adalah membaca ramalan bintang baik di media elektronik atau media cetak. Asy-Syaikh Shalih bin Abdil Aziz Aalu asy-Syaikh hafizhahullah berkata: “Dan wajib juga bagi setiap muslim untuk tidak memasukkan ramalan bintang tersebut ke dalam rumahnya, tidak membacanya atau tidak melihatnya. Sebab melihat ramalan-ramalan bintang dan apa yang ada padanya –sekalipun sekedar ingin tahu- termasuk dilarang dari sisi mendatangi dukun tanpa ada pengingkaran. Bila dirinya membaca halaman tentang ramalan bintang ini lalu mengetahui bintang yang ia dilahirkan padanya atau sudah mengetahui bintangnya lalu membaca ramalan padanya, maka seakan-akan ia telah bertanya kepada si dukun, sehingga tidak diterima shalatnya selama 40 hari. Bila dirinya sampai membenarkan ramalan tadi, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” [at-Tamhid].

Haramnya Upah Untuk Dukun
Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam melarang juall beli anjing, upah terhadap pezina dan upah terhadap dukun. [H.R al-Bukhari dan Muslim].
Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “al-Baghawi dari ulama madzhab kami dan al-Qadhi ‘Ayyadl berkata: “Kaum muslimin bersepakat tentang haramnya upah untuk dukun karena upah tersebut merupakan ganti dari sesuatu yang haram dan juga karena memakan harta dengan cara yang batil.” [Syarh an-Nawawi].
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah juga menegaskan bahwa upah untuk dukun itu haram dengan kesepakatan ulama, karena mengandung unsur mengambil ganti dari perkara yang batil [Fathul Bari].
Wallahu a’lamu bish-Shawaab.

, , , , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: