Adzan dan Iqamah (1)


Adzan secara bahasa artinya memberitahu atau mengumumkan. Dalam beberapa ayat al-Qur’an disebutkan lafazh “adzan” yang maksudnya adalah memberitahu atau mengumumkan. Allah Ta’ala berfirman (artinya): “Dan (inilah) suatu “adzan” dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji besar.” [At Taubah:3].
Arti lafazh “adzan “ pada ayat ini adalah “pengumuman”. Allah juga berfirman (artinya): “Dan “adzan” lah kepada manusia untuk mengerjakan haji.” [Al-Hajj: 27].
Maksud lafazh “adzan” lah pada ayat ini adalah “umumkanlah”. Sedangkan secara istilah syari’at adzan adalah beribadah kepada Allah dengan menyebut lafazh-lafazh tertentu setelah masuknya waktu shalat untuk memberitahukan bahwa waktu shalat telah masuk. [Lihat asy-Syarhul Mumti’].
Adapun iqamah secara bahasa adalah kata dasar dari bentukan kata “aqaama-yuqiimu-iqaamah” artinya menjadikan sesuatu itu tegak. Sedangkan secara syari’at, iqamah adalah beribadah kepada Allah dengan menyebut lafazh-lafazh tertentu saat akan menegakkan shalat. [Lihat asy-Syarhul Mumti’].

Sejarah Disyariatkannya Adzan dan Iqamah
Dari Abdullah bin Zaid bin ‘Abdi Rabbih radhiyallahu ‘anhuma, berkata: “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam berkeinginan untuk ditiupkan terompet dan memerintah untuk dipukulkan lonceng. Lalu Abdullah bin Zaid bermimpi ketika tidur. Ia pun mengisahkan: “Aku melihat seseorang mengenakan dua pakaian berwarna hijau membawa lonceng kemudian aku bertanya: “Wahai hamba Allah! Apakah engkau menjual lonceng ini?” Orang itu balik bertanya: “Untuk apa engkau gunakan lonceng ini?” Aku menjawab: “Aku gunakan lonceng ini untuk memanggil orang agar menunaikan shalat.” Ia pun berkata: “Maukah aku tunjukkan tentang sesuatu yang lebih baik dari itu?” Aku pun menjawab: “Apa itu?” Ia berkata: ”Katakan : ”Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar Asyhadu allaa ilaaha illallaah Asyhadu allaa ilaaha illallaah Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah Hayyaa ‘alash Shalaah Hayyaa ‘alash Shalaah Hayyaa ‘alal Falaah Hayyaa ‘alal Falaah Allaahu Akbar Allaahu Akbar Laa ilaaha illallaah.” Kemudian Abdullah bin Zaid keluar dan menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam lalu mengabarkan mimpinya. Ia pun berkata: “Wahai Rasulullah! Aku bermimpi melihat seseorang mengenakan dua pakaian berwarna hijau membawa lonceng… dan ia menceritakan kisah mimpinya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam berkata (artinya): “Sesungguhnya saudara kalian telah bermimpi. Keluarlah engkau bersama Bilal ke masjid dan tuntunlah ia sambil ia menyerukan seruan tadi. Sesungguhnya ia lebih baik suaranya dibanding dirimu. Lalu aku keluar bersama Bilal menuju masjid. Kemudian aku menuntunnya sambil ia menyerukannya. Maka Umar bin Al Khaththab mendengar seruan tersebut dan keluar, lalu berkata: “Wahai Rasullulah! Demi Allah, aku telah bermimpi semisal mimpinya.” [H.R Ibnu Majah dan dihasankan asy-Syaikh al Albani].
Dalam riwayat lain terdapat lafazh sisipan: “Lalu orang tersebut berkata: “Kemudian ucapkan ketika akan menegakkan shalat: Allaahu Akbar Allaahu Akbar Asyhadu allaa ilaaha illallaah Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah Hayyaa ‘alash Shalaah Hayyaa ‘alal Falaah Qad Qaamatish Shalaah Qad Qaamatish Shalaah Allaahu Akbar Allaahu Akbar Laa ilaaha illallaah…” [H.R Abu Dawud yang dihasankan asy-Syaikh al Albani dan asy-Syaikh Muqbil].
Para pembaca –semoga Allah merahmati kita- diantara faidah yang bisa kita ambil dari kisah Abdullah bin Zaid tersebut bahwa lafazh-lafazh adzan sebenarnya sudah mencukupi untuk memanggil kaum muslimin untuk menunaikan shalat, sehingga tidak perlu untuk menggunakan/menambah cara yang lain. Bahkan dengan jelas sekali bahwa lafazh-lafazh adzan itu lebih baik daripada cara lain seperti meniup terompet, memukul lonceng atau semisal dengan itu. Terlebih dalam lafazh-lafazh adzan terkandung makna yang sangat agung dan mulia yang tidak selayaknya disejajarkan dengan cara-cara lain tadi.

Keutamaan Adzan dan Iqamah

1.Adzan dan iqamah dapat menyebabkan syaithan lari.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Bila dikumandangkan adzan untuk shalat maka syaithan lari hingga terkentut-kentut sampai (sejauh) ia tidak mendengar adzan. Bila usai adzan ia datang kembali. Bila dikumandangkan iqamah maka syaithan lari lagi. Namun bila usai iqamah maka ia datang kembali…” [H.R al Bukhari. Lihat Muslim]. Namun belum tentu kita disyariatkan untuk mengumandangkan adzan atau iqamah setiap kali ingin mengusir syaithan. Kita perlu memastikan terlebih dahulu dalil yang shahih dan jelas tentang kapan syaithan akan lari tatkala mendengarkan adzan atau iqamah.

2. Semakin keras suara adzan maka akan semakin banyak makhluk yang mendengarkannya lalu mereka akan menjadi saksi kebaikan bagi sang muadzin pada hari kiamat. Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma berkata kepada seorang penggembala domba: “Sesungguhnya aku melihat engkau mencintai domba dan kehidupan desa. Apabila engkau sedang bersama dombamu-atau sedang berada di desamu- maka kumandangkan adzan dan keraskanlah suaramu. Sesungguhnya tidaklah sejauh mana suara muadzin itu didengar oleh jin, manusia, atau apapun melainkan mereka semua akan menjadi saksi kebaikan bagi dirinya pada hari kiamat.” Lalu Abu Said berkata: “Aku mendengar hal ini dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.” [H.R al Bukhari].
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam juga bersabda (artinya): “Tidaklah suara muadzin didengar oleh jin, manusia, pepohonan dan bebatuan melainkan mereka semua akan menjadi saksi kebaikan bagi muadzin tersebut.” [H.R ibnu Majah yang dishahihkan asy-Syaikh al Albani].
Di dalam 2 hadits ini terdapat anjuran untuk meninggikan suara ketika adzan semakin banyak makhluk Allah yang mendengarnya lalu kelak mereka akan menjadi saksi kebaikan bagi sang muadzin pada hari kiamat. Apalagi di masa sekarang para muadzin dapat memanfaatkan nikmat dari Allah berupa pengeras suara. Hendaknya mereka senantiasa berharap keutamaan yang sangat besar tadi dibalik kenikmatan ini. Walhamdulillah.

3. Para muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari kiamat.
Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bersabda (artinya): “Para muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari kiamat.” [H.R Muslim].
Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menyebutkan beberapa makna yang disebutkan para ulama tentang maksud “paling panjang lehernya”, diantaranya:
a. Paling panjang lehernya sehingga tidak tenggelam dengan keringatnya pada hari kiamat.
b. Pemimpin atau junjungan
c. Paling banyak amalannya (lihat selengkapnya dalam Syarh an-Nawawi)

4. Barangsiapa mengumandangkan adzan selama 12 tahun maka ia mendapatkan surga (al- Jannah) dan 60 kebaikan di setiap harinya serta dari setiap iqamahnya mendapatkan 30 kebaikan. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Barangsiapa mengumandangkan adzan selama 12 tahun maka ia mendapatkan al Jannah dan dicatat dari adzan di setiap harinya sebanyak 60 kebaikan serta dari setiap iqamahnya sebanyak 30 kebaikan.” [H.R Ibnu Majah yang dishaihkan asy-Syaikh al Albani].
Asy-Syaikh al Albani berkata: “Di dalam hadits ini terdapat keutamaan yang jelas bagi muadzin yang sabar dalam mengumandangkan adzan selama waktu yang disebutkan di dalam hadits tadi. Tidak samar lagi bahwa keutamaan itu disyaratkan bagi seseorang yang mengumandangkan adzan dalam keadaan ikhlas tidak berharap imbalan, riya’, atau sum’ah. Hal ini karena banyaknya dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang memberikan faidah bahwa Allah Ta’ala tidak menerima amalan kecuali bila ikhlas karena-Nya.” [Ash-Shahihah tentang hadits 42].
Wallahu a’lamu bish Shawaab

, , , , , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: