Adzan dan Iqamah (2)


Adzan dan iqamah hukumnya fardlu kifayah karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memerintah sebagian sahabat saja untuk mengumandangkan adzan dan iqamah seperti Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu. Apabila di sebuah daerah tidak terdengar suara adzan maka wajib bagi salah satu penduduk daerah tersebut untuk mengumandangkan adzan. Jika ternyata tidak ada satu pun yang mengumandangkan adzan, maka seluruh penduduk daerah tersebut berdosa. Demikian pula, adzan merupakan salah satu syiar keislaman. Apabila suatu daerah itu dikumandangkan adzan padanya, maka daerah itu merupakan daerah muslimin. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam apabila bersama kami memerangi kaum tersebut suatu kaum, maka beliau tidak memerangi terlebih dahulu sampai tiba pagi hari dan beliau pun melihat. Apabila (saat itu) beliau mendengar adzan maka beliau menahan dari peperangan. Namun bila beliau tidak mendengar adzan maka beliau pun memerangi kaum tersebut. Wallahu a’lam.

Kriteria – kriteria Seorang Muadzin

1. Seorang muadzin hendaknya ikhlas ketika menjalani tugas mulianya sebagai seorang muadzin. Keutamaan dari Allah Ta’ala bagi seorang muadzin – yang telah disebutkan pada edisi lalu – tidaklah dapat dibandingkan dengan imbalan manusia, pujian atau sanjungan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menyebutkan dalam sebuah hadits (artinya): “Sesungguhnya Allah membangkitkan hari-hari pada hari kiamat sesuai bentuknya. Dia membangkitkan hari Jum’at dalam keadaan jernih dan bersinar. Orang-orang yang memuliakan hari Jum’at mengelilingi hari tersebut seperti pengantin wanita diantar ke pengantin pria. Hari Jum’at menyinari mereka. Mereka berjalan di bawah cahayanya. Warna mereka seperti putihnya salju. Aroma mereka semerbak misk. Mereka berbincang-bincang di pegunungan mata air Kaafuur. Manusia dan jin melihat mereka. Tidaklah mereka usai terkagum- kagum sampai mereka masuk ke surga. Tidak ada seorang pun yang berkumpul dengan mereka kecuali para muadzin yang ikhlas.” [Ash-Shahihah:706]
Namun bila seorang muadzin diberi imbalan tanpa dirinya meminta atau berharap, maka hendaknya ia terima. Hal ini tidak menodai keikhlasan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Barangiapa mendapatkan kebaikan dari saudaranya tanpa meminta atau berharap maka hendaknya ia terima kebaikan tersebut dan jangan menolaknya. Sesungguhnya kebaikan tersebut adalah rizki yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepadanya.” [ats-Tsamar al-Mustathab dan dishahihkan asy-Syaikh al-Albani].

2.Memiliki suara yang merdu dan lantang.
Hal ini sebagaimana perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam kepada Abdullah bin Zaid agar menuntun Bilal bin Rabah seraya mengumandangkan seruan adzan, karena Bilal lebih baik suaranya daripada Abdullah bin Zaid. [Lihat edisi yang lalu].
Demikian pula kekaguman Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam terhadap suara Abu Mahdzurah radhiyallahu ‘anhu yang akhirnya ditunjuk sebagai muadzin di kota Makkah. [Lihat ats-Tsamar dan di shahihkan asy-Syaikh al-Albani].

3.Memegang amanah saat menjalankan tugasnya sebagai seorang muadzin.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Imam itu adalah orang yang memiliki tanggung jawab. Sedangkan muadzin adalah orang yang diserahi amanah.” [ash-Shahihul Musnad: 498]. Diantara bentuk amanah saat menjalankan tugas sebagai muadzin adalah memperhatikan masuknya waktu shalat. Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Dahulu Bilal tidak terlambat mengumandangkan adzan dari awal waktunya dan kadang sedikit mengakhirkan iqamah.” [H.R Ibnu Majah dan dihasankan asy-Syaikh al Albani].
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memuji muadzin yang memperhatikan masuknya waktu shalat, melalui sabdanya (artinya): “Sesungguhnya sebaik-baik hamba Allah adalah orang-orang yang memperhatikan matahari, bulan, bintang, dan bayangan untuk mengingat Allah ‘Azza wa Jalla (shalat lima waktu dan puasa-pen).” [Ash-Shahihah 3440].

Tata Cara Mengumandangkan Adzan
1.Tidak menambah lafazh-lafazh/zikir tertentu yang memang tidak ada contohnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebelum mulai adzan.

2.Mengucapkan lafazh-lafazh adzan yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Ada tiga bentuk lafazh yang dapat kami sebutkan :
a.Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allahu Akbar Allaahu Akbar (kemudian membaca lafazh berikut dengan suara rendah):
Asyhadu allaa ilaaha illallaah Asyhadu allaa ilaaha illallaah
Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah (kemudian membaca lafazh berikut dengan suara keras):
Asyhadu allaa ilaaha illallaah Asyhadu allaa ilaaha illallaah
Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah
Hayyaa ‘alash Shalaah Hayyaa ‘alash Shalaah
Hayyaa ‘alal Falaah Hayyaa ‘alal Falaah
Allaahu Akbar Allaahu Akbar Laa ilaaha illallaah [H.R Abu Dawud yang dishahihkan asy-Syaikh al-Albani].

b.Allaahu Akbar Allaahu Akbar (kemudian membaca lafazh berikut dengan suara rendah )
Asyhadu allaa ilaaha illallaah Asyhadu alla ilaaha illallaah
Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah (kemudian membaca lafazh berikut dengan suara keras):
Asyhadu allaa ilaaha illallaah Asyhadu allaa ilaaha illallaah
Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah
Hayyaa ‘alash Shalaah Hayyaa ‘alash Shalaah
Hayyaa ’alal Falaah Hayyaa ‘alal Falaah
Allaahu Akbar Allaahu Akbar Laa ilaaha illallaah [Lihat ats-Tsamar dan syarh an-Nawawi].

c.Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar
Asyhadu allaa ilaaha illallaah Asyhadu allaa ilaaha illallaah
Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah
Hayyaa ‘alash Shalaah Hayyaa ‘alash Shalaah
Hayyaa ‘alal Falaah Hayyaa ‘alal Falaah
Allaahu Akbar Allaahu Akbar Laa ilaaha illallaah [H.R Abu Dawud dan Ibnu Majah. Dihasankan asy-Syaikh al- Albani dan asy-Syaikh Muqbil].

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa yang lebih utama adalah mengamalkan semua bentuk adzan yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, kecuali bila khawatir terjadinya keresahan dan fitnah, maka hendaknya mencukupkan dengan bentuk adzan yang tidak menimbulkan keresahan atau fitnah tersebut. Namun, selayaknya tetap melatih manusia dengan menyampaikan ilmu kepada mereka tentang bentuk ibadah yang memang telah shahih. Bila hati mereka telah tenang dan jiwa mereka telah lapang, maka saat itu diterapkan bentuk- bentuk ibadah tadi. Sehingga tercapai tujuan mengamalkan sunnah tanpa ada keresahan dan fitnah. [Lihat asy-Syarhul Mumti’].

3.Menutup kedua lubang telinganya dengan kedua jari tangan.
Dari Abu Juhaifah radhiyallahu ‘anhu, berkata : “Aku pernah menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam di daerah Abithah dalam keadaan beliau berada di kemah berwarna merah celupan. Lalu Bilal keluar mengumandangkan adzan. Bilal pun berpaling saat mengumandangkan adzan dan memasukkan kedua jarinya ke dalam kedua lubang telinganya.” [H.R Ibnu Majah dan dishahihkan asy-Syaikh al-Albani].
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyatakan sunnahnya meletakkan kedua jarinya pada kedua lubang telinganya sejak awal sampai akhir adzan. [Lihat Fathu Dzil Jalaali wal Ikraam].
Di antara ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud jari tangan pada pembahasan ini ialah jari telunjuk. Hal ini disebutkan al-Imam an-Nawawi, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan asy-Syaikh Shalih al-Fauzan. Wallahu a’lam.
Menutup kedua telinga dengan jari tangan memiliki faidah untuk semakin dapat mengeraskan suara. Sedangkan mengeraskan suara adzan dapat menyebabkan sekian banyak makhluk Allah mendengarnya lalu menjadi saksi kebaikan bagi sang muadzin pada hari kiamat.

4. Ditunjuk 2 orang muadzin untuk mengumandangkan adzan sebanyak 2 kali. Salah satunya sebelum masuk waktu shalat Subuh. Sedangkan yang lainnya saat masuk waktu shalat Subuh.
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, berkata: “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memiliki 2 muadzin yaitu Bilal dan Ibnu Ummi Maktum yang tuna netra. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bersabda (artinya): “Sesungguhnya Bilal itu mengumandangkan adzan di waktu malam. Tetaplah kalian makan dan minum (di waktu sahur-pen) sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan.” [H.R Muslim. Lihat al-Bukhari].
Adapun selisih waktu antara usainya adzan sebelum Subuh dengan mulainya adzan saat Subuh tidaklah terlalu lama.
Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Tidaklah selisih waktu di antara keduanya melainkan turunnya yang ini (Bilal-pen) dan naiknya yang ini (Ibnu Ummi Maktum-pen).” [an-Nasa’i dan dishahihkan asy-Syaikh al-Albani].
Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah menyatakan bahwa adzan yang pertama itu dilakukan kira-kira 15 menit sebelum masuk waktu Subuh. [Lihat Tamamul Minnah]. Sedangkan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah memperkirakan 30 menit sebelum masuk waktu Subuh. [Lihat Fathu Dzil Jalaali wal Ikraam.
Wallahu a’lamu bish-Shawaab

, , , , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: