Adzan dan Iqamah (3)


Masjid Ponpes Darul Ihsan Madiun

5.Menambahkan lafazh “Ash Shalaatu Khairum –Minan- Nauum” pada adzan pertama subuh.
Hal ini berdasarkan hadits Abu Mahdzurah radhiyallahu ‘anhu, berkata:”Dahulu aku menjadi pernah muadzin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Aku pun mengucapkan pada adzan pertama subuh “Hayyaa ‘alal Falaah Ash Shalaatu Khairum –Minan- Nauum Ash Shalaatu Khairum –Minan- Nauum Allaahu Akbar Allaahu Akbar Laa ilaaha illallaah.” [H.R Abu Dawud dan dishahihkan asy-Syaikh al-Albani].
Atas dasar ini tidak ada permasalahan bahwa ucapan “Ash-Shalaatu Khairum –Minan- Nauum” itu memang pada adzan pertama subuh. Namun timbul permasalahan berikutnya yaitu: manakah yang dimaksud dengan adzan pertama itu? Adzan sebelum masuk waktu shalat subuh ataukah adzan setelah masuk waktu shalat subuh? Inilah yang menjadi titik perbedaan di kalangan ulama.
Sebagian ulama berpendapat bahwa adzan pertama itu adalah adzan sebelum masuk waktu shalat subuh. Sedangkan adzan kedua adalah adzan setelah masuk waktu shalat subuh. Namun sebagian ulama lain berpandangan bahwa adzan pertama itu adalah adzan setelah masuk waktu shalat subuh. Sebagaimana adzan kedua adalah iqamah. Perlu diketahui bahwa iqamah itu juga dapat disebut sebagai adzan, sedangkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam (artinya): “Antara setiap 2 adzan itu ada shalat.” [H.R al Bukhari dan Muslim]. 2 adzan yang dimaksud dalam hadits ini adalah adzan masuk waktu shalat dan iqamah. Wallahu a’lam

6.Menambahkan lafazh “Shalluu fii Buyuutikum” atau semakna dengan itu pada adzan di waktu hujan.
Dalam hal ini ada 3 tempat yang bisa kami sebutkan terkait penambahan lafazh “Shalluu fii Buyuutikum” atau semakna dengan itu.
a.Setelah lafazh “Asyhadu anna Muhammadar Rasuululalah” dengan menggantikan lafazh “Hayyaa ‘alash Shalaah ”.
Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim.
b.Setelah lafazh “Hayyaa ‘alal Falaah” tanpa ada pergantian lafazh.
Hal ini berdasarkan hadits seseorang dari Tsaqif yang diriwayatkan an-Nasa’i dengan sanad yang dishahihkan asy-Syaikh al-Albani dan asy-Syaikh Muqbil.
c.Di akhir adzan (setelah lafazh Laa ilaaha illallaah) tanpa ada pergantian lafazh.
Jenis ini berdasarkan hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim.

7.Tidak mengucapkan zikir/lafazh-lafazh tertentu dengan suara keras (jahr) seusai adzan. Alangkah baiknya antara usainya adzan dengan akan dikumandangkannya iqamah, digunakan untuk menunaikan shalat sunnah 2 rakaat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Antara setiap 2 adzan (adzan dengan iqamah-pen) itu ada shalat.” (H.R al-Bukhari dan Muslim).
Bila tidak, maka waktu antara adzan dengan iqamah dapat dimanfaatkan untuk berdoa kepada Allah. Sebab, antara adzan dan iqamah merupakan salah satu waktu mustajab untuk berdoa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Tidaklah ditolak doa yang dipanjatkan antara adzan dan iqamah.” [H.R Abu Dawud. Lihat at-Tirmidzi. Asy-Syaikh al-Albani menshahihkan hadits ini]. Sedangkan hukum asal memanjatkan doa adalah dengan suara rendah (sirri). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Wahai manusia rendahkanlah suara kalian. Sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada Dzat yang tuli dan tidak pula jauh. Sesungguhnya Dzat yang kalian berdoa kepada-Nya itu adalah Dzat Yang Maha Mendengar dan Dekat.“ [H.R al-Bukhari dan Muslim].

Tata Cara Mengumandangkan Iqamah
1.Tidak menambahkan lafazh- lafazh/zikir tertentu yang memang tidak ada contohnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sebelum iqamah dimulai.
2.Mengucapkan lafazh-lafazh iqamah yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Ada 2 bentuk lafazh yang dapat kami sebutkan:

a.Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar
Asyhadu allaa ilaaha illallaah Asyhadu allaa ilaaha illallaah
Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah
Hayyaa ‘alash Shalaah Hayyaa ‘alash Shalaah
Hayyaa ‘alal Falaah Hayyaa ‘alal Falaah
Qad Qaamatish Shalaah Qad Qaamatish Shalaah
Allaahu Akbar Allaahu Akbar
Laa ilaaha illallaah [H.R Abu Dawud dan Ibnu Majah. Asy-Syaikh al-Albani berkata: “Hasan Shahih”].

b.Allaahu Akbar Allaahu Akbar
Asyahadu allaa ilaaha illallaah Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah
Hayyaa ‘alash Shalaah Hayyaa ‘alal Falaah
Qad Qaamatish Shalaah Qad Qaamatish Shalaah
Allaahu Akbar Allaahu Akbar
Laa ilaaha illallaah [H.R Abu Dawud yang dihasankan asy-Syaikh al-Albani dan asy-Syaikh Muqbil].

3.Hendaknya yang mengumandangkan iqamah adalah yang mengumandangkan adzan sebelumnya.
Hal ini berdasarkan perbuatan Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu yang beliau mengumandangkan adzan sekaligus iqamah di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam.
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menyatakan bahwa orang yang mengumandangkan iqamah sekaligus dialah yang mengumandangkan adzan hukumnya sunnah, bukan sebuah kewajiban. Sehingga, kalau ada seseorang mengumandangkan adzan lalu orang selainnya mengumandangkan iqamah, maka ini diperbolehkan. Hanya saja hal ini menyelisihi sesuatu yang sunnah dan sesuatu yang lebih sempurna [Tashilul Ilmam].

4.Sepantasnya bagi seorang muadzin untuk memperhatikan rentang waktu antara adzan dengan iqamah. Paling tidak rentang/jarak waktu antara adzan dengan iqamah lamanya seperti shalat 2 rakaat.
Disebutkan dalam sebuah hadits yang shahih (artinya): “Antara setiap 2 adzan (adzan dan iqamah-pen) itu ada shalat.” [Telah lewat penyebutannya].

5.Menutup kedua lubang telinganya dengan kedua jari sebagaimana saat mengumandangkan adzan. Al Imam at-Tirmidzi rahimahullah berkata:”Sebagian ulama menyatakan:”Demikian juga dalam iqamah, agar memasukkan kedua jarinya ke kedua lubang telinganya. Ini adalah pendapat al-Auza’i” [Sunan at-Tirmidzi].

Menjawab Suara Adzan
Dalam pembahasan ini terdapat beberapa poin :

1.Hukum menjawab suara adzan.
Sebagian ulama menyatakan wajibnya menjawab suara adzan. Namun sebagian lain menyatakan sunnah. Terlepas dari mana diantara 2 pendapat tersebut yang lebih kuat, tentu kita hendaknya berupaya menjawab seruan adzan karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menegaskan (artinya): “Apabila kalian mendengar seruan adzan, maka katakanlah seperti apa apa yang dikatakan muadzin.” [H.R al-Bukhari dan Muslim].
Setiap lafazh adzan yang diserukan sang muadzin hendaknya dijawab sesuai masing-masing lafazh tersebut. Termasuk juga bila muadzin mengatakan “Ash Shalaatu Khairum-Minan- Nauum” atau “Shalluu fii Buyuutikum” maka dijawab sesuai lafazh – lafazh tersebut. Hanya saja bila sampai pada lafazh “Hayyaa ‘alash Shalaah” dan “Hayyaa ‘alal Falaah” maka dijawab dengan “Laa Haula wa Laa Quwwata illaa billaah.”

2.Keutamaan menjawab suara adzan
Barangsiapa melakukan amalan ini dari lubuk hatinya maka ia akan masuk surga.[Lihat Muslim]

3.Membaca shalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam usai menjawab seruan adzan lalu membaca doa.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Apabila kalian mendengar suara muadzin maka katakanlah seperti apa yang ia katakan. Lalu bershalawatlah atas diriku, karena sesungguhnya barangsiapa bershalawat atas diriku 1 shalawat saja maka Alah akan bershalawat untuk dirinya 10 shalawat. Setelah itu, mohonkanlah wasilah kepada Allah untukku. Sesungguhnya wasilah itu adalah sebuah kedudukan di surga. Tidak sepantasnya kedudukan tempat tersebut. Barangsiapa memohonkan wasilah (kepada Allah untukku) maka ia akan mendapatkan syafa’atku.” [H.R Muslim].

4. Lafazh doa setelah menjawab suara adzan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Barangsiapa membaca doa usai menjawab adzan: “Allahummaa Rabba Haadzihid Da’watit Taammah Wash Shalaatil Qaa’imah Aati Muhammadanil Wasiilata wal Fadhiilah Wab’atshu Maqaamam Mahmuudanil ladzii Wa’adtah” maka ia akan mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat.” [H.R al-Bukhari].
Wallahu a’lamu bish-Shawaab

, , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: