Bulan Suro, Antara Syariat dan Adat


Allah memberi nikmat kepada dengan tambahan umur kepada kita hingga kita memasuki bulan Muharram di tahun 1434 hijriyah. Sungguh ini merupakan kenikmatan luar biasa yang perlu disyukuri karena kita masih diberi kesempatan menambah amal demi menggapai ridho Allah. Ironisnya, masyarakat kita,terutama Jawa,malah menyambut bulan Muharram atau yang lazim disebut bulan Suro dengan berbagai keyakinan menyimpang yang berbuah amalan – amalan yang menyimpang bahkan sampai pada taraf kesyirikan dan kekufuran.

Menganggap Suro sebagai bulan keramat sehingga menghindari penyelenggaraan hajat di bulan ini adalah bagian dari keyakinan syirik. Jadi, jangan sampai dipahami bahwa syirik hanya terbatas pada perbuatan. Ucapan dan keyakinan juga bisa dihukumi syirik walaupun tidak diiringi perbuatan. Menganggap sial suatu waktu tertentu dinamakan tathayyur atau thiyarah dan hal seperti ini ada sejak zaman jahiliyyah Arab. Bedanya, kalau disana dulu yang dianggap sial adalah bulan Shofar. Nabi Agung Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan dalam salah satu haditsnya bahwa thiyarah adalah syirik. Dalam hadits lain, beliau menegaskan laa shofar artinya tidak boleh menganggap sial bulan Shofar. Tentu sama hukumnya menganggap sial bulan Shofar, bulan Suro atau lainnya karena semua adalah waktu yang Allah beri kesempatan kepada para hamba-Nya untuk beramal sebaik mungkin dan bukan waktu sial.
Dari keyakinan pengkeramatan bulan Suro berujung pada berbagai amal kesyirikan baik dengan nama sedekah bumi, bersih deso, sedekah laut, dsb. Persembahan seperti ini merupakan syirik besar yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam. Apa bedanya dengan perbuatan musyrikin Quraisy yang Rasulullah memerangi mereka padahal sebagian mereka masih termasuk keluarga dekat beliau ? Musyrikin Quraisy mempersembahkan berbagai macam persembahan kepada berhala – berhala mereka dengan harapan berhala – berhala itu menjadi pemberi syafa’at mereka di sisi Allah (lihat surat Yunus ayat 18) dan mendekatkan mereka kepada Allah (lihat surat Az Zumar ayat 3). Jadi, mereka memang mengakui Allahlah pencipta mereka, pencipta alam semesta dan pemberi rezeki (lihat surat Az Zukhruf ayat 9 dan 87). Sama dengan keadaan masyarakat kita yang mayoritas mengaku muslim namun amal perbuatan mereka tidak beda dengan perilaku musyrikin Quraisy. Padahal kita tahu bahwa inti dakwah para nabi dan rasul adalah untuk menyebarkan tauhid dan memberantas kesyirikan sebagaimana banyak ayat dan hadits menegaskan hal ini (lihat sebagai contoh surat Al Anbiyaa ayat 25, dan An Nahl ayat 36). Kita tahu pula bahwa bahwa dosa syirik adalah dosa terbesar sebagaimana ketika nabi kita ditanya tentang dosa terbesar maka beliau jawab (artinya) : “Engkau jadikan bagi Allah sekutu padahal Dialah yang menciptakanmu” (HR.Bukhari). Tidak diragukan lagi bahwa persembahan kepada jin atau yang bahurekso dalam acara sedekah bumi dan lainnya di bulan Suro adalah karena menganggap yang diberi persembahan sebagai sesuatu yang diagungkan, dihormati, ditakuti sehingga perlu diberi persembahan. Bukankah ini menjadikan tandingan bagi Allah ?
Keadaan ini semakin diperparah dengan adanya penyembelihan untuk selain Allah yang ini juga merupakan syirik besar karena menyembelih adalah ibadah sebagaimana baru saja kita lewati di hari ‘Idul Adh-ha. Artinya, memalingkan ibadah yang seharusnya ditujukan kepada Allah kemudian diberikan kepada selain Allah merupakan kesyirikan yang nyata. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (artinya) : “Allah melaknat siapa saja yang menyembelih untuk selain Allah” (HR.Muslim).
Satu lagi. Dalam acara – acara tersebut harta dibuang dengan sia – sia. Rezeki yang Allah ta’ala berikan dihamburkan begitu saja. Ini adalah bentuk tabdzir dan Allah ‘azza wa jalla telah menegaskan bahwa mubadzdzir adalah temannya syaithon (lihat surat Al Israa ayat 27). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang dari menyia – nyiakan harta (HR.Bukhari Muslim).

Ini tinjauan syariat dari berbagai sisi terkait fenomena pengkeramatan bulan Suro. Tentu sebagian masyarakat kita memiliki berbagai alasan ketika melakukannya. Mari kita cermati alasan – alasan tersebut sekaligus kita tinjau apakah alasan tersebut bisa diterima atau justru tertolak.

1. Acara – acara ini tidak lain adalah adat nenek moyang
Alasan seperti ini adalah alasan klasik. Allah subhanahu wa ta’ala kisahkan “Dan demikianlah bahwa tidaklah Kami utus sebelummu kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan melainkan orang – orang terpandang di kalangan mereka menjawab Sesungguhnya Kami mendapatkan nenek moyang kami dalam kebiasaan seperti ini dan Kami mengikuti mereka.” (Az Zukhruf 23). Beginilah jawaban kaum Nabi Nuh ketika nabi mereka mengajak pada agama Islam yang benar (lihat surat Al Mukminun ayat 24), jawaban Fir’aun ketika menjawab dakwah Nabi Musa (lihat surat Thaha ayat 51) dan juga jawaban Quraisy ketika diseru oleh nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.Seorang yang memiliki akal yang di atas fitrah tidak demikian menjawab sebuah dakwah. Dia akan menimbang dan membandingkan antara dakwah islamiyah dengan adat istiadat kaumnya sehingga akan menjadi jelas antara yang benar dan yang salah. Apalagi ketika mengingat petuah kenabian : “Akan bisa merasakan manisnya iman jika ridho Allah sebagai rabb (pengatur, pemilik,pencipta); ridho Islam sebagai agama; ridho Muhammad sebagai utusan [Allah].” (HR.Muslim) Artinya, jika belum rela diatur oleh Allah melalui syariat Islam dengan perantara Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti dia tidak akan bisa merasakan nikmatnya menjadi mukmin muslim. Bahkan bisa sampai pada keadaan hilang darinya pokok keimanan ketika tidak mau dan tidak ridho diatur oleh Islam.na’udzubillah min dzalik.
2. Mayoritas masyarakat tidak mengingkari acara seperti ini bahkan mendukungnya
Alasan seperti ini juga alasan kuno dimana Al Quran telah mengingatkan (artinya) : “Jika engkau mengikuti kebanyakan orang di muka bumi niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Al An’am 116). Artinya, timbangan kebenaran bukan dilihat dari sedikit atau banyak jumlah pengikut. Allah sebutkan bahwa Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun dan tidaklah beriman kepada beliau kecuali segelintir orang saja.(lihat surat Hud ayat 40). Apakah berarti dakwah Nabi Nuh salah dan menyimpang ? Bahkan dalam hadits riwayat Bukhari Muslim Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan ada nabi yang tidak memiliki pengikut satu pun. Yang demikian karena tabiat dasar manusia adalah bodoh, zhalim dan sering mengingkari kebenaran. Sekarang, seorang yang berdakwah mengajak kembali ke Islam yang murni sesuai yang diajarkan nabi kita untuk menegakkan tauhid dan memberantas syirik maka orang tadi akan dianggap orang aneh karena dakwahnya melawan selera kebanyakan orang. Sungguh benar pernyataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (artinya) : “Islam mulai muncul dalam keadaan asing dan (suatu ketika)akan kembali asing sebagaimana keadaan munculnya. Sungguh beruntunglah orang – orang yang terasing [karena memegang Islam yang murni].”(HR.Muslim)
3. Banyak tokoh agama yang berilmu tinggi mereka tidak mengingkari acara seperti ini bahkan mendukungnya
Perilaku dan alasan seperti ini adalah kebiasaan Yahudi dan Nashara. Allah katakan(artinya) : “mereka jadikan rahib/ulama dan ahli ibadah mereka sebagai rabb – rabb selain Allah.” (At Taubah 34). Nabi kita menjelaskan bahwa menjadikan rahib dan ahli ibadah sebagai rabb dan tandingan selain Allah maknanya adalah mengekor para tokoh itu dalam mengharamkan yang Allah halalkan dan menghalalkan yang Allah haramkan. Padahal nanti di hari kiamat para tokoh yang diikuti dalam penyimpangan ini akan berlepas diri dan tidak mau tanggung jawab membela orang – orang yang telah mereka sesatkan semasa di dunia. Banyak ayat menyebutkan hal ini seperti dalam surat Al Baqarah ayat 165-167. Fakta yang terjadi banyak orang berilmu namun ilmunya tidak membuat takut kepada Allah dan justru lebih takut menghadapi gangguan manusia sehingga pada akhirnya mengikuti selera manusia walau bertentangan dengan syariat. Apakah orang yang lemah iman seperti ini patut menjadi teladan ?
4. Acara seperti ini bisa mendatangkan keuntungan dari sektor pariwisata karena banyak yang datang ingin menyaksikannya
Ironis memang. Satu sisi menghamburkan harta dalam jumlah besar untuk sesajen namun di sisi lain beralasan ingin mendapatkan keuntungan secara materi dengan datangnya para penonton dan turis. Apakah semua yang mendatangkan keuntungan materi menjadi halal ? Bukankah menghalalkan segala cara adalah pemikiran warisan Yahudi ? Berbagai makar dan tipu daya mereka tempuh untuk melawan syariat Allah ta’ala namun Allah tegaskan mereka ingin memadamkan cahaya Allah melalui lisan mereka dan Allahlah yang menyempurnakan urusan-Nya walaupun orang – orang kafir tidak suka. (Ash Shaff 8)
6. Tidak ada yang melarang acara seperti ini melainkan golongan fanatik, suka menyalahkan orang lain dan merasa paling benar sendiri.
Ucapan seperti ini mirip dengan ucapan kaum nabi Nuh ketika mereka diajak kepada kebenaran justru mereka menjawab Kami tidak melihat yang mengikutimu melainkan orang – orang rendahan yang berpemikiran sempit. (lihat surat Hud ayat 27). Jadi, menjuluki orang – orang yang ingin meniti kebenaran dengan sebutan – sebutan jelek dan bertujuan agar menjadikan manusia menjauh dari para pembela kebenaran adalah kebiasaan jahiliyyah yang tercela. Perlu dipahami bahwa sikap fanatik buta dengan menganggap yang bukan golongannya berarti salah apalagi sampai mengkafirkan yang bukan golongannya adalah sikap yang salah besar dan sangat berbahaya karena bisa merusak ukhuwah/persaudaraan kaum muslimin. Namun, di sisi lain ketika seseorang melihat ada saudaranya yang terjatuh dalam kesalahan kemudian mengingatkan dengan cara yang baik disertai alasan – alasan yang sesuai syariat (dengan memakai Al Quran dan hadits nabawi yang dipahami dengan pemahaman yang benar) maka yang seperti ini termasuk amar ma’ruf nahi munkar dan bentuk kasih sayang. Dia tidak rela membiarkan saudara seiman terpeleset kakinya dalam kekeliruan sehingga mengingatkan dan membantu keluar dari kesalahan tersebut.
Mungkin masih ada alasan – alasan lain dari pihak – pihak yang menyelenggarakan berbagai ritual menyambut bulan Suro namun berkaca dari kelima alasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa semua dalih – dalih itu adalah kuno dan semuanya termasuk perilaku jahiliyyah yang sudah terbantah dalam Al Quran dan hadits nabawi.
Semoga Allah ta’ala beri taufik kita semua untuk berhusnuzhan kepada-Nya dengan menganggap semua waktu yang Allah anugerahkan kepada kita adalah waktu yang baik dan tidak ada waktu sial. Semua tergantung bagaimana seorang hamba memanfaatkan waktu tersebut untuk senantiasa berusaha menambah ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.
Allahu a’lam.

, , , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: