Masalah Seorang yang Meninggalkan Sholat tanpa Udzur/Alasan yang benar Apakah Disyariatkan Baginya untuk Mengganti


بسم الله الرحمن الرحيم

(sebagian besar dari pembahasan ini diambil dari kitab Imam Ibnul Qoyyim الصلاة)
Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama.
Pendapat I : wajib baginya mengganti/meng –qodho sholat yang ditinggalkannya dan apa yang dia lakukan untuk mengganti ini tidak menghilangkan dosanya ketika meninggalkan sholat kecuali kalau Allah subhanahu wa ta’ala mengampuninya. Ini adalah pendapat Malik, Syafi’I, Ahmad, dan Abu Hanifah.
Pendapat II : tidak bisa diganti. Ini adalah pendapat Hasan Al Basri, Ibnu Hazm, Ibnu Taimiyah, dll.
Ibnul Qoyyim berkata bahwa mereka (kedua pendapat di atas) tidak berselisih tentang wajibnya ¬taubat yang jujur/nashuh namun yang diperselisihkan disini adalah apakah termasuk dari kesempurnaan taubat dengan mengganti sholat yang telah ditinggalkan atau tidak perlu dan tidak bisa diganti.
Diantara dalil pendapat I
1. Hadits shahih yang menjelaskan bahwa orang yang tertidur atau terlupa dari suatu sholat maka waktu sholat bagi mereka adalah ketika terjaga atau teringat.. Kedua jenis orang ini mempunyai udzur/alasan ketika meninggalkan sholat namun toh masih tetap diperintahkan melakukannya/menggantinya walaupun keluar waktu. Maka, orang yang meninggalkan sholat tanpa udzur/alasan lebih pantas untuk diwajibkan menggantinya.
2. Hadits shahih ketika perang Ahzab/Khondaq dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat radhiyallahu ‘anhum tersibukkan dengan perang sampai tidak sempat melakukan sholat Ashar. Ketika itu, sholat Ashar dilakukan setelah masuk waktu Maghrib.
3. Sholat wajib-juga puasa Ramadhan-adalah kewajiban bagi tiap muslim. Kewajiban ini adalah hutang yang harus dibayar dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa hutang kewajiban kepada Allah lebih pantas untuk dibayar dibanding hutang dengan sesama makhluk.
4. Hadits shahih yang menyatakan bahwa barangsiapa yang menjumpai waktu sholat Ashar hanya cukup untuk melakukan satu raka’at maka dia telah mendapatkan sholat Ashar.[yakni walaupun raka’at yang tersisa dilakukan setelah masuk waktu Maghrib]. Dalam hadits ini tidak dibedakan antara yang tertidur, terlupa, maupun sengaja mengakhirkan.
5. Hadits ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para shahabat (artinya) : ”Janganlah seorangpun diantara kalian sholat Ashar kecuali di tempat Bani Quraizhah [sebuah suku Yahudi yang ketika itu berkhianat]”. Di tengah jalan, sebagian shahabat shalat Ashar karena khawatir waktu shalat Ashar habis dan mereka memahami bahwa perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi tidak lain agar para shahabat tidak menunda – nunda keberangkatan menuju Bani Quraizhah. Sebagian shahabat yang lain tetap memegang perintah Rasulullah di atas dan shalat Ashar ketika sampai di Bani Quraizhah walaupun telah habis waktu Ashar. Setelah kejadian ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyalahkan kedua kelompok shahabat tersebut. Ini menunjukkan bahwa mengganti shalat yang ditinggalkan dengan sengaja walaupun telah keluar waktunya tidak salah dan bahkan disyariatkan.
Diantara dalil pendapat II :
1. Firman Allah ta’ala (artinya) : “Sesungguhnya sholat adalah suatu yang diwajibkan bagi kaum mukminin dengan waktu yang tertentu” (An Nisa 103). Barangsiapa sholat di luar waktu yang diatur dalam syariat, maka dia telah melakukan suatu ibadah bukan dengan tata cara yang telah diatur sehingga tidak sah sholatnya sebagaimana seandainya sengaja sholat tanpa bersuci padahal dia dalam keadaan hadats.
2. Hadits shahih (artinya) :”Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak berdasarkan aturan kami maka amalan itu tertolak.”
3. Seorang yang sholat sebelum waktunya tidak sah sholatnya dengan kesepakatan para ulama. Maka, apa beda antara orang yang sholat sebelum waktunya dengan orang yang sholat setelah waktu habis tanpa alasan yang benar? Bahkan keduanya sama dari sisi melampaui batas yang telah ditentukan dalam Islam.
4. Disyariatkannya sholat khouf/dalam keadaan takut dimana pada sebagian tatacaranya diperbolehkan tidak menghadap kiblat, dibolehkan pula makmum salam mendahului imam, bahkan boleh sambil berlari dan naik kuda. Semua ini agar sholat dikerjakan pada waktunya. Seandainya ada keringanan mengerjakan sholat di luar waktunya dengan penuh ketenangan dan memenuhi tata cara sholat yang sempurna niscaya para mujahidin fi sabilillah lebih pantas mendapat keringanan tersebut. Kenyataannya justru Allah ‘azza wa jalla tetap mensyariatkan sholat khouf tersebut. Maka, yang meninggalkan sholat tanpa alasan yang benar sangat tidak pantas untuk diberi kesempatan mengganti apa yang ditinggalkannya.
5. Waktu sholat merupakan syarat terpenting untuk keabsahan suatu sholat. Diantara yang menunjukkan hal ini adalah bahwa waktu sholat lebih diprioritaskan disbanding syarat – syarat sahnya sholat yang lain. Seandainya seorang mau sholat dalam keadaan tidak memiliki pakaian suci untuk menutup auratnya dan jika dia mencari pakaian yang suci akan menyebabkan habisnya waktu sholat tersebut; maka dalam keadaan ini dia harus sholat pada waktunya walaupun dengan pakaian yang tidak suci.
6. Sebagaimana sholat Jumat dan wukuf di Arafah tidak bisa dikerjakan bila telah lewat waktunya demikian pula masalah yang sedang kita hadapi ini karena semuanya memiliki kesamaan dalam hal ibadah yang terbatasi dengan waktu tertentu.
Dari paparan di atas, pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran adalah pendapat II (kedua) karena dalil – dalil dan alasan – alasan yang lebih kuat. Adapun menjawab alasan – alasan pendapat I, kita katakan :
– Untuk menjawab dalil no.1; kita katakan tidak tepat mengkiaskan orang yang tertidur atau lupa dari sholat dengan orang yang berdosa dengan meninggalkan sholat tanpa alasan yang benar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa waktu sholat bagi orang yang tertidur atau lupa adalah ketika terjaga atau ingat; itulah waktu sholat bagi keduanya. Lafazh hadits pun jelas menunjukkan hal ini. Jadi, sangat tidak tepat mengkiaskan antara orang yang memiliki udzur/alasan maka tidak berdosa dengan yang tidak punya alasan sehingga dia berdosa. Justru ketika kita tegaskan bahwa yang meninggalkan sholat tanpa alasan tidak bisa mengganti sholatnya; diharapkan rasa penyesalan akan terus ada pada dirinya dan membuatnya benar – benar memperbaiki diri dengan memperbanyak amal sholih untuk menambal dosanya di waktu lampau sekaligus agar tidak bermudah – mudahan dalam meninggalkan sholat.
– Untuk menjawab dalil no.2; kita katakan bahwa sangat tidak pantas disamakan perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat yang sedang berjihad fiisabilillah dengan perbuatan pelaku dosa besar yang meninggalkan sholat ini. Beliau ketika peristiwa perang Ahzab sangat mungkin terlupa karena sibuk dengan perang atau memang sengaja mengakhirkan sholat Ashar karena mungkin ketika itu belum turun syariat tentang sholat khouf.
– Untuk menjawab dalil no.3: kita katakan bahwa ketika kita katakan sholat yang ditinggalkan tidak bisa diganti bukan berarti kita menganggap bahwa kita membebaskan hutang dari orang tersebut, bahkan hutang itu tetap menjadi tanggungannya kecuali kalau Allah mau mengampuninya. Berbagai ibadah wajib yang terikat dengan waktu tertentu adalah hutang yang tidak akan diterima pembayaran hutang itu kecuali dengan sifat dan waktu yang telah ditentukan. Ketika telah habis waktunya, tidak tersisa kesempatan untuk membayar hutang tersebut. Adapun hadits bahwa “hutang kewajiban kepada Allah lebih pantas untuk dibayar dibanding hutang dengan sesama makhluk.” ; Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam sampaikan hadits ini terkait dengan dua macam ibadah yang penunaiannya tidak terkait dengan waktu tertentu yaitu nadzar mutlak dan haji. (HR.Bukhari dan Muslim) dan tidak terkait dengan ibadah yang dibatasi dengan waktu tertentu seperti sholat wajib.
– Untuk menjawab dalil no.4, kita katakan justru hadits ini menjadi dalil yang menguatkan kami karena dalam hadits ini beliau isyaratkan bahwa yang menjumpai sholat Ashar-sebelum matahari tenggelam- kurang dari satu raka’at maka dia tidak terhitung mendapatkan sholat Ashar. Bagaimana dengan yang meninggalkan tanpa alasan yang benar?Lebih pantas untuk tidak diterima sholatnya.
– Untukmenjawab dalil no.5, kita katakan bahwa sebagian shahabat radhiyallahu anhum yang ketika itu mengakhirkan sholat Ashar sampai keluar waktunya sama sekali tidak berdosa karena mereka sedang melaksanakan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai pemahaman mereka. Bagaimana dikiaskan perbuatan mereka yang mulia ini dengan dosa besar berupa meninggalkan sholat tanpa udzur?
Demikian jawaban berbagai alasan pihak yang mengatakan bahwa sholat wajib yang ditinggalkan tanpa alasan yang benar; maka sholat itu bisa diganti di waktu lain. Sebenarnya masih ada berbagai alasan yang lain namun karena berbagai alasan tersebut tidak kuat; sengaja tidak kami sebutkan disini.
Wallahu a’lam.

, , , , , , ,

  1. #1 by catatanmms on Selasa,27 November 2012 - 07:24

    Reblogged this on catatanmms and commented:
    Masalah Seorang yang Meninggalkan Sholat tanpa Udzur/Alasan yang benar Apakah Disyariatkan Baginya untuk Mengganti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: